Dicari NHS

Chen: Tik, dicariin NHS

Aku mengunduh foto buram yang dikirim Chen. Ternyata yang dimaksud adalah undangan donor dari NHS Blood and Transplant, lembaga donor darah dan organ di Inggris. Artinya, sudah 4 bulan berlalu sejak terakhir kali aku donor dan sudah waktunya kembali donor darah.

Buat yang belum tahu, aku sekarang sudah nggak tinggal di rumah Broadlands lagi. Pun dengan Kak Lee dan Steven. Kami sudah kembali ke tanah air. Tersisa Chen yang terperangkap di rumah Broadlands dengan kawan-kawan PhD-nya.

Meski demikian, pesan-pesan nyampah belum bubar. Walaupun lebih jarang, tapi ada sampah penting di aplikasi pesan instan, terutama perkara surat-menyurat yang masih beralamatkan Broadlands Rd.

Aku: Elu gih dateng. Donor hati. Daripada hati lo nganggur kelamaan jomblo.

Chen: Justru gue butuh donor hati, Tik. Hati gue kosong.

Dung plak tung jes!!

Formulir Donor Darah

Pertama kali donor darah di Inggris, aku kayak orang kampung banget. Waktu daftar lewat web blood.co.uk, aku harus isi pertanyaan-pertanyaan di formulir. Aku bengong di pertanyaan A7:

Female donors only: In the last 12 months have you had sex with a man who has ever had oral or anal sex with another man, with or without condom?

Dalam 12 bulan terakhir apakah Anda pernah berhubungan seks dengan pria yang pernah melakukan seks oral atau anal dengan laki-laki lain, dengan atau tanpa kondom?

Misal nih aku punya pasangan, berarti aku harus tanya dulu ke dia, “Eh lo pernah oral atau anal sama cowok lain nggak?”.

Dia pasti ngejawabnya awkward juga lah. Kalau dijawab ‘iya’, akunya udah stress duluan tau dia sekong sama cowok, malah nggak jadi donor. Kalau dijawab ‘enggak’, akunya,

“Yakin nggak pernah? Trus itu si Toni siapa? Kenapa kamu kalau pulang malam pasti sama Toni? Jujur deh!”

Serba salah kan? Emang dasar cewek!

Akhirnya aku kosongkan pertanyaan itu. Ketika udah dapat appointment untuk donor, perawatnya menanyakan ulang semua pertanyaan yang ada di formulir itu.

“Maaf ya, tapi saya harus menanyakan ini. Dalam 12 bulan terakhir apakah Anda pernah..”

“Huft, pertanyaan itu. Saya beneran harus tanya ke partner saya ya?” kataku sambil pura-pura benerin jilbab biar nggak keliatan awkward.

Ibu Perawat nyengir. Walaupun wawancara dilakukan di ruang tertutup dan cukup kedap suara, tapi tetep aja aku merasa aneh. Ibu Perawat ngerti kekikukkanku. Dia jelasin, pasangan gay yang pernah melakukan seks oral atau anal beresiko terkena dan tertular infeksi di pembuluh darahnya. Infeksi ini yang harus dihindari dari darah donor, sehingga pasangan gay nggak boleh donor darah di Inggris.

screen-shot-2016-12-21-at-9-19-35-pm
Klik gambar untuk info lebih lanjut

Aku nggak sedang judge pasangan homoseksual lho. Teman baik aku yang homoseksual di Indonesia maupun Inggris banyak kok. Peace! ✌🏽

“Kalau partner saya cewek juga gimana, Bu?”

Mata si Ibu agak terbelalak dan nelen ludah.

Becanda, Bu. Aman kok. Hehehe…


Cerita lain selama di Inggris bisa dibaca di Sok British. Kalau kamu punya pertanyaan tentang serba-serbi tinggal di Inggris yang mungkin bisa aku ceritain di blog, tinggalkan komentar ya.. 🙂

 

Broadcast Jumatan

As salaamu Alaikum brothers and sisters,
Jummah Salah will be held in the Garden Court at 13:20.
JazakAllah Khair,
ISOC

Pesan singkat dari Islamic Society (ISOC) ini selalu ditunggu tiap Jumat pagi di group whatsapp PPI Southampton. Pelaksanaan sholat Jumat di kampus University of Southampton memang kerap berpindah-pindah. Terkadang di gedung Garden Court, kadang harus ke hall makan malamnya salah satu asrama mahasiswa, Glen Eyre. Belum lagi masalah waktu, terus bergeser mengikuti perubahan musim.

Kampus saya ini sebetulnya punya mushola yang cukup layak, namun tidak mampu menampung jamaah pria untuk sholat Jumat. Jadilah setiap pekan para relawan ISOC berburu ruangan.

Ini belum termasuk perburuan saat hari besar, lebih pelik lagi. Apalagi saat Idul Fitri kemarin, Southampton cukup panas pasca rilisnya hasil referendum EU: Brexit. Banyak orang lokal yang mendadak alergi imigran. Mereka tak sungkan menggelar aksi demonstrasi atau melakukan tindakan-tindakan ‘ngeselin’ untuk memuaskan alerginya. Walhasil, demi keamanan, pelaksanaan sholat Ied di taman kota kemarin terpaksa dibatalkan. Untungnya tempat sholat Ied nggak hanya di taman kota. Kami, PPI Southampton tetap melaksanakan sholat Ied di halaman kantin asrama mahasiswa WessexLane.

Walaupun negara ini menjunjung kebebasan memeluk agama, yang namanya minoritas, harus ngalah dan manut. Sholat di mana saja, hayuk. Termasuk di community centre.

Swaythling Neighbourhood Community Centre, misalnya. Tempat ini merupakan bangunan milik pemerintah untuk warga Swaythling melakukan kegiatan apapun termasuk beribadah. Bangunan ini secara rutin digunakan sebagai Community Church, gereja yang melayani penduduk lokal. Jadilah serangkaian atribut keagamaan menempel di sekujur dinding. Terkadang jadi pasar dan taman hiburan juga, terutama di musim panas. Dan di tempat ini pulalah kami melakukan sholat Tarawih. Kami menyembah Allah SWT di tengah kepungan salib.

Ya begini ini dinamikanya jadi Muslim, minoritas, di wilayahnya Church of England. Makanya, kalau hari ini kamu bisa berangkat sholat Jumat ke masjid terdekat, bahkan masjid kantor dengan dalih ‘biar ganteng’, bersyukurlah! Bersyukurlah karena kamu nggak perlu nunggu broadcast whatsapp untuk menentukan mau sholat di mana. Dan bersyukurlah karena kamu terancam ganteng setelah Jumatan.

 

*Foto: Pria-pria PPI Southampton 2015/2016 terancam ganteng permanen pasca sholat Ied.

Beginilah Kalau ‘Nemu’ Temen Indonesia!

Di University of Southampton, ada program perkenalan sederhana yang namanya Campus Walking Tour. Kita cuma ngumpul di SUSU, semacam perkumpulan mahasiswanya, trus jalan-jalan keliling kampus dibimbing seorang volunteer berseragam.

Kemarin, aku bersama Kak Njoo ikut program ini. Tinggal setor muka di SUSU, tunggu beberapa orang, trus muter-muter deh. Waktu aku nunggu, udah ada satu cowok dan satu cewek. Yang cowok namanya Rafael dari Meksiko. Aku mengulurkan tangan yang cewek, “Hi! Tika.”

Dia menyambut jabatan tanganku, “Hi! Iren.”

Iren. Beneran i-ren. Bukan ay-rin. Ku tembak lah dia, “Orang Indonesia ya?”. Dan ternyata bener donk. Hahahaha…

Sejurus kemudian, aku, Kak Njoo, Iren, dan Rafael dibimbing Layla jalan keliling kampus.

Selesai Campus Walk Tour, Layla mempersilahkan pertanyaan. Kesempatan ini dimanfaatkan Iren banget. Dia mengajukan pertanyaan terpenting abad ini, “Di mana sign board besar University of Southampton?”.

Layla sempat bingung gitu. Secara, di sini banyak sign board. Tapi enggak ada yang besar-besar amat. Beneran enggak ada. Apalagi yang sampai dibikin prasasti kayak ITS, UI, atau universitas Indonesia lain.

“Kayaknya gue tau di mana dan buat apa deh Ren,” dan kami terbahak-bahak menangkap kode yang orang Indonesia banget.

Let’s find a sign board and TAKE A SELFIE!