Rumah di Bekasi, KPR Konvensional atau Syariah ya?

11148447_10205507531461339_3422367166766370323_nBuat aku dan suamiku, ini adalah rumah pertama kami. Sudah sejak lebaran tahun lalu kami berburu. Setiap malam, pulang kantor, kami sibuk browsing properti dari gadget masing-masing. Di akhir pekan, kami bermotor ke Bekasi mengunjungi properti-properti yang menarik. Memiliki hunian layak di Bekasi sudah sejak lama menjadi impian kami.

Kenapa Bekasi?

Kalau ada kawan bertanya demikian, ku jawab dengan kenes, “karena aku punya jet pribadi.” Hahaha… Becanda. Beberapa sanak saudara kami tinggal di Bekasi. Selain itu, Bekasi khususnya Bekasi Barat merupakah daerah yang sudah ‘terbentuk’. Sarana dan prasarana sudah sangat lengkap. Dengan berbagai keuntungan tersebut, harga properti di Bekasi tentu tidak murah. Apalagi rumah yang kami inginkan berada 1 km saja dari Stasiun Kranji. Untuk hunian seluas 200 m2 harganya minimal 1 miliar rupiah. Angka yang fantastis! Sayangnya nama belakang kami tidak terdaftar di jajaran 100 orang terkaya Indonesia seperti ‘Bakrie’ atau ‘Hartono’. Tidak mudah bagi kami untuk membeli sebuah rumah. Jadi, demi mewujudkan mimpi hunian ideal, kami pun harus putar otak.

Bagaimana mewujudkan cita-cita punya rumah?

Setelah konsultasi dengan para pakar dan sesepuh, kami memutuskan ambil Kredit Perumahan alias KPR. Adalah suami saya yang sangat teliti dengan angka mencari referensi KPR. Bahkan 5 tahun lalu sebelum kami menikah, ia mendaftar kartu kredit hanya supaya namanya muncul di database Bank Indonesia dengan reputasi kredit ‘Lancar’. Katanya, supaya kelak kalau daftar KPR mudah diterima. Visioner kan suami aku.. 😉

Tahu KPR dari mana?

Banyak sumber jadi sasaran kepo kami. Melamar KPR memang harus amat sangat teliti, seteliti melamar gadis. Kami mengandalkan berbagai sumber informasi, seperti:

  1. Website masing-masing bank,
  2. Blogger independen (bukan endorse atau blogger berbayar),
  3. Diskusi dengan teman-teman yang sudah mendaftar KPR,
  4. Kawan-kawan yang bekerja di bank,
  5. Situs pembanding KPR, sikatabis.com

Akhirnya pilih KPR di mana? Dari berbagai sumber di atas, pilihan kami pun mengerucut ke bank syariah. Sebetulnya kami nasabah bank konvensional yang sangat loyal. Walaupun kami muslim, kami tidak pernah menyentuh Produk Keuangan Syariah sebelumnya. Namun ada beberapa kelemahan KPR Konvensional yang tidak bisa kami tolerir:

  • Bunga fluktuatif. Memang di tahun-tahun pertama cicilannya relatif lebih ringan, tetapi di tahun berikutnya mengikuti bunga pasar. Bunga bisa tiba-tiba melejit kalau situasi pasar kurang mendukung.
  • Ketidakpastian besarnya cicilan hingga akhir periode. Hal ini termasuk efek dari bunga fluktuatif tadi. Karena mengikuti bunga pasar, sulit memprediksi berapa rupiah yang harus kami bayar apalagi kalau ambil tenor panjang, 15 tahun.
  • Ada denda atau pinalti bila pelunasan dipercepat. Sebetulnya ini bisa kelemahan, bisa kelebihan. Bagi nasabah santai dan woles, mungkin ini jadi kelebihan karena tidak harus ngoyo buru-buru cari uang. Tetapi bagi kami yang optimis serta kerap gatal-gatal kalau ingat hutang, ini jadi satu kelemahan.

syariah2Produk Keuangan Syariah yang kami pilih adalah KPR Jual Beli alias Murabahah. Bank Syariah membeli rumah yang kami mau terlebih dahulu. Kelak, rumah itu diberikan setelah cicilan kami lunas. Beberapa alasan kami memilih produk ini antara lain:

  • Besarnya margin sudah ditetapkan sejak awal. Berbeda dengan KPR Konvensional yang bunganya fluktuatif, margin KPR Syariah bersifat tetap hingga akhir periode dan ditentukan saat akad. Jadi kalau tahun pertama cicilannya Rp 5 juta, sampai 15 tahun mendatang pun akan tetap Rp 5 juta.
  • Menariknya, saat akad kami dapat print-out rincian cicilan dari bulan pertama hingga ke-180 alias bulan terakhir di tahun ke-15 tanpa peninjauan kembali atau revisi. Di print-out tersebut mereka juga menguraikan ke mana perginya uang kita, apakah untuk membayar margin atau cicilan rumah itu sendiri alias uang pokok.
  • Karena margin yang flat, sangat membantu kami membuat perencanaan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Jadi kami tidak khawatir menangis tragis makan aspal kalau tiba-tiba cicilan rumah meroket.
  • Tidak ada denda maupun pinalti bila pelunasan dipercepat. Bahkan sebaliknya, bisa jadi kita dapat ‘diskon’. Cihuy!

Meski demikian, bukan berarti KPR Syariah di Indonesia hadir tanpa cacat. Karena jumlah kantor cabang bank syariah dan ATM yang langka, gerak kita sangat terbatas. Termasuk dalam hal melakukan transaksi keuangan. Untungnya, KPR saya memakai sistem autodebit. Saya hanya perlu transfer ke rekening bank syariah sebelum tanggal jatuh tempo, selebihnya biarkan automasi bank bekerja. Bagi yang sedang mencari rumah, atau referensi kredit perumahan, semoga blog ini bisa memberi sedikit pencerahan. Apabila perlu informasi dari pihak yang lebih kredibel, silahkan mengunjungi website berikut:

  1. Produk Keuangan Syariah
  2. KPR Syariah vs KPR Konvensional
  3. Kalkulator KPR Syariah (SikatAbis.com)

Selamat berburu! 🙂


UPDATE:

Artikel ini telah memenangkan iB Blogger Competition 2015. Mengapa? Jawabannya dibahas lengkap di sini. Masih ada Periode 2 dan 3, ayo ikutan! Mampir saja di halaman ini, kemudian daftarkan email kamu supaya dapat notifikasi. Semoga sukses!

PS: Terima kasih dan salut untuk Panitia iB Blogger Competition hingga blog saya dikupas habis-habisan. 🙂