Review Buku Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah

Judul: Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah
Penulis: Adhitya Mulya
Terbit: Desember 2016
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 340 halaman

Bajak Laut & Purnama Terakhir intinya bercerita tentang usaha merebut keris pusaka. Yang terlibat dalam perebutan ini adalah VOC yang diwakili Admiral Speelman, bajak laut pimpinan Jaka Kelana, dan tiga Arya terakhir.

Dalam buku ini, dikisahkan Admiral Speelman seorang petinggi VOC yang tertarik dengan benda-benda pusaka. Ketertarikannya terhadap keris muncul setelah menemukan jurnal kuno di Bandar Semarang yang kemudian diterjemahkan oleh arkeolog Meneer Albert dibantu budak Jawanya, Tahjono.

Sementara itu adalah tiga arya terakhir yang mewarisi tugas leluhurnya mengembalikan 10 keris pusaka kepada pemiliknya. Keris yang diperbincangkan adalah keris kesembilan dan kesepuluh. Petualangan tiga arya ini mirip Songoku mencari bola naga lah. Hehe..

Karakter berikutnya yang menjadi sentral cerita ini adalah Jaka Kelana, bajak laut dengan kapal Kerapu Merah yang selalu merasa sebagai titisan Dewa Ganteng.

Adhitya Mulya memberikan porsi sejarah yang cukup banyak tentang Admiral Speelman hingga ia tertarik keris pusaka. Ia pun banyak menuturkan bagaimana VOC sebagai perusahaan dagang swasta pertama dunia tertarik pada Indonesia. Sejarah kerajaan-kerajaan juga dituturkan secara detail namun apik untuk memaparkan asal-usul Rusa Arang, Bara, dan Galuh, tiga Arya terakhir. Ia menggunakan sejarah kerajaan Singasari, Kediri, dan Majapahit untuk membangun cerita tentang arya. Latar belakang sejarah yang sama digunakan untuk menuturkan asal-usul keris pusaka.

Bajak Laut Kerapu Merah pimpinan Jaka Kelana barangkali yang memiliki porsi sejarah paling sedikit namun sarat akan komedi. Bagaimana tidak, bajak laut yang semestinya ditakuti justru digambarkan konyol, mempercayai Dewa Ganteng, dan memiliki awak kapal yang tingkat intelegensinya nggak lebih baik dari tukang jamu.

Kepiawaian Adhitya Mulya dalam meramu komedi dengan genre lain dalam sebuah tulisan semakin canggih. Ibarat masakan, komedi seperti garam di setiap masakannya. Bajak Laut & Purnama Terakhir ini adalah masakannya yang paling pas. Dibanding novel best seller Sabtu Bersama Ayah yang guyonannya seringkali muncul di situasi yang nggak pas, Adhitya menempatkan komedi sesuai porsinya. Tidak terlalu maksa seperti Gege Mencari Cinta, atau berlebihan seperti novel pertamanya Jomblo.

Meskipun separuh bagian awal penceritaannya berjalan lambat, tapi saya tetap bertahan menyimak setiap kata bahkan catatan kakinya berkat kemahiran AM menjaga detail sejarah dan komedi silih berganti. Karakter-karakter dalam novel ini pun sangat kuat sejak awal cerita hingga akhir, namun tidak saling menghilangkan. Oleh karena itu Bajak Laut & Purnama Terakhir layak menjadi satu-satunya buku yang saya ganjar 5 bintang dalam 2 bulan terakhir!

✭✭✭✭✭

Review Buku: Juru Bicara-Pandji Pragiwaksono

Konten buku Juru Bicara ini nggak ada hubungannya dengan ditunjuknya Pandji Pragiwaksono sebagai juru bicara pasangan calon salah satu kandidat Pilkada DKI 2017. Pun nggak ada hubungannya dengan materi tour dunia komedi tunggalnya yang bertajuk sama. Kalau kamu mengenal Pandji sebagai komika dan berharap Juru Bicara seperti transkrip materi komedi tunggalnya, bersiaplah kecewa.

Juru Bicara adalah buku ke-7 Pandji setelah Nasional.Is.Me, Merdeka Dalam Bercanda, Berani Mengubah, Degalings, Indiepreneur, dan Menemukan Indonesia. Seperti buku-bukunya yang lain, buku ini merupakan wadah buah pikir seorang Pandji baik sebagai orang tua, pelaku seni, maupun orang yang hidup dari karya.

Melalui buku-bukunya, harus diakui bahwa selain berwawasan luas, Pandji mahir mengartikulasikan pemikirannya baik dalam tulisan sejak buku pertamanya, Nasional Is Me. Misalnya, dalam buku ini bab Unless, Pandji mengulas cerita The Lorax dan mengkaitkannya dengan kebijakan Menteri Kehutanan menanam 1 juta pohon, yang di saat yang sama lalai atas tanggung jawab pembakaran 1 juta pohon di hutan untuk kepentingan industri.

Juru Bicara mungkin buku Pandji yang paling persuasif karena kemahirannya mengaitkan analogi, logika, dan kemudian menarik premis dengan satu, dua kalimat sederhana dan mengena. Bisa dibilang ini buku Pandji yang paling ‘matang’. Satu contoh yang menggelitik adalah Menggonggonglah.

“Tidak ada ‘Juru Selamat’ dalam politik. ‘Satria Piningit’ itu tidak nyata dalam kancah politik. Presiden adalah CEO-nya politikus. Dia bisa mencapai jabatan tertinggi karena paling jago berpolitik. Juara lari 100 meter tidak menjadi juara karena dia baik, atau karena dia jujur, tetapi karena dia paling cepat larinya, paling jago larinya.”

Seperti dalam pengantarnya, Pandji mengungkapkan maksudnya menjadi juru bicara bagi banyak orang melalui buku ini. Namun peran juru bicara tersebut sukses tersampaikan di separuh konten saja. Selebihnya Pandji bercerita tentang pengalaman pribadi bahkan yang sangat pribadi, mulai dari bagaimana ia belajar fokus berkomedi dari komika Amerika Seinfeld, sampai kehidupan keluarganya.

Ia pun menyisipkan puisi dan catatan pribadi berbahasa Inggris, yang justru merusak benang merah Juru Bicara. Akhirnya, semakin ke belakang, maksud Pandji menjadi Juru Bicara melalui buku ini justru semakin jauh. Beberapa bab justru lebih cenderung menggurui, bukan lagi mewakili suara orang seperti disebutkan dalam pengantar.

Meski demikian, Juru Bicara bisa dikatakan enak dan perlu dibaca. Buku ini cocok menjadi referensi penggambaran pola pikir masa kini. Apakah apa yang disampaikan Pandji sudah mewakili pemikiran kamu? Kamu bisa tentukan nanti.

Rumah di Bekasi, KPR Konvensional atau Syariah ya?

11148447_10205507531461339_3422367166766370323_nBuat aku dan suamiku, ini adalah rumah pertama kami. Sudah sejak lebaran tahun lalu kami berburu. Setiap malam, pulang kantor, kami sibuk browsing properti dari gadget masing-masing. Di akhir pekan, kami bermotor ke Bekasi mengunjungi properti-properti yang menarik. Memiliki hunian layak di Bekasi sudah sejak lama menjadi impian kami.

Kenapa Bekasi?

Kalau ada kawan bertanya demikian, ku jawab dengan kenes, “karena aku punya jet pribadi.” Hahaha… Becanda. Beberapa sanak saudara kami tinggal di Bekasi. Selain itu, Bekasi khususnya Bekasi Barat merupakah daerah yang sudah ‘terbentuk’. Sarana dan prasarana sudah sangat lengkap. Dengan berbagai keuntungan tersebut, harga properti di Bekasi tentu tidak murah. Apalagi rumah yang kami inginkan berada 1 km saja dari Stasiun Kranji. Untuk hunian seluas 200 m2 harganya minimal 1 miliar rupiah. Angka yang fantastis! Sayangnya nama belakang kami tidak terdaftar di jajaran 100 orang terkaya Indonesia seperti ‘Bakrie’ atau ‘Hartono’. Tidak mudah bagi kami untuk membeli sebuah rumah. Jadi, demi mewujudkan mimpi hunian ideal, kami pun harus putar otak.

Bagaimana mewujudkan cita-cita punya rumah?

Setelah konsultasi dengan para pakar dan sesepuh, kami memutuskan ambil Kredit Perumahan alias KPR. Adalah suami saya yang sangat teliti dengan angka mencari referensi KPR. Bahkan 5 tahun lalu sebelum kami menikah, ia mendaftar kartu kredit hanya supaya namanya muncul di database Bank Indonesia dengan reputasi kredit ‘Lancar’. Katanya, supaya kelak kalau daftar KPR mudah diterima. Visioner kan suami aku.. 😉

Tahu KPR dari mana?

Banyak sumber jadi sasaran kepo kami. Melamar KPR memang harus amat sangat teliti, seteliti melamar gadis. Kami mengandalkan berbagai sumber informasi, seperti:

  1. Website masing-masing bank,
  2. Blogger independen (bukan endorse atau blogger berbayar),
  3. Diskusi dengan teman-teman yang sudah mendaftar KPR,
  4. Kawan-kawan yang bekerja di bank,
  5. Situs pembanding KPR, sikatabis.com

Akhirnya pilih KPR di mana? Dari berbagai sumber di atas, pilihan kami pun mengerucut ke bank syariah. Sebetulnya kami nasabah bank konvensional yang sangat loyal. Walaupun kami muslim, kami tidak pernah menyentuh Produk Keuangan Syariah sebelumnya. Namun ada beberapa kelemahan KPR Konvensional yang tidak bisa kami tolerir:

  • Bunga fluktuatif. Memang di tahun-tahun pertama cicilannya relatif lebih ringan, tetapi di tahun berikutnya mengikuti bunga pasar. Bunga bisa tiba-tiba melejit kalau situasi pasar kurang mendukung.
  • Ketidakpastian besarnya cicilan hingga akhir periode. Hal ini termasuk efek dari bunga fluktuatif tadi. Karena mengikuti bunga pasar, sulit memprediksi berapa rupiah yang harus kami bayar apalagi kalau ambil tenor panjang, 15 tahun.
  • Ada denda atau pinalti bila pelunasan dipercepat. Sebetulnya ini bisa kelemahan, bisa kelebihan. Bagi nasabah santai dan woles, mungkin ini jadi kelebihan karena tidak harus ngoyo buru-buru cari uang. Tetapi bagi kami yang optimis serta kerap gatal-gatal kalau ingat hutang, ini jadi satu kelemahan.

syariah2Produk Keuangan Syariah yang kami pilih adalah KPR Jual Beli alias Murabahah. Bank Syariah membeli rumah yang kami mau terlebih dahulu. Kelak, rumah itu diberikan setelah cicilan kami lunas. Beberapa alasan kami memilih produk ini antara lain:

  • Besarnya margin sudah ditetapkan sejak awal. Berbeda dengan KPR Konvensional yang bunganya fluktuatif, margin KPR Syariah bersifat tetap hingga akhir periode dan ditentukan saat akad. Jadi kalau tahun pertama cicilannya Rp 5 juta, sampai 15 tahun mendatang pun akan tetap Rp 5 juta.
  • Menariknya, saat akad kami dapat print-out rincian cicilan dari bulan pertama hingga ke-180 alias bulan terakhir di tahun ke-15 tanpa peninjauan kembali atau revisi. Di print-out tersebut mereka juga menguraikan ke mana perginya uang kita, apakah untuk membayar margin atau cicilan rumah itu sendiri alias uang pokok.
  • Karena margin yang flat, sangat membantu kami membuat perencanaan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Jadi kami tidak khawatir menangis tragis makan aspal kalau tiba-tiba cicilan rumah meroket.
  • Tidak ada denda maupun pinalti bila pelunasan dipercepat. Bahkan sebaliknya, bisa jadi kita dapat ‘diskon’. Cihuy!

Meski demikian, bukan berarti KPR Syariah di Indonesia hadir tanpa cacat. Karena jumlah kantor cabang bank syariah dan ATM yang langka, gerak kita sangat terbatas. Termasuk dalam hal melakukan transaksi keuangan. Untungnya, KPR saya memakai sistem autodebit. Saya hanya perlu transfer ke rekening bank syariah sebelum tanggal jatuh tempo, selebihnya biarkan automasi bank bekerja. Bagi yang sedang mencari rumah, atau referensi kredit perumahan, semoga blog ini bisa memberi sedikit pencerahan. Apabila perlu informasi dari pihak yang lebih kredibel, silahkan mengunjungi website berikut:

  1. Produk Keuangan Syariah
  2. KPR Syariah vs KPR Konvensional
  3. Kalkulator KPR Syariah (SikatAbis.com)

Selamat berburu! 🙂


UPDATE:

Artikel ini telah memenangkan iB Blogger Competition 2015. Mengapa? Jawabannya dibahas lengkap di sini. Masih ada Periode 2 dan 3, ayo ikutan! Mampir saja di halaman ini, kemudian daftarkan email kamu supaya dapat notifikasi. Semoga sukses!

PS: Terima kasih dan salut untuk Panitia iB Blogger Competition hingga blog saya dikupas habis-habisan. 🙂

Hari Kartini atau Hari Syahrini?

Selamat Hari Kartini!

Apa kabar Nusantara hari ini?

Apakah masih gegap gempita dengan kostum tradisional?

Dengan kebaya dan sanggul?

Serta riasan tebal?

Bahkan untuk anak-anak?

Apa yang sebetulnya kita peringati setiap 21 April?

Hari Kartini? Atau Hari Syahrini?

Kartini vs Syahrini
Kartini vs Syahrini

Teman, tahun ini tentu bukan pertama kali bagiku menikmati riuh perayaan Hari Kartini. Seperti yang sudah-sudah, para perempuan mengenakan pakaian tradisional, terutama kebaya.

Di hari istimewa ini, tak jarang kita lihat arak-arakan pawai menampilkan bocah-bocah lugu dengan riasan tebal. Bahkan cenderung menor. Kulit wajah yang lembut itu ditutup foundation dan bedak orang dewasa. Bibir yang kerap melontarkan celoteh lucu, digores lipstik merah merona. Lagi-lagi lipstik orang dewasa. Yang lebih menyiksa kalau mereka ikut memakai sanggul ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Please google it, itu model sanggul siapa?

Rasa-rasanya Kartini tidak begini. Riasan tebal lebih identik dengan Syahrini, bukan Kartini.

Foto pernikahan RA KartiniSeperti terlihat di foto di samping, Kartini tidak memakai riasan paes dan ronce melati pada seremoni pernikahannya dengan Raden Adipati Djojoadiningrat, Bupati Rembang.

Perempuan yang dipanggil ‘Trinil’ oleh ayahnya ini bahkan hanya memakai kebaya sederhana yang sedikit lebih bagus dari kebayanya sehari-hari. Tidak ada aksesoris berlebihan, hanya kalung dan bunga sederhana di sanggul menandakan ia sudah menikah. Bulu mata ‘badai’? No way!

Untuk ukuran putri bangsawan Bupati Jepara yang menguasai Bahasa Belanda dengan sangat fasihnya, bisa dikatakan Kartini nyaris tidak berhias. Perlu diingat, tahun 1904 belum ada yang namanya make-up minimalis, apalagi nude make-up look.

Jadi, sekali lagi, kita ini merayakan Hari Kartini atau Hari Syahrini?

Fakta kesederhanaan ini aku tahu dari buku Herdiana Hakim berjudul Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta. Buku tersebut berkisah tentang seorang wanita modern bernama Jenny yang tersesat di tahun 1900, tepat di kamar Kartini. Selama empat tahun ia tinggal bersama Kartini, Kardinah, dan Roekmini.

11011702_10205523474179897_7234495852146868466_nDengan riset mendalam, Herdiana melarutkan fakta sejarah Kartini ke dalam novelnya dengan apik. Dengan cara ini, ia sukses membawa pembacanya seolah-olah hidup bersama Kartini.

Bagi orang awam yang sekedar mengenal Kartini dari lukisan wajahnya yang menempel di dinding kelas, banyak fakta mengejutkan aku temukan di sini. Misalnya, Kartini mendapat beasiswa melanjutkan studi di Universitas Leiden dari Pemerintah Belanda sendiri. Ia senang, namun kemudian menolaknya atas saran Jacques Henry Abendanon dan istrinya, Rosita-Abendanon Mandri.

Buku Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta terbitan Gagas Media ini termasuk salah satu buku rekomendasi dari ku bulan ini. Kamu bisa memperolehnya di toko-toko buku terdekat. Kalau mau yang GRATIS dan DITANDATANGANI penulisnya, bantu aku ya?

Caranya:

  1. Biarkan anak-anak tumbuh sesuai usianya, tanpa make-up orang dewasa. Mereka sudah cute tanpa riasan, cantik tanpa ‘maju-mundur’;
  2. Bantu ingatkan orang-orang di sekitar kita untuk tidak merias anak perempuannya, setidaknya hingga mereka beranjak remaja dan dewasa;
  3. Tuangkan pemikiranmu tentang ‘Bagaimana seharusnya anak-anak memperingati Hari Kartini?’. Tulis jawabanmu di kolom komentar di bawah post ini;
  4. Bagi yang mempunyai akun WordPress.com, follow blog ini dengan login ke akunmu terlebih dahulu. Atau..
  5. Bagi yang belum memiliki akun WordPress, klik tombol “Ikuti” di pojok kanan bawah halaman ini, kemudian masukkan alamat email yang paling sering kamu pakai.

Gagasan paling menarik dan visibel akan menerima buku inspiratif ini secara cuma-cuma. Pemenang akan aku hubungi melalui email yang dicantumkan di #2 atau #3. Bagi yang belum beruntung, kamu bisa memperoleh bukunya di toko buku kok. Nah, kalau mau mengenal penulisnya, silahkan singgah di blognya, herdianahakim.com.

Selamat mencoba!


UPDATE

Kontes ini sudah ditutup. Terima kasih partisipasi teman-teman semua.

Selamat buat Neser Ike dan Zuhrufi! Buku Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta sedang dalam perjalanan ke tempatmu. Semoga suka, dan selamat membaca!

Kota Lama Herdiana

Review Buku-Buku Bule dan Indonesia

Ketika batas negara semakin kabur, Jakarta terasa makin campur-campur. Pendatang berkulit putih (Kaukasoid) dari Eropa dan Amerika pun meramaikan dinamika silang budaya di Indonesia.

Berikut ini buku-buku yang mengisahkan dinamika tersebut. Dua buku ditulis oleh pendatang asal Eropa, satu buku oleh orang Indonesia. Dari ketiga buku ini, kita dapat melihat bagaimana dinamika beda budaya itu terjadi, dari sisi kita empunya tanah, maupun sisi pendatang. Lanjutkan membaca “Review Buku-Buku Bule dan Indonesia”