Catatan di Hari Terakhir Ngantor

Hari ini adalah hari efektif terakhir saya di TNS. Kalau kembali ke Maret 2013, saya tidak yakin akan bisa meninggalkan dunia jurnalistik yang sudah saya geluti sejak 9 tahun lalu dan serius berkarir di dunia riset pasar.  Sekarang, 18 Agustus 2015, semuanya terbantahkan. Betul kata Mbak Lia, TNS lebih dari sekedar tempat kerja. TNS seperti kombinasi sekolah, tempat bekerja, dan rumah kedua. Kombinasi yang kemudian membuat saya bertahan lebih dari 2 tahun.

Bagaimana tidak. Pagi ini saya ngobrol dengan, Pak Rags, CEO TNS Asean & TNS India, yang kebetulan lewat di desk saya. Kami bercerita tentang filosofi kebetulan yang sebetulnya tidak kebetulan. Dan ternyata, kami membaca buku yang sama: Five People You Meet in Heaven dan Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom. Adalah kesempatan langka membicarakan buku dan hal-hal di luar pekerjaan dengan seorang CEO. Dan itu tidak jarang terjadi di kantor saya.

10300275_665410140193768_9146351125913395323_nKetika membaca surel resignation dari Mbak Merthia dan mendapati nama saya di situ, tentu saya sangat sedih sekaligus takut.

Saya sedih tidak bisa usil bertingkah jadi anak buah yang menyebalkan bagi manajer ramah & sabar, Nana. Saya sedih tidak akan menerima pesan whatsapp super panjang menanyakan report Beer dari group head gaul nan egaliter, Hansal.  Percayalah guys, dia nggak sekepo dan sejahat yang digosipkan. Hehe.. Saya juga merasa takut tidak akan menemukan direktur sebijak Pak Suresh yang bisa tiba-tiba muncul di samping meja saya dengan majalah The Peak.

Lebih takut lagi kalau saya tidak bisa punya tim lapangan yang kooperatif, responsif, dan kebapakan seperti Pak Kholik yang kerap menyapa, “Hops piye Mba e? Achieve, to?”. Atau Mbak Manzilah yang keibuan dan sabar, tapi progresnya kelihatan.

Tim lapangan lain yang sulit dilupakan itu.. Ummm.. Bang Jai, dan Mas Agus W. Bang Jai ini pandai betul bagaimana memposisikan diri saat bersama Data Collector maupun tim Research. Selain itu, Bang Jai tetap responsif saat akhir pekan. Nah, kalau Mas Agus W ini juga cukup responsif. Tapi yang khas dari Mas Agus W adalah ‘say’. Semua-mua dia panggil ‘Say’. Mau namanya Tuti, Sari, Drajat, Tukul, pasti dipanggil ‘Say’. Entah maksudnya ‘sayur’ atau ‘bonsay’, laki-laki penghuni Cilebut ini komunikatif dan visioner. Cie visioner.. Dia bisa memprediksi kesulitan-kesulitan apa saja yang akan dihadapi timnya, dan mengkomunikasikannya ke tim Research.

Saya pun takut kesulitan menemukan DP ajaib bermantra ‘Talk Less Do Lots’ semacam Vino. O iya, Vino punya kawan jomblo akut yang sepertinya butuh pertolongan darurat. Sebut saja namanya Budhi. Bukan nama sebenarnya. Karena nama sebenarnya Rahmat Budhi. Ups! Sepertinya saya akan kangen ditelepon Budhi, “Tante, ada yang cakep nggak?”. Ya ya, dia panggil saya Tante. Bukan karena saya udah tua, tapi dianya yang sok imut. Eh tapi Budhi ini orangnya menyenangkan kok. Sebagai scripter, dia enak diajak diskusi juga. Jadi kalau kamu cewek, jomblo, dan punya level kesabaran tinggi, udahlah, sama Budhi aja. Hihihi…

Hm, saya jadi berfikir.. Di Inggris ada batu akik nggak ya? Sekedar untuk mengobati kangen sama bapak-bapak berseragam di WM yang rajin nggosok batu akik. Terutama Pak Nandang, mentor dunia akik dan persilatan Jawa Barat. Beliau enak banget kalau dimintai tolong, nggak banyak alasan dan gerak cepat. Mungkin biar bisa segera nggosok akik lagi. Mungkin..

Last but not least, ketika posting ini ditulis sepertinya saya masih punya hutang ke Mbak Lia. Perempuan penggemar warna merah inilah yang menyelamatkan saya ke kantor ini. Saya belajar mengatur emosi dan kata-kata darinya. Yang mungkin tidak banyak orang tahu, kami sangat jarang membicarakan urusan kantor. Dia pandai menjaga rahasia dan bukan biang gosip. Jadi waktu makan siang ya cuma bahas gado-gado dan bebek ireng. Kemampuannya yang sulit ditiru adalah meyakinkan orang lain bahwa sesuatu itu baik atau enak. Pokoknya kalau Mbak Lia yang ngomong mah percaya aja dah. Apalagi urusan ponsel. Percayalah bahwa Sony Xperia adalah merek ponsel terbaik sepanjang masa. Bagi Mbak Lia.

Ya ampun, orang-orang TNS itu lovable banget yah. Sangat mudah dicintai. Issshh… Saya pasti akan kangen ketawa-ketiwinya, kehebohannya, kekeluargaannya, semuanya. Walaupun saya terkesan cuek dan ambisius bagi sebagian orang, di diary blog saya punya catatan kecil tentang setiap orang. Semuanya unik dan mengagumkan.

Begitulah Keluarga Besar TNS Indonesia. 🙂

Melalui posting ini, saya berterima kasih banyak-banyak kepada setiap individu di TNS. Secara langsung maupun tidak langsung, saya belajar dari mereka. Saya juga mohon maaf kalau ada hutang makan siang, PSN, atau tabspec yang belum terbayar. Udah lah ya, ikhlasin aja. Kalau nggak rela, jangan sungkan-sungkan hubungi saya lewat email, facebook, twitter, LinkedIn, Path, Instagram, apa aja deh. Ok? Sukses buat semua, sampai jumpa!

Outing TNS Indonesia di Korea Selatan
Outing TNS Indonesia di Korea Selatan

5 Hari Menuju Korea: Ujian Sebelum Berangkat

Seminggu di Korea berarti seminggu nggak kerja. Semua pekerjaan yang semestinya dikerjakan dipepet pet, hingga bisa selesai sebelum berangkat ke Korea.

Blog post 6 Hari Menuju Korea terpaksa terlewatkan. Kemarin aku dipermainkan oleh lalu lintas Jakarta, plus demam yang tak kunjung turun sejak 2 hari lalu. Agaknya aku terkena radang tenggorokan. Lagi. Padahal yang namanya mau naik pesawat itu nggak boleh sakit, apalagi flu. Bisa berbahaya. Cairan yang ada di hidung dan tenggorokan bisa naik ke telinga karena tekanan udara. Ini yang menyebabkan telinga sakit saat pesawat lepas landas maupun mendarat. Sementara itu, hari Sabtu aku ada ujian IELTS. Dan aku belum belajar. Ujian, kerjaan, dan kesehatan badan sedang merongrong minta perhatian. Maaf, ini paragraf curhat.

Kemarin ternyata Nana blast email lagi. Masih tentang rencana company outing ke Korea. Selama di Korea, kami akan menginap di Siheung Tourist Hotel. Hotel ini cuma dapat 2 bintang di Trip Advisor. Tapi aku berharap bintang ini bisa bertambah jadi 5 kalau dihuni orang kantor yang heboh-heboh.

Dress code di Korea
Dress code di Korea

Hal yang paling memusingkan bagiku, tapi mungkin menyenangkan bagi yang lain, adalah DRESS CODE. Seperti disebutkan di email di atas, saat berangkat kami harus pakai baju biru. Dari jaman syuting bareng Hijabee Surabaya, sampai sekarang, kenapa yang namanya dress code pasti warna biru? Sementara itu aku nggak punya kaos warna biru. Tau nggak sih permasalahan guwekh ini? Baju-baju guwekh kan warnanya ungu, bukan biru. Dan polo shirt yang akan ku pakai saat Special Dinner pun warnanya ungu. Ada yang mau nyumbang baju biru? Seenggaknya, kalau kamu belum pernah ke Korea, baju birumu sudah ke Korea duluan. Hehe…

Korea blast Luggage

Seperti yang sudah-sudah, Happiness Committee memberlakukan Luggage Down Service. Jadi koper yang akan dibawa, dikumpulkan terlebih dahulu satu atau dua hari sebelum keberangkatan. Tujuannya memudahkan kami, dan membuat kami tampak keren. Maksudnya, kami nggak begadang karena packing malam sebelum berangkat ke Korea. Packing-nya sudah jauh-jauh hari. Selain itu, kami akan tampak sedikit lebih keren karena ke bandara cuma bawa tas jinjing, nggak “ngoyo” bawa koper. Eh, tapi walaupun harus dorong koper sendiri, kami tetep keren kok. Nggak percaya? Lihat saja nanti di Bandara Incheon. Konon, di sana nggak ada porter sehingga kami harus bawa koper kami masing-masing melewati petugas imigrasi.