Selamat Malam, Pagi (5 – habis)

2 jam sebelum pemutaran film Selamat Pagi Malam

Struk mgopi sudah dibubuhi stempel ‘Lucky draw Plaza Indonesia’ oleh Pak Satpam di concierge eX lantai 4. Katanya, struk ini harus ditunjukkan ke booth Plaza Indonesia Film Festival di XXI lantai 6.

Setelah berterima kasih dan membungkukkan badan, aku dan Evi bergegas kembali ke lift. Kau tahu? Di pintu lift ada stiker poster Selamat Pagi Malam besar sekali. Kami sempat menatap nanar pintu tersebut.

“Bisa nggak ya kita nonton film ini?” aku kembali ragu.

“Kita coba aja. Kalau nggak bisa, ya nggak apa-apa. Kita bisa nonton film lainnya. Kita sudah sampai sini, jangan nyerah dulu.” Kali ini Evi lebih optimis dari sebelumnya. Begitu pintu lift terbuka, tanpa sadar kami melompat masuk, tak sabar melesat ke lantai 6.

Di sisi kanan dalam pintu masuk, dua petugas XXI Plaza Indonesia duduk menyambut kami dari belakang sebuah meja kecil. Kertas-kertas berserakan di atas meja tersebut, kontras dengan penampilan kedua Mbak Petugas yang rapi dan cantik dalam balutan long dress hitam. Di samping mereka berdiri seorang perempuan lain yang tampak lebih modern dengan perpaduan blazer coklat tua senada dengan rok selutut dan stiletto warna kulit.

Aku mendorong Evi perlahan ke arah mereka. Ia pun dengan sedikit malu-malu mengutarakan maksudnya. Salah seorang petugas bioskop membolak-balik kertas di hadapannya, mencari sesuatu entah apa.

“Selamat Pagi Malam jam 9 ya?” kata petugas lain ikut membantu temannya.

“Nah, ini dia,” mereka berhenti di satu halaman, lalu menyusuri daftar panjang di halaman tersebut.

Waiting list nggak papa ya Mbak? Nanti 30 menit sebelum film dimulai, Mbak coba kesini lagi.” Kami pun hanya bisa mengangguk pasrah.

“Eh, tunggu, tunggu. Kayaknya kita bisa pakai tempatnya Dewi deh. Dia tadi info aku nggak bisa datang,” ujar perempuan modern tiba-tiba. Ia ikut mengarahkan telunjuknya ke daftar yang sama, “yang dua ini dicoret aja deh buat mbaknya.”

Yeaaaayyy!!! Kita nontoooooooooooooonnn!!!

tiket spmfilm


2 jam setelah film diputar..

Kami keluar dari teater bioskop mungkin dengan berjalan di udara. Melayang kegirangan. Film yang sudah lama dicari, akhirnya bisa ditonton juga. Lebih dari itu, tepat ketika kami hendak meninggalkan bioskop, Evi menangkap keriuhan di pintu teater. Kami pun berbalik, kembali ke teater semula.

We’re so luck since Lucky Kuswandi, the director, and the casts were there! Hm, mungkin ini maksud stempel ‘Lucky Draw’ Pak Satpam.

Searah jarum jam: Aku dan Ci Surya (Dayu Wijanto); tiket nonton Selamat Pagi Malam; Indri (Ina Panggabean) dan aku; Indri, Evi, Lucky Kuswandi, aku (foto diambil oleh Ci Surya)
Searah jarum jam: Aku dan Ci Surya (Dayu Wijanto); tiket nonton Selamat Pagi Malam; Indri (Ina Panggabean) dan aku; Indri, Evi, Lucky Kuswandi, aku (foto diambil oleh Ci Surya)

 

Selamat Malam, Pagi (4)

Whatsapp 27 Mei 2015, 3 jam sebelum film diputar

5:44 Tika We: Aku di Coffee Bean lantai 1

5:45 Tika We: Dekat lobby sisi bundaran HI

5:45 Evi: Wow.. Okay..

5:45 Tika We: And I’ve spent 106k for iced coffee and chocolate cake, for the sake of watching Selamat Pagi Malam. LOL!

5:45 Evi: Aku tak sholat baru kesana

5:45 Tika We: Siap. Santai ae Jeng, aku sambil ngelanjutin kerja

5:46 Evi: I kinda shocked.. I mean.. Coffee bean? Seriously? Hahaha…

5:46 Evi: Tunggu yaa

5:47 Tika We: Seriously need coffee. Biar nggak tidur waktu nonton

5:48 Evi: Kaya yang yakin aja dapet tiket. Hahaha

5:48 Evi: Tapi baguslahh.. positive thinking 😉

5:50 Tika We: Optimissss!!

2,5 jam sebelum film diputar..

Evi: I am here!


Mejaku bergetar akibat panggilan masuk di HPku saat mode sunyi. Aku melambaikan tangan ke arah perempuan berhijab di seberang The Coffee Bean. Ia terdiam berdiri dengan telepon genggam di telinga kanan seraya menyebar pandangan ke berbagai penjuru kafe sebelum akhirnya menemukan lambaianku. Kami pun menghambur histeris berpelukan,

“Aaaaa!! Eviiii!! Akhirnya ketemu juga!” Cewek kalau ketemu di mall memang harus heboh kan ya? Hehe…

“Ayo kita ke lantai 4 sekarang. Harus gerak cepat nih biar waiting list nya nggak di buntut-buntut amat.” Aku mengemasi laptop dan catatan kerja yang masih berserakan. Tanpa banyak basa-basi, ku tarik tangan Evi keluar dari kafe.

“Lantai 4 itu eX ya? Hm.. Berarti kita harus belok sini, tembusnya concierge The Plaza.” aku menebak-nebak arah menuju lift khusus lantai 4.

“Ke lantai 4 itu ngapain, Jeng?” tanya Evi di kali keduanya menginjakkan kaki di mall mewah tersebut.

“Struk ngopi tadi harus ditunjukkan di concierge lantai 4 dulu baru bisa ditukar tiket di counter film festival,” ujarku nyerocos setengah berlari, “Nah, ini concierge ground floor. Lurus ke gang samping eskalator, tembus Luis Vuitton, lalu Kitchenette.”

“Ya ampun, kamu sering ke sini ya?” Evi pun terpaksa ikut berlari kecil mengikuti langkahku.

“Enggak. Sejujurnya tata letak mall ini cukup membingungkan. Apalagi nggak semua lift bisa dipakai ke eX. Makanya tadi sebelum ngopi aku hafalin jalannya dulu.” Lift menuju eX terselip di jalan kecil antara Kitchenette dan Periplus. Kalau mata kita tak awas, agak sulit menemukannya.

Tak jauh dari pintu lift lantai 4, terdapat meja kecil yang dijaga satpam muda bertampang belia. Usianya mungkin selisih 2 atau 3 tahun lebih tua dari aku. Ia berdiri, sibuk dengan radio panggil di tangan, acuh dengan papan mika kecil 30 senti bertuliskan ‘Concierge’ yang tergeletak di ujung meja.

“Selamat sore, Pak. Kami mau nonton filmnya Plaza Indonesia Film Festival, caranya gimana ya?”

Satpam gagah berambut klimis meletakkan radio panggilnya lalu duduk di belakang meja dan tersenyum menyambut kami.

“Ibu cukup berbelanja minimal seratus ribu, bisa ditukarkan voucher nonton untuk 2 orang gratis,” ujar Pak Satpam ramah.

Secarik struk kopi sore tadi ku keluarkan dari dompet untuk Pak Satpam, “Ini Pak. Kami baru saja ngopi seratus enam ribu di The Coffe Bean ground floor.”

Reflek, harus banget ku sebutkan total pembelian kopi tadi. Selain untuk meyakinkan Pak Satpam, aku harap dia mengerti bahwa sesungguhnya kami bukan tipikal peminum kopi fanatik hingga harus merogoh kocek ratusan ribu.Ini demi film Selamat Pagi Malam. Titik.

strukPak Satpam mengeluarkan stempel kayu hitam dari laci. Keningnya sempat berkerut, memicingkan mata mencoba mengeja cetakan samar pada struk. Namun ia memilih tak peduli. Atau belas kasihannya lebih tebal dibanding tinta cetak bukti pembelian kopi. Dengan mantab digilasnya ujung struk kopiku dengan stempel bundar. Setelah stempel diangkat, tampak jelas tulisannya berbunyi ‘LUCKY DRAW Plaza Indonesia’.

Alamak! Sudah susah payah beli kopi, lari ke mari, ternyata baru berpangkat lucky draw alias undian. Artinya, masih ada babak berikutnya untuk memperoleh tiket nonton Selamat Pagi Malam, yaitu mencari si ‘Lucky’, keberuntungan itu sendiri.