Refleksi Hari Ulang Tahun Ke-26

Waktu usiaku 9 tahun, kolorektalku hampir dioperasi. Dokter memprediksi hidupku akan bergantung dengan operasi karena kelainan permanen. Tapi Ibu berpikir lain. Ibu yakin aku akan baik-baik saja seperti anak-anak ‘normal’ lainnya. Ibu merawat aku dan seperti yang kamu lihat, aku bertahan tanpa operasi apapun. Eh, pengecualian operasi bedah mulut dan operasi lain akibat naik motor. Hehe.. Jadi, kebayang kan betapa bersyukurnya aku?

Sekarang aku di sini, di Southampton, 7.335 mil jauhnya dari rumah. Apakah aku bahagia? Ya, tentu saja! Memang hidup di luar negeri nggak mudah, tapi aku mencoba mengatur kebahagiaanku seperti yang dilakukan Mbak Adem di Happiness Project-nya. Dia mengajarkanku untuk tidak terlalu ambil hati penilaian dan pertanyaan tidak menyenangkan. Tetap fokus dengan apapun yang membuatku bahagia, dan menjadi seorang penyemangat.

Banyak orang pikir aku sangat gembira, hidup sempurna, dan nggak pernah bosan. Ayolah, jadi mahasiswa pasca sarjana di Inggris itu nggak gampang. Mahal! Aku harus mengorbankan daftar panjang jalan-jalan untuk belajar. Beneran, semua ini sama sekali nggak gampang. Aku sempat menyerah dengan mata kuliah Statistics Theory and Linear Model. Aku sebel sama cacing-cacing integral. Kalau kamu bermimpi kuliah di luar negeri hanya karena kamu suka jalan-jalan, atau karena kamu suka Inggris, bangun woy!

IMG_4058

Untuk kasus ini, aku harus mengutip apa yang dibilang Richard jauh sebelum aku daftar kuliah pasca sarjana: “Rasanya penting deh kamu punya tujuan yang jelas, dan setia pada tujuan itu, juga punya rencana kalau semua itu nggak berjalan lancar. Maksudku, penting kamu pergi ke Inggris berbekal pemahaman yang jelas tentang apa yang akan kamu lakukan, sehingga apapun yang kamu hadapi kelak, ketika kamu nggak menikmati apapun seperti yang kamu harapkan, kamu bisa mengingatkan dirimu sendiri apa saja tujuanmu, ingatkan diri sendiri ‘ini cuma setahun’ dan tetap fokus.”

Dan di sinilah aku sekarang. Ketika aku merasa putus asa, aku mengingatkan diri sendiri untuk fokus ke tujuanku. Lebih dari itu, aku diberkahi karena teman-temanku membuat kehidupan British seperti sebuah gurauan. Tuhan juga mengirimkanku teman-teman sekelas yang keren seperti Jo, Ana, Laura, Emily, Dana, Mia, Shiro, Martina, Alessandro, dan Mama Maria tersayang. Mereka baik banget dan cerdas! Mereka nggak keberatan kalau pertanyaan-pertanyaan bodohku menginterupsi waktu belajar mereka. Bahkan mereka membuat kelompok belajar supaya kami saling membantu dalam mata kuliah tertentu. Mereka keren banget deh!

IMG_3966Untuk menyempurnakan hidupku di Inggris, Tuhan menurunkan Devorah untuk membangun sebuah kecil di Broadlands Road, dan menyewakan ke empat orang Indonesia yang edan, cerewet, dan cakep. Rumah ini menyenangkan, tapi aku lebih sayang teman-teman serumahku. Mereka pasien Pei Pa Koa, penggemar berat daging babi, dan peminum alkohol sosialis yang menghormati dan mendukung gaya hidupku yang beda banget. Edwin, Harito, dan Kak Njoo membuat rumah ini menjadi sebuah ‘rumah’. Tahu lah, ‘rumah’ bukan sebuah tempat, melainkan perasaan.

IMG_4029.JPG

Aku tahu, mengucapkan ‘terima kasih’ nggak akan pernah cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku kepada semua orang di usiaku yang ke-26 ini. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Terima kasih, terima kasih, dan aku sayang kamu!

Gimana Rasanya Kuliah di Inggris?

Pertanyaan tersebut bukan sekali-dua kali saya terima. Berkali-kali. Mungkin sama seringnya orang-orang nanya, “Kapan nikah?” atau “Kok belum punya pacar?” buat kamu yang jomblo, eh single.

Pertanyaan tersebut akhirnya dirangkum oleh situs Belajar Luar Negeri yang saya jawab hingga menjadi sebuah artikel di halaman ini: http://www.belajarluarnegeri.com/students/tika-university-of-southampton/

Screen Shot 2015-11-11 at 8.56.44 PM

Lanjutkan membaca “Gimana Rasanya Kuliah di Inggris?”

Ketika Aku Overdosis Motivasi Berburu Beasiswa

Bahayanya Overdosis Motivasi

Seiring pesatnya pertumbuhan motivator di tanah air, rasanya semakin mudah saja memotivasi diri sendiri akhir-akhir ini. Terutama motivasi untuk meraih suatu cita-cita. Namun, kuatnya motivasi dan optimisme terkadang membuat kita lupa banyak hal sederhana namun penting. Pasrah dan tawakal, misalnya. Itulah yang aku pelajari setahun terakhir.

Aku sangat ingin melanjutkan studi di negara berbahasa Inggris seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, atau Inggris. Di antara keempat negara tersebut, Inggris dan Selandia Baru adalah yang paling aku inginkan.

Terdorong oleh para motivator dan buku-buku motivasi, jadilah kemudian aku membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan rencana tersebut adalah nilai IELTS.

Sudah 4 kali aku ambil ujian IELTS, namun nilai Menulis mentok di angka 5. Suntik motivasi dari berbagai penjuru menggerakkanku ambil tes IELTS yang kelima. Aku ujian dalam kondisi sangat lelah, secara fisik maupun mental. Dalam hati aku menyalahkan kondisi seperti tidak besar di kota besar, tidak terlahir dari orang tua lulusan luar, dan sebagainya. Semua emosi tersebut menumpuk di kepala saat menanti giliran ujian Berbicara.

Bertemu Awardee LPDP Tahan Banting

Tuhan selalu bekerja dengan cara-Nya yang cantik. Di ruang tunggu, aku duduk di samping seorang pria gondrong. Dia dengan bangga mengenakan jaket PPI Australia. Untuk mengalihkan pikiran, aku menyapanya.

“Kuliah di Aussie ya, Mas?”

Dari satu pertanyaan itu saja, keluarlah cerita menarik dari mulutnya. Ia adalah seorang CPNS di Kalimantan. Saking inginnya kuliah di luar negeri, ia mengirim aplikasi beasiswa apapun ke manapun. Sepanjang hidupnya, ia menghitung ada 119 aplikasi yang sudah dilayangkan. Semuanya gagal. Usahanya baru berbuah manis di percobaan ke-120, yaitu ke LPDP. Awardee LPDP angkatan pertama ini mengikuti ujian IELTS untuk sekedar memperbaharui kualifikasi sebelum berangkat ke Ukraina, dimana ia menerima beasiswa short-course ke-121.

Orang itu, yang aku lupa namanya, sungguh menjadi bara motivasi buatku. Aku kembali bersemangat mengikuti ujian IELTS, mendaftar kuliah dan beasiswa LPDP. Semangat tersebut menjaga kekuatan saya mempersiapkan segala sesuatunya termasuk personal statement, essay, dan dokumen-dokumen. Semangat itu membuatku sangat optimis dan percaya diri. Namun, semangat yang sama pula yang menjauhkanku dari rasa legowo, pasrah, dan tawakal. Membuatku lupa ada campur tangan Tuhan di setiap langkah yang ku ambil.

19 November 2014

Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia jenjang Magister Luar Negeri. Tiga essai sudah direview banyak teman. Setelah mereka semua sepakat essaiku baik, ku unggah di portal pendaftaran beasiswa LPDP. Semua berkas disusun tanpa cacat. Rekomendasi dari atasanku, Nana, juga tidak terlalu buruk. Setidaknya ada 3 aspek yang dia nilai ‘Sangat Baik’.

25 November 2014

Pengumuman seleksi administrasi: Lolos. Saatnya memperluas pencarian informasi wawancara, termasuk apa saja yang ditanyakan. Amel, kawan awardee LPDP mendukungku dengan berbagi daftar panjang pertanyaan wawancara yang dibuatnya. Sumpah ini daftarnya banyak banget dan mencakup berbagai aspek.

28-29 November 2014

Latihan wawancara dan brain storming LGD di rumah Ms Lily, lanjut di Yellow Fin Senopati hingga larut malam. Sekitar jam 1 pagi baru kami membubarkan diri dengan banyak PR di kepala, sekaligus keyakinan dalam hati. Di titik ini, percaya diriku memuncak. Berbagai macam pertanyaan wawancara dapat ku kuasai dengan baik. Bahkan sangat baik. Doa-doa ambisius tak pernah absen di setiap sujudku.

Tuhan, mohon beri kemudahan dan kelancaran di wawancara LPDP nanti.

12 Desember 2014

Saatnya yang ditunggu tiba. Hari verifikasi berkas, LGD dan wawancara.
venue seleksi LPDP

Tidak ada yang istimewa dari verifikasi berkas, sepanjang semua dokumen yang diunggah saat pendaftaran memang asli.

LGDku tidak terlalu menarik. Delapan orang memasuki ruangan, diawasi dua juri. Konon, mereka adalah psikolog. Kami diberikan satu artikel berita dan pertanyaan untuk didiskusikan bersama. Adalah Alex yang secara spontan memimpin diskusi. Supaya semua dapat giliran mengungkapkan pendapat, ia memimpin forum dengan mempersilahkan setiap orang menyampaikan pendapatnya sesuai urutan tempat duduk.

Aku rasa semua peserta LGD membaca blog-blog awardee dengan baik. Konon, dominasi tidak dikehendaki dalam LGD. Yang terjadi? Tidak ada yang dominan, pun tidak ada yang pasif. Datar. Kalau aku jurinya, forum diskusi itu tidak hidup, pasif, nyaris tanpa pemecahan masalah. Tapi ya sudahlah, barangkali memang yang seperti ini yang diharapkan LPDP.

Tiba saat wawancara, entah mengapa semua tidak sesuai rencana. Juri memborbardirku dengan sederet pertanyaan sebelum aku sempat duduk dan memperkenalkan diri. Kalau boleh ku tebak, ia memang berperan sebagai bad cop, seorang galak dan nyinyir yang lihai mempermainkan emosi. Sialnya ia sukses mempermainkan emosiku yang sangat berambisi kuliah ke luar negeri. Ia memperdebatkan pilihanku dan kerap memotong pembicaraan. Hasilnya, emosiku naik, nada bicaraku meninggi.

Sungguh bukan wawancara yang baik. Tidak ada wawancara yang mulus kalau kita tak bisa mengatur emosi. Hasilnya?

24 Desember 2014

Pengumuman seleksi wawancara LPDP 2014. Alhamdulillah, aku gagal.

screenshot lpdp
TIDAK LOLOS SELEKSI WAWANCARA

Tips & Trik Berburu LOA Pascasarjana Luar Negeri

Buat yang belum tahu, ini nih yang namanya LoA alias Letter of Acceptance.

LoA Southampton
LoA Southampton. Klik untuk memperbesar

Posting kali ini, aku akan membahas serba-serbi LoA khususnya untuk postgraduate atau pascasarjana di Inggris, Belanda, dan Selandia Baru.

Setiap negara bahkan kampus punya istilah sendiri untuk menyebut surat penerimaan. Australia dan Selandia Baru lebih sering menggunakan istilah Letter of Offer atau Letter of Admission. Dengan dikeluarkannya LoA, kamu memperoleh penawaran melanjutkan studi di universitas terkait. Penawaran lho ya, bukan diterima. Karena kamu lah yang memutuskan akan menerima penawaran itu atau tidak.

Berbeda dengan di Indonesia, umumnya universitas di luar negeri tidak menyelenggarakan tes masuk seperti SNMPTN. Kamu hanya perlu mengumpulkan berkas dan persyaratan sesuai ketentuan kampus dan program. Sebelumnya, kamu perlu tahu bahwa ada 2 macam LoA di universitas di luar negeri, khususnya Inggris dan Belanda, yaitu:

  1. Conditional Offer atau penawaran bersyarat. Kalau kamu dapat Conditional Offer, artinya masih ada berkas atau persyaratan yang belum terpenuhi. Eits! Tidak semua universitas bisa mengeluarkan Conditional Offer lho. University of Auckland, Selandia Baru, tidak mengeluarkan Conditional Offer. Jadi kalau memenuhi syarat ya kamu akan didukung untuk mendaftar lagi di periode berikutnya. Begitu kata suratnya. Penolakan secara halus dan lembut. Hehehe..
  2. Unconditional Offer atau penawaran tanpa syarat. Artinya, kamu sudah memenuhi semua kriteria pendaftaran. Selanjutnya kamu tinggal menentukan mau diapakan nih LoA. Pilihan yang diberikan dari universitas berbeda-beda. Misalnya, University of Southampton hanya memberi 2 pilihan bagi penerima Unconditional Offer: menerima, atau menolak. Sementara Lancaseter punya 3 pilihan: menerima, menolak, atau defer (diperpanjang hingga tahun ajaran berikutnya).

Bagaimana cara memperoleh LoA?

Jawabannya cuma 1, MENDAFTARLAH! Percuma kamu datang ke expo, tanya ini-itu, tapi nggak ada aksi untuk mendaftar. Ya nggak? Meski demikian, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan sebelum mendaftar.

1. Riset

Jangan sepelekan riset sebelum kamu menyesal kemudian. Riset yang dimaksud di sini adalah mempelajari dengan sangat seksama tujuan studi kamu. Apa saja yang perlu diriset?

  • Program studi yang kamu tuju. Baca juga modul atau mata kuliahnya, apakah sesuai yang kamu harapkan
  • Lingkungan kampus, baik dari sisi demografi maupun sosial. Kalau kamu nggak suka cuaca dingin yang ekstrim, jangan cari universitas di Skotlandia, misalnya. Atau kamu nggak bisa tinggal di lingkungan yang terlalu bebas, jangan pilih Belanda. Contoh lain adalah pertimbangan komunitas yang dekat dengan kita. Misalnya, banyak orang Indonesia ingin kuliah di Birmingham karena kota di Inggris tersebut dikenal dengan komunitas muslimnya yang besar.
  • Syarat pendaftaran. Ini  yang paling penting. Setiap universitas, bahkan setiap program punya syarat masing-masing terutama GPA atau IPK minimum, dan kecakapan bahasa. Syarat yang paling umum antara lain:
    • Transkrip (English)
    • Ijasah (English)
    • Bukti kecakapan bahasa (IELTS, TOEFL, dsb)
    • Surat rekomendasi (English)
  • Perhatikan syarat-syarat khusus juga, terutama di universitas 3 teratas. Misalnya, Imperial College Business School meminta kita merekam video profile dengan durasi maksimal 2 menit, lalu wawancara melalui Skype. Persyaratan khusus bisa juga terkait dana. Ada universitas tertentu yang mensyaratkan registration fee cukup besar.

Riset yang aku lakukan adalah browsing forum pelajar dan alumni, eksplorasi website universitas, datang ke pameran-pameran pendidikan. Pada beberapa universitas, aku juga minta dikirimkan prospectus, semacam buku promosi berisi informasi tentang universitas atau program terkait.

Ada juga universitas yang nggak menyediakan jasa pengiriman prospectus seperti UCL dan Imperial College London. Tetapi kamu bisa download e-prospectus atau pesan tailor-made prospectus, alias prospectus yang disusun sesuai kebutuhanmu.

2. Set a timeline and do your homework

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada sederet persyaratan yang perlu kamu persiapkan seperti personal statement. Perlu diingat bahwa personal statement bukan CV berbentuk prosa. Taruh posisimu seorang recruiter berlatar belakang akademik berbeda denganmu. Nggak penting kamu dulu kuliah apa, tetapi apa yang kamu dapat saat kuliah. Nggak penting jabatanmu di organisasi, tetapi apa yang beri atau pelajari dari organisasi itu.

Jangan pernah berpikir untuk bikin personal statement dalam semalam dan langsung kirim. Cek lagi, lagi, dan lagi. Grammar, konten, diksi, pastikan semuanya sempurna. Akan lebih baik minta masukan dari teman-teman atau senior yang lebih berpengalaman. Untuk urusan tata bahasa, aku sarankan serahkan ke proof-reader atau kawan yang memang ahlinya.

Timeline sangat perlu dalam proses ini. Karena bisa jadi akan ada banyak hal tak terduga, misalnya proses penerjemahan dokumen yang memakan waktu, atau teman kamu belum sempat membaca essaimu. Jauh-jauh deh dari SKS, Sistem Kebut Semalam.

Nah, kalau ternyata yang mengganjal adalah syarat kecakapan bahasa, sediakan waktu untuk mengasah kemampuan kebahasaanmu. Bisa dengan les, atau otodidak. Jangan lupa ambil tesnya juga. Wajib!

3. Daftar

Aku sering bertemu teman-teman yang ingin kuliah di sana-sini, risetnya sudah komplit, setiap pameran pendidikan didatangi, tapi nggak daftar-daftar juga. Nggak ada LoA turun dari langit ya guys.. Kamu harus daftar, harus kumpulin itu semua persyaratan, klik ‘Submit’. Keajaiban tidak akan terjadi sampai kamu klik!

Paling tidak, beranikah buka akun pendaftaran dan baca manualnya dengan seksama. Dari situ kamu tahu apa aja informasi yang dibutuhkan dan mana yang perlu persiapan.

Setelah daftar, kamu akan dapat kode registrasi. Kode tersebut harus kamu simpan karena akan dipakai di semua komunikasi dengan universitas terkait aplikasimu.

Berapa lama waktu harus menunggu dapat LoA?

Lamanya bervariasi. Kalau musim pendaftaran, seperti Februari-Maret (Inggris), biasanya agak lama. Yah, satu-dua bulan lah. Jadi, sangat disarankan untuk international students macam kita-kita ini untuk mulai buka akun pendaftaran setahun sebelumnya, sekitar September. Kalau kamu ragu-ragu atau perlu informasi tertentu, bisa kirim email ke kepala departemen atau international office kampus tersebut. Selama bukan musim daftar, mereka sangat responsif. Paling molor, seminggu baru dibalas.

Nah, untuk kasus-kasus tertentu, misalnya mengejar deadline beasiswa, LoA bisa diterbitkan lebih cepat. Rekor LoA tercepat yang pernah aku dapat adalah 2 hari. Pernah juga seminggu. Nggak disarankan sih, tapi kalau kepepet, boleh dicoba trik berikut:

  • Setelah mendaftar, kirim email ke International Office bahwa kamu punya tenggat beasiswa tanggal sekian, sehingga kamu perlu LoA sebelum tanggal sekian. International Office tidak selalu langsung mengiyakan, tapi setidaknya kamu nggak harus menunggu berbulan-bulan. Jangan lupa sertakan kode registrasimu di subject atau kepala email.
  • Kalau kamu sering ikut pameran pendidikan, minta kartu nama agen recruiter dari universitas terkait. Kalau ada yang gawat begini, mintalah bantuan dia untuk mempercepat proses aplikasi karena tenggat beasiswa dsb. Jalur ini lebih ampuh. Trust me!

Seperti apa sih wujud surat sakti LoA?

Berikut ini beberapa contoh LoA untuk universitas di Belanda dan Inggris. Klik untuk memperbesar:

Kalau kamu punya pertanyaan atau pengalaman tentang mendapatkan LoA dari universitas di luar negeri, silahkan dibagi di kolom komentar atau email salam@tikawe.com.

Semoga bermanfaat!