Kaya Mendadak 3

Jalan sama bule itu ada enaknya, ada senepnya juga. Senepnya, orang-orang suka mikir kita tour-guide atau orang bayaran yang tugasnya ngawal bule-bule ini. Ya kalau aku tour-guide beneran mah terima aja, lha ini kan emang temen sekelas. Dibayar juga kagak. Makanya kesel banget ketika keesokan harinya kami nunggu mobil Uber di Bogor ada mas-mas naik motor mendadak berhenti, sepik-sepik sama Susan dan Astrid pakai Bahasa Inggris aksen pangkalan ojek, dan aku dicuekin.

Sebenernya nggak dicuekin amat sih, karena sebelum si tukang ojek pergi dia marah-marah ke aku, “Kok tamunya dibawanya ke Jakarta sih Mbak? Mereka tuh senengnya ke tempat-tempat eksotis. Bawa ke Bali kek!”

‘Hm, kagak pernah ngerasain kame-hameha PMS gue nih orang,’ kataku dalam hati.

“Saya bukan tour-guide mereka, Mas. Jadi terserah mereka juga mau kemana,” jawabku dengan tangan gemeteran, gatel pengin nonjok si Mas Random.

“Nggak boleh gitu, Mbak. Bagaimanapun mereka ini tamu. Nih, saya kasih tahu ya. Bla..bla..bla..” ini laki nasibnya beruntung banget. Waktu itu aku nggak bawa kunci Inggris buat getok kepalanya. Dia selamat, walaupun dengan sotoynya kasih kartu nama ke kedua temanku.

This is my name card. I work in travel. I will bring two bule to Bali tomorrow. You can join because I need two more bule.

Hmpf! Perlu aku terjemahin Bahasa Inggris pangkalan ojek ini nggak? Ok, artinya kurang lebih begini: Ini kartu nama saya. Saya bekerja di suatu agen perjalanan. Saya akan mengantar dua bule ke Bali besok. Anda bisa bergabung karena saya butuh dua bule lagi.

Bentar. Ini manusiai tukang ojek atau makelar bule sih?!

Ngeselinnya lagi, Susan ini beneran orang Inggris asli dengan segala kesopanan dan keramahtamahannya. Jadilah dia tanggepin tuh mas-mas,” Wah, saya juga mau ke Bali minggu depan.”

Mampus! Dia cerita pula! Aku langsung melotot ke Susan dengan alis naik-turun ala-ala Lely Sagita galak di sinetron, kode supaya Susan nggak kasih detail apapun ke orang yang nggak dikenal.

Lely Sagita, juara antagonis di tiap sinetron
Lely Sagita, “Awas kalau kamu bongkar semua rencana kita!”

Tahu respon masnya?

Oh, good! If you alone, or you don’t go with her (nunjuk mukaku), I can go with you! [Oh, bagus! Kalau kamu sendirian, atau kamu nggak pergi sama dia, kamu bisa pergi sama saya!]”

Whaaaatt?! Ini manusia emang minta diiris tipis-tipis rupanya. Ada yang mau tumis mas-mas random?

“Mas Mas, gini ya. Mereka ini teman sekelas saya, baru aja nyampe di Jakarta. Kita udah beli tiket pesawat buat ke Bali minggu depan, sama orangtua saya juga. Orangtua saya galak lho Mas. Bapak saya pensiunan ABRI, ibu saya polwan di Polda Metro Jaya. Mas yakin mau antar kita?”

Muka item masnya jadi agak merah-merah mateng emosi gitu. Dia langsung naik lagi ke motornya dan ngomel seraya ngeloyor pergi, “Sekelas sama bule aja belagu! Cih!

Terima kasih Tuhan, telah menahan kedua tangan saya untuk tidak menonjok laki-laki nggak jelas ini!

“Dia bilang apa, Tika?”

“Enggak apa-apa, dia cuma kebelet ke toilet.”

Kaya Mendadak (1)

Kamu tahu, Indonesia kaya. Nggak sulit ‘menjual’ Indonesia ke teman-teman kuliah di Inggris, termasuk Susan dan Astrid.

Astrid: Tik, musim gugur nanti kita pengen jalan-jalan ke Asia nih. Enaknya kemana ya?
Aku: Tergantung seleramu, Trid. Kalau kamu suka daerah yang modern, Korea Selatan atau Jepang ok. Tapi kalau kamu pengen matahari tiap hari, ya di Asia Tenggara. Singapura, Vietnam, atau Indonesia bagus semua.
Susan: Kayaknya Asia Tenggara aja deh. Jadi pas yang lain kedinginan, kita berjemur di bawah sinar matahari. Hahaha…
Astrid: Setuju!
Aku: Hahaha.. Berapa lama?
Susan: Sekitar 1-2 bulan, gimana?
Aku: Indonesia aja kalau gitu. Singapura mah seminggu juga kelar. Biaya hidup juga mahal. Malaysia ok sih, banyak yang bisa dijelajahi dan lebih tertib. Tapi kalau mau pengalaman di negara berkembang, keramahan masyarakat lokal, dan bakalan bener-bener buka pikiran, Indonesia banget lah. Kalau mau panasan, bisa berjemur di pantai. Kalau bosen panas, bisa ke gunung. Terutama Gunung Bromo. <kirim foto Bromo> Ini foto tanpa filter!
Astrid: Ya ampun! Cantik banget! Negara kamu kayak nggak nyata!
Aku: Thanks! Ditambah lagi, kalau kamu ke Indonesia bisa mendadak kaya!
Astrid: Serius?
Aku: Udah, ke sini aja!

Broadcast Jumatan

As salaamu Alaikum brothers and sisters,
Jummah Salah will be held in the Garden Court at 13:20.
JazakAllah Khair,
ISOC

Pesan singkat dari Islamic Society (ISOC) ini selalu ditunggu tiap Jumat pagi di group whatsapp PPI Southampton. Pelaksanaan sholat Jumat di kampus University of Southampton memang kerap berpindah-pindah. Terkadang di gedung Garden Court, kadang harus ke hall makan malamnya salah satu asrama mahasiswa, Glen Eyre. Belum lagi masalah waktu, terus bergeser mengikuti perubahan musim.

Kampus saya ini sebetulnya punya mushola yang cukup layak, namun tidak mampu menampung jamaah pria untuk sholat Jumat. Jadilah setiap pekan para relawan ISOC berburu ruangan.

Ini belum termasuk perburuan saat hari besar, lebih pelik lagi. Apalagi saat Idul Fitri kemarin, Southampton cukup panas pasca rilisnya hasil referendum EU: Brexit. Banyak orang lokal yang mendadak alergi imigran. Mereka tak sungkan menggelar aksi demonstrasi atau melakukan tindakan-tindakan ‘ngeselin’ untuk memuaskan alerginya. Walhasil, demi keamanan, pelaksanaan sholat Ied di taman kota kemarin terpaksa dibatalkan. Untungnya tempat sholat Ied nggak hanya di taman kota. Kami, PPI Southampton tetap melaksanakan sholat Ied di halaman kantin asrama mahasiswa WessexLane.

Walaupun negara ini menjunjung kebebasan memeluk agama, yang namanya minoritas, harus ngalah dan manut. Sholat di mana saja, hayuk. Termasuk di community centre.

Swaythling Neighbourhood Community Centre, misalnya. Tempat ini merupakan bangunan milik pemerintah untuk warga Swaythling melakukan kegiatan apapun termasuk beribadah. Bangunan ini secara rutin digunakan sebagai Community Church, gereja yang melayani penduduk lokal. Jadilah serangkaian atribut keagamaan menempel di sekujur dinding. Terkadang jadi pasar dan taman hiburan juga, terutama di musim panas. Dan di tempat ini pulalah kami melakukan sholat Tarawih. Kami menyembah Allah SWT di tengah kepungan salib.

Ya begini ini dinamikanya jadi Muslim, minoritas, di wilayahnya Church of England. Makanya, kalau hari ini kamu bisa berangkat sholat Jumat ke masjid terdekat, bahkan masjid kantor dengan dalih ‘biar ganteng’, bersyukurlah! Bersyukurlah karena kamu nggak perlu nunggu broadcast whatsapp untuk menentukan mau sholat di mana. Dan bersyukurlah karena kamu terancam ganteng setelah Jumatan.

 

*Foto: Pria-pria PPI Southampton 2015/2016 terancam ganteng permanen pasca sholat Ied.