Glandhangan Ngayogyakarta (Hari Pertama)

Yogyakarta, siapa yang tak kenal. Daerah yang ditakdirkan untuk istimewa ini dilimpahi tempat wisata yang tidak sedikit. Pantainya saja hampir di setiap titiknya dijadikan obyek wisata. Terlebih lagi propinsi tersebut berawal dari kerajaan yang lebih dulu ada sebelum Indonesia.

Di kalangan mahasiswa, Yogyakarta atau Jogja dikenal dengan biaya hidupnya yang sangat murah, sepertiga biaya hidup di Surabaya. Barangkali itulah alasan banyak orang berbondong-bondong belajar di sana hingga terbentuk Kota Pelajar. Inilah salah satu alasan saya menyanggupi ajakan Ninin untuk nggelandhang di Jogja bersama Melan.

Meski sama-sama ramai oleh pelancong, jangan bayangkan Jogja seperti Solo, Bali, apalagi Surabaya. Jogja tetaplah Jogja yang mengagungkan istana-sentris, tata krama dan sopan santun. Jogja tetaplah Jogja, dengan turis asing yang semakin melimpah, namun kesiapan pelayanannya belum se-internasional Bali. Jogja tetaplah Jogja, dengan jalan raya yang kecil, lalu lintas yang semrawut, bahkan sering saya temui penduduk setempat yang melanggar aturan (lalu lintas)nya sendiri.

Walau bagaimanapun, Jogja tetap menarik, terutama karena kejayaan masa lalunya. Kejayaan Mataram Yogyakarta termasuk salah satu daya tarik Jogja. Saat ini, Keraton Yogyakarta masih bertahan di wilayahnya secara politik. Hingga beberapa waktu lalu sebelum Hamengkubuwono X mengundurkan diri, yang menjadi raja di Kerajaan Mataram Yogyakarta otomatis menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan kejayaan tersebut, Keraton Yogyakarta menjadi salah satu daerah WAJIB KUNJUNG.

Stasiun Tugu pintu utara
Lanjutkan membaca “Glandhangan Ngayogyakarta (Hari Pertama)”