Four Thumbs Up Penulis Indonesia!

Akhir pekan selalu sukses jadi alasan bermalas-malasan. Apalagi ketika hujan sudah lebih dulu terbangun sebelum mata kita. Hm, udara pagi yang sejuk dan ‘basah’ adalah harta karun terindah bagi siapapun yang bosan dengan panas Surabaya.

Itulah yang terjadi pagi ini. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 7.30, kelopak mata saya masih enggan bercerai. Badan pun semakin mesra dan intim dengan kasur. Kalau sudah begini, yang biasanya saya lakukan adalah mencari remote TV Tunner, membiarkan ocehannya menarik perhatian hingga mata ikhlas terbuka.

Ketika tangan meraba mencari teman tidur paling setia setelah handphone, otak saya ‘salto’. Ia melompat, berputar ke belakang hingga memori beberapa hari lalu. Hari ketika saya harus ‘menyekolahkan’ monitor PC ke kios bersemboyan Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah. Berkolaborasi dengan TV Tunner, monitor inilah yang biasanya membangunkan pagi saya. Namun, untuk sebuah workshop atau pelatihan, tak apalah ia istirahat sejenak di sana.

“Yang penting saya harus hadir di tengah cerpenis Surabaya tanggal delapan nanti,” gumam otak ndhridhis (banyak tingkah) saat itu.
Lanjutkan membaca “Four Thumbs Up Penulis Indonesia!”

Seni Berbagi dalam Kebersamaan Bani

Ketika pertama kali membuka mata untuk dunia, adalah keluarga yang menerima kita.

Ada sejuta keajaiban di sana, di dalam sebuah keluarga. Keajaiban yang hangat dan selalu membuat kita nyaman, enggan meninggalkan.

Itulah yang saya rasakan di lingkaran Bani Siswoyo. Lingkaran dengan diameter sangat besar. Ketika kita memasuki lingkaran itu, segala permasalahan di kantor, tugas rumah yang menumpuk, semua terlupakan sesaat. Terlebih lagi pada momen bahagia seperti Idul Fitri.

Separuh anggota Bani Siswoyo
Bani Siswoyo, dari sinilah saya ada

Sepanjang sembilan belas Idul Fitri yang pernah saya rasakan, Idul Fitri tahun ini adalah yang paling berkesan. Mungkin karena saya sedikit bosan dengan ritual Bani di tiap tahunnya. Setiap momen lebaran tiba, selalu ada tradisi yang wajib dilakukan di Bani ini. Mulai dari memasak bersama, sungkeman, ziarah, dan sebagainya. Namun tahun ini ada yang berbeda: photo session dan family game.

Lanjutkan membaca “Seni Berbagi dalam Kebersamaan Bani”

10 Tokoh Penting di We (part one)

Di negeri aman sentosa ini, hampir tak ada yang tidak mengenal Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir. Tapi tak ada yang mengenal Bung Karim, satpam markas suatu partai politik.

Di negerinya orang cerdas ini, hampir tak ada yang tidak mengenal RA Kartini. Tapi tak ada yang mengenal Rakinem, pedagang sayur keliling di komplek perumahan.

Seseorang bagi orang lain tak selalu sama penting. Begitu juga bagi Tika We. Tika We punya 10 tokoh yang penting dalam perjalanan fidupnya. Tokoh-tokoh tersebut penting bagi Tika We walau belum tentu penting bagi Anda. Tapi, mari tengok hidup ini, adakah tokoh-tokoh nasional itu lebih penting dari tokoh penting di sekitar kita??

Ibu

Me n Mom di Ruko
Me n Mom di Ruko

My mommy is the best mom on the world. Ya iyalah, lha wong ibuku cuma satu. She is my best-friend. Bisa jadi wadah curhat mulai urusan sekolah, kuliah, sampe pacar. Ibu juga selalu bisa kasih aku pertimbangan-pertimbangan yang logis ketika aku berada di persimpangan. As a friend, Ibu adalah teman belanja paling asyik. Selain nggak tengsin dalam hal windows shopping, seleranya nggak jauh beda dengan seleraku. O ya, ngomong-ngomong masalah tengsin, aku dan Ibu juga nggak tengsin untuk masuk ke sebuah resto mewah cuma buat cuci tangan 😀 . As a friend juga, Ibu akrab dengan teman-temanku. Jadi inget lagunya SO7. Sometimes I feel my heart so lonely but that’s ok. No mather how my girl just left me, I just don’t care. Whenever the rain comes down and it’s seems there’s no one to hold me. She’s there for me, she is my mom.

Hm, the world must be lonely without her..
Ibu
Aku, Ibu, NisaIbu adalah pengamat paling cermat. Ibu tau jadwal kuliahku, kegiatan apa saja yang aku ikuti, siapa saja pacarku, baju apa saja yang aku punya dan aku belum punya, bahkan kapan aku nggarap sari pun Ibu tahu. Waktu sidak di kamar kos, Ibu juga cermat mengamati semua pernak-pernik anak kos. Mulai dari fotoku ma Mas Onos, foto keluarga, jam waker, buku-buku apa yang aku punya, sampe pesan-pesan motivasi yang aku tempel.
Ibu
photo0140
Ibu adalah pelajar tergigih yang pernah aku kenal. Ibu memang lahir di awal tahun 60an, tapi update infonya masih jalan terus. Ibuku bisa SMS, n bisa manfaatin semua fitur di HP canggihnya. Ibuku akrab dengan komputer n laptop. Ibuku ngerti internet dan punya email address. Semua itu tidak ia ketahui begitu saja, beliau belajar dari nol. Ibu belajar dari mana saja, termasuk dari aku. Kalau Ibu tau aku ngerti email, maka Ibu akan langsung minta diajarin pake email. Kalau ada HP keluaran baru, Ibu nggak segan-segan cari info. Nah, kalau dah dapet tu HP, Ibu juga nggak males untuk mempelajari semua fitur yang ada. O iya, Ibuku juga gigih belajar nyetir. Nggak peduli bagaimana komentar Bapak tentang caranya nginjak kopling yang masih kasar, Ibu terus belajar. Hingga akhirnya, sekarang setiran Ibu jadi sangat halus. Satu lagi. Basic pendidikan Ibuku adalah seni tari. She’s good at traditional dance. Secara, hampir 7 tahun hidupnya untuk mempelajari seni tari tradisional dan lebih dari 20 tahun usianya ia habiskan bersama liukan tari tradisional Jawa. Tapi supaya lebih update dengan jaman, Ibu belajar ekonomi juga. Supaya lebih dalam, beliau ambil S1 ekonomi yang nantinya bisa ia gunakan dalam profesi mengajarnya. Sayang, sekarang Ibu begitu concern dengan ekonomi hingga beliau tak mau menari lagi. Padahal aku seneng liat Ibu menari, walaupun aku nggak pernah mau diajar menari..

Bapak

My Dad
My Dad

Bapak tidak tampan seperti Joe Richard, tidak jenius seperti BJ Habibi. Tapi Bapakku lebih cool dari Joe dan lebih ilmiah dari Pak Habibi. Wajahnya memang berkarakter garang, seakan-akan siap carok kalau ada yang mengusiknya. Tapi jangan salah, Bapak juga punya sisi kocak dan konyol. Biasanya agak telat juga beliau menyadari kekonyolannya. Tapi di luar itu, Bapakku orang cerdas dengan the way of thinking dan prinsip-prinsipnya. Kedua harta mewah Bapak itu selalu ia bagikan padaku, termasuk prinsipnya yang keras. Terkadang beliau lupa I am his daughter, not his son sehingga prinsip-prinsip tentang harga diri laki-laki pun juga ia bagikan. Ketika aku bingung dengan situasi publik di sekitarku, Bapak akan selalu memberi kalimat-kalimat keras yang akan menguatkanku. He is my best motivator. Alasannya to do or not to do selalu logis. Ilmu akademisnya juga ia bagikan padaku. Aku masih ingat, Bapak ngajari aku hukum Archimides waktu nguras bak mandi. Beliau juga ngajari gimana motor jalan dengan bensin. Tu bensin larinya ke mana, jadi apa, beliau jelaskan. Urusan mekanik, Bapakku nomer satu. Sayang beliau agak gaptek urusan gadget, masih lebih canggih Ibu. Oya, Bapak adalah supir #1 bagiku. Aku kaya akan pengalaman disetir orang lain, mulai dari supir angkot, supir taxi, sampe temen sendiri. Tapi dari sekian banyak orang yang nyetirin aku, setiran Bapak tu yang paling sip! Halus tapi cepet. Kalo Ibu, alon-alon asal klakon. Hehehe…

Sambutan Tika We

Assalamu ‘alaykum…

Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga ngobrak-abrik wordpress dengan tangan sendiri. Ini bukan blog pertama saya, sebelumnya saya menulis di http://tikaw.blogsome.com dan upload beberapa foto eksklusif di http://tikawe.photoblog.com yang sudah lama tidak terjamah.

Blog ini saya buat supaya saya bisa berbagi kepada dunia mengenai apa yang dilihat oleh mata saya, yang didengar telinga saya, dirasakan lidah saya, dicium hidung saya dan dilangkahi kaki saya. Semua itu perlu dibagi, walau hanya akan menjadi pengetahuan bukan ilmu.

Saya tahu, saya bukan penerima piala Osar, tapi wajib bagi saya untuk menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung saya terjun ke dunia blogging. Untuk Allah The Almighty thanks bwangetd masih menyimpan file-file ingatanku dan selalu menegur langkah salahku, Rasul akhir jaman trims atas teladan yang berat sekali saya ikuti. Tapi tenang saja, ya Rasul, I’ll keep try! Ibu, Ibu, dan Ibu thank you karena menjadi multifunction friend yang jadi penggemar setia sekaligus kritikus handal tulisanku, yang nggak capek mendengarkan celoteh anak sulungnya yang super cerewet dan hiperaktif, yang nggak bosan ngajak shopping seperti halnya ketidakbosanannya mengajakku mengkaji semua ilmu. Bapak matur nuwun sanget karena sampai sekarang masih survive menjadi dosen pribadi, supir nomer satu yang belum ada tandingannya, sahabat yang selalu kompak dalam melampiaskan segala keusilan (jangan ditiru!!).