Tips “Me Time” Tengah Malam Setelah Punya Bayi

Like father like son

Nggak ada. Susah banget! Suka nggak tega ninggalin anak.

Saya saja baru bisa kemarin. Setelah 2 tahun cuti, akhirnya semalam kesampean juga kembali nonton konser musik sendirian. Sebagai INTJ, saya perlu me time lebih banyak daripada bersosialisasi. Jadi pergi sendirian semacam recharge buat baterai kesehatan mental saya.

Pun dengan Pak Suam. Beliau punya agenda olahraga di akhir pekan yang tidak bisa diganggu gugat.

Untungnya sejak awal kami cukup tahu diri bahwa ngurus anak itu bukan hanya urusan saya sebagai perempuan, tapi urusan Pak Suam juga. Maka kamipun menyamakan skill, belajar bersama. Saya bisa nyebokin anak, Pak Suam juga. Pak Suam bisa ganti galon dan gas, saya juga. Bisa dan mau.

Hasilnya, emak sesekali bisa me time tanpa khawatir anaknya nggak keurus. Pak Suam juga tidak kehilangan masa golden age anak karena sudah “bro” banget sama Nak Kicil.

Bahkan dia pernah pulang kampung berdua sama Nak Kicil seminggu tanpa saya. Mereka kembali ke Bekasi dalam mood super happy. Mungkin karena bebas nggak ada saya juga. Hahaha…

I believe this is how gender equality at home works. Cuci piring, ngurus anak, bayar tagihan, bukan kodrat perempuan/laki-laki semata. Itu tugas semua manusia yang berkomitmen membangun rumah tangga.

Kodrat perempuan adalah memiliki vagina dan rahim. Digunakan atau tidak, mau digunakan kapan, kembali ke pilihan dan jalan hidup masing-masing.

Efek yang saya rasakan:

  1. Pak Suam lebih dekat dengan anak tapi tetep happy juga kalau Pak Suam nggak di rumah di akhir pekan.
  2. Saya masih bisa menjalani hobi dan belanja tanpa merasa terbebani tanggung jawab rumah tangga.

Jadi apa tips me time setelah punya bayi? Nggak ada, kecuali kamu sudah bicara dengan pasanganmu tentang kebutuhan dan tanggung jawab kalian berdua.

PS: Thank you restunya, Pak Suam. Lembur weekend-nya jangan lama-lama, woy! Reportku belum kelar, Senin deadline. Hahaha..

Bapak

11893926_10206456832153263_2606324255243039207_o

Sejak kecil, ketika masih di pabrik gula, Bapak sering membawa saya ke pabrik. Sambil kerja, Bapak menceritakan proses pembuatan gula, bagaimana mesin-mesin tua raksasa bekerja, mengenalkan saya pada tim kerjanya, bagaimana buruh pabrik bekerja dan diupahi, supaya saya bersyukur serta tak lelah menuntut ilmu.

Sampai saya dewasa, Bapak tidak pernah canggung membawa saya ke pabrik, atau ‘calon’ pabrik seperti di belakang saya ini. Belum ada deru mesin berat. Hanya tujuh buruh kasar pemasang rangka atap beratraksi di puncak kerangka. Belum lama ini Bapak meminta mereka mengenakan safety belt, walaupun sedikit ribet.

“Kalau jatuh, bisa saja langsung diganti kuli yang lain. Tapi jangan lupa keluarganya yang menunggu di rumah.”

Family is irreplaceable.

31-08-2015, Tol Karawang menuju Bekasi dari Tegal.

Surat Cinta dari Loveland

20140402-001854.jpg

Suatu siang, sepucuk surat mendarat di meja kerjaku. Di era email dan sosial media, surat adalah barang langka. Apalagi surat ini ditulis tangan, ada perangko berstempel. Bukan surat blast promosi, bukan tagihan kartu kredit. Di belakangnya ada sticker hati merah jambu, bertabur gemerlap glitter. Surat cinta!

Nama dan alamatku tertulis besar-besar di sisi kanan amplop. Di pojok kiri bawah, stempel merah bergambar bocah kecil dengan panah cinta dan daun-daun waru mengotaki syair singkat.

Ya Tuhan, aku dapat surat cinta!

Lanjutkan membaca “Surat Cinta dari Loveland”

Farewell Letter dan Penggalan SWAnizer

aSepanjang perjalanan karir, menulis farewell letter tentu bukan hal yang kita inginkan. Pertama kali menulis farewell letter untuk keluarga FAB Cargo dulu perlu waktu semalam suntuk lantaran saya mengurai kesan dan pesan untuk tiap orang. Belajar dari pengalaman itu, ternyata farewell letter cukup ampuh menjaga komunikasi dengan klien maupun co-worker. Sampai sekarang kami masih berkomunikasi, saling bertukar informasi.

Sayangnya, sekali lagi saya harus menulis farewell letter. Kali ini lebih sulit karena inspirator saya lebih banyak. Teman kantor, teman sesama wartawan, dan teman yang saya kenal dari setiap kesempatan liputan / wawancara, ternyata banyak sekali. Setelah merenung di HokBen stasiun Gambir usai menukar tiket liburan, jadilah farewell letter berikut ini:

Teman-teman yang baik hatinya,
 
Terhitung sejak Kamis (28/3) saya undur diri dari SWA Online. Meminjam kata-kata Jamil Azzaini, saya sedang menaiki anak tangga selanjutnya demi realisasi proposal hidup yang saat ini masih dalam proses approval dari Tuhan. Oleh karena itu, untuk kepentingan undangan peliputan, press release, sahabat saya, Ayumi, selaku sekertaris redaksi SWA akan dengan senang hati membantu teman-teman melalui email secretary.swa@swamail.com atau telepon 021-352 3839. Nah, kalau mau pitching baik untuk SWA Online maupun Majalah SWA, sangat disarankan menghubungi kakak saya, reporter SWA yang paling bijak, Ario Fajar namanya. Ario pasti semangat 45 menerima masukan dari teman-teman di ario.abcd@blablabla.co.id, apalagi kalau diajak makan-makan dan cuci mata di mall. Hahaha…
 
Betapa beruntungnya saya diberi kesempatan untuk mengenal individu-individu yang ramah dan penuh semangat seperti kalian. Semoga teman-teman berkenan menjaga hubungan baik ini di Facebook, Twitter, Line, Livemocha, YM, Whatsapp, Viber, Path, GTalk, Skype, apapun deh yang bisa mempererat silaturahmi. Buat cewek nih, yang mau sleep over atau sekedar mampir di bilik saya di Gambir, silahkan. I am reachable for you, guys.
 
Terima kasih atas kerjasama dan kehangatan yang selama ini terjalin dengan baik. Tanpa berlama-lama menanti Idul Fitri, saya mohon maaf setulusnya apabila ada sikap, penulisan, maupun tutur yang kurang berkenan di hati teman-teman.  Last but not least, keep in touch ya.. 🙂
 
Salam,
Tika We
 
“We don’t have customers; we have friends.” -Gunawan Hadiwijaya, Managing Director PT Fabweli Antar Benua, mantan bos & keluarga kedua di Surabaya-
 
“Friendship makes me secure, even when the hurricane Sandy destroyed my home.” -Ulrich Wirth, Operational Manager Weiss-Rohlig New York, former client & best friend on Skype-
 
“Wartawan dituntut untuk tahu berita dari sumbernya, supaya tidak simpang siur dan ketika ada yang tanya tidak salah. Itu berlaku di kehidupan sehari-hari.” -Ester Meryana, jurnalis andalan SWA Online, mentor & kakak-

Sebetulnya melalui surat itu saya ingin bercerita kepada semua orang tentang sahabat-sahabat di SWA alias SWAnizer yang saya kagumi. Namun, atas nama efisiensi, saya urungkan. Penggalan cerita tentang SWAnizer akan saya ungkap di sini. Simak baik-baik!

Ario Fajar

Pasukan Gerak Cepat yang dipimpin Ario
Pasukan Gerak Cepat yang dipimpin Ario

Di antara Pasukan Gerak Cepat, reporter SWA usia 31 tahun ke bawah, Ario Fajar adalah yang paling ‘dituakan’. Dia memang bukan yang paling tua secara umur, tapi dia yang paling senior. Di antara padatnya populasi orang Jawa di kantor redaksi SWA, Ario justru paling anti dipanggil ‘Mas’, apalagi ‘Bang’. Pria berkacamata yang rajin fitness dan diet ini memang orang Betawek (Betawi dalam bahasa Mbak Eva) yang selalu berusaha bergaya muda dan modis. Dengan segala tingkah polah khas seorang Ario, satu hal yang saya kagumi darinya, dan ini sangat jarang tertanam di pribadi manapun: Ario tidak pernah membicarakan hal buruk orang lain. Ketika kami ngerumpi, berkeluh kesah tentang ulah SWAnizer lain, Ario hanya akan mendengarkan dan tertawa bila perlu. Tapi dia tidak pernah ikut menimpali. Saya rasa kalau lah Ario punya dosa, pastilah perkara nyomot makanan orang biar irit dan gajinya utuh! Hahaha…

Bicara tentang masa depan SWA, saya cukup yakin Ario ada di sana. Dia tahu kapan harus bersikap sebagai teman, sahabat, bahkan pemimpin. Hm, mungkin kemampuan kepemimpinan itu dia dapat dari summer-camp konsultan bisnis D****is yang kerap diikutinya. Dia juga satu-satunya sahabat di SWA yang bisa diajak ngobrol tentang Bahasa Inggris dan cita-cita go international. Saya rasa dia titisan Agnes Monica yang terselip dengan nasib yang berbeda.

Denoan Rinaldi

Kalau ditanya siapa orang yang paling banyak memberi pengaruh positif terhadap perjalanan karir saya di SWA Online, setelah Pak Kusnan sang Pimred, adalah Deno. Dia sosok senior atau kakak yang helpful dan apa adanya. Dia juga punya idealisme tinggi terkait jurnalisme. Ketika saya masih baru menginjakkan kaki di SWA, Deno banyak membagikan ilmu baru. Mulai dari bagaimana jurnalistik seharusnya, jurnalisme online, karakter jurnalisme SWA, dan sebagainya. Yang tidak bisa saya lupa, Deno adalah biker handal yang ramah. Walaupun disibukkan dengan transkrip rekaman wawancara, dia akan membuka headsetnya dan menanggapi pertanyaan saya, apapun itu. Bahkan awal-awal saya mengendarai motor di Jakarta, Deno lah yang dengan sabar memberi petunjuk jalan mana yang bisa dilalui menuju tempat liputan. I owe him a big!

Ester Meryana

IMG_20121126_192245Meski belum lama di SWA, jebolan pasca sarjana Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini termasuk salah satu reporter kesayangan redaktur kami. Bagaimana tidak, performanya nyaris dua kali lipat performa Lila yang relatif lebih senior. Meski demikian, ‘alumnus’ Kompas.com ini sangat humble, dan kerap membagi tips nulis kilatnya. Yah, walaupun belum bisa kami terapkan. Hehehe… Seperti tertulis pada farewell letter saya, Ester memasukkan prinsip jurnalisme dalam kehidupan sehari-harinya. “Wartawan dituntut untuk tahu berita dari sumbernya, supaya tidak simpang siur dan ketika ada yang tanya tidak salah. Itu berlaku di kehidupan sehari-hari.” Quote ini saya peroleh dari perbincangan hangat kami di whatsapp. Ketika isu resign saya mulai beredar, gosip miring pun merebak. Ester lah yang paling responsif dan mengklarifikasi isu tersebut secara langsung. Terima kasih, Ester!

Itulah 3 reporter SWA terbaik versi saya pribadi. Walaupun tidak adil menilai mereka dalam perkenalan yang sangat singkat, tak lebih dari 11 bulan, saya merasa beruntung. Lebih beruntung lagi saya mengenal Gusti yang kalau di lapangan namanya jadi Tiwi, kemudian Sekar, Rangga, Dito, Lila, dan Ayumi. Mereka adalah orang-orang terbaik.

Hijabee Masuk Tivi di Kuis Flexi CengLi

Hijabee The Victory

Assalamu ‘alaykum, Bees..

Apa ya yang terjadi ketika ada dua perempuan berkumpul di satu tempat? Mereka akan saling curhat, mengungkapkan kisah hidup masing-masing. Bagaimana bila ada tiga perempuan di satu tempat? Hm, yang ada pasti obrolan serius tentang si dia, temannya si anu, mamanya si itu, hingga neneknya yang begini-begitu. Nah, kalau ada TIGA PULUH perempuan seru berkumpul di satu tempat? Seruuuu!!

Itulah yang terjadi pada 4 Februari 2012 lalu. Lebih dari tiga puluh Bees menikmati atmosfer malam Minggu yang berbeda dari biasanya. The Bees buzzed gorgeously at City of Tomorrow aka CITO.

Hijabee di Flexi CengLi
Hijabee di Flexi CengLi

Lanjutkan membaca “Hijabee Masuk Tivi di Kuis Flexi CengLi”