Hidup di Inggris Bag 2: Jalanan

Jalan di Inggris bisa menantang sekaligus menyenangkan. Jalan kaki dan menyeberang lebih aman, tapi jarang ada jalur sepeda seperti di Belanda atau Korea Selatan.

Di jalan..

  1. Kalau mau nyebrang cari pencetan lampu lalu lintas atau bola lampu orange yang nyala kedip-kedip.
  2. Papan peringatan ditulis dalam kalimat lengkap, santun, grammar tepat, sering pakai ‘pun’ atau rima.IMG_4209
  3. Cek suhu dan prakiraan cuaca sebelum keluar dan jalan-jalan
  4. Mengandalkan Google Maps atau aplikasi peta lain buat jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
  5. Jalur pedestriannya lumayan lebar, tapi nggak ada jalur sepedaIMG_2304
  6. Pakai baju berlapis-lapis, jaket juga.
  7. Punya Coach Card, Rail Card, dan Oyster demi kelancaran perjalanan hidup
  8. Beli tiket perjalanan opsinya: single, day trip, atau group trip. Udah, itu aja.
  9. Mau jalan ke luar kota cari tiketnya online, pilih-pilih jam off-peak biar lebih murah
  10. Supir coach nggak tahu jalan itu biasa, mereka pakai GPS. Tapi kalau supir taksi pasti hafal jalan bahkan nomer rumahnya
  11. Jarang banget lihat polisi di jalanan
  12. Berpikir keras waktu baca peringatan di tol “No hard shoulder for 100 yards”. Apa hubungannya pundak sama jalan tol, coba?
  13. Papan peringatan tol gambarnya rusa atau sapi, kayak ‘Awas ada rusa’, tapi nggak pernah kelihatan.
  14. Kalau dateng pagi ada koran gratis di stasiun. Kerennya, 1 orang cuman ambil 1. Mungkin karena nggak ada loak kiloan kayaknya di sini. (thanks to Mbak Adistra)
  15. Harga mobilnya nggak mahal-mahal amat, toh kebanyakan bikinan Eropa juga. Tapi asuransinya selangit bok.. (thanks Mbak Maylia)
  16. Nggak ada traffic jam, adanya traffic congestion. Haha.. Sama aja! Tapi semacet-macetnya jalanan di Inggris, masih banyak space lowong yang kalau di Jakarta mungkin udah disisipin motor. (thanks Mbak Maylia)
  17. Jalan tolnya pakai kode. Kalau mau ke city, lewat A3035, belok kanan ke A3034, ketemu M150, bisa!
  18. Pengamennya keren-keren, udah cocok jadi artis. Secara, mereka harus ikut audisi di city council dulu dengan sederet aturan untuk dapet lisensi. IMG_2520Di Soton, pengamen nggak boleh menghalangi jalan, suaranya nggak boleh terlalu keras, nggak boleh ngeguncang-guncang kotak koin, nggak boleh mendekati orang (biar orang yang mendekati dia), nggak boleh … Banyak!

Refleksi Hari Ulang Tahun Ke-26

Waktu usiaku 9 tahun, kolorektalku hampir dioperasi. Dokter memprediksi hidupku akan bergantung dengan operasi karena kelainan permanen. Tapi Ibu berpikir lain. Ibu yakin aku akan baik-baik saja seperti anak-anak ‘normal’ lainnya. Ibu merawat aku dan seperti yang kamu lihat, aku bertahan tanpa operasi apapun. Eh, pengecualian operasi bedah mulut dan operasi lain akibat naik motor. Hehe.. Jadi, kebayang kan betapa bersyukurnya aku?

Sekarang aku di sini, di Southampton, 7.335 mil jauhnya dari rumah. Apakah aku bahagia? Ya, tentu saja! Memang hidup di luar negeri nggak mudah, tapi aku mencoba mengatur kebahagiaanku seperti yang dilakukan Mbak Adem di Happiness Project-nya. Dia mengajarkanku untuk tidak terlalu ambil hati penilaian dan pertanyaan tidak menyenangkan. Tetap fokus dengan apapun yang membuatku bahagia, dan menjadi seorang penyemangat.

Banyak orang pikir aku sangat gembira, hidup sempurna, dan nggak pernah bosan. Ayolah, jadi mahasiswa pasca sarjana di Inggris itu nggak gampang. Mahal! Aku harus mengorbankan daftar panjang jalan-jalan untuk belajar. Beneran, semua ini sama sekali nggak gampang. Aku sempat menyerah dengan mata kuliah Statistics Theory and Linear Model. Aku sebel sama cacing-cacing integral. Kalau kamu bermimpi kuliah di luar negeri hanya karena kamu suka jalan-jalan, atau karena kamu suka Inggris, bangun woy!

IMG_4058

Untuk kasus ini, aku harus mengutip apa yang dibilang Richard jauh sebelum aku daftar kuliah pasca sarjana: “Rasanya penting deh kamu punya tujuan yang jelas, dan setia pada tujuan itu, juga punya rencana kalau semua itu nggak berjalan lancar. Maksudku, penting kamu pergi ke Inggris berbekal pemahaman yang jelas tentang apa yang akan kamu lakukan, sehingga apapun yang kamu hadapi kelak, ketika kamu nggak menikmati apapun seperti yang kamu harapkan, kamu bisa mengingatkan dirimu sendiri apa saja tujuanmu, ingatkan diri sendiri ‘ini cuma setahun’ dan tetap fokus.”

Dan di sinilah aku sekarang. Ketika aku merasa putus asa, aku mengingatkan diri sendiri untuk fokus ke tujuanku. Lebih dari itu, aku diberkahi karena teman-temanku membuat kehidupan British seperti sebuah gurauan. Tuhan juga mengirimkanku teman-teman sekelas yang keren seperti Jo, Ana, Laura, Emily, Dana, Mia, Shiro, Martina, Alessandro, dan Mama Maria tersayang. Mereka baik banget dan cerdas! Mereka nggak keberatan kalau pertanyaan-pertanyaan bodohku menginterupsi waktu belajar mereka. Bahkan mereka membuat kelompok belajar supaya kami saling membantu dalam mata kuliah tertentu. Mereka keren banget deh!

IMG_3966Untuk menyempurnakan hidupku di Inggris, Tuhan menurunkan Devorah untuk membangun sebuah kecil di Broadlands Road, dan menyewakan ke empat orang Indonesia yang edan, cerewet, dan cakep. Rumah ini menyenangkan, tapi aku lebih sayang teman-teman serumahku. Mereka pasien Pei Pa Koa, penggemar berat daging babi, dan peminum alkohol sosialis yang menghormati dan mendukung gaya hidupku yang beda banget. Edwin, Harito, dan Kak Njoo membuat rumah ini menjadi sebuah ‘rumah’. Tahu lah, ‘rumah’ bukan sebuah tempat, melainkan perasaan.

IMG_4029.JPG

Aku tahu, mengucapkan ‘terima kasih’ nggak akan pernah cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku kepada semua orang di usiaku yang ke-26 ini. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Terima kasih, terima kasih, dan aku sayang kamu!

Harmonisasi Seniman dan Relawan di Kafe Nirlaba The Art House Southampton

Hari Minggu lalu aku makan siang dengan teman-teman Vegan/Vegetarian Society di The Art House. Tempat ini dulunya galeri kesenian yang hampir mati. Oleh kuartet Bik, Jani, Nina, dan Ziggy, galeri tersebut disulap jadi hub untuk organisasi nirlaba dengan menambahkan makanan, minuman, kerajinan tangan, dan acara kesenian lokal.

University of Southampton VegSoc
University of Southampton VegSoc

The Art House Cafe kemudian jadi tempat andalan komunitas-komunitas di Soton terutama yang bergerak untuk suatu cause dan seniman lokal. Pengamen, anggota komunitas, dan seniman dapat diskon khusus. Nggak perlu nunjukin bukti apa-apa. Waktu bayar bilang saja, “Aku anggota Vegetarian Society (misal), bisa dapat diskon komunitas?”. Kasirnya nggak tanya macam-macam, langsung kasih potongan 10%.

Aku tanya kasir gondrong pirang, “Kamu nggak minta kartu member komunitas atau apa kek, buat bukti aku anggota komunitas?”.

Tau jawabannya apa? “Nggak perlu. Aku percaya orang-orang yang berbaik hati datang ke sini. Mereka datang, mendukung seniman lokal, lalu makan enak. Aku bener-bener seneng. Lebih dari seneng. Kalau mereka bohong, mereka sedang bohong ke diri mereka sendiri. Gitu aja.” Jleb!

Ada rak-rak lucu di beberapa sudut kafe. Yang dipajang adalah hasil karya seniman jahit, seniman kain perca, atau brosur-brosur kerelawanan. Mereka juga menyediakan papan tulis kecil, rak brosur, dan tempat kalau kita mau promosi komunitas kita maupun kegiatannya.

Nah, kalau papan tulis dekat kasir itu untuk mengapresiasi relawan yang bantu-bantu di The Art House. Di atasnya adalah target penjualan mereka untuk mendanai operasional kafe maupun kegiatan-kegiatan kerelawanan dan kesenian di situ.

Society blackboard. Abaikan bapak-bapak narsis.
Volunteer’s blackboard. Abaikan bapak-bapak narsis.

Saking baiknya sama seniman dan komunitas, tempat ini rajin didekorasi oleh relawan dan seniman. Misal, lantai atas dicat oleh seniman bernama Tony, yang juga relawan pengajar bahasa isyarat sekaligus bikin roti. Ada sentuhan seniman dan relawan di setiap sudutnya.

Busker atau pengamen bebas nampil di situ. Musisi lokal silih berganti unjuk kebolehan, atau ikut siaran di radio sederhana mereka. Tapi jangan dibayangkan pengamennya yang belel lusuh nggak mandi dan habis teler ya. Mereka bersih, suaranya bagus, genjrengannya pas, dijamin nggak tampil dalam kondisi mabok.

Itulah yang membedakan The Art House dengan kafe lain, dia nggak jual minuman beralkohol. Filosofi mereka, kalau mau berkarya atau menikmati karya dengan optimal itu harus sober. Buat ukuran kafe di Inggris, ini satu dobrakan besar karena nggak menjual miras berarti siap untuk tidak tumbuh sepesat kafe umumnya. Eh tapi yang terjadi justru sebaliknya, kafe ini sibuk terus. Padahal nih, menu mereka nggak ada daging sama sekali. Ini memang tempat khusus para vegetarian dan vegan dengan sayuran organik lokal, bukan impor. Udah nggak ada alkohol, nggak ada daging, tapi tempatnya selalu penuh sampai harus reservasi. Keren..

Pumpkin pasty dengan salad kale, kentang panggang, dan bakso (udah dimakan sebelum difoto)
Pumpkin pasty dengan salad kale, kentang panggang, dan bakso (udah dimakan sebelum difoto)

O ya, walaupun khusus vegetarian dan vegan, kafe ini bikin bakso juga. Bukan dari daging sapi, tentunya, tapi dari tempe. Yeah! Hidup tempe!

Satu lagi yang aku suka dari kafe ini adalah suasanya. Suasana, bukan tempat. Tempatnya nggak terlalu lapang, namun entah suasananya lebih guyub dibanding kafe manapun yang pernah aku hampiri di Soton. Mungkin karena hampir semua pelayan di kafe adalah relawan. Relawan yang nggak cuma mengerjakan pesanan tetapi juga memberi kelas-kelas inspiratif dan sederhana seperti kelas bahasa isyarat, kerajinan tangan, kesenian, Bahasa Prancis, dan sebagainya. Di kafe ini aku bisa merasakan harmonisasi relawan dan seniman. Hangat, menyenangkan, sekaligus menyejukkan. Mungkin itu efek dari ketulusan yang memancar dari mereka. Tulus berkarya, tulus berbuat sesuatu untuk sesama. 🙂