Review Buku: Juru Bicara-Pandji Pragiwaksono

Konten buku Juru Bicara ini nggak ada hubungannya dengan ditunjuknya Pandji Pragiwaksono sebagai juru bicara pasangan calon salah satu kandidat Pilkada DKI 2017. Pun nggak ada hubungannya dengan materi tour dunia komedi tunggalnya yang bertajuk sama. Kalau kamu mengenal Pandji sebagai komika dan berharap Juru Bicara seperti transkrip materi komedi tunggalnya, bersiaplah kecewa.

Juru Bicara adalah buku ke-7 Pandji setelah Nasional.Is.Me, Merdeka Dalam Bercanda, Berani Mengubah, Degalings, Indiepreneur, dan Menemukan Indonesia. Seperti buku-bukunya yang lain, buku ini merupakan wadah buah pikir seorang Pandji baik sebagai orang tua, pelaku seni, maupun orang yang hidup dari karya.

Melalui buku-bukunya, harus diakui bahwa selain berwawasan luas, Pandji mahir mengartikulasikan pemikirannya baik dalam tulisan sejak buku pertamanya, Nasional Is Me. Misalnya, dalam buku ini bab Unless, Pandji mengulas cerita The Lorax dan mengkaitkannya dengan kebijakan Menteri Kehutanan menanam 1 juta pohon, yang di saat yang sama lalai atas tanggung jawab pembakaran 1 juta pohon di hutan untuk kepentingan industri.

Juru Bicara mungkin buku Pandji yang paling persuasif karena kemahirannya mengaitkan analogi, logika, dan kemudian menarik premis dengan satu, dua kalimat sederhana dan mengena. Bisa dibilang ini buku Pandji yang paling ‘matang’. Satu contoh yang menggelitik adalah Menggonggonglah.

“Tidak ada ‘Juru Selamat’ dalam politik. ‘Satria Piningit’ itu tidak nyata dalam kancah politik. Presiden adalah CEO-nya politikus. Dia bisa mencapai jabatan tertinggi karena paling jago berpolitik. Juara lari 100 meter tidak menjadi juara karena dia baik, atau karena dia jujur, tetapi karena dia paling cepat larinya, paling jago larinya.”

Seperti dalam pengantarnya, Pandji mengungkapkan maksudnya menjadi juru bicara bagi banyak orang melalui buku ini. Namun peran juru bicara tersebut sukses tersampaikan di separuh konten saja. Selebihnya Pandji bercerita tentang pengalaman pribadi bahkan yang sangat pribadi, mulai dari bagaimana ia belajar fokus berkomedi dari komika Amerika Seinfeld, sampai kehidupan keluarganya.

Ia pun menyisipkan puisi dan catatan pribadi berbahasa Inggris, yang justru merusak benang merah Juru Bicara. Akhirnya, semakin ke belakang, maksud Pandji menjadi Juru Bicara melalui buku ini justru semakin jauh. Beberapa bab justru lebih cenderung menggurui, bukan lagi mewakili suara orang seperti disebutkan dalam pengantar.

Meski demikian, Juru Bicara bisa dikatakan enak dan perlu dibaca. Buku ini cocok menjadi referensi penggambaran pola pikir masa kini. Apakah apa yang disampaikan Pandji sudah mewakili pemikiran kamu? Kamu bisa tentukan nanti.

Begini Rasanya Punya ‘Abang’ Seorang Pandji Pragiwaksono

Punya Abang itu enak kali ya? Ada yang jagain, melindungi kita dari bandit-bandit, atau negur dan ngingetin kalau kita salah. Apalagi kalau ‘abang’nya adalah Pandji Pragiwaksono. Hadeeeehh… Nggak mau pisah!

Pandji_KNM

Itulah yang dirasakan 30 relawan Kelas Negarawan Muda (KNM) hari Selasa lalu. Pandji singgah ke rumah kami di bilangan Ciasem, sendirian, tanpa asisten, pengawal maupun protokol ala presiden. Padahal isi kepalanya sangat mempengaruhi nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya generasi muda.

Bagaimana tidak, dalam setiap karyanya ia selalu menyelipkan pesan menggugah buat anak muda supaya peduli dan ikut turun tangan menyelesaikan berbagai masalah bangsa di sekitar kita. Penulis, rapper, sekaligus komika kondang ini pun tak pernah lelah berseru supaya kita berani beropini dan berkarya. Dia tak pernah surut mempengaruhi banyak kepala generasi muda meskipun tak sedikit juga yang memutuskan untuk diam.

“Politik itu sesederhana elo jalan bareng temen-temen, memutuskan kalian akan makan di mana. Temen2 lo bilang ‘terserah’. Misalnya lo yang nyetir nih. Lo bilang, ‘Ke rumah makan Padang ya?’. Satu temen lo nggak mau, dia nggak suka masakan Padang. Kemudian lo tawarin lagi, ‘Ke Yoshinoya?’ Ternyata temen lo yang lainnya nggak mau makan junk-food. Trus ke mana donk? Katanya terserah.

Maksud gue, banyak anak muda sekarang nggak peduli dengan keputusan-keputusan yang diambil. Padahal keputusan itu akan mengerucut ke keputusan politik.”

Demikianlah yang dikatakan Pandji di awal sarasehan kami. Sangat sangat masuk akal. Nggak cuma memberi wawasan politik, Pandji pun menguatkan kami untuk terus berjuang. Ini nih yang bikin berat berpisah sama ‘abangnya relawan’ setelah 2 jam berdiskusi.

Berikut adalah sekelumit video rekaman Pandji saat sarasehan KNM. Semoga bermanfaat dan memotivasi kamu!

WSYDNshop Dari Pandji Buat Yang Doyan Download Gratisan

Mesakke Bangsaku, salah satu yang paling diincar pengunjung WSYDN

Sepuluh tahun terakhir, lebih sering download lagu gratis atau beli CD original?

Seiring perkembangan teknologi, kepingan CD dan DVD mulai ditinggalkan. Memang tidak betul-betul hilang, namun download file mp3 di situs berbagi seperti 4shared lebih digemari. Ketika internet masuk desa, download lagu gratisan semacam ini jadi semakin lumrah. Tanpa sadar, mereka mendukung pembajakan, memiskinkan seniman. Tanpa sadar.

“Suatu hari, Glenn ngetwit tentang lagu barunya. Ada follower dia yang RT, ‘Downloadnya di mana Kak?’ atau mention ‘Baru download lagunya @GlennFredly’ pakai twitpic hasil downloadnya,” kata Pandji Pragiwaksono, komika stand-up comedy di FX Sudirman, 20 April 2014. Itu konyol! Lanjutkan membaca “WSYDNshop Dari Pandji Buat Yang Doyan Download Gratisan”

Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar

Ini adalah surat terbuka buat kamu, Pandji Pragiwaksono, komika stand-up comedy yang doyan banget mengkritik negaraku, Indonesia. Dari judul karya-karya kamu saja sudah terlihat antusiasme menjadikan negara ini jadi lebih baik. Indonesia Free, Nasional.is.me, Merdeka Dalam Bercanda, Mesakke Bangsaku, dan sebagainya.

Merdeka Dalam Bercanda adalah salah satu show stand-up comedy yang bisa aku nikmati. Salah satu bitmu waktu itu kamu mengangkat Kota Padang. Bis kota di Padang memang menarik dengan gambar-gambar air brush. Selain trayek, orang Padang cenderung memilih bus dari gambarnya. Bit ini sudah disinggung di buku Nasional.is.me yang dipublikasikan beberapa tahun sebelum Merdeka Dalam Bercanda.

Dear Pandji yang nasionalis abis, Padang nggak cuma ada bis kota. Akhir Oktober kemarin aku membuktikannya. Bersama hampir 200 karyawan kantor. Kami outing ke Padang sambil mengasah rasa nasionalisme.

Mbak Fannie di terminal 2F mungkin udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang
Mbak Fannie di terminal 2F udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang

Lanjutkan membaca “Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar”