Iman kepada Makanan dan Kenangan

Pagi tadi saya dan Pak Suam sarapan pecel. Pak Suam pakai nasi, saya pakai gendar. Enak, tapi belum nikmat. Daunnya terlalu tua, kecambahnya terlalu panjang, sambel kacangnya terlalu kasar.

Tapi ya sudahlah. Ini pecel GoFood ter-mending setelah Pecel Pincuk Madiunan Ae langganan kami tiba-tiba lenyap ditelan pandemi.

Pecel Pincuk Madiunan Ae – Pondok Cipta Bintara, Kota Bekasi
Lanjutkan membaca “Iman kepada Makanan dan Kenangan”

Scones Rasa Rindu

Yang mengikuti Insta story saya akhir-akhir ini mungkin tahu saya sedang dibuat gila sama scones klasik.

Di daerah asalnya, Skotlandia, scones dihidangkan dengan clotted cream dan jam. Clotted cream ini paten, tapi jam bisa mengikuti selera.

Perburuan scones saya giatkan di platform online. Dari social media, mesin pencari, e-commerce, semua saya jelajahi. Akhirnya saya menemukan perpaduan yang pas, yang paling mendekati scones klasik Skotlandia.

Scones paling ideal sepanjang hidup di Ibu Kota
Lanjutkan membaca “Scones Rasa Rindu”

Perpustakaan Tengah Malam Tapi Kok Nganu

Pernah nggak makan rendang ternyata lengkuas?

Begitu yang saya rasakan begitu menandaskan The Midnight Library.

Buku ini memenangkan Goodreads Choice Awards 2020 untuk kategori Fiksi dengan 72,828 votes. Hanya selisih 5 votes lebih banyak dari Anxious People.

Masih Bertema Bunuh Diri

Isu yang diangkat sama, percobaan bunuh diri. Bercerita tentang Nora Seed, yang merasa terjebak di Bedford dengan berbagai kemalangan, dan memutuskan bunuh diri.

Di perjalanan antara kehidupan dan kematian, Nora tiba-tiba berada di The Midnight Library, perpustakaan tengah malam. Waktu di perpustakaan tersebut tidak sedetik pun bergerak dari 00:00.

Di perpustakaan tersebut, Nora disodorkan buku kumpulan penyesalan-penyesalannya selama hidup, The Book of Regret. Sang Petugas Perpustakaan, Mrs Elm, menawarkan Nora menjelajahi kehidupan lain seandainya ia mengambil keputusan yang berbeda. Seandainya ia tidak putus dengan pacarnya, seandainya ia tak keluar dari band, seandainya ia meneruskan olimpiade renang, seandainya…

Sekitar 90 persen cerita The Midnight Library berkisah tentang kehidupan-kehidupan ‘seandainya’ tersebut. Di beberapa kehidupan, tidak sebaik kehidupan akarnya.

Lalu di kehidupan pengandaian terakhir, penulis tiba-tiba menurunkan bejibun hikmah dan wahyu kepada Nora. Di sinilah alis saya mulai mengkeret.

Sek ta, iki kaet mau Nora lapo ae kok sek ket eroh?

Kalau kamu baca ulasan saya tentang Anxious People, bagaimana satu buku mengubah pemikiran saya, maka setinggi itulah ekspektasi saya terhadap The Midnight Library.

Anxious People tidak berusaha menggurui sejak awal. Justru menertawakan pemikiran kita sendiri, yang tidak terlalu berbeda dengan penulis. Lalu letupan-letupan kecil mengejutkan dimunculkan secara teratur dan rapi.

Sementara The Midnight Library tidak menyimpan kejutan apapun. Bahkan saya merasa wisdom yang disampaikan seperti pahlawan kesiangan.

Mohon maaf, Pak Matt Haig. Tiga bintang boleh ya..

Setelah makan lengkuas yang saya kira rendang, rasanya saya perlu makan enak untuk mengobati kekecewaan tersebut.

Ada rekomendasi?

Hidup Bodohku Diselamatkan Satu Buku

Begini buku tersebut dimula:

This story is about a lot of things, but mostly about idiots. So it needs saying from the outset that it’s always very easy to declare that other people are idiots, but only if you forget how idiotically difficult being human is.

“Ini cerita tentang banyak hal, tapi kebanyakan tentang orang-orang idiot. Jadi perlu dikatakan sejak awal bahwa sangat mudah untuk menyatakan bahwa orang lain adalah idiot, selalu, tetapi hanya jika kamu lupa betapa sulit dan idiotnya hidup menjadi manusia.”

Lanjutkan membaca “Hidup Bodohku Diselamatkan Satu Buku”