Bubur Rasa IELTS

Ku beri tahu satu rahasia. Ini tentang bagaimana cara menikmati salah satu menu Ta Wan, yaitu Bubur Telur Asin & Ayam Phitan di siang bolong.

Pertama, pastikan kamu sedang dalam kondisi betul-betul butuh kehangatan. Kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh sengatan sinar matahari saja. Misal, lagi jomblo, atau flu.

Kedua, jangan makan ketika hati dan pikiran gundah gulana putra petir. Misal, saat menunggu giliran tes Speaking untuk IELTS.

Faktanya, dua hal itu yang aku rasakan kemarin, menyantap menu favorit dalam kondisi yang “enggak banget”. Akhirnya, bubur telur asin ayam phitan itu malah jadi Bubur Ngilu Rasa IELTS, dan inilah yang akan aku ceritakan di posting kali ini.

IELTS at IALF

IELTS, “Makanan” Apa? Lanjutkan membaca “Bubur Rasa IELTS”

Siapa Bilang Nikah Itu Enak? (Giveaway)

Bang O and IBelakangan ini “cepet nikah” seperti jadi tren. Alhamdulillaaahh.. Di Path, Facebook, Twitter, status jomblo terasa semakin mengenaskan dan semua orang (yang single) berlomba-lomba cari calon suami/istri.

Emang menurutmu nikah itu enak? Siapa bilang?

Kehidupan setelah nikah itu naik turunnya kayak roller coaster. Serius! Kalau lagi seneng, seneeeng banget. Lebih seneng dari jaman pacaran. Tiap hari ada temen ngobrol, kemana-mana ada yang nemenin, kalau ada masalah dipecahkan bersama, kalau mood jelek ada yang menghibur, …

Tapi kalau lagi kesel bisa keseeeel banget, sampai terheran-heran, “Duh orang ini kecilnya ngapain aja sih kok ngeselin banget?”. Hahaha… Yang bikin kesel itu umumnya kebiasaan-kebiasaan pasangan yang nggak akrab di kehidupan kita. Misal nih, aku suka kesel kalau suamiku naruh tas di kasur (itu kan jorok banget!), kita juga suka rebutan remote TV, ditambah lagi selera kita beda jauh mulai dari musik, tontonan, sampai makanan. >.<

Buat kamu yang pengen nikah maupun yang udah nikah, apa aja sih enaknya nikah? Selain yang udah aku sebutin lho ya.. Plis kasih komentar dan pandangan kamu donk tentang enaknya nikah. Jangan lupa kasih alamat email yang 100% aseli ya, karena komentar paling CIHUY akan dapet giveaway dari kami (aku dan suamiku). Giveawaynya bukan barang mahal sih, tapi sangat berarti buat kami. 😉

Benarkah Berbakti itu Tak Mudah?

Sebegitu sulitnya kah menjadi anak berbakti? Menarik semua kata-kata ke kandang, menjinakkan emosi yang nyaris menyalak, demi terhindar dari gelar “anak durhaka”.

Berpasang mata penumpang Cirebon Ekspress terlempar pada seorang kakek dan wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Dari kerut keriput kurus dan bungkuknya sang kakek, serta badan gempal si wanita make-up tebal ala tante metropolitan, kemungkinan mereka adalah sepasang suami-istri tertepis.

“Capek deh aku sama Papa!” hardik wanita itu, membangunkanku yang terlelap sejak kereta meninggalkan Stasiun Gambir.

Sang kakek bangkit, menepuk bahu penumpang di depannya.

“Pak, Cirebon berapa menit lagi ya?” tanya kakek itu nyaris berbisik.

Laki-laki yang awalnya asik bercengkerama dengan sang istri itu pun membalikkan badan. Ia tersenyum, “Masih jauh, Pak. Mungkin dua jam lagi. Kalau sudah sampai nanti diberitahu kok.”

“Tuh kan, aku bilang juga apa. Udah deh, Papa duduk aja!”

Wanita itu berdiri untuk menarik lengan sang kakek agar ia duduk kembali. Si kakek menuruti.

“Papa kan nggak mau kalau kita sampai kebablasan,” ujar si kakek itu lirih namun tak mampu menyembunyikan logatnya yang ngapak, khas pantura.

“Enggak, Pa. Nanti dikasih tahu sama petugasnya. Iya kan, Mbak?”

Tiba-tiba wanita itu melempar pertanyaan padaku, tersadar perhatianku tersedot pada percakapan mereka. Aku hanya mengangguk cepat, tak berminat untuk terlibat.

“Tuh kan, dilihatin orang-orang. Papa sih nggak..”

“Ya wis kon meneng!” potong kakek gusar.

Gerbong bisnis satu Cirebon Ekspress kembali hening. Masing-masing menarik kembali pandangannya. Begitu juga denganku, mencoba mengalihkan perhatian pada kisah urban di novel pemberian sahabat.

Mataku menyimak kata demi kata dalam novel itu. Akalku mengeja nama sang tokoh dengan mantap. Sementara bola mataku menelusuri baris-baris hurufnya, sudut mata kanan masih berusaha mencuri pandang dari si tante dan kakek di samping. Kali ini aku membuktikan apa yang orang bilang, bahwa perempuan punya sudut mata yang lebih lebar dari lelaki. Sudut mata ini nyata-nyata mampu menangkap bulir air mata yang menetes, melintasi jejak bedak SK II. Pssst, sudut mataku juga yang menelanjangi dompet kosmetik wanita yang kini bungkam.

Baru tiga halaman kisah yang ku baca, sang kakek tiba-tiba berdiri meraih tasnya. Ia meninggalkan bangku abu-abu ke belakang gerbong dengan langkah tertatih. Kakek berbaju batik lusuh itu berdiri menatap kegelapan yang dilalaui kereta kami. Entah apa yang dia cari.

Anak perempuan kakek itu mengikutinya dengan langkah gontai, bersama Prada di tangan kanan dan koper Samsonite yang diseret tangan kirinya. Ternyata eyebrow cream VoV yang dibalur di alisnya tak mampu menyembunyikan kelelahan. Kelelahan yang mungkin berasal dari dalam hatinya, pikirannya, atau mungkin hanya wajahnya.

Kakek tua dan tante metropolitan berdiri di pintu samping kereta. Keduanya diam, disibukkan percakapan batin masing-masing. Dua jam berlalu. Cirebon Ekspress sudah melindas berpuluh-puluh kilometer baja rel, namun mereka masih berdiri di titik yang sama.

Aku masih tak mengerti konsep berbakti yang begitu berat bagi beberapa orang. Sempat ku dengar cerita tentang saudagar kaya yang mengikhlaskan sekotak kandang kambing untuk ibunya yang sudah renta. Konyol, ia menyebut kandang kambing itu griya minimalis. Setelah sang ibu meninggal, diboyongnya raga tak berdaya ke rumah duka, diletakkan di peti kaca, diupacarakan besar-besaran yang dibuka dengan pidato penuh haru namun dusta, tentang cinta dan hormatnya pada nenek rapuh ibu kandungnya.

Cerita lain ku dengar dari saudara jauh yang lelah merawat orang tuanya. Setiap orang yang ia temui, selalu kebagian curhatnya tentang kakek pikun lagi tolol, dan nenek tuli yang selalu emosi.

Bapak, aku, dan Ibu
Bapak, aku, dan Ibu

Dalam perjalanan ke pelukan Ibu ini, aku tak hendak mengutuk mereka yang durhaka. Aku takut kena tulah hingga menjadi tokoh-tokoh bodoh dan mengesalkan seperti mereka. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan limpahi cinta untuk ku tularkan pada orang tuaku, meski suatu hari nanti Bapak cuma bisa berhaha-hehe seraya menggosok pok ping, dan Ibu sibuk mengomentari tingkah-polah Bapak  hingga usia mengantar mereka pada-Nya kelak. Amin.

Yang Disuruh Datang ke Jakarta

Nggak kerasa hampir 9 bulan saya jadi tarzan di belantara Kota Jakarta. Kesan saya? Menantang, seru, dan lalu lintasnya iWow!

Mendengar nama Jakarta, siapa pun, yang terbayang pasti kemacetan. Bener enggak sih seperti itu? Well, saya menyimpan off the record statement dari orang-orang di sekitar saya. Ada narasumber, kawan, partner, mereka punya kesan yang unik tentang Jakarta. Cekidot!

1. Marielle Butters

Marielle Butters
Marielle Butters

Perempuan asal Colorado, Amerika ini belum lama di Jakarta. Kurang dari 4 bulan deh kayaknya. Ia dikirim ke Jakarta sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris salah satu lembaga kursus. Jakarta menurutnya bukanlah Indonesia yang ia bayangkan. Ia membayangkan Indonesia sebagai negara yang hijau dan berpenduduk ramah. Dua hal tersebut gagal ia temukan di Jakarta. Untunglah dia punya banyak kesempatan untuk menjelajahi daerah lain di Indonesia yang sesuai dengan imajinasinya.

2. Raman Narayan

Raman adalah pejabat Air Asia ASEAN yang berkantor di bilangan SCBD, Jakarta. Ia berasal dari Malaysia, negara Air Asia dilahirkan. Ketika sebagian besar mengeluhkan kemacetan di Jakarta, Raman memandang hal tersebut sebagai sinyal positif perkembangan ekonomi masyarakat Jakarta. “Jakarta macet karena banyak orang punya mobil. Mereka punya mobil karena mereka mampu secara ekonomi. Ini pertanda bagus, kota ini maju,” kata Raman. Nggak salah juga sih ya..

3. Kristin

Maaf, lupa nama lengkapnya. Yang jelas, Kristin ini adalah public relationnya Innovation Norway, semacam kantor dagang dan pariwisata Norwegia untuk luar negeri. Innovation Norway itu ada di 32 negara. Artinya, Kristin sudah jelajah 32 negara tersebut. “Di Shanghai juga macet. Tapi kendaraannya masih bergerak, pelan sekali,” katanya, “kalau di Jakarta ini tidak bisa dibilang macet, karena kendaraan berhenti, benar-benar berhenti di jalan. Kita sama sekali tidak bisa bergerak!” Hahaha… Selamat datang, Kristin!

4. Andrew McGlinchey

Andrew adalah manajer produk Google untuk Asia Tenggara. Saat peluncuran mobil Google Maps di Jakarta, dia memberi apresiasi lebih lho buat Jakarta. “Bicara tentang lalu lintas, Jakarta dapat medali emasnya! Hahahaha…” Medali emas? Kedengarannya menarik. 😉

Jakarta, oh Jakarta.. Siapa suruh datang Jakarta? 😛

New Magnum Cafe, Beneran Kafe

“Magnum cafe ada lagi?!” Itulah pertanyaan yang kerap muncul ketika berbagai media dan jejaring sosial mulai gencar mengabarkan New Magnum Cafe. Tak sedikit pula yang terpanggil rasa penasaran untuk membandingkan Magnum Cafe dulu dan sekarang. Termasuk saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sedikit flash back, sebelumnya Magnum Cafe pernah meramaikan pasar food & beverage Indonesia di Februari 2011. Tidak hanya di Jakarta, Magnum Cafe berupa karavan pun beredar di beberapa kota besar, salah satunya Surabaya. Magnum Cafe yang ada di Grand Indonesia adalah versi permanen dengan konsep modern victorian yang istana sentris. Pengunjung alias pleasure seekers dimanjakan bak putri raja dengan desain interior yang mewah dan waitress bergaun. SWA sempat menguliknya, atau sila cek rilis Unilever.

Pengunjung membludak, Magnum Cafe yang sedianya hanya digelar 3 bulan, berlanjut hingga awal 2012. Tanggal 15 Januari, kafe tersebut resmi ditutup.  Unilever membukukan laba yang luar biasa untuk food & baverage, mendominasi lebih dari 70% perolehan keseluruhan Unilever Indonesia.

5 Juli kemarin, Magnum Cafe kembali dibuka untuk media. Agak surprise, konsep modern victorian ditinggalkan seperti yang ditulis redaktur saya, Mbak Eva. Magnum Cafe sekarang beneran kafe. Waitress Magnum Cafe mengenakan polo-shirt coklat, celana gelap dan round hat. Kalau diperhatikan lagi, Magnum Cafe membedakan seragam kru nya seperti mereka membedakan deskripsi jobnya. And yes, tidak ada lagi gaun dan mahkota. Sangat disayangkan sebetulnya, karena itulah yang membuat Magnum Cafe istimewa dan prestis.

Jadi tamu di New Magnum Cafe itu tidak mudah, temanz! Kita harus antri. Sambil berdiri, kru Magnum Cafe akan menghampiri. “Untuk berapa orang, Kak? Atas nama siapa?” kru pertama yang kita temui (setelah sekuriti) ngabsen. This is the worst part at Magnum Cafe. Siapapun nggak suka menunggu, kan? Jangankan pleasure seekers, es krim aja nggak bisa nunggu sampai habis meleleh. 😉

Beneran Kafe

Setelah sukses bertahan hingga di pangkal antrian, kita akan diantar masuk ke cafe. Ketika kita masuk, kru yang mengantar akan meneriakkan semacam mantra selamat datang yang akan dijawab serempak kru lain di cafe tersebut. Maaf ya, saya agak kurang bisa menangkap jelas apa yang mereka katakan karena rasanya seperti masuk minimarket 24 jam, “Selamat pagi, selamat berbelanja” tapi pandangan nggak tau deh ke mana.

Seperti saya sebut sebelumnya, kita akan mendapati Magnum Cafe sebagai sebuah kafe biasa dengan lounge dan barnya. Tidak ada lagi pernak-pernik kerajaan seperti dulu. Yang ada tinggal poster-poster vintage yang mengkampanyekan coklat dan Magnum Cafe sebagai The House of Chocolate, bukan istana.

Pelataran lantai 6 Grand Indonesia tak luput dari sentuhan Magnum. Outdoor cafe dikonsep ala kafe kaum urban pada umumnya. Lampion, lantai kayu, basa-basi pohon kecil, dengan pemandangan rimbunnya tower-tower Jakarta.

Meskipun jadi kafe biasa, Magnum cukup serius menggarap Magnum Cafe sebagai rumahnya coklat. Tak hanya poster vintage bertema coklat, pendingin ruangan pun dibungkus dengan warna coklat. Bukan itu saja, cushion pun disablon Magnum ala LA tahun 70-an. Sadar brand Magnum punya nilai jual, Magnum Cafe juga memajang berbagai merchandise bertema Magnum dan coklat di samping bar. Dijual bow, nggak gratis. Dua ribu dua belas getoh!

It’s Ismagnum, guys!

Magnum Cafe digarap oleh Ismaya Group, sebentuk perusahaan kuliner yang kebetulan kateringnya saya suka. Ismaya memang sudah dikenal ahli dalam menggabungkan rasa dan gaya hidup. Sebut saja Blowfish, SushiGroove, Mr.Curry, atau Kitchenette anak usahanya yang sudah dikenal terutama kalangan menengah atas.

Dalam Magnum Cafe yang baru ini Ismaya memperluas ‘portofolio’ menu. Ia memperbanyak varian main course dan mengganti (hampir) total menu-menu dessert. Membonceng popularitas rainbow cake, Ismaya membawa menu tersebut  ke dalam Magnum Cake. Menu lain umumnya menyajikan wafel atau cake yang mirip, ditindih es krim Magnum, trus disiram saus dan sirup.

Kawan saya Elliza, jurnalis Tempo yang rela menemani saya memesan menu Red Velvet. Maksudnya biar nggak melulu coklat, nggak melulu rainbow cake. Tapi dugaan kita sedikit meleset. Red Velvet tersaji dengan dua potong cake warna merah yang ternyata rasanya sama saja dengan rainbow cake. Cake tersebut kemudian ditumpuk dengan es krim Magnum dipping rasa coklat-strawberry. Yang bikin cantik adalah kehadiran beberapa mulberry. Sayangnya mulberry seperti sudah dicat sirup rasa mulberry sehingga kami tidak mendapatkan rasa mulberry asli yang segar.

Saya juga pesan menu dessert Truffle Royale. Emm.. Nggak tau ya yang keluar ini beneran Truffle Royale atau bukan, karena rasanya koq beda dengan foto di daftar menu. But it’s oke lah, saya suka minuman berjudul apapun itu yang tersaji. Jadi minuman ini adalah es krim Magnum Chocolate Truffle yang diblender. Gelas kakinya dikasih gimmick coklat vertikal di tepian, membuatnya tampak lebih tidak biasa. Karena diblender dengan cranky coklat Belgia khas Magnum, tekstur minuman ini tidak menjemukan seperti es krim meleleh saja. Ada serpihan coklat Belgia yang sengaja tidak dihancurkan di dalamnya yang membuat menu ini spesial buat saya. This is the best part of Magnum Cafe for me.

O ya, Elliza juga pesan main course nasi goreng. Sebagai penggemar Ismaya Catering, saya sudah membayangkan cita rasa Indonesia khas Ismaya biasanya. Unfortunately, I couldn’t find it. Nasi gorengnya biasa, namun terselamatkan telor mata sapi dan dua tusuk sate ayam.

Kenapa Magnum?

Adalah pertanyaan saya. Saya pribadi tidak begitu menggilai es krim Walls termasuk Magnum karena rasanya terlalu manis dengan tekstur lembut yang membosankan. Saya lebih suka produk Campina apalagi yang mengusung rasa Indonesia seperti kacang hijau dan ketan merah. Memang dasar lidah ndeso kali ya..

However, saya angkat topi dengan strategi Magnum dan Unilever menaikkan brand awareness masyarakat sekaligus mengangkat derajat Magnum sebagai es krim dengan prestis. Rasanya Unilever sudah berhasil menciptakan kesan itu. Marissa Nasution sebagai brand ambassador Magnum bagi saya pun tidak begitu kentara perannya. Musim ini brand ambassador Magnum makin banyak dengan merangkul Indra Herlambang, Cathy Sharon, Julia Estelle, Dion Wiyoko. Meski demikian, mereka tidak banyak berpengaruh dalam mendongkrak brand awareness Magnum. Magnum Cafe, kampanye kemewahan coklat Belgia, dan acara-acara hiburan lebih mengena.

By the way, tahun kemarin saya juga menikmati suguhan Magnum Road Cafe di Surabaya lho. Iseng-iseng twitpic, saya berkesempatan meet and greet Sandy Sandoro yang akhirnya gagal karena nggak baca DM twitter. Hahaha… Ya sud lah, emang belum jodoh ya buuu..

Saya dan Elliza Tempo
Ke-alay-an saya di Magnum Cafe Surabaya tahun lalu