Sate Ayam Susan

Monjali 1

Susan dan Astrid kembali! Kali ini mereka ditemani adik kelasku yang pernah kuliah Sastra Inggris. Sari namanya. Mereka lagi jalan-jalan di Yogyakarta dan sekitarnya.

“Sar, aku nitip Susan sama Astrid yo. Kamu nggak perlu terjemahkan semuanya, biar mereka berusaha belajar dan ngomong Bahasa Indonesia. Kalau dua-duanya mentok, baru kamu bantu terjemahin.”

“Nggih Mbak. Nanti kalau aku bingung telpon Mbak Tika nggak papa yo?”

“Lho ya nggak papa, bebas. Atau, kamu miscall aja, nanti aku telpon balik. Sayang pulsamu, bisa buat nelpon pacarmu yang di Surabaya itu to? Hehehe…”

Susan dan Astrid tiba di Yogyakarta sore hari. Setelah berbenah, mereka menikmati Yogya malam hari di Malioboro. Standar lah. Yang nggak standar itu ternyata si Sari. Hampir tiap sepuluh menit dia telpon aku.

“Mbak, bule tu makan nasi sama ayam goreng nggak papa to?”

“Lha yo nggak papa, Sar. Ayamnya udah mati kan?”

“Ya udah, Mbak. Tapi sama nasi lho Mbak. Bule kan nggak makan nasi ya?”

“Bule nggak makan nasi karena memang di sana nggak ada padi, cah ayu. Tapi bukan berarti mereka alergi nasi. Waktu di Bogor mereka aku ajak makan makanan Sunda lahap banget kok.”

“Oh, yo wes Mbak kalau gitu.”

…Sepuluh menit kemudian…

“Mbak, bule tuh kalau makan ayam goreng bagian mananya?”

“Hah? Maksudmu?”

…Sepuluh menit berikutnya…

“Mbak, ini si Astrid makan sambel banyak banget, nggak papa ya?”

“Nggak papa, Sar. Dia dari Meksiko. Orang Meksiko suka pedes juga.”

Setelah itu, telepon saya senyap. Aku pikir semuanya baik-baik saja malam itu. Sampai kemudian Sari kembali menghubungiku lagi.

“Mbak, bule kalau muntah dikasih apa?”

“Hah? Kenopo?”

“Anu.. Susan muntah-muntah, Mbak.”

“Duh! Kok bisa? Makan apa?” aku panik seketika. Handsfree di meja langsung aku pasang biar bisa telepon sambil googling tentang asuransi kesehatan WNA di Indonesia. Ya semacam NHS kalau di Inggris.

“Cuma makan sate ayam Mbak. Tapi yang di angkringan itu lho, yang sate ati goreng, sate usus, gitu-gitu Mbak.”

“Terus?”

“Mereka makan satenya sampai habis kok, lahap banget. Trus Susan tanya, sate yang dia makan namanya apa.”

“Emang dia makan sate apa?”

“Sate brutu, Mbak. Makanya aku jawab aja, ‘That was chicken butt. You know, the chicken part for poop.’ Habis itu dia muntah-muntah. Aku salah yo Mbak?”

Aduh! Kebacut!

Kaya Mendadak 4

“Kita ke Bogor naik KRL ya?”

“Ok!”

Di sinilah petualanganku membawa dua orang asing di moda transportasi paling menguras emosi sejagat raya bermula. Di hari-hari biasa, perasaan dan rasa manusiawi harus dibuang jauh-jauh demi mendapatkan sejengkal ruang untuk berdiri di KRL. Modal bismillah, aku beranikan diri ajak Susan dan Astrid naik KRL biar mereka tahu Jakarta yang sesungguhnya.

Tentu saja mereka nggak aku bawa di jam sibuk. Nggak lucu kalau keesokan harinya mereka jadi headline koran Lampu Merah PAGI-PAGI DUA BULE DIGENCET IBU-IBU KRL SAMPE NGGAK BISA NAPAS NGGAK BISA GERAK GARA-GARA KALAH KECE. Dengan penuh kesadaran, aku puter-puterin dulu lihat masjid Istiqlal, Monas, dan sebagainya supaya kami sampai di stasiun jam 11 siang.

Asumsiku, nggak banyak orang ke Bogor dari Jakarta jam 11 siang. Pertama, itu bukan rute orang kantor. Kedua, bukan jam sibuk. Jadi wajar donk kalau aku berasumsi KRL bakal sepi.

Tapi ternyata dugaan saya salah, saudara-saudara! KRL tetep rame. Walaupun nggak penuh sesak, tapi semua bangku terisi penuh.

Seorang bapak berdiri. Kemudian ia mempersilahkan Susan duduk. Aku sama Astrid bengong saling bertukar pandang. Dunia sudah kebalik-balik kayaknya. Biasanya yang muda mempersilahkan yang tua, ini kebalikannya.

Nggak lama kemudian, ibu yang duduk di samping Susan berdiri. Beliau mempersilahkan Astrid duduk.

Sebentar. Nggak ada yang mempersilahkan aku duduk nih?

Baiklah.

“Kamu nggak papa berdiri, Tik?”

Duh, pake nanya lagi.

“Nggak papa kok, resiko naik KRL harus siap berdiri,” jawabku dengan senyuman terindah. Hmpf, dapet salam dari Basa-Basi.

Cawang, Pasar Minggu, Lenteng Agung, sampai stasiun UI aku masih tegar berdiri. Terpaksa tegar, lebih tepatnya. Tangan kanan ngegantung di handel, berharap nggak pingsan karena belum sarapan.

Bapak-bapak yang duduk di sisi lain Susan, entah tersambar petir dari mana, tanya ke aku dengan sopannya, “Masih kuat berdiri kan, Mbak?”.

Hastagah.. Wahai bumi dan semesta alam, tolong berhenti berputar sejenak. Aku mau tanya. Ini bapak maksudnya apa nanya gitu? Perhatian? Atau ngetes kesabaran? Perlu aku jawab?

Mana nih Bapak ternyata turunnya di Cilebut pula, cuma satu stasiun sebelum Bogor. Ah elah, orang Cilebut..

Sesampainya di Stasiun Bogor, seperti biasa, kami berhitung masalah keuangan.

“Tika, berapa Rupiah naik tube dari Central Jakarta ke sini?”

“Bolak-balik sepuluh ribu, kalau nggak salah. Jadi sekitar 50 pence (£0,5).”

“Ya ampun, murah banget! Aku jadi merasa kaya banget hidup di sini. Bandingin sama tube London, sekali jalan £3. Kayaknya aku bisa beli kereta ini. Kita tiap hari naik ini aja!”

Hm, tiap hari ya. Makasi lho..

14699444_10209421513748450_1594104698_o
Dari kanan: Astrid, Susan, dan ya si Bapak Cilebut itu!

Kaya Mendadak 3

Jalan sama bule itu ada enaknya, ada senepnya juga. Senepnya, orang-orang suka mikir kita tour-guide atau orang bayaran yang tugasnya ngawal bule-bule ini. Ya kalau aku tour-guide beneran mah terima aja, lha ini kan emang temen sekelas. Dibayar juga kagak. Makanya kesel banget ketika keesokan harinya kami nunggu mobil Uber di Bogor ada mas-mas naik motor mendadak berhenti, sepik-sepik sama Susan dan Astrid pakai Bahasa Inggris aksen pangkalan ojek, dan aku dicuekin.

Sebenernya nggak dicuekin amat sih, karena sebelum si tukang ojek pergi dia marah-marah ke aku, “Kok tamunya dibawanya ke Jakarta sih Mbak? Mereka tuh senengnya ke tempat-tempat eksotis. Bawa ke Bali kek!”

‘Hm, kagak pernah ngerasain kame-hameha PMS gue nih orang,’ kataku dalam hati.

“Saya bukan tour-guide mereka, Mas. Jadi terserah mereka juga mau kemana,” jawabku dengan tangan gemeteran, gatel pengin nonjok si Mas Random.

“Nggak boleh gitu, Mbak. Bagaimanapun mereka ini tamu. Nih, saya kasih tahu ya. Bla..bla..bla..” ini laki nasibnya beruntung banget. Waktu itu aku nggak bawa kunci Inggris buat getok kepalanya. Dia selamat, walaupun dengan sotoynya kasih kartu nama ke kedua temanku.

This is my name card. I work in travel. I will bring two bule to Bali tomorrow. You can join because I need two more bule.

Hmpf! Perlu aku terjemahin Bahasa Inggris pangkalan ojek ini nggak? Ok, artinya kurang lebih begini: Ini kartu nama saya. Saya bekerja di suatu agen perjalanan. Saya akan mengantar dua bule ke Bali besok. Anda bisa bergabung karena saya butuh dua bule lagi.

Bentar. Ini manusiai tukang ojek atau makelar bule sih?!

Ngeselinnya lagi, Susan ini beneran orang Inggris asli dengan segala kesopanan dan keramahtamahannya. Jadilah dia tanggepin tuh mas-mas,” Wah, saya juga mau ke Bali minggu depan.”

Mampus! Dia cerita pula! Aku langsung melotot ke Susan dengan alis naik-turun ala-ala Lely Sagita galak di sinetron, kode supaya Susan nggak kasih detail apapun ke orang yang nggak dikenal.

Lely Sagita, juara antagonis di tiap sinetron
Lely Sagita, “Awas kalau kamu bongkar semua rencana kita!”

Tahu respon masnya?

Oh, good! If you alone, or you don’t go with her (nunjuk mukaku), I can go with you! [Oh, bagus! Kalau kamu sendirian, atau kamu nggak pergi sama dia, kamu bisa pergi sama saya!]”

Whaaaatt?! Ini manusia emang minta diiris tipis-tipis rupanya. Ada yang mau tumis mas-mas random?

“Mas Mas, gini ya. Mereka ini teman sekelas saya, baru aja nyampe di Jakarta. Kita udah beli tiket pesawat buat ke Bali minggu depan, sama orangtua saya juga. Orangtua saya galak lho Mas. Bapak saya pensiunan ABRI, ibu saya polwan di Polda Metro Jaya. Mas yakin mau antar kita?”

Muka item masnya jadi agak merah-merah mateng emosi gitu. Dia langsung naik lagi ke motornya dan ngomel seraya ngeloyor pergi, “Sekelas sama bule aja belagu! Cih!

Terima kasih Tuhan, telah menahan kedua tangan saya untuk tidak menonjok laki-laki nggak jelas ini!

“Dia bilang apa, Tika?”

“Enggak apa-apa, dia cuma kebelet ke toilet.”

Kaya Mendadak (1)

Kamu tahu, Indonesia kaya. Nggak sulit ‘menjual’ Indonesia ke teman-teman kuliah di Inggris, termasuk Susan dan Astrid.

Astrid: Tik, musim gugur nanti kita pengen jalan-jalan ke Asia nih. Enaknya kemana ya?
Aku: Tergantung seleramu, Trid. Kalau kamu suka daerah yang modern, Korea Selatan atau Jepang ok. Tapi kalau kamu pengen matahari tiap hari, ya di Asia Tenggara. Singapura, Vietnam, atau Indonesia bagus semua.
Susan: Kayaknya Asia Tenggara aja deh. Jadi pas yang lain kedinginan, kita berjemur di bawah sinar matahari. Hahaha…
Astrid: Setuju!
Aku: Hahaha.. Berapa lama?
Susan: Sekitar 1-2 bulan, gimana?
Aku: Indonesia aja kalau gitu. Singapura mah seminggu juga kelar. Biaya hidup juga mahal. Malaysia ok sih, banyak yang bisa dijelajahi dan lebih tertib. Tapi kalau mau pengalaman di negara berkembang, keramahan masyarakat lokal, dan bakalan bener-bener buka pikiran, Indonesia banget lah. Kalau mau panasan, bisa berjemur di pantai. Kalau bosen panas, bisa ke gunung. Terutama Gunung Bromo. <kirim foto Bromo> Ini foto tanpa filter!
Astrid: Ya ampun! Cantik banget! Negara kamu kayak nggak nyata!
Aku: Thanks! Ditambah lagi, kalau kamu ke Indonesia bisa mendadak kaya!
Astrid: Serius?
Aku: Udah, ke sini aja!