Selamat Malam, Pagi (4)

Whatsapp 27 Mei 2015, 3 jam sebelum film diputar

5:44 Tika We: Aku di Coffee Bean lantai 1

5:45 Tika We: Dekat lobby sisi bundaran HI

5:45 Evi: Wow.. Okay..

5:45 Tika We: And I’ve spent 106k for iced coffee and chocolate cake, for the sake of watching Selamat Pagi Malam. LOL!

5:45 Evi: Aku tak sholat baru kesana

5:45 Tika We: Siap. Santai ae Jeng, aku sambil ngelanjutin kerja

5:46 Evi: I kinda shocked.. I mean.. Coffee bean? Seriously? Hahaha…

5:46 Evi: Tunggu yaa

5:47 Tika We: Seriously need coffee. Biar nggak tidur waktu nonton

5:48 Evi: Kaya yang yakin aja dapet tiket. Hahaha

5:48 Evi: Tapi baguslahh.. positive thinking 😉

5:50 Tika We: Optimissss!!

2,5 jam sebelum film diputar..

Evi: I am here!


Mejaku bergetar akibat panggilan masuk di HPku saat mode sunyi. Aku melambaikan tangan ke arah perempuan berhijab di seberang The Coffee Bean. Ia terdiam berdiri dengan telepon genggam di telinga kanan seraya menyebar pandangan ke berbagai penjuru kafe sebelum akhirnya menemukan lambaianku. Kami pun menghambur histeris berpelukan,

“Aaaaa!! Eviiii!! Akhirnya ketemu juga!” Cewek kalau ketemu di mall memang harus heboh kan ya? Hehe…

“Ayo kita ke lantai 4 sekarang. Harus gerak cepat nih biar waiting list nya nggak di buntut-buntut amat.” Aku mengemasi laptop dan catatan kerja yang masih berserakan. Tanpa banyak basa-basi, ku tarik tangan Evi keluar dari kafe.

“Lantai 4 itu eX ya? Hm.. Berarti kita harus belok sini, tembusnya concierge The Plaza.” aku menebak-nebak arah menuju lift khusus lantai 4.

“Ke lantai 4 itu ngapain, Jeng?” tanya Evi di kali keduanya menginjakkan kaki di mall mewah tersebut.

“Struk ngopi tadi harus ditunjukkan di concierge lantai 4 dulu baru bisa ditukar tiket di counter film festival,” ujarku nyerocos setengah berlari, “Nah, ini concierge ground floor. Lurus ke gang samping eskalator, tembus Luis Vuitton, lalu Kitchenette.”

“Ya ampun, kamu sering ke sini ya?” Evi pun terpaksa ikut berlari kecil mengikuti langkahku.

“Enggak. Sejujurnya tata letak mall ini cukup membingungkan. Apalagi nggak semua lift bisa dipakai ke eX. Makanya tadi sebelum ngopi aku hafalin jalannya dulu.” Lift menuju eX terselip di jalan kecil antara Kitchenette dan Periplus. Kalau mata kita tak awas, agak sulit menemukannya.

Tak jauh dari pintu lift lantai 4, terdapat meja kecil yang dijaga satpam muda bertampang belia. Usianya mungkin selisih 2 atau 3 tahun lebih tua dari aku. Ia berdiri, sibuk dengan radio panggil di tangan, acuh dengan papan mika kecil 30 senti bertuliskan ‘Concierge’ yang tergeletak di ujung meja.

“Selamat sore, Pak. Kami mau nonton filmnya Plaza Indonesia Film Festival, caranya gimana ya?”

Satpam gagah berambut klimis meletakkan radio panggilnya lalu duduk di belakang meja dan tersenyum menyambut kami.

“Ibu cukup berbelanja minimal seratus ribu, bisa ditukarkan voucher nonton untuk 2 orang gratis,” ujar Pak Satpam ramah.

Secarik struk kopi sore tadi ku keluarkan dari dompet untuk Pak Satpam, “Ini Pak. Kami baru saja ngopi seratus enam ribu di The Coffe Bean ground floor.”

Reflek, harus banget ku sebutkan total pembelian kopi tadi. Selain untuk meyakinkan Pak Satpam, aku harap dia mengerti bahwa sesungguhnya kami bukan tipikal peminum kopi fanatik hingga harus merogoh kocek ratusan ribu.Ini demi film Selamat Pagi Malam. Titik.

strukPak Satpam mengeluarkan stempel kayu hitam dari laci. Keningnya sempat berkerut, memicingkan mata mencoba mengeja cetakan samar pada struk. Namun ia memilih tak peduli. Atau belas kasihannya lebih tebal dibanding tinta cetak bukti pembelian kopi. Dengan mantab digilasnya ujung struk kopiku dengan stempel bundar. Setelah stempel diangkat, tampak jelas tulisannya berbunyi ‘LUCKY DRAW Plaza Indonesia’.

Alamak! Sudah susah payah beli kopi, lari ke mari, ternyata baru berpangkat lucky draw alias undian. Artinya, masih ada babak berikutnya untuk memperoleh tiket nonton Selamat Pagi Malam, yaitu mencari si ‘Lucky’, keberuntungan itu sendiri.

 

Selamat Malam, Pagi (3)

Screen Shot 2015-06-07 at 11.15.49 PM

Facebook Messenger, 27 Mei 2015

5 jam sebelum film diputar..

Tika We: Pls check notif, aku mention kamu di postingnya PIFF 😦

Evi: Yahhhhh
Full booked ya jeng?
Trus gimana?

Tika We: Iya, baru bisa masuk 5 menit setelah film main
Nggak papa, dateng aja

Evi: Beneran?

Tika We: Feeling-ku banyak yang cancel tapi nggak lapor 😜

Evi: Oh yaa?

Tika We: Feeling.. 😉

Evi: Tapi kan kita bahkan nggak masuk waiting list?

Tika We: Iya juga sih
Habis, aku buka di webnya juga nggak bisa diklik

Evi: Apa dateng aja dulu?
Menurutmu gimana?

Tika We: Bisa!

Evi: Konternya mulai buka dua jam sebelum main, jam 7
Mungkin kita bisa daftar jadi waiting list jam 7 ke konternya?
Gila susah banget sih mau liat film ini.. 😩

Tika We: Umm… Gini.
Kita harus belanja dulu minimal 100,ooo
Trus struknya ditukar di lantai 4
Gitu..

Evi: What??

Tika We: Syaratnya cuma KTP sama alamat email

Evi: Ditukar tiket film??

Tika We: Iya, 1 tiket buat 2 orang

Evi: Tapi harus belanja dulu? Sementara tiketnya udah full-booked?! LOL!

Selamat Malam, Pagi (2)

Facebook Messenger, 15 Mei 2015 jam 21:48

Tika We: Hari Minggu aku latihan wawancara LPDP sama kamu ya?

Evi: hah.. ada2 aja. perlu ya latihan? hahaha

Tika We: eh, enggak perlu ya? Perlu deh?

Evi: Paling aku nanyanya itu2 aja, yg kubilang kemarin
can it be more complicated? 😀

Tika We: I’ll do my best to answer it (again) in English. 🙂

Evi: haha yaa bolehh. Mau ketemu dimana?

Tika We: Aku manut, enaknya di mana? 😀

Evi: Aku wiken ini paling dikosan aja ngerjain tesis, tp kalo ketemu di luar boleh jg, biar ga ndekem terus di kamar 😜

Tika We: Hahaha…
Sik lihat terawangan google map
GI atau PI?

Evi: Di PI asik ga sih? aku blm pernah kesana sih

Tika We: Hahaha.. Pas!
I stumbled on your favourite movie in Plaza Indonesia’s website

Evi: Selamat Pagi Malam?

Tika We: iya

Evi: Udah ga main deh jeengg 😞

Tika We: https://instagram.com/spmfilm/
27 Mei diputer di Plaza Indonesia!

Evi: Awwwhh jam brp? 😱

Tika We: jam 9 malam 😉

Evi: Aaaa I need to see it!

Poster Plaza Indonesia Film Festival
Poster Plaza Indonesia Film Festival

Selamat Malam, Pagi (1)

Facebook Messenger, pertengahan Februari 2015

Tika We: Selain intern, di Jakarta agendanya apa?

Evi: Cari DVDnya ‘Selamat Pagi Malam’!

Selamat Pagi Malam

Dari percakapan inilah posting ini bermula. Kalau kamu mengikuti tiap blog postku, nama Evi pasti nggak asing. Ia adalah temanku yang sedang menempuh studi pascasarjana di Wageningen, Belanda. Bulan ini dia berkesempatan magang di Jakarta.

Sudah sejak lama dia mencari DVD Selamat Pagi Malam. Bahkan film ini jadi topik pembuka saat bertemu di Sarinah. Karena dia ngebet banget, aku coba cari di USee TV di berbagai kategori, termasuk yang berbayar. Nihil. Cari di YouTube dengan berbagai keyword, sama aja.

“Ini tuh film indie ya Jeng?” kataku dengan mulut penuh ayam goreng, “Biasanya kalau indie cuma bisa nunggu acara screening.”

Dugaanku bukan tanpa alasan. Film tersebut tidak lebih terkenal dari film Pocong Kesurupan, tapi sangat dicari. Pasti film bagus. Film bagus tapi nggak ada di YouTube, berarti film indie.

“Enggak kok. Sebenernya film ini udah diputer di bioskop tahun lalu tapi cuma 2 minggu gitu. Dia keluarnya bareng sama Transformer, jadi kalah heboh.”

Glek! Ayam goreng kolonel jenggot nyangkut di tenggorokan. Nggak ada harapan. Gagal bikin hepi Evi.

Ya sudahlah. Demikian akhir cerita berburu film.

Begini Rasanya Punya ‘Abang’ Seorang Pandji Pragiwaksono

Punya Abang itu enak kali ya? Ada yang jagain, melindungi kita dari bandit-bandit, atau negur dan ngingetin kalau kita salah. Apalagi kalau ‘abang’nya adalah Pandji Pragiwaksono. Hadeeeehh… Nggak mau pisah!

Pandji_KNM

Itulah yang dirasakan 30 relawan Kelas Negarawan Muda (KNM) hari Selasa lalu. Pandji singgah ke rumah kami di bilangan Ciasem, sendirian, tanpa asisten, pengawal maupun protokol ala presiden. Padahal isi kepalanya sangat mempengaruhi nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya generasi muda.

Bagaimana tidak, dalam setiap karyanya ia selalu menyelipkan pesan menggugah buat anak muda supaya peduli dan ikut turun tangan menyelesaikan berbagai masalah bangsa di sekitar kita. Penulis, rapper, sekaligus komika kondang ini pun tak pernah lelah berseru supaya kita berani beropini dan berkarya. Dia tak pernah surut mempengaruhi banyak kepala generasi muda meskipun tak sedikit juga yang memutuskan untuk diam.

“Politik itu sesederhana elo jalan bareng temen-temen, memutuskan kalian akan makan di mana. Temen2 lo bilang ‘terserah’. Misalnya lo yang nyetir nih. Lo bilang, ‘Ke rumah makan Padang ya?’. Satu temen lo nggak mau, dia nggak suka masakan Padang. Kemudian lo tawarin lagi, ‘Ke Yoshinoya?’ Ternyata temen lo yang lainnya nggak mau makan junk-food. Trus ke mana donk? Katanya terserah.

Maksud gue, banyak anak muda sekarang nggak peduli dengan keputusan-keputusan yang diambil. Padahal keputusan itu akan mengerucut ke keputusan politik.”

Demikianlah yang dikatakan Pandji di awal sarasehan kami. Sangat sangat masuk akal. Nggak cuma memberi wawasan politik, Pandji pun menguatkan kami untuk terus berjuang. Ini nih yang bikin berat berpisah sama ‘abangnya relawan’ setelah 2 jam berdiskusi.

Berikut adalah sekelumit video rekaman Pandji saat sarasehan KNM. Semoga bermanfaat dan memotivasi kamu!