Post-Journo Syndrome I

Post-power syndrome adalah suatu gejala yang terjadi dimana si penderita tenggelam dan hidup di dalam bayang-bayang kehebatan, keberhasilan masa lalunya sehingga cenderung sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang.  (Psychology Study Club UII, 2012)

Banyak artikel tentang post-power syndrome di internet. Penyakit psikologis ini diulas di berbagai forum, jadi materi jualan asuransi pensiunan, bahkan punya Facebook fan page. Kata Google Trends, rating pencariannya juga semakin meroket. But hell, nggak ada satu situs pun yang bahas Post Journo Syndrome. Tidak satu pun. Uff… Apa iya aku harus bikin halaman wikipedia sendiri biar semua orang di dunia tahu bahwa Post Journo Syndrome does exist??

Post-journo syndrome adalah suatu gejala yang terjadi di mana penderita adalah mantan jurnalis dan hidup dalam bayang-bayang kekuasaan, kepopuleran, dan kemewahan masa lalunya sehingga cenderung sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang.

Great! Anggaplah aku sukses mendefinisikan post-journo syndrome. Tapi ini belum cukup untuk satu halaman Wikipedia. Aku juga harus menjelaskan gejalanya. Lanjutkan membaca “Post-Journo Syndrome I”

Wartawan Bodrek vs Wartawan Budrek

Menjadi insan media di ibukota ternyata memunculkan lebih banyak pengalaman baru. Nggak cuma Hitam dan Putih, kota ini Jakarta juga penuh dengan abu-abu. Samar. Atau disamarkan.

Salah satu dunia abu-abu yang baru aku tahu adalah tentang wartawan bodrek. Istilah ini masih baru di telingaku. Biasanya tivi dan koran-koran menyebutnya wartawan gadungan.

Wartawan bodrek adalah wartawan yang rajin datang di event-event dan menggemari meja registrasi media. It’s a point where journalists usually get cash from the committee. Siapa sih yang nggak suka cash??

Wartawan bodrek adalah wartawan. Dia punya media. Biasanya media online. Jangan tanya masalah up to date nya, apalagi segmentasi. Media mereka umumnya antara ada dan tiada. Bagi wartawan bodrek, yang penting datang, makan, pulang bawa uang dan goodie bag. Wartawan bodrek yang sedikit cerdas biasanya menenteng kamera DSLR. Bersama jurnalis fotografi lainnya, ia ikut berdesakan ambil gambar orang penting sambil ngatur-ngatur gaya.

“Salaman Pak, salaman!”, “Liat kamera donk Pak..!!”, “Geser kiri dikit Pak!” ,” Sambil cerita-cerita gitu Pak!”

Aku sendiri suka cengar-cengir geli kalo liat pejabat kita diatur wartawan. Well, it proves that kalau kamu pengen jadi pejabat, please be PHOTOGENIC! Biar nggak banyak diatur wartawan. Hehehe…

Adalah pengalaman berharga beberapa waktu lalu saat liputan di Bandung. Event yang diliput memang besar, levelnya Asia Tenggara. Walau weekend, asal ada bau jalan-jalan, aku nggak punya alasan untuk menolak penugasan ini. Apalagi kalau event-nya seni pertunjukan dari seniman indie, non-commercial (yet). Kebayang deh serunya!

Tapi ternyata nggak semua wartawan dengan semangat yang sama. Lebih banyak yang terjun karena berharap amplop tebal lantaran event jauh, weekend, dan tergolong besar. Mendapati amplop yang cuma diisi selembar, mereka pun bad mood.

Untung aku kenalan dengan seorang fotografer Kompas Gramedia Group asal Surabaya. Perempuan jebolan Universitas Widya Mandala itu bahkan tak segan berbagi tips fotografi jurnalistik dan mengajak berburu narasumber. Memang begitu seharusnya wartawan.

Hari berikutnya aku ditugaskan meliput kedatangan Perdana Menteri Selandia Baru, John Key, di Menara Bank Mega. Tidak banyak wartawan hadir di sana, kurang dari 15 orang atau 10 media. Nah, John Key ini pemimpin negara yang gaul. Mungkin karena basic-nya adalah pelaku bisnis. Dalam diskusi dan tanya jawab media, dia masih menggunakan slank. And that’s the problem of us!

Dari jam 2 sampai jam 4 sore kita bikin transkrip pembicaraan John Key. Entah berapa kali recorder diputar ulang dan memperdebatkan “1,5 Billion” atau “1,5 Trillion”. Sebelum pers conference pun kami sempat mendiskusikan pertanyaan mana saja yang akan diajukan pada John Key. Ya you know lah, press conference dengan orang penting dan super sibuk pasti nggak akan lama, 7 menit! Semua yang akan dikeluarkan dalam press conference betul-betul digodok bareng-bareng dengan wartawan dari The Jakarta Post, Antara, Tempo, Bisnis Indonesia, Dow Jones, serta media lain yang terpercaya. Dan itu yang bikin kita budrek alias kesel. Cepet banget?!

Atmosphere nya beda banget. Pergaulan dengan sesama wartawan memang akan membentuk mindset yang berbeda. Jadi ya nggak salah juga kalau kemudian aku memunculkan beberapa merk media yang bisa dipercaya seperti di atas. Mereka bisa jadi referensi Anda dalam mengupdate informasi. Eh, SWA juga donk.. Hahaha..