Tanya-Jawab Bahasa Inggris, LoA, dan Beasiswa

Sejak kembali ke Indonesia, aku menikmati kerempongan balas pesan instan dan email tentang prosedur kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Berikut adalah pertanyaan yang sering ditanyakan beserta jawabannya:

Gimana caranya kuliah ke luar negeri?

Daftar kuliah. Hehehe..
Maksudku, untuk bisa daftar, kamu harus memenuhi syaratnya donk. Salah satunya adalah kecakapan bahasa, kan? Saranku, kalau mau kuliah ke luar negeri dan kamu belum PD sama penguasaan bahasamu, kejar sekarang. Biasanya ngejar syarat kecakapan bahasa memakan waktu lebih lama daripada proses pendaftarannya.

Bahasa Inggris ku jelek. Gimana ya caranya biar bisa dapet beasiswa ke luar negeri dengan Bahasa Inggris pas-pasan? Ada triknya enggak?

Ada donk.. Triknya adalah:
JANGAN KULIAH DI NEGARA BERBAHASA INGGRIS! Kamu bisa coba Jepang, Korea, Prancis, Jerman, mana aja deh yang kamu lebih nyaman bahasanya.

Yah, Bahasa Inggris aja nggak kekejar apa lagi bahasa asing lain.

Kalau begitu, pertimbangkan kuliah perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang mengakomodasi rencana studimu. Perguruan tinggi Indonesia nggak jelek-jelek amat kok.

Nggak bisa jalan-jalan gratis donk?

Lha? Lu cari beasiswa buat sekolah apa buat ngebayarin lu jalan-jalan? Hahaha…
Baiklah. Aku kasih tahu triknya ya. Ikutlah seminar atau konferensi internasional sebagai pemateri, bukan penonton. Niscaya LPDP akan menanggung biaya transportasi hingga ke tempat konferensi. Aku belum pernah praktekin trik ini sih, tapi banyak teman-temanku yang jadi rajin bikin paper demi ikut konferensi di negara-negara seksi. LPDP nggak akan ngebayarin ongkos hedon di sana sih, tapi seenggaknya kamu nggak perlu otak-atik tabungan buat beli tiket pesawatnya ke negara tersebut kan.

Aku udah punya Conditional Offer (LoA Conditional) dari Universitas A karena masih kurang syarat Bahasa Inggris. Dipakai buat daftar LPDP nggak papa kali ya?

Nggak papa donk, sepanjang kamu PD bahwa kamu punya kapasitas untuk diterima di program beasiswa tersebut. Yang perlu dicatat adalah, kalau kamu diterima, kamu cuma punya waktu satu tahun untuk berburu kampus hingga betul-betul diterima tanpa syarat alias unconditional. Berdasarkan pengalaman teman-teman, mengejar ketertinggalan bahasa asing dalam satu tahun bukan perkara mudah. Akhirnya, mau tidak mau mereka menurunkan standar universitasnya demi memenuhi syarat kecakapan Bahasa Inggris.

Sebenernya nih ya, Bahasa Inggris kamu memenuhi syarat kampus pun nggak menjamin kamu langsung ngerti apa yang dosen atau teman-temanmu katakan. Pertama, aksen masyarakat lokal itu beda banget sama yang kita pelajari di pelajaran Bahasa Inggris. Semakin ‘asli’ orang tersebut, semakin ribet aksennya. Belum lagi kalau kamu berteman dengan international students yang Bahasa Inggrisnya juga terbatas, masih membawa aksen negara asalnya, itu juga pelik.

Jadi gimana donk? LoA dulu apa daftar beasiswa dulu?

Sebenernya kamu yang lebih tahu jawabannya. Kalau aku, berhubung Bahasa Inggrisku nggak canggih-canggih amat, dari kecil sekolah di kampung yang hampir nggak ada tempat kursus Bahasa Inggris, IP juga nggak kinclong-kinclong amat, aku kejar Bahasa Inggris dulu sekaligus Unconditional Offer. Nah, kalau sudah matang semuanya baru daftar beasiswa.


Kalau kamu punya pertanyaan tentang kuliah di luar negeri dan beasiswa, silahkan tinggalkan komentar di sini untuk respon cepat. Bisa juga email ke salam@tikawe.com kalau pertanyaannya di ranah privasi. 🙂

HIMASTA Learning University Abroad

Rasanya video karya HIMASTA ITS ini sudah merangkum pertanyaan-pertanyaan tentang kuliah di luar negeri. Mohon maaf atas bibir pucet kedinginan dan mata panda, walaupun sebetulnya mereka lebih jujur tentang bagaimana kehidupan di sini.

Jangan puas dengan satu video di atas. Simak juga penuturan Novri Suherman, alumni Statistika ITS di Prancis. Setelah menyimak video dia di bawah Menara Eiffel, pasti mupeng deh. 😉

Gimana Rasanya Kuliah di Inggris?

Pertanyaan tersebut bukan sekali-dua kali saya terima. Berkali-kali. Mungkin sama seringnya orang-orang nanya, “Kapan nikah?” atau “Kok belum punya pacar?” buat kamu yang jomblo, eh single.

Pertanyaan tersebut akhirnya dirangkum oleh situs Belajar Luar Negeri yang saya jawab hingga menjadi sebuah artikel di halaman ini: http://www.belajarluarnegeri.com/students/tika-university-of-southampton/

Screen Shot 2015-11-11 at 8.56.44 PM

Lanjutkan membaca “Gimana Rasanya Kuliah di Inggris?”