Post-Journo Syndrome I

Post-power syndrome adalah suatu gejala yang terjadi dimana si penderita tenggelam dan hidup di dalam bayang-bayang kehebatan, keberhasilan masa lalunya sehingga cenderung sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang.  (Psychology Study Club UII, 2012)

Banyak artikel tentang post-power syndrome di internet. Penyakit psikologis ini diulas di berbagai forum, jadi materi jualan asuransi pensiunan, bahkan punya Facebook fan page. Kata Google Trends, rating pencariannya juga semakin meroket. But hell, nggak ada satu situs pun yang bahas Post Journo Syndrome. Tidak satu pun. Uff… Apa iya aku harus bikin halaman wikipedia sendiri biar semua orang di dunia tahu bahwa Post Journo Syndrome does exist??

Post-journo syndrome adalah suatu gejala yang terjadi di mana penderita adalah mantan jurnalis dan hidup dalam bayang-bayang kekuasaan, kepopuleran, dan kemewahan masa lalunya sehingga cenderung sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang.

Great! Anggaplah aku sukses mendefinisikan post-journo syndrome. Tapi ini belum cukup untuk satu halaman Wikipedia. Aku juga harus menjelaskan gejalanya. Lanjutkan membaca “Post-Journo Syndrome I”

(Fiksi) Ruang Tengah

Akhir-akhir ini menatapi dinding ruang tengah jadi rutinitasku. Menatapi? Sebetulnya lebih tepat meratapi.

Ruang tengah adalah ruangan terluas di rumah ini. Di ruang tengah semua anggota keluarga bisa berkumpul. Tak hanya raga, celoteh ceria anak-anak bebas tertumpah di sini. Hanya di sini aku bisa bersandar manja di bahumu, walau tak selalu karena harus melerai anak-anak yang kadang berseteru perkara mainan baru.

Saat kita merancang ruang tengah, kita sepakat bentangkan layar televisi terbesar di ujung ruangan. Seperangkat home theatre mutakhir sengaja ku beli dari Kanada untuk melengkapinya. Selebihnya cukup karpet Turki dan sofa Itali yang boleh melantai di ruangan ini. Biar kita nyaman di sini, menikmati rekaman film yang bahkan belum ada di bioskop Indonesia. Biar lelah kita sirna di sini, berkaraoke lagu-lagu segala jaman.

Ruang tengah harus bisa jadi surga kedua untuk kita dan anak-anak. Begitu imajinasi kita saat merancangnya. Untuk mimpi itu, aku tak sedikit pun keberatan menggunakan tabungan yang terkumpul sejak ku bangun bisnis beromset triliunan tiga tahun lalu. Aku tahu lahan di sini tak murah. Gajimu sebagai dosen itu tidak akan cukup beli tanah sejengkal pun di pusat kota Jakarta, bertetangga dengan menteri dan utusan negara asing seperti ini. Lanjutkan membaca “(Fiksi) Ruang Tengah”

Four Thumbs Up Penulis Indonesia!

Akhir pekan selalu sukses jadi alasan bermalas-malasan. Apalagi ketika hujan sudah lebih dulu terbangun sebelum mata kita. Hm, udara pagi yang sejuk dan ‘basah’ adalah harta karun terindah bagi siapapun yang bosan dengan panas Surabaya.

Itulah yang terjadi pagi ini. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 7.30, kelopak mata saya masih enggan bercerai. Badan pun semakin mesra dan intim dengan kasur. Kalau sudah begini, yang biasanya saya lakukan adalah mencari remote TV Tunner, membiarkan ocehannya menarik perhatian hingga mata ikhlas terbuka.

Ketika tangan meraba mencari teman tidur paling setia setelah handphone, otak saya ‘salto’. Ia melompat, berputar ke belakang hingga memori beberapa hari lalu. Hari ketika saya harus ‘menyekolahkan’ monitor PC ke kios bersemboyan Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah. Berkolaborasi dengan TV Tunner, monitor inilah yang biasanya membangunkan pagi saya. Namun, untuk sebuah workshop atau pelatihan, tak apalah ia istirahat sejenak di sana.

“Yang penting saya harus hadir di tengah cerpenis Surabaya tanggal delapan nanti,” gumam otak ndhridhis (banyak tingkah) saat itu.
Lanjutkan membaca “Four Thumbs Up Penulis Indonesia!”