8 Hari Menuju Korea : Heboh

Hitung mundur 8 hari lagi kantorku berangkat outting ke Korea. Iya, Korea Selatan. Kami bukan groupies Kim Jong Un yang segitu ngefans-nya sama Korea Utara. Yah walaupun banyak cowok yang rambutnya mirip petinggi Korea Utara tersebut. Hehe..

Hari Jumat lalu, Kaha Event yang mengurus hajatan bersenang-senang sudah membagikan pre-briefing. Dari pre-briefing tersebut kami dapat gambaran akan ke mana dan mau apa di sana. Dan dari pre-briefing juga aku tahu, tidak ada agenda Meet & Greet SNSD. *sigh

Yang lebih bikin seneng, sekitar 160 visa sudah diterbitkan Kedutaan Korea Selatan. Banyak di antara kami juga sudah heboh beli Won, mata uang Korsel. Kehebohannya terasa banget. Apalagi hari ini ruangan kantor dihiasi lampion, payung lucu, dan bunga-bunga sakura. Adalah dua cewek Happiness Committee yang meluangkan akhir pekannya untuk semua ornamen itu. Mereka adalah Nana dan Risya. Dibantu Pak Nandang, tentunya.

20140512-142851.jpg
Sakura di pintu masuk kantor

Lanjutkan membaca “8 Hari Menuju Korea : Heboh”

Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar

Ini adalah surat terbuka buat kamu, Pandji Pragiwaksono, komika stand-up comedy yang doyan banget mengkritik negaraku, Indonesia. Dari judul karya-karya kamu saja sudah terlihat antusiasme menjadikan negara ini jadi lebih baik. Indonesia Free, Nasional.is.me, Merdeka Dalam Bercanda, Mesakke Bangsaku, dan sebagainya.

Merdeka Dalam Bercanda adalah salah satu show stand-up comedy yang bisa aku nikmati. Salah satu bitmu waktu itu kamu mengangkat Kota Padang. Bis kota di Padang memang menarik dengan gambar-gambar air brush. Selain trayek, orang Padang cenderung memilih bus dari gambarnya. Bit ini sudah disinggung di buku Nasional.is.me yang dipublikasikan beberapa tahun sebelum Merdeka Dalam Bercanda.

Dear Pandji yang nasionalis abis, Padang nggak cuma ada bis kota. Akhir Oktober kemarin aku membuktikannya. Bersama hampir 200 karyawan kantor. Kami outing ke Padang sambil mengasah rasa nasionalisme.

Mbak Fannie di terminal 2F mungkin udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang
Mbak Fannie di terminal 2F udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang

Lanjutkan membaca “Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar”

Surat Cinta dari Loveland

20140402-001854.jpg

Suatu siang, sepucuk surat mendarat di meja kerjaku. Di era email dan sosial media, surat adalah barang langka. Apalagi surat ini ditulis tangan, ada perangko berstempel. Bukan surat blast promosi, bukan tagihan kartu kredit. Di belakangnya ada sticker hati merah jambu, bertabur gemerlap glitter. Surat cinta!

Nama dan alamatku tertulis besar-besar di sisi kanan amplop. Di pojok kiri bawah, stempel merah bergambar bocah kecil dengan panah cinta dan daun-daun waru mengotaki syair singkat.

Ya Tuhan, aku dapat surat cinta!

Lanjutkan membaca “Surat Cinta dari Loveland”

New Magnum Cafe, Beneran Kafe

“Magnum cafe ada lagi?!” Itulah pertanyaan yang kerap muncul ketika berbagai media dan jejaring sosial mulai gencar mengabarkan New Magnum Cafe. Tak sedikit pula yang terpanggil rasa penasaran untuk membandingkan Magnum Cafe dulu dan sekarang. Termasuk saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sedikit flash back, sebelumnya Magnum Cafe pernah meramaikan pasar food & beverage Indonesia di Februari 2011. Tidak hanya di Jakarta, Magnum Cafe berupa karavan pun beredar di beberapa kota besar, salah satunya Surabaya. Magnum Cafe yang ada di Grand Indonesia adalah versi permanen dengan konsep modern victorian yang istana sentris. Pengunjung alias pleasure seekers dimanjakan bak putri raja dengan desain interior yang mewah dan waitress bergaun. SWA sempat menguliknya, atau sila cek rilis Unilever.

Pengunjung membludak, Magnum Cafe yang sedianya hanya digelar 3 bulan, berlanjut hingga awal 2012. Tanggal 15 Januari, kafe tersebut resmi ditutup.  Unilever membukukan laba yang luar biasa untuk food & baverage, mendominasi lebih dari 70% perolehan keseluruhan Unilever Indonesia.

5 Juli kemarin, Magnum Cafe kembali dibuka untuk media. Agak surprise, konsep modern victorian ditinggalkan seperti yang ditulis redaktur saya, Mbak Eva. Magnum Cafe sekarang beneran kafe. Waitress Magnum Cafe mengenakan polo-shirt coklat, celana gelap dan round hat. Kalau diperhatikan lagi, Magnum Cafe membedakan seragam kru nya seperti mereka membedakan deskripsi jobnya. And yes, tidak ada lagi gaun dan mahkota. Sangat disayangkan sebetulnya, karena itulah yang membuat Magnum Cafe istimewa dan prestis.

Jadi tamu di New Magnum Cafe itu tidak mudah, temanz! Kita harus antri. Sambil berdiri, kru Magnum Cafe akan menghampiri. “Untuk berapa orang, Kak? Atas nama siapa?” kru pertama yang kita temui (setelah sekuriti) ngabsen. This is the worst part at Magnum Cafe. Siapapun nggak suka menunggu, kan? Jangankan pleasure seekers, es krim aja nggak bisa nunggu sampai habis meleleh. 😉

Beneran Kafe

Setelah sukses bertahan hingga di pangkal antrian, kita akan diantar masuk ke cafe. Ketika kita masuk, kru yang mengantar akan meneriakkan semacam mantra selamat datang yang akan dijawab serempak kru lain di cafe tersebut. Maaf ya, saya agak kurang bisa menangkap jelas apa yang mereka katakan karena rasanya seperti masuk minimarket 24 jam, “Selamat pagi, selamat berbelanja” tapi pandangan nggak tau deh ke mana.

Seperti saya sebut sebelumnya, kita akan mendapati Magnum Cafe sebagai sebuah kafe biasa dengan lounge dan barnya. Tidak ada lagi pernak-pernik kerajaan seperti dulu. Yang ada tinggal poster-poster vintage yang mengkampanyekan coklat dan Magnum Cafe sebagai The House of Chocolate, bukan istana.

Pelataran lantai 6 Grand Indonesia tak luput dari sentuhan Magnum. Outdoor cafe dikonsep ala kafe kaum urban pada umumnya. Lampion, lantai kayu, basa-basi pohon kecil, dengan pemandangan rimbunnya tower-tower Jakarta.

Meskipun jadi kafe biasa, Magnum cukup serius menggarap Magnum Cafe sebagai rumahnya coklat. Tak hanya poster vintage bertema coklat, pendingin ruangan pun dibungkus dengan warna coklat. Bukan itu saja, cushion pun disablon Magnum ala LA tahun 70-an. Sadar brand Magnum punya nilai jual, Magnum Cafe juga memajang berbagai merchandise bertema Magnum dan coklat di samping bar. Dijual bow, nggak gratis. Dua ribu dua belas getoh!

It’s Ismagnum, guys!

Magnum Cafe digarap oleh Ismaya Group, sebentuk perusahaan kuliner yang kebetulan kateringnya saya suka. Ismaya memang sudah dikenal ahli dalam menggabungkan rasa dan gaya hidup. Sebut saja Blowfish, SushiGroove, Mr.Curry, atau Kitchenette anak usahanya yang sudah dikenal terutama kalangan menengah atas.

Dalam Magnum Cafe yang baru ini Ismaya memperluas ‘portofolio’ menu. Ia memperbanyak varian main course dan mengganti (hampir) total menu-menu dessert. Membonceng popularitas rainbow cake, Ismaya membawa menu tersebut  ke dalam Magnum Cake. Menu lain umumnya menyajikan wafel atau cake yang mirip, ditindih es krim Magnum, trus disiram saus dan sirup.

Kawan saya Elliza, jurnalis Tempo yang rela menemani saya memesan menu Red Velvet. Maksudnya biar nggak melulu coklat, nggak melulu rainbow cake. Tapi dugaan kita sedikit meleset. Red Velvet tersaji dengan dua potong cake warna merah yang ternyata rasanya sama saja dengan rainbow cake. Cake tersebut kemudian ditumpuk dengan es krim Magnum dipping rasa coklat-strawberry. Yang bikin cantik adalah kehadiran beberapa mulberry. Sayangnya mulberry seperti sudah dicat sirup rasa mulberry sehingga kami tidak mendapatkan rasa mulberry asli yang segar.

Saya juga pesan menu dessert Truffle Royale. Emm.. Nggak tau ya yang keluar ini beneran Truffle Royale atau bukan, karena rasanya koq beda dengan foto di daftar menu. But it’s oke lah, saya suka minuman berjudul apapun itu yang tersaji. Jadi minuman ini adalah es krim Magnum Chocolate Truffle yang diblender. Gelas kakinya dikasih gimmick coklat vertikal di tepian, membuatnya tampak lebih tidak biasa. Karena diblender dengan cranky coklat Belgia khas Magnum, tekstur minuman ini tidak menjemukan seperti es krim meleleh saja. Ada serpihan coklat Belgia yang sengaja tidak dihancurkan di dalamnya yang membuat menu ini spesial buat saya. This is the best part of Magnum Cafe for me.

O ya, Elliza juga pesan main course nasi goreng. Sebagai penggemar Ismaya Catering, saya sudah membayangkan cita rasa Indonesia khas Ismaya biasanya. Unfortunately, I couldn’t find it. Nasi gorengnya biasa, namun terselamatkan telor mata sapi dan dua tusuk sate ayam.

Kenapa Magnum?

Adalah pertanyaan saya. Saya pribadi tidak begitu menggilai es krim Walls termasuk Magnum karena rasanya terlalu manis dengan tekstur lembut yang membosankan. Saya lebih suka produk Campina apalagi yang mengusung rasa Indonesia seperti kacang hijau dan ketan merah. Memang dasar lidah ndeso kali ya..

However, saya angkat topi dengan strategi Magnum dan Unilever menaikkan brand awareness masyarakat sekaligus mengangkat derajat Magnum sebagai es krim dengan prestis. Rasanya Unilever sudah berhasil menciptakan kesan itu. Marissa Nasution sebagai brand ambassador Magnum bagi saya pun tidak begitu kentara perannya. Musim ini brand ambassador Magnum makin banyak dengan merangkul Indra Herlambang, Cathy Sharon, Julia Estelle, Dion Wiyoko. Meski demikian, mereka tidak banyak berpengaruh dalam mendongkrak brand awareness Magnum. Magnum Cafe, kampanye kemewahan coklat Belgia, dan acara-acara hiburan lebih mengena.

By the way, tahun kemarin saya juga menikmati suguhan Magnum Road Cafe di Surabaya lho. Iseng-iseng twitpic, saya berkesempatan meet and greet Sandy Sandoro yang akhirnya gagal karena nggak baca DM twitter. Hahaha… Ya sud lah, emang belum jodoh ya buuu..

Saya dan Elliza Tempo
Ke-alay-an saya di Magnum Cafe Surabaya tahun lalu

Yang Udik Yang Mengusik Jakarta

Bajaj The Shaker!

Jakarta. Apa yang melintas di pikiran Anda ketika nama kota terbesar di Indonesia ini disebut? Padat. Macet. Polusi. Ruwet. Koq nggak ada bagus-bagusnya yah? Trus untuk apa orang-orang udik alias Though Dreamer berjubel di sana?

Di Jakarta ini semuanya ada. Kemewahan, kekumuhan, kesalehan, kemaksiatan, Jakarta diciptakan begitu lengkap. Dan dengan segala keluguan dan kenggumunan, saya turut membuat ibukota ini semakin lengkap. Cring!

Rabu 14 Maret 2012 jam 4 pagi, sepasang sandal jepit jadi tunggangan saya melangkah di Jakarta. Dijemput Bang Onos, saya kemudian diamankan di kos Elly. Rasanya Tuhan memang menciptakan mereka untuk menggelar karpet merah untuk saya seperti pagi itu di Jakarta dan pagi lainnya 5 tahun lalu di Surabaya. Alhamdulillah.

Saya, Bang Onos, dan Elly
Saya, Bang Onos, dan Elly

Padat Jakarta

Kos Elly di Karet Setiabudi ini jauh berbeda dari kosannya di Surabaya dulu. Pria, wanita, semua bebas keluar-masuk bahkan menginap di situ. Meski didominasi perempuan, tak sedikit lelaki yang ngekos dan ikut rumpian malam bareng di sana. Menurut cerita Elly, tak sedikit juga kawan-kawannya yang tanpa sungkan ngamar dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

Elly, "The Joni", dan saya
Elly, "The Joni", dan saya

“Ini kan bukan kos mahasiswa,” begitu jawab mereka setiap Elly bertanya mengapa.

Jakarta, Jakarta. Memang bukan Jawa, apalagi Madura. Barangkali karena padatnya, pokoke mlebu lah!

Though Dreamer

Seperti jutaan orang lainnya, saya berada di Jakarta untuk memperbaiki nasib. Bukankah nasib itu lebih elok bila diperbaiki daripada diadu?

Seperti yang tertulis di buku agenda, hari Kamis sore ada wawancara kerja di majalah bisnis A, kemudian hari Jumat sore wawancara kerja di majalah brand-marketing B. Saya melamar di kedua majalah tersebut untuk posisi yang sama, Reporter.

Saya mengenal majalah A sejak empat atau lima tahun lalu. Saat itu saya sedang menanti giliran servis leptop, dan mengambil tumpukan majalah A di ruang tunggu untuk membunuh kebosanan. Di halaman tengah majalah tersebut, saya mendapati beberapa petak histogram dan pie-chart yang menceritakan popularitas brand produk-produk rumah tangga. Halaman-halaman lainnya lebih banyak membahas teori dan riset bisnis, dan tak lupa profil pebisnis sukses.

“Liat ya, suatu hari nanti aku pasti bisa masuk sini!”

Majalah B belum lama saya kenal. Bahkan membacanya saja belum pernah. Bang Onos lah yang mengenalkan saya. Ia sering bercerita tentang sulitnya bekerja di majalah tersebut baik sisi positif dan negatifnya. Bang Onos juga pernah bercerita tentang temannya teman yang mengeluh bekerja di majalah A. Jadi intinya management kedua majalah tersebut tidak mudah ditaklukkan. And they really took my fancy!

Seperti yang dijadwalkan sebelumnya, hari Kamis sore saya harus sudah ada di kantor redaksi Majalah A jam 3 sore. Tak mau berspekulasi dengan antrian busway, macet dan asap kendaraan, saya cegat taksi menuju Jalan Tanah Abang 3. Eh, ternyata jalanan lancar dan saya tiba 30 menit lebih awal. Hahaha… Alhamdulillah yah, sesuanto!

Di lobi, saya disambut Mbak HRD yang ramah dan alhamdulillah berjilbab. Saya disodori form CV yang cukup tebal. Tak lama berselang, Mbak HRD meminta saya masuk untuk wawancara kerja dengan Pak Redaktur Eksekutif. Saya agak kaget. Menurut penuturan Bang Onos yang juga pernah melamar di Majalah A sebagai researcher, tahapannya adalah wawancara HRD, user/Redaktur Eksekutif, psikotes, tes Bahasa Inggris, kemudian yang terakhir wawancara dengan Big Boss/Pimred. Tapi ya sud lah, mungkin HRD-nya lagi sibuk, begitu pikir saya saat itu.

FYI, untuk wawancara sore itu saya sempatkan berlatih di depan kaca kamar kos Elly. Modalnya adalah pertanyaan-pertanyaan khas HRD perusahaan internasional yang saya dapat dari Profesor Tom Weeks, peneliti di Teknik Lingkungan ITS asal Amerika. Sayangnya, tidak satu pun pertanyaan tersebut ditanyakan oleh Redaktur Eksekutif! Mampusss…

Pak Redaktur malah bertanya ke mana saja saya melamar. Dengan tampang polos saya jawab apa adanya.

“Kenapa cuma 2?” tanya beliau kemudian.

“Ya karena saya berpikir positif dan optimis akan diterima di salah satunya.”

Pe De beneeeeerr!! Padahal untuk posisi reporter dengan mobilitas tinggi, saya belum hafal jalanan Jakarta. Hehehehe…

Tanya jawab pun dilanjutkan. Tidak terlalu seru, karena saya menahan banyak pertanyaan. Ada mitos yang bilang, jangan menyela wawancara kerja dengan pertanyaan sebelum dipersilahkan. Dan saya percaya itu. Duh!

Tak lama berselang, Pak Redaktur keluar. E lah dalah, lha koq ganti Pak Big Boss yang masuk! Mati gaya dah! Kata Mbak HRD, karena rumah saya jauh jadi tahapan wawancaranya di by-pass apalagi Pak Redaktur sudah bilang oke.

Faktor flu, nervous, dan mati gaya ikut menyidang saya di ruangan sempit itu. Pak Big Boss memberondongi saya dengan pertanyaan terkait latar belakang pendidikan dan posisi yang saya lamar. Memangnya aneh ya kalau mahasiswi Statistika melamar jadi reporter? Kan kita jago wawancara juga, wawancara kuesioner. Hehehe…

Menariknya, Pak Big Boss sempat meminta saya mengirimkan tulisan tentang statistik dan satu review buku yang pernah saya tulis. Saya sih PeDe saja bilang iya. Padahal otak berpikir keras,

“Matilah saya! Laptop baru aja direkoveri, file-file kuliah masih ada nggak ya??”

Alhamdulillah, dari hasil wawancara dengan Pak Big Boss saya diterima bekerja di Majalah A dengan kontrak pertama selama 1 tahun. Keluar dari ruang sempit, saya diminta menandatangani offer letter yang berisi kesepakatan gaji, sanksi dan pinalti, lan sak piturute.

“Jadi besok nggak usah wawancara di Majalah B, ya.”

Glek! Kalimat yang muncul dari Pak Redaktur lulusan UNAIR itu menyadarkan saya. Oalaaah.. Ini to maksudnya by-pass. Hihihihi… Oke lah kalau begitu.

Jam lima sore, semua proses rekrutmen di majalah A selesai. Tak tahu jalan, saya tanya Mbak HRD alat transportasi yang bisa mencapai Karet. Mbak HRD bilang pakai bajaj atau ojek saja. Karena tukang ojek di sana agak kurang meyakinkan (dan kurang tampan), saya putuskan membonceng bajaj. Dan ini kali pertama saya naik kendaraan asli India!

Bajaj The Shaker!

Bajaj The Shaker!
Bajaj The Shaker!

Saya beruntung. Bajaj yang saya tunggangi betul-betul merefleksikan Jakarta. Sempit, tidak nyaman, dan nekat. Saya dan supir bajaj asal desa Pagerbarang, Tegal ini sama-sama tidak tahu persis Karet Setiabudi. Pak Supir terus saja bertanya lewat mana, Karet yang mana, sebelah mana hotel Shangri-La.

“Helloooo!! Saya kan nggak ngerti Jakarta, Paaaaakk!! Situ nanya saya, saya nanya siapa doooonk?!” jerit saya dalam hati. Pokoknya naik bajaj itu sesuatu banget dah! Kalau saya bawa sebotol penuh wine, sampai Jalan Jendral Sudirman pasti sudah meledak, busa-busanya membuncah memenuhi jok bajaj. Bagaimana tidak, naik bajaj berasa dikocok-kocok sambil uji pernapasan. Kalau bajaj ngoyo naik jalan layang, kita pasti ikut tahan napas ala jurus meringankan tubuh sambil komat-kamit baca doa. Belum lagi asap knalpot bajaj yang mbalik dan didukung knalpot lain yang ngepot tak tahu sopan santun. Ya Allah, ini memang Jakarta!

Setelah ngotot-ngototan dengan supir bajaj, jadilah saya minta diturunkan di Mall Ambassador. Kenapa? Karena pusat perbelanjaan tersebut berada persis di samping kantor Bang Onos. Jadi, pol pole pol saya tidak tahu jalan ke kos, tinggal gedor kantor Bang Onos dan minta diantar pulang. Hahahaha…

Suddenly alias makbedunduk, Bajaj mogok tepat di trotoar sebelum Mall Ambassador. Bagus! Lengkap sudah penderitaan saya naik bajaj! Akhirnya saya putuskan untuk turun dan jalan kaki ke kantor Bang Onos. Untung Tuhan mempertemukan kami di tengah jalan, jadi saya tidak perlu capek-capek ke sana.

Haaaah.. Dan di sanalah perjalanan saya mengusik Jakarta berakhir. Setelah posting ini, Jakarta tidak akan saya usik lagi, tapi saya taklukkan! Merdeka!