Review Buku-Buku Bule dan Indonesia

Ketika batas negara semakin kabur, Jakarta terasa makin campur-campur. Pendatang berkulit putih (Kaukasoid) dari Eropa dan Amerika pun meramaikan dinamika silang budaya di Indonesia.

Berikut ini buku-buku yang mengisahkan dinamika tersebut. Dua buku ditulis oleh pendatang asal Eropa, satu buku oleh orang Indonesia. Dari ketiga buku ini, kita dapat melihat bagaimana dinamika beda budaya itu terjadi, dari sisi kita empunya tanah, maupun sisi pendatang. Lanjutkan membaca “Review Buku-Buku Bule dan Indonesia”

Coklat Pagi: Uang Kecil

Aku sudah cerita belum kalau kantorku sekarang pakai lift? Iya, sekarang aku harus merayap ke lantai 7 untuk meraih gagang pintu kantorku. Itu pun aku harus melewati serangkaian penjagaan dulu plus scan sidik jari.

Sebenernya bukan kantorku yang berubah, tapi aku yang ganti judul profesi. Kerjaannya sih sama: TUKANG KEPO. Well, tenda kepo aku di Wisma Metropolitan 2 yang sekomplek sama Wisma Metropolitan 1, WTC 1, dan WTC 2. Kalau kamu tahu komplek gedung pencakar langit di gemerlap Jakarta ini, paham donk betapa wilayah itu sesak ekspatriat. Dari situlah aku menyesap cerita menarik hampir setiap pagi. Seperti menyeduh coklat untuk membuka hari, tak jarang cerita itu membawa mood baik seperti pagi ini.

Walaupun Jakarta Land sebagai pengembang komplek WTC nggak menyediakan tempat parkir motor, aku ngeyel bermotor setiap hari. Di sekitaran WTC tidak sedikit lahan kosong yang disewakan untuk parkir motor. Aku memilih parkir Mandiri, persis di pintu belakang WTC. Di situ banyak tukang ojek mangkal dan mendarat. Pagi ini, tampak satu tukang ojek mengantar penumpang ekspatriatnya. Ekspatriat itu turun dari motor dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu untuk si tukang ojek. Pagi-pagi, disodorin duit gedhe, bapak ojek bingung donk. Apalagi penumpangnya belum fasih berbahasa Indonesia.

“Not big money, Mister,” kata bapak ojek. Maksudnya, uang Mister Ekspatriat ini terlalu besar dan dia nggak mau.

“Change, change,” lanjut Pak Ojek berharap Mister Ekspatriat mau menukarkan uangnya.

Mister Ekspatriat hanya senyum. Dia melipat uang kertas itu jadi lipatan kecil dan menyerahkannya ke Pak Ojek.

“Small money,” kata Mister Ekspatriat. Mister Ekspat senyum, Pak Ojek bingung, aku ketawa ngakak dan berlalu. Habisnyaaa.. masak iya  uang kecil itu cuma perkara ngelipet duit ratusan ribu jadi kecil?! Hah, sutralah ya.. Biar Pak Ojek termotivasi belajar Bahasa Inggris juga. 😉