PK-36 Jamban Cinta Lentera Dipantara

Salam jamban cinta, Mbak Cantika. Selamat datang di PK36: PK penuh cinta. Kalau Mbak butuh konsultasi cinta, bisa ke saya selaku konsultan cinta dan humas cinta internal PK36. PK ini punya 2 grup inti: asosiasi single bahagia, yang diketuai Mas Dedy, dan pejuang LDR sekaligus calon pengguna Dana Kangen LPDP, yang diketuai Mbak Ancha. Jika Mbak punya mantan nyebelin yang perlu dipermak, jangan sungkan-sungkan dijual seken ke Mbak Tika We.

Begitulah cara Brigitta menyambut anggota baru di group Lentera Dipantara. Bisa diduga, setelahnya akan bersahut-sahutan sambutan dari Dedy dan Ancha. Saya muncul sesekali. Ketika anak baru ini punya masalah dengan mantan. Hehehe…

Siapapun yang disambut seperti ini, pasti merasakan aura keceriaan keluarga PK-36. Terhitung sejak 15 Juni 2015 saat kami dipertemukan di group whatsapp, HP nggak pernah sepi. Sehari bisa charge HP 3 kali, dari biasanya sekali saja. Karena jumlah anggota group lebih besar dari kuota Whatsapp Group, jadilah kemudian kami pindah ke Line. Iya, Line, aplikasi pesan instan dengan stiker monyong-monyongan itu.

Jamban Cinta

Dinamika angkatan PK-36 pun bergulir di group Line tersebut. Semua bisa dibahas di sana. Semua bisa ditanyakan, tapi belum tentu bisa dijawab. Kebanyakan pertanyaan justru tenggelam oleh candaan khas mantan remaja: cinta, galau, nikah, LDR, Petisi Dana Kangen, hingga masa depan.

Ketika ide pengabdian masyarakat Menyapa Indonesia dikemukakan, kami nyaris sepakat turun tangan membangun MCK alias jamban di Desa Ramea atau Desa Cikumbeuen. Namun seperti yang sudah aku katakan, selanjutnya tenggelam ditelan lawakan percintaan. Jadilah kemudian kami sepakat membuat Jamban Cinta PK-36. Aku sendiri sudah lupa kenapa jadi Jamban Cinta, bukan Jamban LDR, atau Jamban Penggalauan.

Meskipun akhirnya bukan kami yang merealisasikan Jamban Cinta Menyapa Indonesia, namun nama tersebut tetap melekan di hati kami.

Lentera Dipantara, Suara Hati Kaum LDR

Sebetulnya tidak semua topik tenggelam di group. Salah satu yang sukses dan bertahan sampai sekarang adalah pembahasan nama angkatan. Beberapa nama sempat dikemukakan. Semuanya dalam Bahasa Sansekerta yang sangat indah. Lalu munculah Dewa yang mengusung nama Lentera Dipantara. Cahaya yang menjadi benteng nusantara. Dia menjelaskan dengan sangat terperinci perihal nama tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, saya dan kawan-kawan PK-36 lainnya terpukau dengan penjelasan Dewa. Sebuah nama yang menggambarkan kekuatan untuk melindungi sekaligus tekad menerangi nusantara dengan segala daya dan upaya. Nama dari Dewa. Dewa banget. Dewa beneran.

Bukan itu saja, kami pun jatuh cinta pada nama Lentera Dipantara lantaran akronimnya: LDR. Seolah-olah akronim tersebut menggambarkan suara hati sebagian besar dari kami yang harus rela terpisah jarak dengan orang-orang terkasih, alias Long Distance Relationship. Tak ayal bila kemudian Petisi Dana Kangen kembali mencuat. Petisi ini dimaksudkan untuk memfasilitasi awardee LPDP yang harus LDR dan harus menyisihkan living allowance untuk menghubungi keluarga atau kesayangan di tanah air. Tentu petisi ini hanya gurauan. Kami tidak betul-betul mengumpulkan tanda tangan ke LPDP untuk menggolkan Dana Kangen. Kami sudah sangat bersyukur dan berterimakasih pada LPDP atas segala kemudahan serta kemurahan hatinya hingga kini. Cieee..

PK, Pelatihan Kepemimpinan, Persiapan Keberangkatan, Perjumpaan Keluarga

Salah satu agenda LPDP yang paling menantang adalah pembekalan seminggu penuh alias PK. Sebelum PK, kami mendapat tugas-tugas pra-PK yang sifatnya mempererat hubungan satu awardee dan lainnya. Tugas tersebut sekaligus memupuk rasa nasionalisme, integritas, dan profesionalisme kami. Untuk menunaikan tugas pra-PK, kami kerap berkoordinasi melalui group Line, group Facebook, maupun milis. Dalam perjalanan koordinasi tersebutlah kami menjadi dekat. Bahkan di kopdar pertama kami sudah bisa tertawa bersama. Konon, ketika kita bisa tertawa bersama, kita pasti bisa bekerja bersama. Dan itu benar.

Barangkali bagian ini akan sulit dipercaya kalau aku tidak mengalaminya sendiri. PK-36 dipertemukan di dunia maya. Kami baru benar-benar bertatap muka dan bekerja bersama saat PK 10 – 15 Agustus lalu. Hanya lima hari di Wisma Hijau Cimanggis. Sekali lagi, hanya lima hari. Namun semuanya berjalan seolah-olah kami sudah saling kenal sejak lama. Kami bisa berkolaborasi, saling menguatkan, memberi semangat, dan tentu saling menyayangi.

Salah satu contoh yang paling mengesankan buatku adalah ketika menyeberangi jembatan dua tali saat outbond. Aku harus menyeberang dari satu lereng ke lereng lainnya dengan dua utas tali dengan Vinsen dan Karsof. Karsof ini kawanku sesama kelompok Tanah Lot yang cantik tapi penakut. Tipikal cewek ibukota pada umumnya.

Ke kiri: Karsof, Vinsen, aku menyeberangi jembatan dua tali
Ke kiri: Karsof, Vinsen, aku menyeberangi jembatan dua tali

Namun rasanya aku harus meralat bahwa Karsof itu penakut. Karena dia mau keluar dari zona nyaman, berani mencoba menyeberangi jembatan tali tersebut. Walaupun lama. Lama banget. Wajahnya pucat. Kakinya sulit bergerak. Pak Pembina sempat menggoyangkan tali, menguji keseimbangan kami. Karsof semakin panik. Mukanya yang memang putih semakin putih karena pucat. Kedua tangannya menggenggam tali atas erat-erat. Kakinya masih kaku tak mau melangkah.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan di atas jembatan tali. Pasti sangat lama. Bahkan mungkin rasanya seperti seabad bagi Karsof. Dan bisa jadi akan semakin lama seandainya kawan-kawan lainnya tidak memberi semangat pada Karsof, “Ayo Karsof! Melangkah terus!”. Vinsen pun mengalah melangkah mundur mendekati Karsof. Dia memberi dorongan semangat dan uluran tangan supaya Karsof mau terus melangkah menyeberangi jembatan.

Setahun kemudian, barulah kami sampai di seberang. Setahun kemudian, kami menginjakkan kaki pada lereng lain dengan selamat. Alhamdulillah. Gilak, lama banget! Karsof mungkin yang paling girang atas pencapaian tersebut. Walaupun dia harus rela diledek Pak Pembina, “Turun langsung, Mbak. Nggak usah njahit!” Kaki Karsof masih gemetar, seperti orang lagi njahit pakai mesin jahit jadul merek Singer.

Begitulah PK. Menantang, mengesankan, sekaligus mengharukan. Meski demikian, PK merupakan agenda terkejam yang dibuat LPDP. Mempertemukan untuk memisahkan.

Sampai sekarang aku masih belum bisa move-on dari PK-36. Sedih sekali harus berpisah dengan keluarga baru Rakyat Lentera Dipantara. Di saat yang sama, aku pun senang dan bangga memiliki keluarga yang luar biasa tanpa kecuali. Setiap individunya sungguh istimewa. Petikan lirik lagu berikut rasanya sangat tepat menggambarkan keluarga Rakyat LDR.

Kita adalah sayap-sayap sang garuda

Di atas samudera di langit khatulistiwa

Semoga namamu sampai ke ujung dunia

Ceritakan semua indahnya pada mereka

– Selamanya Indonesia, Twentyfirst Night –11896072_10153213359829825_3631552354279594345_n

Kisi-kisi Aplikasi Visa Pelajar Inggris (Tier 4 General Student)

Siapa bilang mengurus visa pelajar (Tier-4) ke Inggris itu rumit?

Emang bener! Apalagi kalau males baca manualnya. Hehehe…

Tetapi kali ini aku nggak akan memperdebatkan kenapa e-book manual aplikasi visa Tier 4 Students jarang dibaca aplikan. Coba saja download bukunya di sini. Ada 91 halaman tulisan semua, nggak ada gambarnya apalagi foto Pangeran Harry. Membosankan.

Aku akan bercerita pengalamanku mengurus Visa4UK Tier-4 (General) Students, yang selanjutnya disingkat Visa Tier 4.

Baiklah, mari kita mulai dari pertanyaan pertama:
Apa yang harus dipersiapkan untuk mengajukan aplikasi Visa Tier 4 ini?

Yang pertama adalah waktu. Kalau kamu nggak sempat baca buku panduan Tier-4, minimal bacalah dengan seksama langkah-langkah mengisi Visa Tier 4 di sini. Di situ sudah disebutkan secara gamblang syarat-syaratnya, termasuk biaya yang dibutuhkan.

Yang kedua, ongkos. Saat post ini ditulis, visa fee Tier 4 adalah GBP 322. Nilai tersebut setara USD 502. Supaya lebih akurat, bisa dikalkulasi di situs pemerintah Inggris ini. Ini belum termasuk asuransi kesehatan imigrasi, Immigration Health Surcharge (IHS). Besarnya IHS yang harus dibayar bervariasi dan bisa dihitung di sini. Sebagai contoh, aku:

  • Warga Negara Indonesia
  • usia di atas 18 tahun
  • akan ke Inggris sendirian (tanpa dependent)
  • apply visa dari luar Inggris
  • visa route: PBS Tier 4 Student
  • visa type: Tier 4 (General) (Sponsored) Student
  • masa perkuliahan: September 2015 – September 2016

Dengan detil di atas, aku harus membayar IHS sebesar GBP 225 atau USD 353. Oh iya, acuan kurs mata uang yang paling dekat dengan lembaga imigrasi Inggris adalah xe.com.

Yang ketiga, dokumen sponsor. Sponsor di sini adalah universitas tujuan sebagai pihak yang ‘mengundang’ kita ke Inggris. Dokumen tersebut adalah CAS, Certificate of Acceptance for Studies. Cek juga di CAS, apakah programmu butuh ATAS (Academic Technology Approval Scheme), terutama jurusan teknik dan engineering. Kalau ternyata kamu perlu keduanya, kelarin dulu urusan CAS dan ATAS dengan universitas sponsor.

Untuk awardee LPDP, dokumen lain yang diperlukan adalah Letter of Guarantee (LoG). LoG ini biasanya diberikan setelah mengikuti PK. Kalau terpaksa ngurus visa sebelum PK, mintalah Letter of Sponsorship untuk kedutaan dari LPDP. Data-data yang ada di LoS ini juga akan dipakai untuk mengisi formulir aplikasi, terutama bagian Maintenance and Fees.

Keempat dan tak kalah penting adalah sertifikat bebas Tuberculosis (TB Check). Di Indonesia Raya ini, cuma ada 3 rumah sakit yang bisa mengeluarkan sertifikat tersebut, yaitu RS Premier Jatinegara, RS Premier Bintaro, dan BIMC Hospital Kuta Bali. Perlu diingat bahwa tidak ada walk-in tes TB. Kita harus buat janji dulu melalui telepon, dan siap kocek Rp 690.000. Hasilnya bisa diambil dua hari setelah tes.

Yang kelima, yang baru saja dirilis aturannya 6 April 2015 lalu adalah UKVI IELTS. Ini adalah ujian kecakapan berbahasa Inggris, IELTS, khusus aplikasi visa. Jadi sekarang ada batas minimum band yang harus dicapai, yaitu 5,5 overall maupun masing-masing skill. Kalau kamu sudah mencapai batas ini pada ujian IELTS sebelum 22 April, nggak perlu ambil UKVI IELTS lagi. Info lebih lanjut, silahkan cek di sini.

Setelah semua dokumen beres, selanjutnya apa?

Tentu saja mengisi aplikasi visa. Mendaftar aplikasi UK Visa tidak bisa dilakukan secara offline maupun walk-in. Begitu pula membayar visa fee. Jadi kita nggak bisa mak bedunduk muncul di VFS. Bisa-bisa malah diusir satpam.

Cara mendaftar visa cukup mudah:

  1. Kunjungi portal Visa4UK
  2. Buat akun (Register an Account)
  3. Isi formulir aplikasi sesuai data diri, data yang ada di CAS (terutama bagian Sponsorship)
  4. Pilih lokasi BRP Collection. Default-nya, BRP Collection dilakukan di kantor pos di kota tempat universitas kita. Lebih enak lagi kalau universitasmu punya Visas & Immigration Student Advice Service (VISAS) sehingga BRP Collection bisa dilakukan di universitas. Biasanya VISAS akan mengirimkan email setidaknya 3 bulan sebelum tanggal perkuliahan yang berisi Alternative Collection Location Code dan detail alamat. Kode itulah yang perlu dimasukkan di bagian BRP Collection
  5. Buat janji biometric (book appointment). Di sinilah alasan kenapa kita tidak bisa datang seenaknya ke VFS.
  6. Bayar visa fee menggunakan kartu kredit
  7. Cetak form aplikasi.

O iya, jangan lupa bayar IHS juga ya. Saat aku apply visa, IHS dibayarkan di portal terpisah milik pemerintah Inggris. Namun per 5 Juli 2015, pembayaran IHS akan disatukan di portal Visa4UK.

Ribet nggak sih ngisi aplikasi visa?

Leumayaaann.. Makanya aku sarankan baca buku manual di bagian-bagian penting.

Atau, kamu bisa latihan ngisi aplikasi dengan mengisi formulir Personal Details dan Tier-4 Student ini. Klik untuk download yah.. Panduan mengisi aplikasi bisa disimak di sini.

Buat yang tinggal di luar Jakarta, bagaimana? Nggak bisa datang langsung apply visa juga?

Pertanyaan yang bagus. Daftar visa nggak mengenal di mana tempat tinggal. Jadi, saranku adalah isi daftar dan isi dulu aplikasi visa secara online dari tempatmu, lalu buat janji biometric. Setelah dapat tanggal biometric, telpon lah RS Premier untuk buat janji TB Check.

Usahakan TB Check dilakukan 2 atau tiga hari sebelum biometric. Jadi setelah kamu dapat sertifikat bebas TB, bisa langsung biometric di hari berikutnya.

Kalau nggak punya kartu kredit bagaimana?

Konon bisa pakai kartu debit bertanda Visa/MasterCard. Tapi aku pribadi sangat tidak menyarankan hal ini, karena kalau transaksi dicatat pihak ketiga dan kita jadi korban fraud atau phishing, uang tidak bisa kembali.

Lebih baik pinjam kartu kredit keluarga atau teman yang available limitnya di atas 12 juta rupiah. Berikan uangmu langsung ke yang bersangkutan, atau langsung bayar kartu kreditnya supaya limitnya nggak berkurang gara-gara urusan kita.


Sebagai catatan, aku dibantu Pak Roy Samosir dari IDP Kuningan. Tetapi aku tetap mengikuti step-by-step nya dengan dipandu Pak Roy melalui telepon. Selain beliau, sumber informasi posting ini adalah buku manual, blog independen Suryanara, catatan seminar kuliah di luar negeri, catatan konsultasi UK Visa di pameran-pameran pendidikan.

Saran lainnya, rajinlah ikut seminar tentang visa yang diadakan di pameran pendidikan terutama yang digelar British Council dan Education UK. Di situ biasanya penyelenggara mengundang pihak imigrasi Inggris untuk memaparkan sekaligus tanya-jawab UK Visa.

Plus, bacalah dengan seksama situs pemerintah Inggris terkait keimigrasian. Banyak perubahan aturan akhir-akhir ini, dan jauh lebih ketat. Jangan sampai visa kamu ditolak karena ketidaktahuan terhadap peraturan baru.

Dari aku sekian dulu. Minggu depan aku biometric nih di VFS Kuningan City. Nanti aku share di posting terpisah ya..

Apapun yang Terjadi di Meja Wawancara, Adalah Kehendak-Nya

Pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu juga kekalahan. Mungkin terdengar klise. Tetapi ketika kamu mengalaminya, pepatah ini akan terasa sangat menohok. Rasanya ingin mencabik-cabik muka siapapun yang mengatakannya dan berseru, “Elu nggak tahu kan penderitaan gue kayak apa? Elu nggak tahu rasanya!”.

Ada amarah yang sangat besar akibat kesombonganku yang tidak disadari sebelumnya. Aku marah pada Tuhan. Aku berhenti berdoa. Sholatku hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa menyertakan ruh di setiap geraknya. Tak heran kalau kemudian begitu mudah meninggalkan kewajiban itu. Bahkan ayat sakti yang menjadi jimatku selama ini, entah mengapa tidak terdengar indah lagi.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS 40 : 60)

Diary blog akhir Januari 2015: Tuhan, aku sudah berdoa. Bahkan mulutku sendiri yang menyerukan doa itu di rumahmu, di Masjidil Haram. Aku minta dimudahkan jalan kuliah di Inggris tahun 2015. Tapi kenapa Kau beri aku kegagalan?!

Amarah itu bersemayam di dalam diriku cukup lama. Sangat lama.

LPDP hanya menolerir dua kali kegagalan. Setelah 2 kali gagal wawancara, kita tidak bisa mendaftarkan diri lagi.

27 April 2015 pukul 23:55, 5 menit sebelum batas pendaftaran ditutup, aku klik ‘Submit’. Setelah vakum 2 periode pendaftaran, aku hanya perlu menghabiskan jatah gagal, batinku. Dengan sisa logika yang ada, essai dan data diri ku rombak di jam-jam terakhir. Tidak perlu banyak kepala yang mereview. Sehingga kalau aku gagal lagi, tak akan terlalu membebani.

4 Mei 2015 jam 8 malam diumumkan daftar peserta yang lolos seleksi administrasi. Aku? Tentu saja aku lolos. Aku memasukkan berkas yang sama dengan periode sebelumnya. Jadi sudah semestinya aku lolos administrasi.

Bahkan hingga di hari pengumuman seleksi administrasi, kesombongan itu masih berurat-akar di dalam diriku.

Tak lama setelah pendaftaran, seorang sahabat awardee LPDP pulang ke Indonesia. Tentu aku iri sekaligus minder. Namun semua itu tertutup rapi oleh eratnya persahabatan. Ia bercerita bahwa tantangan terbesarnya selama kuliah di Eropa adalah menegakkan sholat. Sahabatku ini pun berkisah, ia merasa ‘kering’ selama berada di Eropa. Tidak ada pengajian, alunan ayat suci, apalagi rombongan ke masjid.

Di kesempatan lain, seorang senior juga mengkritik awardee LPDP di negaranya melalui social media. Ia menangkap kesan awardee di universitasnya hedonis dan gemar menghambur-hamburkan uang. Memang tidak semuanya, namun kesan yang ditangkap dari beberapa orang saja bisa mempengaruhi pandangan orang lain terhadap keseluruhan awardee di sana.

Di situlah aku merasa terpukul. Belum berangkat ke Eropa saja aku sudah berani ‘bermain’ dengan firman-Nya. Memalukan.

Pantas saja Tuhan tidak mengijinkanku lolos LPDP akhir 2014 lalu. Rupanya Ia mau aku belajar menata diri. Ia sedang memberi peringatan, apapun yang terjadi kelak, tetap rendah hati dan tidak larut dalam euforia beasiswa.

Maka kemudian aku kembali berdoa. Dengan lebih legowo, pasrah, dan tak terlalu berambisi.

Tuhan, kalau memang menjadi awardee LPDP di luar negeri akan membuatku angkuh dan jauh dari-Mu, mohon tunjukkan jalan yang lebih baik. Tetapi kalau Kau Tahu semua ini akan mendekatkanku dengan-Mu, mohon beri aku kemudahan dan kerendahan hati.

Aku sediakan ruang yang lebih lapang di dalam hati untuk menerima kekalahan sekali lagi. Bahkan aku lebih siap untuk kalah. Jauh lebih siap dari sebelumnya.

22 Mei 2015.. Inilah kesempatan terakhirku berhadapan dengan juri wawancara LPDP. Tak banyak yang ku persiapkan selain latihan wawancara dengan kawan-kawan awardee. Latihan ala kadarnya. Aku pasrah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Tak perlu lagi berdebat dengan juri. Kalau pertanyaan mereka begitu personal dan menyentuh sisi emosionalku, biarkan. Tak ada yang disembunyikan. Yang terjadi di meja panel, itulah yang dikehendaki Tuhan.

IMG_1066_Fotor23 Mei 2015.. LGD di hari Sabtu di Kampus STAN Gedung “I”. Aku nyaris trauma dengan gedung ini. Gedung yang sama dengan seleksi November lalu. Beruntung, suami mengantar bahkan menungguiku di sana. Kehadirannya menambah energi dalam LGDku. Aku lebih percaya diri, namun tetap pasrah. Sekali lagi, apapun yang terjadi di forum LGD, pastilah itu yang dikehendaki Tuhan.

10 Juni 2015.. Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku tak sempat mengakses halaman pengumuman LPDP. Seharusnya hari ini hasil seleksi wawancara diumumkan. Tapi aku mencoba tak peduli, melarutkan diri dengan pekerjaan.

Usai makan siang, satu email masuk. Dari LPDP. Hasil Seleksi Wawancara Magister dan Doktor Tahap 2 2015. Ada lampiran PDF 22MB. Cukup berat untuk diunduh di ponsel.

Sebanyak 32 halaman lampiran mengurai panjang nama-nama yang lolos seleksi. 293 nama di Magister Dalam Negeri, 682 Magister Luar Negeri.

Screen Shot 2015-06-14 at 12.34.23 PM

Allahu Akbar, ada namaku di halaman 26, urutan ke-627.

Tuhan, kalau Kau yakin aku sanggup, akan aku jalani. Bismillah…

Ketika Aku Overdosis Motivasi Berburu Beasiswa

Bahayanya Overdosis Motivasi

Seiring pesatnya pertumbuhan motivator di tanah air, rasanya semakin mudah saja memotivasi diri sendiri akhir-akhir ini. Terutama motivasi untuk meraih suatu cita-cita. Namun, kuatnya motivasi dan optimisme terkadang membuat kita lupa banyak hal sederhana namun penting. Pasrah dan tawakal, misalnya. Itulah yang aku pelajari setahun terakhir.

Aku sangat ingin melanjutkan studi di negara berbahasa Inggris seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, atau Inggris. Di antara keempat negara tersebut, Inggris dan Selandia Baru adalah yang paling aku inginkan.

Terdorong oleh para motivator dan buku-buku motivasi, jadilah kemudian aku membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan rencana tersebut adalah nilai IELTS.

Sudah 4 kali aku ambil ujian IELTS, namun nilai Menulis mentok di angka 5. Suntik motivasi dari berbagai penjuru menggerakkanku ambil tes IELTS yang kelima. Aku ujian dalam kondisi sangat lelah, secara fisik maupun mental. Dalam hati aku menyalahkan kondisi seperti tidak besar di kota besar, tidak terlahir dari orang tua lulusan luar, dan sebagainya. Semua emosi tersebut menumpuk di kepala saat menanti giliran ujian Berbicara.

Bertemu Awardee LPDP Tahan Banting

Tuhan selalu bekerja dengan cara-Nya yang cantik. Di ruang tunggu, aku duduk di samping seorang pria gondrong. Dia dengan bangga mengenakan jaket PPI Australia. Untuk mengalihkan pikiran, aku menyapanya.

“Kuliah di Aussie ya, Mas?”

Dari satu pertanyaan itu saja, keluarlah cerita menarik dari mulutnya. Ia adalah seorang CPNS di Kalimantan. Saking inginnya kuliah di luar negeri, ia mengirim aplikasi beasiswa apapun ke manapun. Sepanjang hidupnya, ia menghitung ada 119 aplikasi yang sudah dilayangkan. Semuanya gagal. Usahanya baru berbuah manis di percobaan ke-120, yaitu ke LPDP. Awardee LPDP angkatan pertama ini mengikuti ujian IELTS untuk sekedar memperbaharui kualifikasi sebelum berangkat ke Ukraina, dimana ia menerima beasiswa short-course ke-121.

Orang itu, yang aku lupa namanya, sungguh menjadi bara motivasi buatku. Aku kembali bersemangat mengikuti ujian IELTS, mendaftar kuliah dan beasiswa LPDP. Semangat tersebut menjaga kekuatan saya mempersiapkan segala sesuatunya termasuk personal statement, essay, dan dokumen-dokumen. Semangat itu membuatku sangat optimis dan percaya diri. Namun, semangat yang sama pula yang menjauhkanku dari rasa legowo, pasrah, dan tawakal. Membuatku lupa ada campur tangan Tuhan di setiap langkah yang ku ambil.

19 November 2014

Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia jenjang Magister Luar Negeri. Tiga essai sudah direview banyak teman. Setelah mereka semua sepakat essaiku baik, ku unggah di portal pendaftaran beasiswa LPDP. Semua berkas disusun tanpa cacat. Rekomendasi dari atasanku, Nana, juga tidak terlalu buruk. Setidaknya ada 3 aspek yang dia nilai ‘Sangat Baik’.

25 November 2014

Pengumuman seleksi administrasi: Lolos. Saatnya memperluas pencarian informasi wawancara, termasuk apa saja yang ditanyakan. Amel, kawan awardee LPDP mendukungku dengan berbagi daftar panjang pertanyaan wawancara yang dibuatnya. Sumpah ini daftarnya banyak banget dan mencakup berbagai aspek.

28-29 November 2014

Latihan wawancara dan brain storming LGD di rumah Ms Lily, lanjut di Yellow Fin Senopati hingga larut malam. Sekitar jam 1 pagi baru kami membubarkan diri dengan banyak PR di kepala, sekaligus keyakinan dalam hati. Di titik ini, percaya diriku memuncak. Berbagai macam pertanyaan wawancara dapat ku kuasai dengan baik. Bahkan sangat baik. Doa-doa ambisius tak pernah absen di setiap sujudku.

Tuhan, mohon beri kemudahan dan kelancaran di wawancara LPDP nanti.

12 Desember 2014

Saatnya yang ditunggu tiba. Hari verifikasi berkas, LGD dan wawancara.
venue seleksi LPDP

Tidak ada yang istimewa dari verifikasi berkas, sepanjang semua dokumen yang diunggah saat pendaftaran memang asli.

LGDku tidak terlalu menarik. Delapan orang memasuki ruangan, diawasi dua juri. Konon, mereka adalah psikolog. Kami diberikan satu artikel berita dan pertanyaan untuk didiskusikan bersama. Adalah Alex yang secara spontan memimpin diskusi. Supaya semua dapat giliran mengungkapkan pendapat, ia memimpin forum dengan mempersilahkan setiap orang menyampaikan pendapatnya sesuai urutan tempat duduk.

Aku rasa semua peserta LGD membaca blog-blog awardee dengan baik. Konon, dominasi tidak dikehendaki dalam LGD. Yang terjadi? Tidak ada yang dominan, pun tidak ada yang pasif. Datar. Kalau aku jurinya, forum diskusi itu tidak hidup, pasif, nyaris tanpa pemecahan masalah. Tapi ya sudahlah, barangkali memang yang seperti ini yang diharapkan LPDP.

Tiba saat wawancara, entah mengapa semua tidak sesuai rencana. Juri memborbardirku dengan sederet pertanyaan sebelum aku sempat duduk dan memperkenalkan diri. Kalau boleh ku tebak, ia memang berperan sebagai bad cop, seorang galak dan nyinyir yang lihai mempermainkan emosi. Sialnya ia sukses mempermainkan emosiku yang sangat berambisi kuliah ke luar negeri. Ia memperdebatkan pilihanku dan kerap memotong pembicaraan. Hasilnya, emosiku naik, nada bicaraku meninggi.

Sungguh bukan wawancara yang baik. Tidak ada wawancara yang mulus kalau kita tak bisa mengatur emosi. Hasilnya?

24 Desember 2014

Pengumuman seleksi wawancara LPDP 2014. Alhamdulillah, aku gagal.

screenshot lpdp
TIDAK LOLOS SELEKSI WAWANCARA

Tips & Trik Berburu LOA Pascasarjana Luar Negeri

Buat yang belum tahu, ini nih yang namanya LoA alias Letter of Acceptance.

LoA Southampton
LoA Southampton. Klik untuk memperbesar

Posting kali ini, aku akan membahas serba-serbi LoA khususnya untuk postgraduate atau pascasarjana di Inggris, Belanda, dan Selandia Baru.

Setiap negara bahkan kampus punya istilah sendiri untuk menyebut surat penerimaan. Australia dan Selandia Baru lebih sering menggunakan istilah Letter of Offer atau Letter of Admission. Dengan dikeluarkannya LoA, kamu memperoleh penawaran melanjutkan studi di universitas terkait. Penawaran lho ya, bukan diterima. Karena kamu lah yang memutuskan akan menerima penawaran itu atau tidak.

Berbeda dengan di Indonesia, umumnya universitas di luar negeri tidak menyelenggarakan tes masuk seperti SNMPTN. Kamu hanya perlu mengumpulkan berkas dan persyaratan sesuai ketentuan kampus dan program. Sebelumnya, kamu perlu tahu bahwa ada 2 macam LoA di universitas di luar negeri, khususnya Inggris dan Belanda, yaitu:

  1. Conditional Offer atau penawaran bersyarat. Kalau kamu dapat Conditional Offer, artinya masih ada berkas atau persyaratan yang belum terpenuhi. Eits! Tidak semua universitas bisa mengeluarkan Conditional Offer lho. University of Auckland, Selandia Baru, tidak mengeluarkan Conditional Offer. Jadi kalau memenuhi syarat ya kamu akan didukung untuk mendaftar lagi di periode berikutnya. Begitu kata suratnya. Penolakan secara halus dan lembut. Hehehe..
  2. Unconditional Offer atau penawaran tanpa syarat. Artinya, kamu sudah memenuhi semua kriteria pendaftaran. Selanjutnya kamu tinggal menentukan mau diapakan nih LoA. Pilihan yang diberikan dari universitas berbeda-beda. Misalnya, University of Southampton hanya memberi 2 pilihan bagi penerima Unconditional Offer: menerima, atau menolak. Sementara Lancaseter punya 3 pilihan: menerima, menolak, atau defer (diperpanjang hingga tahun ajaran berikutnya).

Bagaimana cara memperoleh LoA?

Jawabannya cuma 1, MENDAFTARLAH! Percuma kamu datang ke expo, tanya ini-itu, tapi nggak ada aksi untuk mendaftar. Ya nggak? Meski demikian, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan sebelum mendaftar.

1. Riset

Jangan sepelekan riset sebelum kamu menyesal kemudian. Riset yang dimaksud di sini adalah mempelajari dengan sangat seksama tujuan studi kamu. Apa saja yang perlu diriset?

  • Program studi yang kamu tuju. Baca juga modul atau mata kuliahnya, apakah sesuai yang kamu harapkan
  • Lingkungan kampus, baik dari sisi demografi maupun sosial. Kalau kamu nggak suka cuaca dingin yang ekstrim, jangan cari universitas di Skotlandia, misalnya. Atau kamu nggak bisa tinggal di lingkungan yang terlalu bebas, jangan pilih Belanda. Contoh lain adalah pertimbangan komunitas yang dekat dengan kita. Misalnya, banyak orang Indonesia ingin kuliah di Birmingham karena kota di Inggris tersebut dikenal dengan komunitas muslimnya yang besar.
  • Syarat pendaftaran. Ini  yang paling penting. Setiap universitas, bahkan setiap program punya syarat masing-masing terutama GPA atau IPK minimum, dan kecakapan bahasa. Syarat yang paling umum antara lain:
    • Transkrip (English)
    • Ijasah (English)
    • Bukti kecakapan bahasa (IELTS, TOEFL, dsb)
    • Surat rekomendasi (English)
  • Perhatikan syarat-syarat khusus juga, terutama di universitas 3 teratas. Misalnya, Imperial College Business School meminta kita merekam video profile dengan durasi maksimal 2 menit, lalu wawancara melalui Skype. Persyaratan khusus bisa juga terkait dana. Ada universitas tertentu yang mensyaratkan registration fee cukup besar.

Riset yang aku lakukan adalah browsing forum pelajar dan alumni, eksplorasi website universitas, datang ke pameran-pameran pendidikan. Pada beberapa universitas, aku juga minta dikirimkan prospectus, semacam buku promosi berisi informasi tentang universitas atau program terkait.

Ada juga universitas yang nggak menyediakan jasa pengiriman prospectus seperti UCL dan Imperial College London. Tetapi kamu bisa download e-prospectus atau pesan tailor-made prospectus, alias prospectus yang disusun sesuai kebutuhanmu.

2. Set a timeline and do your homework

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada sederet persyaratan yang perlu kamu persiapkan seperti personal statement. Perlu diingat bahwa personal statement bukan CV berbentuk prosa. Taruh posisimu seorang recruiter berlatar belakang akademik berbeda denganmu. Nggak penting kamu dulu kuliah apa, tetapi apa yang kamu dapat saat kuliah. Nggak penting jabatanmu di organisasi, tetapi apa yang beri atau pelajari dari organisasi itu.

Jangan pernah berpikir untuk bikin personal statement dalam semalam dan langsung kirim. Cek lagi, lagi, dan lagi. Grammar, konten, diksi, pastikan semuanya sempurna. Akan lebih baik minta masukan dari teman-teman atau senior yang lebih berpengalaman. Untuk urusan tata bahasa, aku sarankan serahkan ke proof-reader atau kawan yang memang ahlinya.

Timeline sangat perlu dalam proses ini. Karena bisa jadi akan ada banyak hal tak terduga, misalnya proses penerjemahan dokumen yang memakan waktu, atau teman kamu belum sempat membaca essaimu. Jauh-jauh deh dari SKS, Sistem Kebut Semalam.

Nah, kalau ternyata yang mengganjal adalah syarat kecakapan bahasa, sediakan waktu untuk mengasah kemampuan kebahasaanmu. Bisa dengan les, atau otodidak. Jangan lupa ambil tesnya juga. Wajib!

3. Daftar

Aku sering bertemu teman-teman yang ingin kuliah di sana-sini, risetnya sudah komplit, setiap pameran pendidikan didatangi, tapi nggak daftar-daftar juga. Nggak ada LoA turun dari langit ya guys.. Kamu harus daftar, harus kumpulin itu semua persyaratan, klik ‘Submit’. Keajaiban tidak akan terjadi sampai kamu klik!

Paling tidak, beranikah buka akun pendaftaran dan baca manualnya dengan seksama. Dari situ kamu tahu apa aja informasi yang dibutuhkan dan mana yang perlu persiapan.

Setelah daftar, kamu akan dapat kode registrasi. Kode tersebut harus kamu simpan karena akan dipakai di semua komunikasi dengan universitas terkait aplikasimu.

Berapa lama waktu harus menunggu dapat LoA?

Lamanya bervariasi. Kalau musim pendaftaran, seperti Februari-Maret (Inggris), biasanya agak lama. Yah, satu-dua bulan lah. Jadi, sangat disarankan untuk international students macam kita-kita ini untuk mulai buka akun pendaftaran setahun sebelumnya, sekitar September. Kalau kamu ragu-ragu atau perlu informasi tertentu, bisa kirim email ke kepala departemen atau international office kampus tersebut. Selama bukan musim daftar, mereka sangat responsif. Paling molor, seminggu baru dibalas.

Nah, untuk kasus-kasus tertentu, misalnya mengejar deadline beasiswa, LoA bisa diterbitkan lebih cepat. Rekor LoA tercepat yang pernah aku dapat adalah 2 hari. Pernah juga seminggu. Nggak disarankan sih, tapi kalau kepepet, boleh dicoba trik berikut:

  • Setelah mendaftar, kirim email ke International Office bahwa kamu punya tenggat beasiswa tanggal sekian, sehingga kamu perlu LoA sebelum tanggal sekian. International Office tidak selalu langsung mengiyakan, tapi setidaknya kamu nggak harus menunggu berbulan-bulan. Jangan lupa sertakan kode registrasimu di subject atau kepala email.
  • Kalau kamu sering ikut pameran pendidikan, minta kartu nama agen recruiter dari universitas terkait. Kalau ada yang gawat begini, mintalah bantuan dia untuk mempercepat proses aplikasi karena tenggat beasiswa dsb. Jalur ini lebih ampuh. Trust me!

Seperti apa sih wujud surat sakti LoA?

Berikut ini beberapa contoh LoA untuk universitas di Belanda dan Inggris. Klik untuk memperbesar:

Kalau kamu punya pertanyaan atau pengalaman tentang mendapatkan LoA dari universitas di luar negeri, silahkan dibagi di kolom komentar atau email salam@tikawe.com.

Semoga bermanfaat!