Ms Lily

unnamed-3

unnamed

unnamed-4_Fotor_Fotor

Aku bingung judul apa yang tepat untuk foto ini.

Ini adalah foto Ms Lily dan sebagian mantan murid-muridnya. Semalam beliau menggelar syukuran keberangkatan 6 muridnya yang hendak kuliah ke luar negeri. Di belakang rumah, samping kolam renang kecilnya yang rimbun, ia menyediakan 2 tumpeng besar, 6 cake basah Harvest, dan 3 ice cake. Semua ini adalah inisiatif beliau pribadi.

Di usianya yang sudah melampaui setengah abad, Ms Lily mendedikasikan dirinya mendorong orang-orang ke luar negeri melihat dunia, meraih pendidikan terbaik, dan berbagi apapun yang didapat ke masyarakat Indonesia. Ia pun kini mulai menuai hasilnya. Tidak sedikit muridnya yang sudah ‘jadi orang’ dan tetap mengetuk rumahnya mengusik ketenangan. Ms aku kangen dikeramas, Ms ayuk kita nggosip, Ms aku nervous mau presentasi, Ms bacain essayku, Ms please..

Perempuan berdarah Aceh ini hobi jalan-jalan keliling Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Di setiap negara yang dikunjungi, selalu ada muridnya yang dengan senang hati menemui. Inggris, Amerika, Belanda, Jerman, sebut saja negaranya, pasti ada ‘Rombongan Sirkus’, sebutan untuk murid-muridnya.

Ms Lily tidak memiliki gelar kependidikan. Ia bukan kandidat mentri pendidikan, bukan tim ahli kementrian, juga bukan guru besar universitas ternama. Caranya mengajarku IELTS pernah ku tulis.

Ibu 3 anak ini menghabiskan masa remaja di Singapura, lalu kuliah di Amerika. Kembali ke Indonesia, ia bekerja di perusahaan minyak di Kuningan. Setelah 25 tahun bekerja, ia mengikuti kata hatinya untuk mengajar. Jadilah kemudian Ms Lily mengajar di TBI dan membuka kelas baru, Academic Writing.

Setelah 10 tahun, ia akhirnya memilih mengajar les privat untuk siapapun yang ingin kuliah ke luar negeri, selain menjadi pengajar lepas untuk pre-course UNSW. Ini adalah nazar, bila anak keduanya lolos beasiswa S2 ke Aberdeen.

Apa yang dicari Ms Lily?

Uang? Jelas bukan. Rumah mewah di Senopati, lampu kristal dan lukisan 3 miliar menampik dugaan ini. Tarif les yang ia pasang pun terbilang murah bila dibandingkan guru privat lain sekelasnya.

Ms Lily sedang menabung untuk bekalnya di akhirat. Hanya itu yang sedang dicarinya.

Apapun yang Terjadi di Meja Wawancara, Adalah Kehendak-Nya

Pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu juga kekalahan. Mungkin terdengar klise. Tetapi ketika kamu mengalaminya, pepatah ini akan terasa sangat menohok. Rasanya ingin mencabik-cabik muka siapapun yang mengatakannya dan berseru, “Elu nggak tahu kan penderitaan gue kayak apa? Elu nggak tahu rasanya!”.

Ada amarah yang sangat besar akibat kesombonganku yang tidak disadari sebelumnya. Aku marah pada Tuhan. Aku berhenti berdoa. Sholatku hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa menyertakan ruh di setiap geraknya. Tak heran kalau kemudian begitu mudah meninggalkan kewajiban itu. Bahkan ayat sakti yang menjadi jimatku selama ini, entah mengapa tidak terdengar indah lagi.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS 40 : 60)

Diary blog akhir Januari 2015: Tuhan, aku sudah berdoa. Bahkan mulutku sendiri yang menyerukan doa itu di rumahmu, di Masjidil Haram. Aku minta dimudahkan jalan kuliah di Inggris tahun 2015. Tapi kenapa Kau beri aku kegagalan?!

Amarah itu bersemayam di dalam diriku cukup lama. Sangat lama.

LPDP hanya menolerir dua kali kegagalan. Setelah 2 kali gagal wawancara, kita tidak bisa mendaftarkan diri lagi.

27 April 2015 pukul 23:55, 5 menit sebelum batas pendaftaran ditutup, aku klik ‘Submit’. Setelah vakum 2 periode pendaftaran, aku hanya perlu menghabiskan jatah gagal, batinku. Dengan sisa logika yang ada, essai dan data diri ku rombak di jam-jam terakhir. Tidak perlu banyak kepala yang mereview. Sehingga kalau aku gagal lagi, tak akan terlalu membebani.

4 Mei 2015 jam 8 malam diumumkan daftar peserta yang lolos seleksi administrasi. Aku? Tentu saja aku lolos. Aku memasukkan berkas yang sama dengan periode sebelumnya. Jadi sudah semestinya aku lolos administrasi.

Bahkan hingga di hari pengumuman seleksi administrasi, kesombongan itu masih berurat-akar di dalam diriku.

Tak lama setelah pendaftaran, seorang sahabat awardee LPDP pulang ke Indonesia. Tentu aku iri sekaligus minder. Namun semua itu tertutup rapi oleh eratnya persahabatan. Ia bercerita bahwa tantangan terbesarnya selama kuliah di Eropa adalah menegakkan sholat. Sahabatku ini pun berkisah, ia merasa ‘kering’ selama berada di Eropa. Tidak ada pengajian, alunan ayat suci, apalagi rombongan ke masjid.

Di kesempatan lain, seorang senior juga mengkritik awardee LPDP di negaranya melalui social media. Ia menangkap kesan awardee di universitasnya hedonis dan gemar menghambur-hamburkan uang. Memang tidak semuanya, namun kesan yang ditangkap dari beberapa orang saja bisa mempengaruhi pandangan orang lain terhadap keseluruhan awardee di sana.

Di situlah aku merasa terpukul. Belum berangkat ke Eropa saja aku sudah berani ‘bermain’ dengan firman-Nya. Memalukan.

Pantas saja Tuhan tidak mengijinkanku lolos LPDP akhir 2014 lalu. Rupanya Ia mau aku belajar menata diri. Ia sedang memberi peringatan, apapun yang terjadi kelak, tetap rendah hati dan tidak larut dalam euforia beasiswa.

Maka kemudian aku kembali berdoa. Dengan lebih legowo, pasrah, dan tak terlalu berambisi.

Tuhan, kalau memang menjadi awardee LPDP di luar negeri akan membuatku angkuh dan jauh dari-Mu, mohon tunjukkan jalan yang lebih baik. Tetapi kalau Kau Tahu semua ini akan mendekatkanku dengan-Mu, mohon beri aku kemudahan dan kerendahan hati.

Aku sediakan ruang yang lebih lapang di dalam hati untuk menerima kekalahan sekali lagi. Bahkan aku lebih siap untuk kalah. Jauh lebih siap dari sebelumnya.

22 Mei 2015.. Inilah kesempatan terakhirku berhadapan dengan juri wawancara LPDP. Tak banyak yang ku persiapkan selain latihan wawancara dengan kawan-kawan awardee. Latihan ala kadarnya. Aku pasrah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Tak perlu lagi berdebat dengan juri. Kalau pertanyaan mereka begitu personal dan menyentuh sisi emosionalku, biarkan. Tak ada yang disembunyikan. Yang terjadi di meja panel, itulah yang dikehendaki Tuhan.

IMG_1066_Fotor23 Mei 2015.. LGD di hari Sabtu di Kampus STAN Gedung “I”. Aku nyaris trauma dengan gedung ini. Gedung yang sama dengan seleksi November lalu. Beruntung, suami mengantar bahkan menungguiku di sana. Kehadirannya menambah energi dalam LGDku. Aku lebih percaya diri, namun tetap pasrah. Sekali lagi, apapun yang terjadi di forum LGD, pastilah itu yang dikehendaki Tuhan.

10 Juni 2015.. Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku tak sempat mengakses halaman pengumuman LPDP. Seharusnya hari ini hasil seleksi wawancara diumumkan. Tapi aku mencoba tak peduli, melarutkan diri dengan pekerjaan.

Usai makan siang, satu email masuk. Dari LPDP. Hasil Seleksi Wawancara Magister dan Doktor Tahap 2 2015. Ada lampiran PDF 22MB. Cukup berat untuk diunduh di ponsel.

Sebanyak 32 halaman lampiran mengurai panjang nama-nama yang lolos seleksi. 293 nama di Magister Dalam Negeri, 682 Magister Luar Negeri.

Screen Shot 2015-06-14 at 12.34.23 PM

Allahu Akbar, ada namaku di halaman 26, urutan ke-627.

Tuhan, kalau Kau yakin aku sanggup, akan aku jalani. Bismillah…

Ketika Aku Overdosis Motivasi Berburu Beasiswa

Bahayanya Overdosis Motivasi

Seiring pesatnya pertumbuhan motivator di tanah air, rasanya semakin mudah saja memotivasi diri sendiri akhir-akhir ini. Terutama motivasi untuk meraih suatu cita-cita. Namun, kuatnya motivasi dan optimisme terkadang membuat kita lupa banyak hal sederhana namun penting. Pasrah dan tawakal, misalnya. Itulah yang aku pelajari setahun terakhir.

Aku sangat ingin melanjutkan studi di negara berbahasa Inggris seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, atau Inggris. Di antara keempat negara tersebut, Inggris dan Selandia Baru adalah yang paling aku inginkan.

Terdorong oleh para motivator dan buku-buku motivasi, jadilah kemudian aku membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan rencana tersebut adalah nilai IELTS.

Sudah 4 kali aku ambil ujian IELTS, namun nilai Menulis mentok di angka 5. Suntik motivasi dari berbagai penjuru menggerakkanku ambil tes IELTS yang kelima. Aku ujian dalam kondisi sangat lelah, secara fisik maupun mental. Dalam hati aku menyalahkan kondisi seperti tidak besar di kota besar, tidak terlahir dari orang tua lulusan luar, dan sebagainya. Semua emosi tersebut menumpuk di kepala saat menanti giliran ujian Berbicara.

Bertemu Awardee LPDP Tahan Banting

Tuhan selalu bekerja dengan cara-Nya yang cantik. Di ruang tunggu, aku duduk di samping seorang pria gondrong. Dia dengan bangga mengenakan jaket PPI Australia. Untuk mengalihkan pikiran, aku menyapanya.

“Kuliah di Aussie ya, Mas?”

Dari satu pertanyaan itu saja, keluarlah cerita menarik dari mulutnya. Ia adalah seorang CPNS di Kalimantan. Saking inginnya kuliah di luar negeri, ia mengirim aplikasi beasiswa apapun ke manapun. Sepanjang hidupnya, ia menghitung ada 119 aplikasi yang sudah dilayangkan. Semuanya gagal. Usahanya baru berbuah manis di percobaan ke-120, yaitu ke LPDP. Awardee LPDP angkatan pertama ini mengikuti ujian IELTS untuk sekedar memperbaharui kualifikasi sebelum berangkat ke Ukraina, dimana ia menerima beasiswa short-course ke-121.

Orang itu, yang aku lupa namanya, sungguh menjadi bara motivasi buatku. Aku kembali bersemangat mengikuti ujian IELTS, mendaftar kuliah dan beasiswa LPDP. Semangat tersebut menjaga kekuatan saya mempersiapkan segala sesuatunya termasuk personal statement, essay, dan dokumen-dokumen. Semangat itu membuatku sangat optimis dan percaya diri. Namun, semangat yang sama pula yang menjauhkanku dari rasa legowo, pasrah, dan tawakal. Membuatku lupa ada campur tangan Tuhan di setiap langkah yang ku ambil.

19 November 2014

Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia jenjang Magister Luar Negeri. Tiga essai sudah direview banyak teman. Setelah mereka semua sepakat essaiku baik, ku unggah di portal pendaftaran beasiswa LPDP. Semua berkas disusun tanpa cacat. Rekomendasi dari atasanku, Nana, juga tidak terlalu buruk. Setidaknya ada 3 aspek yang dia nilai ‘Sangat Baik’.

25 November 2014

Pengumuman seleksi administrasi: Lolos. Saatnya memperluas pencarian informasi wawancara, termasuk apa saja yang ditanyakan. Amel, kawan awardee LPDP mendukungku dengan berbagi daftar panjang pertanyaan wawancara yang dibuatnya. Sumpah ini daftarnya banyak banget dan mencakup berbagai aspek.

28-29 November 2014

Latihan wawancara dan brain storming LGD di rumah Ms Lily, lanjut di Yellow Fin Senopati hingga larut malam. Sekitar jam 1 pagi baru kami membubarkan diri dengan banyak PR di kepala, sekaligus keyakinan dalam hati. Di titik ini, percaya diriku memuncak. Berbagai macam pertanyaan wawancara dapat ku kuasai dengan baik. Bahkan sangat baik. Doa-doa ambisius tak pernah absen di setiap sujudku.

Tuhan, mohon beri kemudahan dan kelancaran di wawancara LPDP nanti.

12 Desember 2014

Saatnya yang ditunggu tiba. Hari verifikasi berkas, LGD dan wawancara.
venue seleksi LPDP

Tidak ada yang istimewa dari verifikasi berkas, sepanjang semua dokumen yang diunggah saat pendaftaran memang asli.

LGDku tidak terlalu menarik. Delapan orang memasuki ruangan, diawasi dua juri. Konon, mereka adalah psikolog. Kami diberikan satu artikel berita dan pertanyaan untuk didiskusikan bersama. Adalah Alex yang secara spontan memimpin diskusi. Supaya semua dapat giliran mengungkapkan pendapat, ia memimpin forum dengan mempersilahkan setiap orang menyampaikan pendapatnya sesuai urutan tempat duduk.

Aku rasa semua peserta LGD membaca blog-blog awardee dengan baik. Konon, dominasi tidak dikehendaki dalam LGD. Yang terjadi? Tidak ada yang dominan, pun tidak ada yang pasif. Datar. Kalau aku jurinya, forum diskusi itu tidak hidup, pasif, nyaris tanpa pemecahan masalah. Tapi ya sudahlah, barangkali memang yang seperti ini yang diharapkan LPDP.

Tiba saat wawancara, entah mengapa semua tidak sesuai rencana. Juri memborbardirku dengan sederet pertanyaan sebelum aku sempat duduk dan memperkenalkan diri. Kalau boleh ku tebak, ia memang berperan sebagai bad cop, seorang galak dan nyinyir yang lihai mempermainkan emosi. Sialnya ia sukses mempermainkan emosiku yang sangat berambisi kuliah ke luar negeri. Ia memperdebatkan pilihanku dan kerap memotong pembicaraan. Hasilnya, emosiku naik, nada bicaraku meninggi.

Sungguh bukan wawancara yang baik. Tidak ada wawancara yang mulus kalau kita tak bisa mengatur emosi. Hasilnya?

24 Desember 2014

Pengumuman seleksi wawancara LPDP 2014. Alhamdulillah, aku gagal.

screenshot lpdp
TIDAK LOLOS SELEKSI WAWANCARA

Rumah di Bekasi, KPR Konvensional atau Syariah ya?

11148447_10205507531461339_3422367166766370323_nBuat aku dan suamiku, ini adalah rumah pertama kami. Sudah sejak lebaran tahun lalu kami berburu. Setiap malam, pulang kantor, kami sibuk browsing properti dari gadget masing-masing. Di akhir pekan, kami bermotor ke Bekasi mengunjungi properti-properti yang menarik. Memiliki hunian layak di Bekasi sudah sejak lama menjadi impian kami.

Kenapa Bekasi?

Kalau ada kawan bertanya demikian, ku jawab dengan kenes, “karena aku punya jet pribadi.” Hahaha… Becanda. Beberapa sanak saudara kami tinggal di Bekasi. Selain itu, Bekasi khususnya Bekasi Barat merupakah daerah yang sudah ‘terbentuk’. Sarana dan prasarana sudah sangat lengkap. Dengan berbagai keuntungan tersebut, harga properti di Bekasi tentu tidak murah. Apalagi rumah yang kami inginkan berada 1 km saja dari Stasiun Kranji. Untuk hunian seluas 200 m2 harganya minimal 1 miliar rupiah. Angka yang fantastis! Sayangnya nama belakang kami tidak terdaftar di jajaran 100 orang terkaya Indonesia seperti ‘Bakrie’ atau ‘Hartono’. Tidak mudah bagi kami untuk membeli sebuah rumah. Jadi, demi mewujudkan mimpi hunian ideal, kami pun harus putar otak.

Bagaimana mewujudkan cita-cita punya rumah?

Setelah konsultasi dengan para pakar dan sesepuh, kami memutuskan ambil Kredit Perumahan alias KPR. Adalah suami saya yang sangat teliti dengan angka mencari referensi KPR. Bahkan 5 tahun lalu sebelum kami menikah, ia mendaftar kartu kredit hanya supaya namanya muncul di database Bank Indonesia dengan reputasi kredit ‘Lancar’. Katanya, supaya kelak kalau daftar KPR mudah diterima. Visioner kan suami aku.. 😉

Tahu KPR dari mana?

Banyak sumber jadi sasaran kepo kami. Melamar KPR memang harus amat sangat teliti, seteliti melamar gadis. Kami mengandalkan berbagai sumber informasi, seperti:

  1. Website masing-masing bank,
  2. Blogger independen (bukan endorse atau blogger berbayar),
  3. Diskusi dengan teman-teman yang sudah mendaftar KPR,
  4. Kawan-kawan yang bekerja di bank,
  5. Situs pembanding KPR, sikatabis.com

Akhirnya pilih KPR di mana? Dari berbagai sumber di atas, pilihan kami pun mengerucut ke bank syariah. Sebetulnya kami nasabah bank konvensional yang sangat loyal. Walaupun kami muslim, kami tidak pernah menyentuh Produk Keuangan Syariah sebelumnya. Namun ada beberapa kelemahan KPR Konvensional yang tidak bisa kami tolerir:

  • Bunga fluktuatif. Memang di tahun-tahun pertama cicilannya relatif lebih ringan, tetapi di tahun berikutnya mengikuti bunga pasar. Bunga bisa tiba-tiba melejit kalau situasi pasar kurang mendukung.
  • Ketidakpastian besarnya cicilan hingga akhir periode. Hal ini termasuk efek dari bunga fluktuatif tadi. Karena mengikuti bunga pasar, sulit memprediksi berapa rupiah yang harus kami bayar apalagi kalau ambil tenor panjang, 15 tahun.
  • Ada denda atau pinalti bila pelunasan dipercepat. Sebetulnya ini bisa kelemahan, bisa kelebihan. Bagi nasabah santai dan woles, mungkin ini jadi kelebihan karena tidak harus ngoyo buru-buru cari uang. Tetapi bagi kami yang optimis serta kerap gatal-gatal kalau ingat hutang, ini jadi satu kelemahan.

syariah2Produk Keuangan Syariah yang kami pilih adalah KPR Jual Beli alias Murabahah. Bank Syariah membeli rumah yang kami mau terlebih dahulu. Kelak, rumah itu diberikan setelah cicilan kami lunas. Beberapa alasan kami memilih produk ini antara lain:

  • Besarnya margin sudah ditetapkan sejak awal. Berbeda dengan KPR Konvensional yang bunganya fluktuatif, margin KPR Syariah bersifat tetap hingga akhir periode dan ditentukan saat akad. Jadi kalau tahun pertama cicilannya Rp 5 juta, sampai 15 tahun mendatang pun akan tetap Rp 5 juta.
  • Menariknya, saat akad kami dapat print-out rincian cicilan dari bulan pertama hingga ke-180 alias bulan terakhir di tahun ke-15 tanpa peninjauan kembali atau revisi. Di print-out tersebut mereka juga menguraikan ke mana perginya uang kita, apakah untuk membayar margin atau cicilan rumah itu sendiri alias uang pokok.
  • Karena margin yang flat, sangat membantu kami membuat perencanaan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Jadi kami tidak khawatir menangis tragis makan aspal kalau tiba-tiba cicilan rumah meroket.
  • Tidak ada denda maupun pinalti bila pelunasan dipercepat. Bahkan sebaliknya, bisa jadi kita dapat ‘diskon’. Cihuy!

Meski demikian, bukan berarti KPR Syariah di Indonesia hadir tanpa cacat. Karena jumlah kantor cabang bank syariah dan ATM yang langka, gerak kita sangat terbatas. Termasuk dalam hal melakukan transaksi keuangan. Untungnya, KPR saya memakai sistem autodebit. Saya hanya perlu transfer ke rekening bank syariah sebelum tanggal jatuh tempo, selebihnya biarkan automasi bank bekerja. Bagi yang sedang mencari rumah, atau referensi kredit perumahan, semoga blog ini bisa memberi sedikit pencerahan. Apabila perlu informasi dari pihak yang lebih kredibel, silahkan mengunjungi website berikut:

  1. Produk Keuangan Syariah
  2. KPR Syariah vs KPR Konvensional
  3. Kalkulator KPR Syariah (SikatAbis.com)

Selamat berburu! 🙂


UPDATE:

Artikel ini telah memenangkan iB Blogger Competition 2015. Mengapa? Jawabannya dibahas lengkap di sini. Masih ada Periode 2 dan 3, ayo ikutan! Mampir saja di halaman ini, kemudian daftarkan email kamu supaya dapat notifikasi. Semoga sukses!

PS: Terima kasih dan salut untuk Panitia iB Blogger Competition hingga blog saya dikupas habis-habisan. 🙂

Tips & Trik Berburu LOA Pascasarjana Luar Negeri

Buat yang belum tahu, ini nih yang namanya LoA alias Letter of Acceptance.

LoA Southampton
LoA Southampton. Klik untuk memperbesar

Posting kali ini, aku akan membahas serba-serbi LoA khususnya untuk postgraduate atau pascasarjana di Inggris, Belanda, dan Selandia Baru.

Setiap negara bahkan kampus punya istilah sendiri untuk menyebut surat penerimaan. Australia dan Selandia Baru lebih sering menggunakan istilah Letter of Offer atau Letter of Admission. Dengan dikeluarkannya LoA, kamu memperoleh penawaran melanjutkan studi di universitas terkait. Penawaran lho ya, bukan diterima. Karena kamu lah yang memutuskan akan menerima penawaran itu atau tidak.

Berbeda dengan di Indonesia, umumnya universitas di luar negeri tidak menyelenggarakan tes masuk seperti SNMPTN. Kamu hanya perlu mengumpulkan berkas dan persyaratan sesuai ketentuan kampus dan program. Sebelumnya, kamu perlu tahu bahwa ada 2 macam LoA di universitas di luar negeri, khususnya Inggris dan Belanda, yaitu:

  1. Conditional Offer atau penawaran bersyarat. Kalau kamu dapat Conditional Offer, artinya masih ada berkas atau persyaratan yang belum terpenuhi. Eits! Tidak semua universitas bisa mengeluarkan Conditional Offer lho. University of Auckland, Selandia Baru, tidak mengeluarkan Conditional Offer. Jadi kalau memenuhi syarat ya kamu akan didukung untuk mendaftar lagi di periode berikutnya. Begitu kata suratnya. Penolakan secara halus dan lembut. Hehehe..
  2. Unconditional Offer atau penawaran tanpa syarat. Artinya, kamu sudah memenuhi semua kriteria pendaftaran. Selanjutnya kamu tinggal menentukan mau diapakan nih LoA. Pilihan yang diberikan dari universitas berbeda-beda. Misalnya, University of Southampton hanya memberi 2 pilihan bagi penerima Unconditional Offer: menerima, atau menolak. Sementara Lancaseter punya 3 pilihan: menerima, menolak, atau defer (diperpanjang hingga tahun ajaran berikutnya).

Bagaimana cara memperoleh LoA?

Jawabannya cuma 1, MENDAFTARLAH! Percuma kamu datang ke expo, tanya ini-itu, tapi nggak ada aksi untuk mendaftar. Ya nggak? Meski demikian, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan sebelum mendaftar.

1. Riset

Jangan sepelekan riset sebelum kamu menyesal kemudian. Riset yang dimaksud di sini adalah mempelajari dengan sangat seksama tujuan studi kamu. Apa saja yang perlu diriset?

  • Program studi yang kamu tuju. Baca juga modul atau mata kuliahnya, apakah sesuai yang kamu harapkan
  • Lingkungan kampus, baik dari sisi demografi maupun sosial. Kalau kamu nggak suka cuaca dingin yang ekstrim, jangan cari universitas di Skotlandia, misalnya. Atau kamu nggak bisa tinggal di lingkungan yang terlalu bebas, jangan pilih Belanda. Contoh lain adalah pertimbangan komunitas yang dekat dengan kita. Misalnya, banyak orang Indonesia ingin kuliah di Birmingham karena kota di Inggris tersebut dikenal dengan komunitas muslimnya yang besar.
  • Syarat pendaftaran. Ini  yang paling penting. Setiap universitas, bahkan setiap program punya syarat masing-masing terutama GPA atau IPK minimum, dan kecakapan bahasa. Syarat yang paling umum antara lain:
    • Transkrip (English)
    • Ijasah (English)
    • Bukti kecakapan bahasa (IELTS, TOEFL, dsb)
    • Surat rekomendasi (English)
  • Perhatikan syarat-syarat khusus juga, terutama di universitas 3 teratas. Misalnya, Imperial College Business School meminta kita merekam video profile dengan durasi maksimal 2 menit, lalu wawancara melalui Skype. Persyaratan khusus bisa juga terkait dana. Ada universitas tertentu yang mensyaratkan registration fee cukup besar.

Riset yang aku lakukan adalah browsing forum pelajar dan alumni, eksplorasi website universitas, datang ke pameran-pameran pendidikan. Pada beberapa universitas, aku juga minta dikirimkan prospectus, semacam buku promosi berisi informasi tentang universitas atau program terkait.

Ada juga universitas yang nggak menyediakan jasa pengiriman prospectus seperti UCL dan Imperial College London. Tetapi kamu bisa download e-prospectus atau pesan tailor-made prospectus, alias prospectus yang disusun sesuai kebutuhanmu.

2. Set a timeline and do your homework

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada sederet persyaratan yang perlu kamu persiapkan seperti personal statement. Perlu diingat bahwa personal statement bukan CV berbentuk prosa. Taruh posisimu seorang recruiter berlatar belakang akademik berbeda denganmu. Nggak penting kamu dulu kuliah apa, tetapi apa yang kamu dapat saat kuliah. Nggak penting jabatanmu di organisasi, tetapi apa yang beri atau pelajari dari organisasi itu.

Jangan pernah berpikir untuk bikin personal statement dalam semalam dan langsung kirim. Cek lagi, lagi, dan lagi. Grammar, konten, diksi, pastikan semuanya sempurna. Akan lebih baik minta masukan dari teman-teman atau senior yang lebih berpengalaman. Untuk urusan tata bahasa, aku sarankan serahkan ke proof-reader atau kawan yang memang ahlinya.

Timeline sangat perlu dalam proses ini. Karena bisa jadi akan ada banyak hal tak terduga, misalnya proses penerjemahan dokumen yang memakan waktu, atau teman kamu belum sempat membaca essaimu. Jauh-jauh deh dari SKS, Sistem Kebut Semalam.

Nah, kalau ternyata yang mengganjal adalah syarat kecakapan bahasa, sediakan waktu untuk mengasah kemampuan kebahasaanmu. Bisa dengan les, atau otodidak. Jangan lupa ambil tesnya juga. Wajib!

3. Daftar

Aku sering bertemu teman-teman yang ingin kuliah di sana-sini, risetnya sudah komplit, setiap pameran pendidikan didatangi, tapi nggak daftar-daftar juga. Nggak ada LoA turun dari langit ya guys.. Kamu harus daftar, harus kumpulin itu semua persyaratan, klik ‘Submit’. Keajaiban tidak akan terjadi sampai kamu klik!

Paling tidak, beranikah buka akun pendaftaran dan baca manualnya dengan seksama. Dari situ kamu tahu apa aja informasi yang dibutuhkan dan mana yang perlu persiapan.

Setelah daftar, kamu akan dapat kode registrasi. Kode tersebut harus kamu simpan karena akan dipakai di semua komunikasi dengan universitas terkait aplikasimu.

Berapa lama waktu harus menunggu dapat LoA?

Lamanya bervariasi. Kalau musim pendaftaran, seperti Februari-Maret (Inggris), biasanya agak lama. Yah, satu-dua bulan lah. Jadi, sangat disarankan untuk international students macam kita-kita ini untuk mulai buka akun pendaftaran setahun sebelumnya, sekitar September. Kalau kamu ragu-ragu atau perlu informasi tertentu, bisa kirim email ke kepala departemen atau international office kampus tersebut. Selama bukan musim daftar, mereka sangat responsif. Paling molor, seminggu baru dibalas.

Nah, untuk kasus-kasus tertentu, misalnya mengejar deadline beasiswa, LoA bisa diterbitkan lebih cepat. Rekor LoA tercepat yang pernah aku dapat adalah 2 hari. Pernah juga seminggu. Nggak disarankan sih, tapi kalau kepepet, boleh dicoba trik berikut:

  • Setelah mendaftar, kirim email ke International Office bahwa kamu punya tenggat beasiswa tanggal sekian, sehingga kamu perlu LoA sebelum tanggal sekian. International Office tidak selalu langsung mengiyakan, tapi setidaknya kamu nggak harus menunggu berbulan-bulan. Jangan lupa sertakan kode registrasimu di subject atau kepala email.
  • Kalau kamu sering ikut pameran pendidikan, minta kartu nama agen recruiter dari universitas terkait. Kalau ada yang gawat begini, mintalah bantuan dia untuk mempercepat proses aplikasi karena tenggat beasiswa dsb. Jalur ini lebih ampuh. Trust me!

Seperti apa sih wujud surat sakti LoA?

Berikut ini beberapa contoh LoA untuk universitas di Belanda dan Inggris. Klik untuk memperbesar:

Kalau kamu punya pertanyaan atau pengalaman tentang mendapatkan LoA dari universitas di luar negeri, silahkan dibagi di kolom komentar atau email salam@tikawe.com.

Semoga bermanfaat!