(Fiksi) Ruang Tengah

Akhir-akhir ini menatapi dinding ruang tengah jadi rutinitasku. Menatapi? Sebetulnya lebih tepat meratapi.

Ruang tengah adalah ruangan terluas di rumah ini. Di ruang tengah semua anggota keluarga bisa berkumpul. Tak hanya raga, celoteh ceria anak-anak bebas tertumpah di sini. Hanya di sini aku bisa bersandar manja di bahumu, walau tak selalu karena harus melerai anak-anak yang kadang berseteru perkara mainan baru.

Saat kita merancang ruang tengah, kita sepakat bentangkan layar televisi terbesar di ujung ruangan. Seperangkat home theatre mutakhir sengaja ku beli dari Kanada untuk melengkapinya. Selebihnya cukup karpet Turki dan sofa Itali yang boleh melantai di ruangan ini. Biar kita nyaman di sini, menikmati rekaman film yang bahkan belum ada di bioskop Indonesia. Biar lelah kita sirna di sini, berkaraoke lagu-lagu segala jaman.

Ruang tengah harus bisa jadi surga kedua untuk kita dan anak-anak. Begitu imajinasi kita saat merancangnya. Untuk mimpi itu, aku tak sedikit pun keberatan menggunakan tabungan yang terkumpul sejak ku bangun bisnis beromset triliunan tiga tahun lalu. Aku tahu lahan di sini tak murah. Gajimu sebagai dosen itu tidak akan cukup beli tanah sejengkal pun di pusat kota Jakarta, bertetangga dengan menteri dan utusan negara asing seperti ini. Lanjutkan membaca “(Fiksi) Ruang Tengah”