EXPLAINED: Do Javanese people go barefooted often?

Javanese and most Indonesians go barefoot quite frequently, but that depends. The closer we are to the city, the less frequent we go barefoot.

In the house

What we all do similarly is most of us are barefoot in the house. Even when we live abroad where the floor is covered by carpet, we prefer to walk barefoot, or at least we change our shoes to in-house slippers.

Barefoot in a four-star hotel, despite they provide a pair of nice slippers

It is almost like Japanese. We have a shoe rack near the door, and leave everything from outside there. Be it shoes, umbrella, jacket, etc. whatever we wear outdoor it’d be better to leave it at the door.

If you ask me why, probably it’s because of the nature of Indonesia with its humidity, fertile soils, and dust. Cultural wise, being barefoot in the house means you leave bad things from outside right in front of the door. You don’t bring any dirt into the home.

By being barefoot, we are more sensitive to the cleanliness and the texture of the floor, or the soils we step on. That’s the reason why we mop the house every day. Even some people clean several times a day.

Outdoor barefoot

I think nowadays fewer people go barefoot out of the house. But still, we don’t wear shoes as frequently as Western. We like wearing sandals a lot. Most of us have a pair of shoes, but we have more than a couple of sandals.

We have sandals for going to the mosque, sandals for the loo, sandals for hanging out, sandals for lyfe!

Joger Bali Sandals for a casual hangout

It is essential to remember which sandal for a mosque, which one for the bathroom, cuz you can’t swap.

Typical personal sandals for going to a mosque. Usually they’re stolen in Fridays.

Sandals for loo should stay in the loo! If the loo doesn’t have sandals, always remember to wash your foot before leaving the loo. That’s why most of the Javanese bathroom is a typical wet bathroom, not the dry one.

Spiderman sandals for kids


Some people might go barefoot for morning/evening walk, especially elder Javanese. My parents still doing this for foot reflection. It increases our foot-palm sensitivity to nature, let alone the “massage” done by the stone we step on somehow make your life longer.

Barefoot at Foot Massage Park.

Javanese believes most of our body parts are controlled by the nerves in foot palm. Hence they like to walk on sharp pebbles to maintain the health. In Foot Massage Parks, the pebble sharpness usually well arranged from the easier (blunt, round, bigger) to the most difficult one. If you are healthy, they say, you can bear any kind of pebble without pain.

Some of us might also go barefoot in the rice field or in the garden. Actually, it depends on the weather. In the wet season, we might go barefoot. You don’t want your hundred dollars Nike Jordan get stuck and gone sucked by the mud, do you?

In the dry season, we wear sandals. Again, it should be the sandal for a garden, not the one from the loo.

Hari ke-38 Social Blah Blah Blah

The six-feet rule

Sebetulnya saya tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi krisis ini sungguh nyata.

Wardiman, tukang ojek difabel langganan saya dulu, sekarang tiap malam kirim WhatsApp. Dia selalu tanya, besok saya mau makan apa.

Perhatian banget ya..

“Golek arem-arem ayu ning kene ki nandi yo?” jawab saya. Cari arem-arem cantik di sini tuh di mana ya?

Katanya, “Wis ora susah digoleki. Sampeyan sarapan jam piro, sesuk tak terne ngomah.”

Dan betul, keesokan paginya tepat jam 6 Wardiman sudah di depan rumah. Dia tidak hanya mengantar arem-arem, tetapi juga curhat tipis-tipis.

Topiknya tak jauh-jauh tentang pemerintah pusat dan pemerintah di rumahnya sendiri.

“Istriku tuh patuh banget sama pemerintah Mbak. Aku nggak boleh deket-deket dia sekarang. Malah pernah pulang ngojek aku disuruh tidur di luar rumah,” katanya.

“Lho kok sampai di luar rumah? Kan anjuran pemerintah cuma jaga jarak fisik dan bertahan di dalam rumah,” jawab saya.

“Lha iyo to. Kata istriku biar nggak ketularan Corona kita harus Long Distance.”

Sebentar, kayak ada yang keliru. Tapi apa ya?

Sepertinya pemerintah di rumahnya punya policy yang sedikit berbeda dengan pemerintah pusat..

Surat dari Masa Depan (dengan gambar)

Apabila kamu merasa surat ini terlalu distopis, membuat kamu semakin stres, berhentilah membaca. Aku pun menulis (menerjemahkan) ini dengan perasaan campur aduk.

“Aku menulis untuk kamu dari Italia, yang berarti aku menulis dari masa depanmu. Kami sekarang berada di situasi di mana kamu akan alami dalam beberapa hari lagi. Grafik epidemi menunjukkan kita semua sedang terjerat dalam sebuah tarian paralel. Kami hanya beberapa langkah di depanmu di jalur waktu, sama seperti Wuhan beberapa minggu lalu berada di depan kami. Kami melihat kamu berperilaku seperti yang kami lakukan waktu itu. Kamu memegang argumen yang sama dengan kami hingga beberapa waktu lalu, di antara orang-orang yang masih mengatakan “ini hanya flu, mengapa harus diributkan?” dan mereka yang sudah mengerti.

Umrah pilgrims leave after the cancellation of the departure to Mecca following the Saudi government’s temporary ban announced on Thursday to keep the country safe because of coronavirus outbreak, at Soekarno Hatta International Airport, Tangerang, near Jakarta, Indonesia February 27, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Ketika kami mengawasimu dari sini, dari masa depanmu, kami tahu bahwa banyak di antaramu, seperti yang diperintahkan untuk mengunci diri di rumah, mengutip kata-kata Orwell, beberapa bahkan mengutip Hobbes. Tetapi tak lama setelah itu, kamu akan “terlalu sibuk” untuk melakukan itu.

Pertama-tama, kamu akan makan. Bukan sekedar lantaran makan adalah salah satu dari beberapa hal yang masih bisa kamu lakukan.

Kamu akan menemukan lusinan grup jejaring sosial berisi tutorial cara menghabiskan waktu luangmu dengan bermanfaat. Kamu akan bergabung dengan mereka, lalu kamu akan betul-betul mengabaikan mereka setelah beberapa hari.

Kamu akan menarik buku apokaliptik dari rak bukumu, tetapi kemudian kamu akan menemukan bahwa kamu tidak ingin membacanya.

Kami akan makan lagi. Kamu akan tidur nyenyak. Kamu akan bertanya pada diri sendiri, apa yang terjadi pada demokrasi.

An elderly woman sleeps at a bench in a shopping mall after Indonesia’s capital begins a two-week emergency period to prevent the spread of coronavirus disease (COVID-19) in Jakarta, Indonesia March 27, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan memiliki kehidupan sosial yang tak tertandingi – janjian di Zoom dan makan malam di Skype.

Kamu akan merindukan anak-anakmu yang sudah dewasa, lebih dari sebelumnya; dan kesadaran bahwa kamu tidak tahu kapan kamu akan melihat mereka lagi akan memukulmu seperti sebuah pukulan di dada.

Dendam lama dan kebencian lama tidak lagi menjadi masalah. Kamu akan menghubungi orang-orang yang kamu pernah bersumpah tidak akan bicara lagi, untuk bertanya “bagaimana kabarmu?”

Banyak wanita akan dianiaya di rumah.

Kamu akan bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka yang tidak bisa tinggal di rumah karena mereka tidak memiliki rumah.

Kamu akan merasa beresiko saat berbelanja di jalanan kosong, terutama jika kamu seorang wanita. Kamu akan memblokir pikiran-pikiran ini, kemudian kamu akan pulang dan makan lagi. Kamu akan menjadi gemuk.

A woman wearing a protective mask walks on a bridge, as Indonesia confirmed new cases of coronavirus disease (COVID-19), in Jakarta, Indonesia, March 11, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan mencari video kebugaran di Internet.

Kamu akan tertawa, banyak tertawa. Kamu akan menunjukkan begitu banyak sisi humoris yang belum pernah kamu miliki sebelumnya. Bahkan mereka yang selalu menganggap serius segala hal akan menyadari absurditas keberadaan manusia.

Kamu akan membuat janji bertemu di antrian supermarket dengan teman-teman kamu, sehingga dapat melihatnya secara langsung, sementara mematuhi aturan social distance.

Consumers stand next to lines on the floor serving as a guide for social distancing at the cashier, to prevent the spread of coronavirus disease (COVID-19) in Depok, near Jakarta, Indonesia, March 30, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan menghitung segala hal yang tidak kamu butuhkan.

Sifat sebenarnya dari orang-orang di sekitar kamu akan terungkap dengan sangat jelas. Kamu akan mendapat konfirmasi-konfirmasi dan kejutan-kejutan.

Para intelektual hebat yang biasa berbicara tentang segala sesuatu menghilang dari media, yang lain secara “cerdas” menggeneralisasi tanpa empati dan kamu akan segera berhenti mendengarkan mereka. Orang-orang yang kamu abaikan, sebaliknya akan bermurah hati, dapat diandalkan, dan pragmatis.

Mereka yang mengajak kamu untuk melihat segala kekacauan ini sebagai peluang untuk memperbaharui planet bumi akan membantumu menempatkan segala sesuatu dalam perspektif yang lebih besar. Kamu juga akan mendapati mereka sangat menjengkelkan: bagus, planet ini bernafas lebih baik karena emisi CO2 yang berkurang setengahnya, tetapi bagaimana kamu akan membayar tagihan kamu bulan depan?

A woman wearing a protective face mask walks on a bridge, amid the coronavirus disease (COVID-19) outbreak in Jakarta, Indonesia, March 23, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu tidak akan mengerti dunia baru ini lebih seperti sebuah kemewahan atau justru peristiwa yang sangat buruk.

Kamu akan memutar musik dari jendela dan halaman kamu. Ketika kamu melihat kami menyanyikan lagu opera dari balkon, kamu berpikir “ah orang Italia itu”. Tetapi kami tahu kamu akan menyanyikan lagu-lagu yang menguatkan satu sama lain juga. Dan ketika kamu meneriakkan, “Aku akan bertahan hidup” dari jendela kamu, kami akan menonton kamu dan mengangguk seperti orang-orang dari Wuhan, yang bernyanyi dari jendela mereka pada bulan Februari, mengangguk sambil mengawasi kami.

People with surgical masks look on at station Tanah Abang, following the outbreak of the coronavirus in China, in Jakarta, Indonesia February 13, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Banyak yang akan tertidur bersumpah bahwa hal pertama yang akan mereka lakukan ketika semua ini selesai, adalah bercerai.

Banyak anak akan dikandung.

Anak-anak kamu akan berpartisipasi dalam pelajaran online. Mereka akan menjadi gangguan yang menyebalkan, namun mereka pun akan memberimu sukacita.

Students wear protective masks in school after Indonesia confirmed its first cases of COVID-19, in Jakarta, Indonesia, March 4, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Orang tua akan tidak mematuhi kamu, menganggapmu seperti remaja yang gaduh: kamu harus bertengkar dengan mereka untuk mencegah mereka keluar, mencegah mereka terinfeksi dan mati.

People practice social distancing while stretching along a sidewalk near a slum area, amid the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, in Jakarta, Indonesia, April 2, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Kamu akan berusaha tidak memikirkan mereka yang meninggal sendirian di rumah sakit. Kamu akan ingin melemparkan kelopak-kelopak mawar di setiap langkah semua staf medis.

Indonesian Red Cross Society personnel walk in protective suits during an operation to spray disinfectant at the Kemayoran Athletes Village, to prevent the spread of coronavirus disease (COVID-19) in Jakarta, Indonesia, March 21, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Mereka akan memberi tahu kamu bagaimana berkerumun/keramaian adalah penyebab paling umum, dan kamu berada di situasi yang sama tidak menyenangkannya dengan orang lain. Hal itu akan menjadi benar. Pengalaman ini akan mengubah caramu melihat dirimu sendiri sebagai suatu individu bagian dari semesta yang lebih besar.

Kelas ekonomi, bagaimanapun, akan membuat semuanya berbeda. Terkurung di sebuah rumah dengan taman yang indah tidak sama dengan tinggal di perkampungan padat penduduk. Tidak dapat bekerja dari rumah atau menyaksikan pekerjaanmu hilang menguap. Kapal tempatmu akan berlayar mengalahkan epidemi tidak akan terlihat sama untuk semua orang, sebenarnya memang tidak sama: tidak pernah sama.

Pada titik tertentu kamu akan menyadari ini sulit. Kamu akan takut. Kamu akan berbagi ketakutan kamu dengan orang-orang tercinta, atau kamu akan menyimpannya untuk dirimu sendiri agar tidak membebani mereka juga.

Kamu akan makan lagi.

Kami ada di Italia, dan inilah yang kami ketahui tentang masa depan. Tapi itu hanya ramalan skala kecil. Kami adalah pengamat kecil.

Jika kita mengalihkan pandangan kita ke masa depan yang lebih jauh, masa depan yang tidak diketahui olehmu dan juga kami, kami hanya dapat memberi tahu kamu satu hal: ketika semua ini berakhir, dunia tidak akan sama.”

Ditulis oleh Francesca Melandri, diterbitkan di Liberation dan diunggah di Facebook pada 19 Maret 2020. Aku hanya menerjemahkan dari terjemahan Bahasa Inggris di laman ini.

Semua foto-foto di atas adalah karya pewarta foto REUTERS Ajeng Dinar Ulfiana. Sudah 3 minggu dia tidak pulang ke rumahnya di bilangan Bekasi Timur. Ketika aku, kamu, mengeluh bosan bekerja di rumah, Ajeng nyaris tanpa libur memburu berita setiap hari. Dia bertahan di kos, menahan rindu untuk adik-adiknya supaya mereka sehat. I know exactly how she loves her dearly sisters.

Coba tengok betapa profesionalnya Ajeng dari foto-fotonya di sini. Aku malu sama Ajeng, perempuan tangguh itu.

Sabtu, 4 April 2020 pukul 01:30,
begadang bersama Ajeng.

Day 17: A LinkedIn Update

The city I live in, Bekasi, has 182 active cases. Some of them live nearby. As a result, township lockdown everywhere. It includes my township. The street in front of my house becomes very quiet, but I am VERY HAPPY about it.

When the lockdown was just started I won’t lie that I was a little bit anxious about how my family would survive. But after 17 days, hey it’s not that bad!

THE QUIET LADY WE ENJOY

Thanks to whoever came up with the idea of lockdown for the first time. Jakarta, the most congested city I ever knew, has become very quiet. In the most normal situation, travel time from home to my office was 2.5 hours by car. During this self-quarantined situation, it takes 30 minutes only!

Sometimes when my family is dying bored at the house, we wander around Jakarta landmark but never dare to get off. I don’t know what we’re doing is right or wrong, but seeing how quiet Jakarta streets recently is so relaxing for us. We finally managed to introduce Monas to our son, again, from the car.

Jakarta is like an Indonesian lady. It is nice when it’s silence, but you know it’s just not right.

I enjoy it though.

AN UPDATE ON LINKEDIN

First of all, thank you First Media for supplying oxygen to my body through internet connection. Without internet connection, I might’ve died with a severe complication of bored, clueless, helpless, and anxious.

Thanks to internet connection, I can jump from one meeting to another in just one click.

I attended Toastmasters meetings,
then singing nursery rhymes from YouTube Kids with my son,
then join another Zoom meet-up,
then singing other nursery rhymes once more,
then video chat with my parents and my sister,
then singing other nursery rhymes again, …
until I’m in the stage of singing 54 versions of “Johny Johny Yes Papa” by heart!

I guess It’s time for me to update my LinkedIn headline as a Nursery Rhymes Expert!

Johny, Johny
Yes Papa
COVID-19?
No Papa
Telling lies?
No Papa
Open your mouth?
Ha! Ha! ha!

johny johny yes papa
Somehow the “Papa” looks like our dishonest minister, innit?

Hari ke-10 Karantina Diri

Pas di kantor, pengennya pulang di rumah. Sudah di rumah, pengennya ngantor.

Hari kesembilan mengkarantina diri di rumah, mulai merasa bosan dan kesepian. Walaupun ada anak di rumah, tentu anyep rasanya hari-hari tanpa “ghibah”.

PARTY TIME

Rasa kesepian saya cukup tertolong ketika seorang teman dari Italia merayakan pesta ulang tahun besar-besaran. Dia mengundang lebih dari 70 orang. Ada 34 orang yang datang. Berkumpul di tempat yang sama, Skype Meeting.

Teknisnya:

  1. Bikin group ghibah tertutup dulu
  2. Pastikan semua anggota group familiar dengan platform yang sama. Misal yang kita pakai kemarin adalah Skype.
  3. Bikin Meeting Group di Skype lalu share tautannya di group ghibah tadi.

Biar pestanya lebih meriah, dia share resep sederhana kue khas ulang tahun di Italia, Brigadeiros. Bentukannya kalau sudah jadi dan cakep adalah serupa bola-bola cokelat.

Brigadeiros

Rasanya jauh lebih manis karena komposisi utamanya susu kental manis. Resepnya bisa dilihat di sini. Kalau diterjemahkan kurang lebih cukup memanaskan butter, tambah SKM, dan bubuk kokoa di sauce pan (panci anti lengket).

Tampilannya jangan ikut gambarku di atas yak. Itu udah ala kadarnya banget bikin jam 1 dini hari buat meeting jam 5 pagi.

PRIVATE PUBLIC SPEAKING CLUB

Sudah lebih dari 6 bulan aku absen dari Toastmaster meeting. Maka ketika klub Toastmaster kesayangan Kebayoran TMC mengadakan Skype meeting, langsung sikat!

Blessing in disguise. Di tengah rasa jenuh dan sepi, banyak klub Toastmaster yang menjelma jadi klub online. Beberapa klub masih menyelenggarakannya secara privat, tertutup untuk anggota klub. Tetapi ada juga beberapa klub yang membuka club meeting untuk tamu secara online.

ONE CLICK AWAY

Selama 10 hari karantina seperti mengkonfirmasi hasil tes-tes psikologi yang pernah aku ikuti. Terutama bahwa aku Ambivert, bukan ekstrovert apalagi introvert. Apa bedanya? Pernah ku tulis di sini.

Sebagai ambivert, aku sangat menikmati kesendirian, nulis, baca buku, scroll medsos, dsb. Tetapi ada satu titik di mana “energi” introvertku habis. Kalau sudah begini, harus segera ketemu manusia.

Biasanya aku ngajak ketemu teman, sekedar ngopi atau pulang bareng. Tapi dengan situasi demikian, ternyata Skype cukup membantu. Selain itu aku beruntung punya anak-bojo yang bawel, adik dan Ibu yang hobinya video call mulu, dan DM Instagram yang belakangan semakin riuh.

Gabut banget ya ges? Hahaha… I enjoy it, tho.

Kalau kamu suka merasa sepi seperti aku, butuh kawan ghibah atau sekedar ngomongin cuaca, I am just one click away! Hit me up!

DI RUMAH AJA,
JANGAN LUPA CUCI TANGAN,
JANGAN LUPA “DI RUMAH” ITU “DI”-NYA DIPISAH!