Gimana Rasanya Kuliah di Inggris?

Pertanyaan tersebut bukan sekali-dua kali saya terima. Berkali-kali. Mungkin sama seringnya orang-orang nanya, “Kapan nikah?” atau “Kok belum punya pacar?” buat kamu yang jomblo, eh single.

Pertanyaan tersebut akhirnya dirangkum oleh situs Belajar Luar Negeri yang saya jawab hingga menjadi sebuah artikel di halaman ini: http://www.belajarluarnegeri.com/students/tika-university-of-southampton/

Screen Shot 2015-11-11 at 8.56.44 PM

Lanjutkan membaca “Gimana Rasanya Kuliah di Inggris?”

PK-36 Jamban Cinta Lentera Dipantara

Salam jamban cinta, Mbak Cantika. Selamat datang di PK36: PK penuh cinta. Kalau Mbak butuh konsultasi cinta, bisa ke saya selaku konsultan cinta dan humas cinta internal PK36. PK ini punya 2 grup inti: asosiasi single bahagia, yang diketuai Mas Dedy, dan pejuang LDR sekaligus calon pengguna Dana Kangen LPDP, yang diketuai Mbak Ancha. Jika Mbak punya mantan nyebelin yang perlu dipermak, jangan sungkan-sungkan dijual seken ke Mbak Tika We.

Begitulah cara Brigitta menyambut anggota baru di group Lentera Dipantara. Bisa diduga, setelahnya akan bersahut-sahutan sambutan dari Dedy dan Ancha. Saya muncul sesekali. Ketika anak baru ini punya masalah dengan mantan. Hehehe…

Siapapun yang disambut seperti ini, pasti merasakan aura keceriaan keluarga PK-36. Terhitung sejak 15 Juni 2015 saat kami dipertemukan di group whatsapp, HP nggak pernah sepi. Sehari bisa charge HP 3 kali, dari biasanya sekali saja. Karena jumlah anggota group lebih besar dari kuota Whatsapp Group, jadilah kemudian kami pindah ke Line. Iya, Line, aplikasi pesan instan dengan stiker monyong-monyongan itu.

Jamban Cinta

Dinamika angkatan PK-36 pun bergulir di group Line tersebut. Semua bisa dibahas di sana. Semua bisa ditanyakan, tapi belum tentu bisa dijawab. Kebanyakan pertanyaan justru tenggelam oleh candaan khas mantan remaja: cinta, galau, nikah, LDR, Petisi Dana Kangen, hingga masa depan.

Ketika ide pengabdian masyarakat Menyapa Indonesia dikemukakan, kami nyaris sepakat turun tangan membangun MCK alias jamban di Desa Ramea atau Desa Cikumbeuen. Namun seperti yang sudah aku katakan, selanjutnya tenggelam ditelan lawakan percintaan. Jadilah kemudian kami sepakat membuat Jamban Cinta PK-36. Aku sendiri sudah lupa kenapa jadi Jamban Cinta, bukan Jamban LDR, atau Jamban Penggalauan.

Meskipun akhirnya bukan kami yang merealisasikan Jamban Cinta Menyapa Indonesia, namun nama tersebut tetap melekan di hati kami.

Lentera Dipantara, Suara Hati Kaum LDR

Sebetulnya tidak semua topik tenggelam di group. Salah satu yang sukses dan bertahan sampai sekarang adalah pembahasan nama angkatan. Beberapa nama sempat dikemukakan. Semuanya dalam Bahasa Sansekerta yang sangat indah. Lalu munculah Dewa yang mengusung nama Lentera Dipantara. Cahaya yang menjadi benteng nusantara. Dia menjelaskan dengan sangat terperinci perihal nama tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, saya dan kawan-kawan PK-36 lainnya terpukau dengan penjelasan Dewa. Sebuah nama yang menggambarkan kekuatan untuk melindungi sekaligus tekad menerangi nusantara dengan segala daya dan upaya. Nama dari Dewa. Dewa banget. Dewa beneran.

Bukan itu saja, kami pun jatuh cinta pada nama Lentera Dipantara lantaran akronimnya: LDR. Seolah-olah akronim tersebut menggambarkan suara hati sebagian besar dari kami yang harus rela terpisah jarak dengan orang-orang terkasih, alias Long Distance Relationship. Tak ayal bila kemudian Petisi Dana Kangen kembali mencuat. Petisi ini dimaksudkan untuk memfasilitasi awardee LPDP yang harus LDR dan harus menyisihkan living allowance untuk menghubungi keluarga atau kesayangan di tanah air. Tentu petisi ini hanya gurauan. Kami tidak betul-betul mengumpulkan tanda tangan ke LPDP untuk menggolkan Dana Kangen. Kami sudah sangat bersyukur dan berterimakasih pada LPDP atas segala kemudahan serta kemurahan hatinya hingga kini. Cieee..

PK, Pelatihan Kepemimpinan, Persiapan Keberangkatan, Perjumpaan Keluarga

Salah satu agenda LPDP yang paling menantang adalah pembekalan seminggu penuh alias PK. Sebelum PK, kami mendapat tugas-tugas pra-PK yang sifatnya mempererat hubungan satu awardee dan lainnya. Tugas tersebut sekaligus memupuk rasa nasionalisme, integritas, dan profesionalisme kami. Untuk menunaikan tugas pra-PK, kami kerap berkoordinasi melalui group Line, group Facebook, maupun milis. Dalam perjalanan koordinasi tersebutlah kami menjadi dekat. Bahkan di kopdar pertama kami sudah bisa tertawa bersama. Konon, ketika kita bisa tertawa bersama, kita pasti bisa bekerja bersama. Dan itu benar.

Barangkali bagian ini akan sulit dipercaya kalau aku tidak mengalaminya sendiri. PK-36 dipertemukan di dunia maya. Kami baru benar-benar bertatap muka dan bekerja bersama saat PK 10 – 15 Agustus lalu. Hanya lima hari di Wisma Hijau Cimanggis. Sekali lagi, hanya lima hari. Namun semuanya berjalan seolah-olah kami sudah saling kenal sejak lama. Kami bisa berkolaborasi, saling menguatkan, memberi semangat, dan tentu saling menyayangi.

Salah satu contoh yang paling mengesankan buatku adalah ketika menyeberangi jembatan dua tali saat outbond. Aku harus menyeberang dari satu lereng ke lereng lainnya dengan dua utas tali dengan Vinsen dan Karsof. Karsof ini kawanku sesama kelompok Tanah Lot yang cantik tapi penakut. Tipikal cewek ibukota pada umumnya.

Ke kiri: Karsof, Vinsen, aku menyeberangi jembatan dua tali
Ke kiri: Karsof, Vinsen, aku menyeberangi jembatan dua tali

Namun rasanya aku harus meralat bahwa Karsof itu penakut. Karena dia mau keluar dari zona nyaman, berani mencoba menyeberangi jembatan tali tersebut. Walaupun lama. Lama banget. Wajahnya pucat. Kakinya sulit bergerak. Pak Pembina sempat menggoyangkan tali, menguji keseimbangan kami. Karsof semakin panik. Mukanya yang memang putih semakin putih karena pucat. Kedua tangannya menggenggam tali atas erat-erat. Kakinya masih kaku tak mau melangkah.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan di atas jembatan tali. Pasti sangat lama. Bahkan mungkin rasanya seperti seabad bagi Karsof. Dan bisa jadi akan semakin lama seandainya kawan-kawan lainnya tidak memberi semangat pada Karsof, “Ayo Karsof! Melangkah terus!”. Vinsen pun mengalah melangkah mundur mendekati Karsof. Dia memberi dorongan semangat dan uluran tangan supaya Karsof mau terus melangkah menyeberangi jembatan.

Setahun kemudian, barulah kami sampai di seberang. Setahun kemudian, kami menginjakkan kaki pada lereng lain dengan selamat. Alhamdulillah. Gilak, lama banget! Karsof mungkin yang paling girang atas pencapaian tersebut. Walaupun dia harus rela diledek Pak Pembina, “Turun langsung, Mbak. Nggak usah njahit!” Kaki Karsof masih gemetar, seperti orang lagi njahit pakai mesin jahit jadul merek Singer.

Begitulah PK. Menantang, mengesankan, sekaligus mengharukan. Meski demikian, PK merupakan agenda terkejam yang dibuat LPDP. Mempertemukan untuk memisahkan.

Sampai sekarang aku masih belum bisa move-on dari PK-36. Sedih sekali harus berpisah dengan keluarga baru Rakyat Lentera Dipantara. Di saat yang sama, aku pun senang dan bangga memiliki keluarga yang luar biasa tanpa kecuali. Setiap individunya sungguh istimewa. Petikan lirik lagu berikut rasanya sangat tepat menggambarkan keluarga Rakyat LDR.

Kita adalah sayap-sayap sang garuda

Di atas samudera di langit khatulistiwa

Semoga namamu sampai ke ujung dunia

Ceritakan semua indahnya pada mereka

– Selamanya Indonesia, Twentyfirst Night –11896072_10153213359829825_3631552354279594345_n

Apapun yang Terjadi di Meja Wawancara, Adalah Kehendak-Nya

Pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu juga kekalahan. Mungkin terdengar klise. Tetapi ketika kamu mengalaminya, pepatah ini akan terasa sangat menohok. Rasanya ingin mencabik-cabik muka siapapun yang mengatakannya dan berseru, “Elu nggak tahu kan penderitaan gue kayak apa? Elu nggak tahu rasanya!”.

Ada amarah yang sangat besar akibat kesombonganku yang tidak disadari sebelumnya. Aku marah pada Tuhan. Aku berhenti berdoa. Sholatku hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa menyertakan ruh di setiap geraknya. Tak heran kalau kemudian begitu mudah meninggalkan kewajiban itu. Bahkan ayat sakti yang menjadi jimatku selama ini, entah mengapa tidak terdengar indah lagi.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS 40 : 60)

Diary blog akhir Januari 2015: Tuhan, aku sudah berdoa. Bahkan mulutku sendiri yang menyerukan doa itu di rumahmu, di Masjidil Haram. Aku minta dimudahkan jalan kuliah di Inggris tahun 2015. Tapi kenapa Kau beri aku kegagalan?!

Amarah itu bersemayam di dalam diriku cukup lama. Sangat lama.

LPDP hanya menolerir dua kali kegagalan. Setelah 2 kali gagal wawancara, kita tidak bisa mendaftarkan diri lagi.

27 April 2015 pukul 23:55, 5 menit sebelum batas pendaftaran ditutup, aku klik ‘Submit’. Setelah vakum 2 periode pendaftaran, aku hanya perlu menghabiskan jatah gagal, batinku. Dengan sisa logika yang ada, essai dan data diri ku rombak di jam-jam terakhir. Tidak perlu banyak kepala yang mereview. Sehingga kalau aku gagal lagi, tak akan terlalu membebani.

4 Mei 2015 jam 8 malam diumumkan daftar peserta yang lolos seleksi administrasi. Aku? Tentu saja aku lolos. Aku memasukkan berkas yang sama dengan periode sebelumnya. Jadi sudah semestinya aku lolos administrasi.

Bahkan hingga di hari pengumuman seleksi administrasi, kesombongan itu masih berurat-akar di dalam diriku.

Tak lama setelah pendaftaran, seorang sahabat awardee LPDP pulang ke Indonesia. Tentu aku iri sekaligus minder. Namun semua itu tertutup rapi oleh eratnya persahabatan. Ia bercerita bahwa tantangan terbesarnya selama kuliah di Eropa adalah menegakkan sholat. Sahabatku ini pun berkisah, ia merasa ‘kering’ selama berada di Eropa. Tidak ada pengajian, alunan ayat suci, apalagi rombongan ke masjid.

Di kesempatan lain, seorang senior juga mengkritik awardee LPDP di negaranya melalui social media. Ia menangkap kesan awardee di universitasnya hedonis dan gemar menghambur-hamburkan uang. Memang tidak semuanya, namun kesan yang ditangkap dari beberapa orang saja bisa mempengaruhi pandangan orang lain terhadap keseluruhan awardee di sana.

Di situlah aku merasa terpukul. Belum berangkat ke Eropa saja aku sudah berani ‘bermain’ dengan firman-Nya. Memalukan.

Pantas saja Tuhan tidak mengijinkanku lolos LPDP akhir 2014 lalu. Rupanya Ia mau aku belajar menata diri. Ia sedang memberi peringatan, apapun yang terjadi kelak, tetap rendah hati dan tidak larut dalam euforia beasiswa.

Maka kemudian aku kembali berdoa. Dengan lebih legowo, pasrah, dan tak terlalu berambisi.

Tuhan, kalau memang menjadi awardee LPDP di luar negeri akan membuatku angkuh dan jauh dari-Mu, mohon tunjukkan jalan yang lebih baik. Tetapi kalau Kau Tahu semua ini akan mendekatkanku dengan-Mu, mohon beri aku kemudahan dan kerendahan hati.

Aku sediakan ruang yang lebih lapang di dalam hati untuk menerima kekalahan sekali lagi. Bahkan aku lebih siap untuk kalah. Jauh lebih siap dari sebelumnya.

22 Mei 2015.. Inilah kesempatan terakhirku berhadapan dengan juri wawancara LPDP. Tak banyak yang ku persiapkan selain latihan wawancara dengan kawan-kawan awardee. Latihan ala kadarnya. Aku pasrah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Tak perlu lagi berdebat dengan juri. Kalau pertanyaan mereka begitu personal dan menyentuh sisi emosionalku, biarkan. Tak ada yang disembunyikan. Yang terjadi di meja panel, itulah yang dikehendaki Tuhan.

IMG_1066_Fotor23 Mei 2015.. LGD di hari Sabtu di Kampus STAN Gedung “I”. Aku nyaris trauma dengan gedung ini. Gedung yang sama dengan seleksi November lalu. Beruntung, suami mengantar bahkan menungguiku di sana. Kehadirannya menambah energi dalam LGDku. Aku lebih percaya diri, namun tetap pasrah. Sekali lagi, apapun yang terjadi di forum LGD, pastilah itu yang dikehendaki Tuhan.

10 Juni 2015.. Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku tak sempat mengakses halaman pengumuman LPDP. Seharusnya hari ini hasil seleksi wawancara diumumkan. Tapi aku mencoba tak peduli, melarutkan diri dengan pekerjaan.

Usai makan siang, satu email masuk. Dari LPDP. Hasil Seleksi Wawancara Magister dan Doktor Tahap 2 2015. Ada lampiran PDF 22MB. Cukup berat untuk diunduh di ponsel.

Sebanyak 32 halaman lampiran mengurai panjang nama-nama yang lolos seleksi. 293 nama di Magister Dalam Negeri, 682 Magister Luar Negeri.

Screen Shot 2015-06-14 at 12.34.23 PM

Allahu Akbar, ada namaku di halaman 26, urutan ke-627.

Tuhan, kalau Kau yakin aku sanggup, akan aku jalani. Bismillah…