Weekly Photo Challenge: Regret

Drying sweater
Hair-dryer for sweater?!

Crazy boy named Aghastya. I don’t regret knowing him since 4 years ago. This image was taken in Hotel Majapahit Surabaya with my silly friends. It’s the most historical hotel in Surabaya, and the spookiest too! The hotel is soooo spooky that we didn’t brave to sleep. So, we spent the night by took a walk around Surabaya till dawn to make us awake. We walked and walked until the sweat was pouring off Aghastya and wet. He didn’t intend to stay in the hotel. Therefore he couldn’t change his clothes, while he had to go to campus as soon as possible. Fortunately, a hair-dryer from hotel room saved him. LONG LIFE HAIR DRYER!

friends at Majapahit Hotel
friends at Majapahit Hotel

PS: I bet you won’t regret to let your camera works extra-hard to capture every corner of Hotel Majapahit. Promise!

Elly My Honey part 3: ELFIONI

Elly my innocent best friend. She’d never say “No” for any kind of help she could do. House-mates love Elly. Classmates love Elly. Teachers love Elly. Everybody loves Elly. Even if you meet her for the first time, you will love her surprisingly!

Elly is so lovely that she’s blessed very much. She’s not the smartest student nor the cleverest one in my class. We never imagine this wimpy girl will be graduated before 4 years studying. It sound like a miracle of a humble girl. Begitu ajaibnya hingga beraaat banget melepas Elly mengadu nasib di ibukota tepat di hari wisudanya. Bukannya cengeng, Elly is more than best-friend of mine. Aku dan beberapa teman memanggilnya ‘Kakak Pertama’.

Hari ke tigabelas bulan Maret 2011 adalah hari bahagia Elly sebagai seorang wisudawati. Persis setelah prosesi wisuda usai seonggok burung besi sudah menantinya di Bandara Juanda. I really felt time ran so damn fast! Rasanya baru kemarin kami berbagi cerita, berkeluh-kesah tentang kejamnya kota, duduk bersama di kelas TPB-14, jejingkrakan dan berfoto ria menyambut sunrise di Pantai Kenjeran, akh… It’s so hard to say goodbye that I cried.

Lanjutkan membaca “Elly My Honey part 3: ELFIONI”

Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood

Maka dari situlah aku mengenal Elly, seorang yang lincah, lugu, spontan, dan tulus. Begitu tulusnya Elly hingga sulit baginya berkata “Tidak” untuk orang lain, termasuk jadi sukarelawan tukang ojek langganan.

Tidak ada yang tak tahu kemahiran Elly mengendarai sepeda motor. Seru! Lebih seru dari roller-coaster mana pun! Hanya mereka yang bernyali yang lolos uji emisi jadi penumpang Elly. Dina salah satunya.

I’ve told you, Elly never say “No”. Dalam keadaan capek bahkan ngantuk sekalipun, dia akan tetap mengantar Dina sesuai janjinya. Aku nggak tau — mungkin Dina juga nggak tau — apa yang dipikirkan Elly saat berkendara. Yang kami tahu, bukan sekali dua kali iya minta maaf di tempat tujuan. Eits, minta maafnya ini yang beda dari tukang ojek biasanya.

“Maaf ya Din, tadi aku tidur waktu nyetir. Aku ngwantuk poll!” kata Elly dengan tampang penuh rasa bersalah saat mereka baru saja tiba di Tunjungan Plaza, 10 km dari kampus atau 30 menit perjalanan kilat roda dua.

Lanjutkan membaca “Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood”

Elly My Honey

Disclaimer: Posting kali ini saya copy-paste dari diary-blog pribadi, ditulis nyicil jadi 3 bagian. Nggak ada maksud untuk menyinggung pihak-pihak tertentu selain Elly. Haha.. Anyway, Happy Birthday Elly My Honey!!

Have you ever met an angel? I’m sure you are not unless you’re died already. Ok, kalau manusia yang mrepet2 malaikat pernah nggak? I have!!

Well, aku punya teman dekat, Elly namanya. Sebenernya sih nggak deket-deket banget karena walau kami satu jurusan tapi nggak sekos, nggak sehobi, nggak sekegiatan, hampir nggak ada catatan sejarah yang menulis nama kami dalam satu lingkaran aktifitas. Kita pernah seasrama, satu blok. Kamarku jadi septic-tank kamarnya. Maksudnya, kamarku ada persis di bawah kamarnya.

Awal mula ketemu agak lucu dan tampangku lugu. Waktu itu aku penghuni baru asrama. Bangunan tua tiga lantai itu masih sepi, memang belum waktunya para pemuda (konon) harapan bangsa tiba. Yang ada di asrama hanya kami, mahasiswa rantau yang beruntung diterima di ITS melalui pintu PMDK atau memperoleh beasiswa dari Departemen Agama. Sebelum kegiatan perkuliahan dimulai kami harus mengikuti matrikulasi, semacam TK-nya orang kuliah gitu deh.

Satu minggu aku bolos matrikulasi karena harus pulang mengurus ijazah kelulusan. Setelah kembali ke asrama, dengan keadaan yang belum mengenal siapa-siapa, aku golek bolo, mencari penghuni yang nantinya bisa jadi teman seperjuangan.

“Fad, di sini yang anak statistik siapa ya?” tanyaku pada Fadyah, teman sekamar sekaligus nama penghuni asrama yang berhasil terekam di memori otakku yang cuma setara disket 1,44MB.

“Nggak tau, coba tanya Lilik,”

Maka kemudian ku ketuk pintu kamar tetangga. Kamar seorang jenius yang manis karena gingsulnya, Lilik. Dia menyebut nama Elly, penghuni lantai dua yang diduga mahasiswi Statistik.

Next >> Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood