If you could find a good job in other big cities like Surabaya, Bandung, or Medan, would you leave Jakarta? If not, why?

If you could find a good job in other big cities like Surabaya, Bandung, or Medan, would you leave Jakarta? If not, why?

I’d like to know what makes people stay in Jakarta other than money. Is it worth the flood, the traffic jam, the pollution? Lanjutkan membaca “If you could find a good job in other big cities like Surabaya, Bandung, or Medan, would you leave Jakarta? If not, why?”

Yang Disuruh Datang ke Jakarta

Nggak kerasa hampir 9 bulan saya jadi tarzan di belantara Kota Jakarta. Kesan saya? Menantang, seru, dan lalu lintasnya iWow!

Mendengar nama Jakarta, siapa pun, yang terbayang pasti kemacetan. Bener enggak sih seperti itu? Well, saya menyimpan off the record statement dari orang-orang di sekitar saya. Ada narasumber, kawan, partner, mereka punya kesan yang unik tentang Jakarta. Cekidot!

1. Marielle Butters

Marielle Butters
Marielle Butters

Perempuan asal Colorado, Amerika ini belum lama di Jakarta. Kurang dari 4 bulan deh kayaknya. Ia dikirim ke Jakarta sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris salah satu lembaga kursus. Jakarta menurutnya bukanlah Indonesia yang ia bayangkan. Ia membayangkan Indonesia sebagai negara yang hijau dan berpenduduk ramah. Dua hal tersebut gagal ia temukan di Jakarta. Untunglah dia punya banyak kesempatan untuk menjelajahi daerah lain di Indonesia yang sesuai dengan imajinasinya.

2. Raman Narayan

Raman adalah pejabat Air Asia ASEAN yang berkantor di bilangan SCBD, Jakarta. Ia berasal dari Malaysia, negara Air Asia dilahirkan. Ketika sebagian besar mengeluhkan kemacetan di Jakarta, Raman memandang hal tersebut sebagai sinyal positif perkembangan ekonomi masyarakat Jakarta. “Jakarta macet karena banyak orang punya mobil. Mereka punya mobil karena mereka mampu secara ekonomi. Ini pertanda bagus, kota ini maju,” kata Raman. Nggak salah juga sih ya..

3. Kristin

Maaf, lupa nama lengkapnya. Yang jelas, Kristin ini adalah public relationnya Innovation Norway, semacam kantor dagang dan pariwisata Norwegia untuk luar negeri. Innovation Norway itu ada di 32 negara. Artinya, Kristin sudah jelajah 32 negara tersebut. “Di Shanghai juga macet. Tapi kendaraannya masih bergerak, pelan sekali,” katanya, “kalau di Jakarta ini tidak bisa dibilang macet, karena kendaraan berhenti, benar-benar berhenti di jalan. Kita sama sekali tidak bisa bergerak!” Hahaha… Selamat datang, Kristin!

4. Andrew McGlinchey

Andrew adalah manajer produk Google untuk Asia Tenggara. Saat peluncuran mobil Google Maps di Jakarta, dia memberi apresiasi lebih lho buat Jakarta. “Bicara tentang lalu lintas, Jakarta dapat medali emasnya! Hahahaha…” Medali emas? Kedengarannya menarik. 😉

Jakarta, oh Jakarta.. Siapa suruh datang Jakarta? 😛