Hari ke-38 Social Blah Blah Blah

The six-feet rule

Sebetulnya saya tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi krisis ini sungguh nyata.

Wardiman, tukang ojek difabel langganan saya dulu, sekarang tiap malam kirim WhatsApp. Dia selalu tanya, besok saya mau makan apa.

Perhatian banget ya..

“Golek arem-arem ayu ning kene ki nandi yo?” jawab saya. Cari arem-arem cantik di sini tuh di mana ya?

Katanya, “Wis ora susah digoleki. Sampeyan sarapan jam piro, sesuk tak terne ngomah.”

Dan betul, keesokan paginya tepat jam 6 Wardiman sudah di depan rumah. Dia tidak hanya mengantar arem-arem, tetapi juga curhat tipis-tipis.

Topiknya tak jauh-jauh tentang pemerintah pusat dan pemerintah di rumahnya sendiri.

“Istriku tuh patuh banget sama pemerintah Mbak. Aku nggak boleh deket-deket dia sekarang. Malah pernah pulang ngojek aku disuruh tidur di luar rumah,” katanya.

“Lho kok sampai di luar rumah? Kan anjuran pemerintah cuma jaga jarak fisik dan bertahan di dalam rumah,” jawab saya.

“Lha iyo to. Kata istriku biar nggak ketularan Corona kita harus Long Distance.”

Sebentar, kayak ada yang keliru. Tapi apa ya?

Sepertinya pemerintah di rumahnya punya policy yang sedikit berbeda dengan pemerintah pusat..