Surat dari Masa Depan (dengan gambar)

Apabila kamu merasa surat ini terlalu distopis, membuat kamu semakin stres, berhentilah membaca. Aku pun menulis (menerjemahkan) ini dengan perasaan campur aduk.

“Aku menulis untuk kamu dari Italia, yang berarti aku menulis dari masa depanmu. Kami sekarang berada di situasi di mana kamu akan alami dalam beberapa hari lagi. Grafik epidemi menunjukkan kita semua sedang terjerat dalam sebuah tarian paralel. Kami hanya beberapa langkah di depanmu di jalur waktu, sama seperti Wuhan beberapa minggu lalu berada di depan kami. Kami melihat kamu berperilaku seperti yang kami lakukan waktu itu. Kamu memegang argumen yang sama dengan kami hingga beberapa waktu lalu, di antara orang-orang yang masih mengatakan “ini hanya flu, mengapa harus diributkan?” dan mereka yang sudah mengerti.

Umrah pilgrims leave after the cancellation of the departure to Mecca following the Saudi government’s temporary ban announced on Thursday to keep the country safe because of coronavirus outbreak, at Soekarno Hatta International Airport, Tangerang, near Jakarta, Indonesia February 27, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Ketika kami mengawasimu dari sini, dari masa depanmu, kami tahu bahwa banyak di antaramu, seperti yang diperintahkan untuk mengunci diri di rumah, mengutip kata-kata Orwell, beberapa bahkan mengutip Hobbes. Tetapi tak lama setelah itu, kamu akan “terlalu sibuk” untuk melakukan itu.

Pertama-tama, kamu akan makan. Bukan sekedar lantaran makan adalah salah satu dari beberapa hal yang masih bisa kamu lakukan.

Kamu akan menemukan lusinan grup jejaring sosial berisi tutorial cara menghabiskan waktu luangmu dengan bermanfaat. Kamu akan bergabung dengan mereka, lalu kamu akan betul-betul mengabaikan mereka setelah beberapa hari.

Kamu akan menarik buku apokaliptik dari rak bukumu, tetapi kemudian kamu akan menemukan bahwa kamu tidak ingin membacanya.

Kami akan makan lagi. Kamu akan tidur nyenyak. Kamu akan bertanya pada diri sendiri, apa yang terjadi pada demokrasi.

An elderly woman sleeps at a bench in a shopping mall after Indonesia’s capital begins a two-week emergency period to prevent the spread of coronavirus disease (COVID-19) in Jakarta, Indonesia March 27, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan memiliki kehidupan sosial yang tak tertandingi – janjian di Zoom dan makan malam di Skype.

Kamu akan merindukan anak-anakmu yang sudah dewasa, lebih dari sebelumnya; dan kesadaran bahwa kamu tidak tahu kapan kamu akan melihat mereka lagi akan memukulmu seperti sebuah pukulan di dada.

Dendam lama dan kebencian lama tidak lagi menjadi masalah. Kamu akan menghubungi orang-orang yang kamu pernah bersumpah tidak akan bicara lagi, untuk bertanya “bagaimana kabarmu?”

Banyak wanita akan dianiaya di rumah.

Kamu akan bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka yang tidak bisa tinggal di rumah karena mereka tidak memiliki rumah.

Kamu akan merasa beresiko saat berbelanja di jalanan kosong, terutama jika kamu seorang wanita. Kamu akan memblokir pikiran-pikiran ini, kemudian kamu akan pulang dan makan lagi. Kamu akan menjadi gemuk.

A woman wearing a protective mask walks on a bridge, as Indonesia confirmed new cases of coronavirus disease (COVID-19), in Jakarta, Indonesia, March 11, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan mencari video kebugaran di Internet.

Kamu akan tertawa, banyak tertawa. Kamu akan menunjukkan begitu banyak sisi humoris yang belum pernah kamu miliki sebelumnya. Bahkan mereka yang selalu menganggap serius segala hal akan menyadari absurditas keberadaan manusia.

Kamu akan membuat janji bertemu di antrian supermarket dengan teman-teman kamu, sehingga dapat melihatnya secara langsung, sementara mematuhi aturan social distance.

Consumers stand next to lines on the floor serving as a guide for social distancing at the cashier, to prevent the spread of coronavirus disease (COVID-19) in Depok, near Jakarta, Indonesia, March 30, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan menghitung segala hal yang tidak kamu butuhkan.

Sifat sebenarnya dari orang-orang di sekitar kamu akan terungkap dengan sangat jelas. Kamu akan mendapat konfirmasi-konfirmasi dan kejutan-kejutan.

Para intelektual hebat yang biasa berbicara tentang segala sesuatu menghilang dari media, yang lain secara “cerdas” menggeneralisasi tanpa empati dan kamu akan segera berhenti mendengarkan mereka. Orang-orang yang kamu abaikan, sebaliknya akan bermurah hati, dapat diandalkan, dan pragmatis.

Mereka yang mengajak kamu untuk melihat segala kekacauan ini sebagai peluang untuk memperbaharui planet bumi akan membantumu menempatkan segala sesuatu dalam perspektif yang lebih besar. Kamu juga akan mendapati mereka sangat menjengkelkan: bagus, planet ini bernafas lebih baik karena emisi CO2 yang berkurang setengahnya, tetapi bagaimana kamu akan membayar tagihan kamu bulan depan?

A woman wearing a protective face mask walks on a bridge, amid the coronavirus disease (COVID-19) outbreak in Jakarta, Indonesia, March 23, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu tidak akan mengerti dunia baru ini lebih seperti sebuah kemewahan atau justru peristiwa yang sangat buruk.

Kamu akan memutar musik dari jendela dan halaman kamu. Ketika kamu melihat kami menyanyikan lagu opera dari balkon, kamu berpikir “ah orang Italia itu”. Tetapi kami tahu kamu akan menyanyikan lagu-lagu yang menguatkan satu sama lain juga. Dan ketika kamu meneriakkan, “Aku akan bertahan hidup” dari jendela kamu, kami akan menonton kamu dan mengangguk seperti orang-orang dari Wuhan, yang bernyanyi dari jendela mereka pada bulan Februari, mengangguk sambil mengawasi kami.

People with surgical masks look on at station Tanah Abang, following the outbreak of the coronavirus in China, in Jakarta, Indonesia February 13, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Banyak yang akan tertidur bersumpah bahwa hal pertama yang akan mereka lakukan ketika semua ini selesai, adalah bercerai.

Banyak anak akan dikandung.

Anak-anak kamu akan berpartisipasi dalam pelajaran online. Mereka akan menjadi gangguan yang menyebalkan, namun mereka pun akan memberimu sukacita.

Students wear protective masks in school after Indonesia confirmed its first cases of COVID-19, in Jakarta, Indonesia, March 4, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Orang tua akan tidak mematuhi kamu, menganggapmu seperti remaja yang gaduh: kamu harus bertengkar dengan mereka untuk mencegah mereka keluar, mencegah mereka terinfeksi dan mati.

People practice social distancing while stretching along a sidewalk near a slum area, amid the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, in Jakarta, Indonesia, April 2, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan berusaha tidak memikirkan mereka yang meninggal sendirian di rumah sakit. Kamu akan ingin melemparkan kelopak-kelopak mawar di setiap langkah semua staf medis.

Indonesian Red Cross Society personnel walk in protective suits during an operation to spray disinfectant at the Kemayoran Athletes Village, to prevent the spread of coronavirus disease (COVID-19) in Jakarta, Indonesia, March 21, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Mereka akan memberi tahu kamu bagaimana berkerumun/keramaian adalah penyebab paling umum, dan kamu berada di situasi yang sama tidak menyenangkannya dengan orang lain. Hal itu akan menjadi benar. Pengalaman ini akan mengubah caramu melihat dirimu sendiri sebagai suatu individu bagian dari semesta yang lebih besar.

Kelas ekonomi, bagaimanapun, akan membuat semuanya berbeda. Terkurung di sebuah rumah dengan taman yang indah tidak sama dengan tinggal di perkampungan padat penduduk. Tidak dapat bekerja dari rumah atau menyaksikan pekerjaanmu hilang menguap. Kapal tempatmu akan berlayar mengalahkan epidemi tidak akan terlihat sama untuk semua orang, sebenarnya memang tidak sama: tidak pernah sama.

Pada titik tertentu kamu akan menyadari ini sulit. Kamu akan takut. Kamu akan berbagi ketakutan kamu dengan orang-orang tercinta, atau kamu akan menyimpannya untuk dirimu sendiri agar tidak membebani mereka juga.

Kamu akan makan lagi.

Kami ada di Italia, dan inilah yang kami ketahui tentang masa depan. Tapi itu hanya ramalan skala kecil. Kami adalah pengamat kecil.

Jika kita mengalihkan pandangan kita ke masa depan yang lebih jauh, masa depan yang tidak diketahui olehmu dan juga kami, kami hanya dapat memberi tahu kamu satu hal: ketika semua ini berakhir, dunia tidak akan sama.”

Ditulis oleh Francesca Melandri, diterbitkan di Liberation dan diunggah di Facebook pada 19 Maret 2020. Aku hanya menerjemahkan dari terjemahan Bahasa Inggris di laman ini.

Semua foto-foto di atas adalah karya pewarta foto REUTERS Ajeng Dinar Ulfiana. Sudah 3 minggu dia tidak pulang ke rumahnya di bilangan Bekasi Timur. Ketika aku, kamu, mengeluh bosan bekerja di rumah, Ajeng nyaris tanpa libur memburu berita setiap hari. Dia bertahan di kos, menahan rindu untuk adik-adiknya supaya mereka sehat. I know exactly how she loves her dearly sisters.

Coba tengok betapa profesionalnya Ajeng dari foto-fotonya di sini. Aku malu sama Ajeng, perempuan tangguh itu.

Sabtu, 4 April 2020 pukul 01:30,
begadang bersama Ajeng.

Day 6: It is positive

An old man in our neighbourhood tested positive for coronavirus today.

The night before that, Jakarta Governor declare COVID-19 emergency. They urge all corporations to close down their offices and operational facilities, arrange the employees to work from home.

All tourism spots and entertainment venue like night clubs, spa, etc. should be closed too.

These appeals start from March 23rd to April 5th.

Surat Edaran Pemprov DKI 60/SE/2020
Read: Ain’t no party, baby

I knew it from close friends who work closely for Mister Governor, so it’s likely a piece of valid information. In the same Whatsapp group, we were joking that we had plenty of time to “have fun” until March 23rd.

I took it easy. It’s been a week anyway. What could be worse than that?

Then I went to a local supermarket (Giant Bintara) just to stock-up staples for upcoming weeks. You don’t want to know what I got.

N O T H I N G

Frozen foods, sugar, instant noodles, they’re all gone like PUFF! Shelves are empty. I wonder if it’s time to think about food rationing like WW2.

Then I checked Happy Fresh app to see which supermarket has staples I’m running out of. So I took a risk to go to AEON Jakarta Garden City, the Japanese supermarket. You know Japan is less popular recently, but apparently, a lot more people did groceries in there than the local chains.

AEON JGC might don’t have stockpiled customers issues. They have everything. EVERYTHING!

If I see other people’s carts, they don’t do stockpile like a panic buyer freaking out of the apocalypse. I guess they just want to survive until…

PAYDAY!

GAJIAN MASIH LAMA ASTAGAAA.. GIMANA GUE MAU PANIC BUYING?!

Hahahaha…

But please, stop panic-buying groceries and other staples. You know it’s not the end of the world. You’re not the only one who needs staple foods. We have nurses and doctors need staple foods more than anyone. In the end, it’s people like them who will be looking after us when we are at the lowest.

Anyway, I stumbled upon some infographics confirming how Indonesians are getting more anxious about Coronavirus.

Today, a man lives 3 km from my house tested positive Coronavirus. My son’s daycare is closed temporarily. I have to go back to introvert mode, quarantine my family for a good cause.

So allow me to close today’s diary with PAP of me start to move in reverse. It’s time to take a step back to move forward, lass!

HAPPY SELF-LOVING MOTHER’S DAY!

Day 5 of Self-Isolation

Working from Home

(noun) when your deadline meets your motherhood mode 24/7 without a lunch break.

Modifying the guest room to be a working corner cz works come more ofthen than guests

Even though I used to work in a working-remotely environment for 1,5 years, #WFH during the Corona outbreak is different. Most of the time, my LO is at home. My husband doesn’t work from home as he works in a public service institution. I don’t have a nanny. So, my work is challenged by the cuteness of my LO. What a motherhood lyfe, Ikr!

I should’ve listen to Dr Angharad Rudkin in this video tho. The tips below sounds make more sense on how we balance #WFH and family life during the soft lock-down:

  1. Children need structure. So keep bed times, keep waking times, keep meal times set as much as possible.
  2. Give yourself a task for the morning, a task for the afternoon, just some kind of goal because those days are going to feel very long and stretched out.
  3. Don’t let your child be on screen all day long. It might make your days easier, in terms that they’re entertained, but when that child has to go back to school and has to start doing their homework and has to start being out and about, they’re going to find transition much harder.
  4. Try not to be frustrated because of the children because it is new for them too.
  5. Help them to understand your point of view, and not expecting them to be entirely emphatic.

I know it’s easier said than done, eh?

I do understand the struggle of balancing work and family. Self-isolation means different for women. It’s always about unpaid care-giving and housework. It’s just like The Canadian Women’s Foundation mentioned in this article. The Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) quoted that too, knowing we, Indonesian mothers, share the same struggle.

There might be a time when you feel like you want to give up, but please hang in there, Mama! This too shall pass!

Let me close this post with a pic of my LO fell asleep on my back, waiting for me finished working.

Happy Mother’s Day, Mama!