10 Fakta Kresnayana Yahya dari Lingkaran Akademisnya

Kresnayana YahyaTanggal 1 September lalu, salah satu dosen senior sekaligus pendiri Jurusan Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kresnayana Yahya, akhirnya purnatugas sebagai pegawai negeri sipil. Sebagai bentuk terima kasih, Divisi Pers Himpunan Mahasiswa Statistika ITS bersama jurusan menerbitkan buku berjudul “Sosok dan Kiprah Kresnayana Yahya: Sang Pejuang Statistika di Mata Mereka”.

Lanjutkan membaca “10 Fakta Kresnayana Yahya dari Lingkaran Akademisnya”

Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar

Ini adalah surat terbuka buat kamu, Pandji Pragiwaksono, komika stand-up comedy yang doyan banget mengkritik negaraku, Indonesia. Dari judul karya-karya kamu saja sudah terlihat antusiasme menjadikan negara ini jadi lebih baik. Indonesia Free, Nasional.is.me, Merdeka Dalam Bercanda, Mesakke Bangsaku, dan sebagainya.

Merdeka Dalam Bercanda adalah salah satu show stand-up comedy yang bisa aku nikmati. Salah satu bitmu waktu itu kamu mengangkat Kota Padang. Bis kota di Padang memang menarik dengan gambar-gambar air brush. Selain trayek, orang Padang cenderung memilih bus dari gambarnya. Bit ini sudah disinggung di buku Nasional.is.me yang dipublikasikan beberapa tahun sebelum Merdeka Dalam Bercanda.

Dear Pandji yang nasionalis abis, Padang nggak cuma ada bis kota. Akhir Oktober kemarin aku membuktikannya. Bersama hampir 200 karyawan kantor. Kami outing ke Padang sambil mengasah rasa nasionalisme.

Mbak Fannie di terminal 2F mungkin udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang
Mbak Fannie di terminal 2F udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang

Lanjutkan membaca “Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar”

Layar Kota Tegal yang masih terkembang

Mari masuk mesin waktu
ku antar ke era 70-an ketika Kota Tegal baru punya bendera.

Saat itu Kota Tegal menggelar audisi mencipta lambang.
Lambang Kota Tegal yang hingga kini terpampang di surat-surat resmi sampai neon-box Kota Bahari itulah jawaranya.
Tahukah kamu siapa sosok dibalik layar putih di perisai biru itu?
Mari ikut aku menemui Sang Pengembang Layar

Lanjutkan membaca “Layar Kota Tegal yang masih terkembang”

Yang Udik Yang Mengusik Jakarta

Bajaj The Shaker!

Jakarta. Apa yang melintas di pikiran Anda ketika nama kota terbesar di Indonesia ini disebut? Padat. Macet. Polusi. Ruwet. Koq nggak ada bagus-bagusnya yah? Trus untuk apa orang-orang udik alias Though Dreamer berjubel di sana?

Di Jakarta ini semuanya ada. Kemewahan, kekumuhan, kesalehan, kemaksiatan, Jakarta diciptakan begitu lengkap. Dan dengan segala keluguan dan kenggumunan, saya turut membuat ibukota ini semakin lengkap. Cring!

Rabu 14 Maret 2012 jam 4 pagi, sepasang sandal jepit jadi tunggangan saya melangkah di Jakarta. Dijemput Bang Onos, saya kemudian diamankan di kos Elly. Rasanya Tuhan memang menciptakan mereka untuk menggelar karpet merah untuk saya seperti pagi itu di Jakarta dan pagi lainnya 5 tahun lalu di Surabaya. Alhamdulillah.

Saya, Bang Onos, dan Elly
Saya, Bang Onos, dan Elly

Padat Jakarta

Kos Elly di Karet Setiabudi ini jauh berbeda dari kosannya di Surabaya dulu. Pria, wanita, semua bebas keluar-masuk bahkan menginap di situ. Meski didominasi perempuan, tak sedikit lelaki yang ngekos dan ikut rumpian malam bareng di sana. Menurut cerita Elly, tak sedikit juga kawan-kawannya yang tanpa sungkan ngamar dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

Elly, "The Joni", dan saya
Elly, "The Joni", dan saya

“Ini kan bukan kos mahasiswa,” begitu jawab mereka setiap Elly bertanya mengapa.

Jakarta, Jakarta. Memang bukan Jawa, apalagi Madura. Barangkali karena padatnya, pokoke mlebu lah!

Though Dreamer

Seperti jutaan orang lainnya, saya berada di Jakarta untuk memperbaiki nasib. Bukankah nasib itu lebih elok bila diperbaiki daripada diadu?

Seperti yang tertulis di buku agenda, hari Kamis sore ada wawancara kerja di majalah bisnis A, kemudian hari Jumat sore wawancara kerja di majalah brand-marketing B. Saya melamar di kedua majalah tersebut untuk posisi yang sama, Reporter.

Saya mengenal majalah A sejak empat atau lima tahun lalu. Saat itu saya sedang menanti giliran servis leptop, dan mengambil tumpukan majalah A di ruang tunggu untuk membunuh kebosanan. Di halaman tengah majalah tersebut, saya mendapati beberapa petak histogram dan pie-chart yang menceritakan popularitas brand produk-produk rumah tangga. Halaman-halaman lainnya lebih banyak membahas teori dan riset bisnis, dan tak lupa profil pebisnis sukses.

“Liat ya, suatu hari nanti aku pasti bisa masuk sini!”

Majalah B belum lama saya kenal. Bahkan membacanya saja belum pernah. Bang Onos lah yang mengenalkan saya. Ia sering bercerita tentang sulitnya bekerja di majalah tersebut baik sisi positif dan negatifnya. Bang Onos juga pernah bercerita tentang temannya teman yang mengeluh bekerja di majalah A. Jadi intinya management kedua majalah tersebut tidak mudah ditaklukkan. And they really took my fancy!

Seperti yang dijadwalkan sebelumnya, hari Kamis sore saya harus sudah ada di kantor redaksi Majalah A jam 3 sore. Tak mau berspekulasi dengan antrian busway, macet dan asap kendaraan, saya cegat taksi menuju Jalan Tanah Abang 3. Eh, ternyata jalanan lancar dan saya tiba 30 menit lebih awal. Hahaha… Alhamdulillah yah, sesuanto!

Di lobi, saya disambut Mbak HRD yang ramah dan alhamdulillah berjilbab. Saya disodori form CV yang cukup tebal. Tak lama berselang, Mbak HRD meminta saya masuk untuk wawancara kerja dengan Pak Redaktur Eksekutif. Saya agak kaget. Menurut penuturan Bang Onos yang juga pernah melamar di Majalah A sebagai researcher, tahapannya adalah wawancara HRD, user/Redaktur Eksekutif, psikotes, tes Bahasa Inggris, kemudian yang terakhir wawancara dengan Big Boss/Pimred. Tapi ya sud lah, mungkin HRD-nya lagi sibuk, begitu pikir saya saat itu.

FYI, untuk wawancara sore itu saya sempatkan berlatih di depan kaca kamar kos Elly. Modalnya adalah pertanyaan-pertanyaan khas HRD perusahaan internasional yang saya dapat dari Profesor Tom Weeks, peneliti di Teknik Lingkungan ITS asal Amerika. Sayangnya, tidak satu pun pertanyaan tersebut ditanyakan oleh Redaktur Eksekutif! Mampusss…

Pak Redaktur malah bertanya ke mana saja saya melamar. Dengan tampang polos saya jawab apa adanya.

“Kenapa cuma 2?” tanya beliau kemudian.

“Ya karena saya berpikir positif dan optimis akan diterima di salah satunya.”

Pe De beneeeeerr!! Padahal untuk posisi reporter dengan mobilitas tinggi, saya belum hafal jalanan Jakarta. Hehehehe…

Tanya jawab pun dilanjutkan. Tidak terlalu seru, karena saya menahan banyak pertanyaan. Ada mitos yang bilang, jangan menyela wawancara kerja dengan pertanyaan sebelum dipersilahkan. Dan saya percaya itu. Duh!

Tak lama berselang, Pak Redaktur keluar. E lah dalah, lha koq ganti Pak Big Boss yang masuk! Mati gaya dah! Kata Mbak HRD, karena rumah saya jauh jadi tahapan wawancaranya di by-pass apalagi Pak Redaktur sudah bilang oke.

Faktor flu, nervous, dan mati gaya ikut menyidang saya di ruangan sempit itu. Pak Big Boss memberondongi saya dengan pertanyaan terkait latar belakang pendidikan dan posisi yang saya lamar. Memangnya aneh ya kalau mahasiswi Statistika melamar jadi reporter? Kan kita jago wawancara juga, wawancara kuesioner. Hehehe…

Menariknya, Pak Big Boss sempat meminta saya mengirimkan tulisan tentang statistik dan satu review buku yang pernah saya tulis. Saya sih PeDe saja bilang iya. Padahal otak berpikir keras,

“Matilah saya! Laptop baru aja direkoveri, file-file kuliah masih ada nggak ya??”

Alhamdulillah, dari hasil wawancara dengan Pak Big Boss saya diterima bekerja di Majalah A dengan kontrak pertama selama 1 tahun. Keluar dari ruang sempit, saya diminta menandatangani offer letter yang berisi kesepakatan gaji, sanksi dan pinalti, lan sak piturute.

“Jadi besok nggak usah wawancara di Majalah B, ya.”

Glek! Kalimat yang muncul dari Pak Redaktur lulusan UNAIR itu menyadarkan saya. Oalaaah.. Ini to maksudnya by-pass. Hihihihi… Oke lah kalau begitu.

Jam lima sore, semua proses rekrutmen di majalah A selesai. Tak tahu jalan, saya tanya Mbak HRD alat transportasi yang bisa mencapai Karet. Mbak HRD bilang pakai bajaj atau ojek saja. Karena tukang ojek di sana agak kurang meyakinkan (dan kurang tampan), saya putuskan membonceng bajaj. Dan ini kali pertama saya naik kendaraan asli India!

Bajaj The Shaker!

Bajaj The Shaker!
Bajaj The Shaker!

Saya beruntung. Bajaj yang saya tunggangi betul-betul merefleksikan Jakarta. Sempit, tidak nyaman, dan nekat. Saya dan supir bajaj asal desa Pagerbarang, Tegal ini sama-sama tidak tahu persis Karet Setiabudi. Pak Supir terus saja bertanya lewat mana, Karet yang mana, sebelah mana hotel Shangri-La.

“Helloooo!! Saya kan nggak ngerti Jakarta, Paaaaakk!! Situ nanya saya, saya nanya siapa doooonk?!” jerit saya dalam hati. Pokoknya naik bajaj itu sesuatu banget dah! Kalau saya bawa sebotol penuh wine, sampai Jalan Jendral Sudirman pasti sudah meledak, busa-busanya membuncah memenuhi jok bajaj. Bagaimana tidak, naik bajaj berasa dikocok-kocok sambil uji pernapasan. Kalau bajaj ngoyo naik jalan layang, kita pasti ikut tahan napas ala jurus meringankan tubuh sambil komat-kamit baca doa. Belum lagi asap knalpot bajaj yang mbalik dan didukung knalpot lain yang ngepot tak tahu sopan santun. Ya Allah, ini memang Jakarta!

Setelah ngotot-ngototan dengan supir bajaj, jadilah saya minta diturunkan di Mall Ambassador. Kenapa? Karena pusat perbelanjaan tersebut berada persis di samping kantor Bang Onos. Jadi, pol pole pol saya tidak tahu jalan ke kos, tinggal gedor kantor Bang Onos dan minta diantar pulang. Hahahaha…

Suddenly alias makbedunduk, Bajaj mogok tepat di trotoar sebelum Mall Ambassador. Bagus! Lengkap sudah penderitaan saya naik bajaj! Akhirnya saya putuskan untuk turun dan jalan kaki ke kantor Bang Onos. Untung Tuhan mempertemukan kami di tengah jalan, jadi saya tidak perlu capek-capek ke sana.

Haaaah.. Dan di sanalah perjalanan saya mengusik Jakarta berakhir. Setelah posting ini, Jakarta tidak akan saya usik lagi, tapi saya taklukkan! Merdeka!

Takdir dalam Banana-Split

Banana Split
Banana Split

Banana Split

Solo. Bukan sendiri. Sedekap tanganku dan semangkuk banana-split rebah di atas urat-urat kayu. Banana-split, sebuah pisang yang dibelah lalu mengalah, memisah memberi celah pada krim dingin yang bergandengan. Coklat, moka, mint. Mereka berjajar rapi mengeratkan dua belah pisang. Eratnya tak sia-siakan lorong sempit yang tersedia.

Hidup seharusnya begini bila disyukuri. Coklat, moka, mint.

Coklat pada sekop pertama adalah kisah manis saat kita lahir, menjadi bagian dari kedua orang tua. Menjadi pengerat dua belah pisang yang satu. Kasat mata bilang itu pekat, kusam, karena kita tak tahu apa-apa. Namun seburuk apapun rupa, kehadiran kita di dunia akan selalu jadi cerita yang begitu manis.

Lalu kita tumbuh, memahami bahwa hidup adalah satu sekop moka. Tak sepekat dulu, kita mulai tahu segala sesuatu. Hidup mencari pencerahan, tinggalkan pekat, meski takkan pernah cerah secerah vanila. Moka adalah kepekatan yang pudar, kecerahan yang tersamar. Hidup memang tak pernah benar-benar hitam, apalagi putih. Mutlak itu tak ada, layaknya kesempurnaan yang tak akan dimiliki. Kesempurnaan pandang, kesempurnaan rasa, tidak benar-benar ada. Lidah telanjang bilang pahit. Hidup menjalang pun pahit. Itulah moka. Itulah hidup. Berterimakasihlah pada pahit, yang menjadikan hidup tetap moka. Dan kita tak akan jera menyesapnya.

Mati lalu menghijau seperti mint. Segar. Menyenangkan. Tak ada lagi pekat, yang ada kebeningan rasa seperti hendak terlahir kembali. Lahir di atas bumi yang tak lagi sama. Manisnya ada, namun kadang tak terasa.

Banana-split bersandar pada dinding kaca mangkuk tebal. Dua belah pisang dengan krim dingin yang menyatukan. Apapun rasanya, nikmati saja. Sejatinya tuhan selalu melindungi rasa itu. Tangannya memang tak tampak. Kadang aku merasa ia bersembunyi di antara pucuk lembut whipped-cream. Kelembutan rendah hati, ditabur biji kacang-kacang yang tampak hancur.

Aku sayang orang tuaku. Dua belah pisang yang satu. Aku sayang takdirku. Coklat, moka, mint. Aku sayang tuhanku. Menyapa lembut dan sembunyikan aibku. Seperti potongan cherry, yang berbaur dengan kacang-kacang kasar dan lembut whipped-cream. Jangan-jangan sebetulnya tuhan juga menyelinap di bening mangkuk kaca tebal??