(Review Buku) Hijab Street Style, A Random Album

Dian dan Tika We :P
Dian dan buku pertamanya
Dian dan buku pertamanya

Akhirnya penantian panjang Dian Pelangi dan ‘umat’nya terjawab sudah. Hari ini perempuan kelahiran Palembang 21 tahun lalu itu meluncurkan buku pertamanya, Hijab Street Style (HSS). Bagi mereka yang merasa pernah ketemu Dian Pelangi alias Dian Wahyu Utami boleh deg-degan dengan diluncurkannya buku ini, “Ada muka gue enggak yaaa.”

Hahaha… Tapi sepertinya Anda-Anda di seluruh Indonesia yang stylish dan berbakat narsis serta eksis musti bersabar lagi. Buku HSS baru tersedia di toko buku Gramedia Agustus mendatang. Sambil nunggu, saya sarankan 2 hal untuk Anda: 1. Siapkan kocek Rp 99.500 untuk 1 eksemplar buku perdana Dian Pelangi ini; 2. Simak review saya hingga titik kata penghabisan. Hehehe…

Terinspirasi The Sartorialist-nya Scott Schuman, HSS adalah salah satu dari seribu gebrakan Dian di dunia industri fashion muslimah. Buku mode muslimah memang bukan hal baru di Indonesia. Sudah banyak buku yang khusus menampilkan tren mode muslimah. Gramedia Pustaka Utama adalah salah satu penerbit yang rajin dan concern dengan buku full colour semacam ini. Trus apa yang membedakan HSS dengan buku mode lainnya?

Randomness. Itulah yang membedakan buku Dian dengan buku mode lainnya. Well, saya memang bukan pengamat mode, dan sama sekali nggak modis. Namun berdasarkan pengamatan dari hobi berdiri berjam-jam di Gramedia melototin muka-muka licin model di buku-buku itu, saya berani bilang HSS is a must have item. Anda tidak akan ngiler pasang muka pengen dan jealous dengan muka tirus, licin, dan body sempurnanya model-model itu. Di HSS, semua tipe cewek Indonesia ada. Yang badannya kurus bahkan terancam setipis tripleks sampai yang tambun, ada. Yang mukanya licin bening, jerawatan, nerd, atau malah menor juga ada. Lebih dari 600 foto yang ditampilkan dalam buku ini memang random dan candid.

Dian membagi ratusan foto muslimah ini menjadi 20 bab berdasarkan kota tempat diambilnya gambar tersebut. Tak hanya kota-kota di Indonesia, ada juga dari Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur.

Tidak ada kriteria khusus yang diangkat Dian ke dalam buku ini. Mostly casual dan wearable. Uniknya, Dian menyingkirkan ego dagangnya di buku ini. Ia jepret gadis-gadis tersebut tanpa memandang brand. Bahkan jas almamater HIMAFI ITB pun tak luput dari sorotannya. Barangkali itulah yang membuat HSS sebagai salah satu buku yang wajib dimiliki para muslimah. Keacakannya sangat sesuai dijadikan referensi dalam berhijab dan mix&match baju. Niat Dian untuk menjadikan buku ini sebagai sumber inspirasi muslimah Indonesia, tercapai.

Perlu waktu satu tahun untuk Dian menyusun buku ini. Dan hanya perlu waktu 1 minggu untuk mencetaknya. Sayangnya, kesan terburu-buru itu terbaca. Tak sedikit foto yang entah sengaja atau tidak menampilkan logo yang (padahal) bukan sponsor. Sebut saja Resto Nine Surabaya, 7eleven, dan HIMAFI ITB. Semoga saja setelah ini mereka mau bantu promo buku HSS. Hehehe…

Selain itu kesan kurang konsisten sempat muncul tatkala Dian menampilkan foto beberapa pria di bab Singapura. Dari 584 halaman HSS, hanya ada 3 halaman yang menampilkan wajah pria, dan semua itu ngumpul di bab Singapura. Padahal kalau bicara mode busana muslim pria, Indonesia tidak kalah ganteng lho. Apalagi kita punya peci lancip ala Bang Madid.

Somehow, HSS lebih menyerupai album foto daripada buku inspirasi mode. Dalam hal seleksi mode, selera Dian tak perlu diragukan. Sayang, Dian tak menyertakan komentar atau keterangan di foto-foto tersebut. Maksudnya, kenapa model ini cocok jadi inspirasi? Apa karena padu padan warnanya kah, aksesorisnya, atau model hijabnya, sama sekali tidak disertakan di buku ini.

However, saya yakin buku ini akan jadi milestone perjalanan mode muslimah nasional. Keberadaannya mengokohkan posisi Indonesia sebagai pusat gravitasi mode muslimah dunia. Next, Dian akan menerbitkan buku serupa versi Eropa dan Timur Tengah.

Congratz, Dian! Keep inspiring, genius girl!

Dian dan Tika We :P
Dian dan Tika We 😛

Hijabee Masuk Tivi di Kuis Flexi CengLi

Hijabee The Victory

Assalamu ‘alaykum, Bees..

Apa ya yang terjadi ketika ada dua perempuan berkumpul di satu tempat? Mereka akan saling curhat, mengungkapkan kisah hidup masing-masing. Bagaimana bila ada tiga perempuan di satu tempat? Hm, yang ada pasti obrolan serius tentang si dia, temannya si anu, mamanya si itu, hingga neneknya yang begini-begitu. Nah, kalau ada TIGA PULUH perempuan seru berkumpul di satu tempat? Seruuuu!!

Itulah yang terjadi pada 4 Februari 2012 lalu. Lebih dari tiga puluh Bees menikmati atmosfer malam Minggu yang berbeda dari biasanya. The Bees buzzed gorgeously at City of Tomorrow aka CITO.

Hijabee di Flexi CengLi
Hijabee di Flexi CengLi

Lanjutkan membaca “Hijabee Masuk Tivi di Kuis Flexi CengLi”