Iman kepada Makanan dan Kenangan

Pagi tadi saya dan Pak Suam sarapan pecel. Pak Suam pakai nasi, saya pakai gendar. Enak, tapi belum nikmat. Daunnya terlalu tua, kecambahnya terlalu panjang, sambel kacangnya terlalu kasar.

Tapi ya sudahlah. Ini pecel GoFood ter-mending setelah Pecel Pincuk Madiunan Ae langganan kami tiba-tiba lenyap ditelan pandemi.

Pecel Pincuk Madiunan Ae – Pondok Cipta Bintara, Kota Bekasi

Sambal Pecel Pincuk Madiunan Ae sangat lembut dengan kekentalan yang pas. Komposisi sayurnya belum ada tandingannya:

  • Sayur dengan kematangan yang pas, nggak ketuaan, nggak alot, nggak lonyod, nggak jemek;
  • Kecambah di umur yang pas, segar, bersih tanpa buntut, renyah, dan nggak direbus;
  • Kemangi perawan segar, baru dipetik dari pohon yang belum berbunga;
  • Pete Cina remaja yang sedang cantik-cantiknya;
  • Kembang turi yang lagi-lagi dengan kematangan yang pas.

Saya meyakini, kunci dari pecel adalah sayurannya tidak direbus, melainkan dikukus atau direndam air panas. Tekstur sayurnya nggak akan lonyod, mblenyek, seperti muntahan bayi. Nah, dari sekian banyak pecel pincuk radar GoFood, hanya Pecel Pincuk Madiunan Ae ini yang sempurna.

Pecel pincuk ini tidak buka warung, hanya bisa diperoleh dari aplikasi GoFood atau Grab Food. Sayang tak lama setelah pandemi datang, saya lihat plang Pecel Pincuk Madiunan Ae di pagar rumah sudah berganti dengan plang “Rumah ini Dijual Tanpa Perantara”. Semoga mereka tetap mecel di rumah yang baru.

Sambel Petis Rujak Cingur

Selain pecel, kami juga sangat religius urusan sambel petis di tahu tek dan rujak cingur. Di radius 10 km radar GoFood rumah kami, ada 2 lapak Jawa Timuran langganan kami.

Yang buka paling awal adalah Dapoer SURABAYA. Menunya super sangat lengkap. Dari cingur, usus, tahu tek, garang asem, semua ada. Warung ini buka pagi dan tutup larut malam, penyelamat saat fantasi pulang Jawa Timur membuncah tak tertahan.

Meski demikian, sambel petisnya terlalu asin dan asing di lidah kami. Bahkan sering kali sambal dikirim dalam keadaan dingin, seperti baru keluar dari kulkas. Bayangan sambel petis segar dari cobek emak.. puff lenyap begitu saja. Berganti sikap pasrah dan nerimo. Mayan gae rasan-rasan.

Lapak GoFood cinguran satu lagi adalah Tahu Campur Cak Jo, Ojolali. Sambel petisnya Cak Jo ini magis sekali. Segala prahara rumah tangga selesai dengan menyantap sambel petis Cak Jo. Sepiring sambel petis lombok sedang di tahu campur untuk Pak Suam, rujak double cingur lombok pedhes untuk saya, dan tahu tek tanpa lombok untuk Nak Kicil.

Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan sambel petis.

Waktu kami masih pacaran, pecel dan rujak cingur adalah jujugan yang mendamaikan.

Ketika blog ini saya tulis, saya baru sadar. Saya mengimani rasa dalam berbagai bentuk boga. Minggu lalu saya sudah bercerita bagaimana saya begitu taat pada rasa dan bentuk scone. Lalu sekarang pecel dan rujak cingur.

Apa lagi?

Setup Makaroni

Beberapa literatur mengatakan setup makaroni adalah menu tinggalan Belanda semasa menjajah Kota Surakarta. Masuk akal, orang Solo mana yang makan pasta dengan keju. Harga sebatang keju saja bisa buat menyuapi pecel pincuk ke mulut-mulut lapar sekampung. Meski demikian, setup makaroni tetap tercatat sebagai salah satu kuliner jadul khas Solo.

Saat ibu saya tidak ngantor, tidak ada koreksian, atau kepusingan memasukkan nilai rapot, ibu dengan suka cita memasak setup makaroni.

Ibu saya yang guru SMA tapi sibuknya serupa Bu Mega itu sempat memasak saja sudah luar biasa. Apalagi setup makaroni, menu yang belum ada bumbu instannya seperti bumbu opor Bu Munik.

Ibu juga masak setup makaroni kalau saya pulang setelah lama menghilang ditelan kegiatan kampus dan kerjaan. Entah sebuat hidangan sambutan, atau perayaan bahwa sibuk itu turunan.

Meski demikian, setup makaroni ibu paling enak adalah yang dimasak saat saya pulang karena sakit. Dihidangkan tepat setelah jeglek kompor dimatikan, dengan asap mengepul dari permukaan mangkuk porselen putih, memamerkan aroma keju, susu, lada, dan bawang putih.

Setup makaroni ibu sangat kaya akan bawang putih. Beliau selalu pakai ayam kampung dan susu Dancow putih. Sudah default-nya seperti itu.

Ketika saya sekolah di Inggris dan kangen ibu, saya coba mereplikasi resepnya dengan berbagai perbaikan, mumpung bumbu-bumbu dasarnya lebih murah di negara Eropa. Saya pakai susu full cream segar (lebih murah daripada susu bubuk), keju dan makaroni asli Itali (lebih murah dari keju-pasta Indonesia).

Kata housemate saya rasanya ok dan hangat di badan. Semoga mereka tidak sedang cari aman biar saya nggak ngomel seperti landlady yang ngejar bayaran kontrakan. Karena menurut saya rasanya tak seenak setup makaroni ibu.

Mac and Cheese

Bicara tentang housemate dan makaroni, adalah housemate saya yang sangat pandai memasak. Dia terberkati dengan lidah dan lobus parietal setara Gordon Ramsay. Moodnya sudah pasti terjun bebas kalau makan makanan nggak enak.

Namanya Edwin. Blog ini sudah banyak sekali cerita tentang dia, tetapi belum pernah bicara masakannya.

Dari tangan Edwin saya tahu berbagai masakan keluarga peranakan seperti Sup Panjang Umur, Miso Sup, pork belly, dan sebagainya. Edwin juga sering membuat masakan barat. Yang tersering adalah Baked Mac and Cheese.

Mac and Cheese Edwin terkadang sedikit kecoklatan dan mengering di pinggirannya. Edwin menyebutnya caramelised. Saya ngotot itu namanya gosong. Harum butter Lurpak andalan Edwin tak pernah betul-betul menguap dipanggang oven. Hanya sedikit berbaur, mengabur dengan wangi grated cheese eceran yang didiskon Toko Central di ujung jalan rumah kami.

Setelah kembali ke Indonesia, sekali saya coba Mac and Cheese di sebuah restoran andalan sosialita Jakarta di Senopati. Kejunya memang lembut sekali, tetapi buat saya tak seenak Mac and Cheese Edwin. Ada harum keju pekat yang hadir terlalu kuat tanpa permisi. Juga tekstur makaroni yang begitu halus, lembut tanpa cela tapi kering seperti nona-nona cantik di sekeliling meja saya.


Barangkali Mac and Cheese Edwin, seperti halnya Setup Makaroni ibu, set the bar di suatu titik. Bukan titik yang rendah tetapi juga tidak tinggi. Titik yang begitu spesifik dan bercokol di alam ekspektasi hingga sulit sekali ditandingi.

Demikian pula dengan Pecel Pincuk Madiunan Ae. Pecel ini jujugan saya dan Pak Suam di awal pindah rumah di Bekasi yang serba uduk. Ketika pagi kami rasanya akan berat, Pecel Pincuk Madiunan Ae mengingatkan kami hidup di rantau tak pernah mudah. Semakin tak mudah manakala kami mendapati warung pecel di Bekasi tidak menjual pecel sayur seperti ekspektasi kami, melainkan pecel lele dengan sambal basa-basi nggak pedes sama sekali. Nasinya pun lagi-lagi nasi uduk.

Sambel petis Cak Jo, di ingatan sensorial lidah kami, mengingatkan jaman susah namun alay pacaran di Surabaya. Tidak pernah ada warung tahu tek maupun rujak cingur tertentu yang kami sambangi, namun memori sambal petis Surabaya dan obrolan-obrolan yang dioles dan diaduk bersamanya sulit sekali dilangkahi.

Saya jadi ingat pengantar Nuran Wibisono dalam bukunya Selama Ada Sambal, Hidup Akan Baik-Baik Saja.

Makanan juga kerap disimbolkan sebagai cinta kasih yang kudus. Para tukang masak, mulai dari kelas ibu rumah tangga (Hai Mamak, jagoan masakku sepanjang masa), sampai para koki profesional, selalu mengatakan mereka memasak dengan cinta. Tak heran, George Bernard Shaw, sang pujangga dengan cambang tebal itu, suatu saat pernah berkata, "tak ada cinta yang lebih tulus ketimbang kecintaan terhadap makanan."
Pizza Punya Takdirnya Masing-Masing (Selama Ada Sambal Hidup Akan Baik-Baik Saja; Nuran Wibisono)

Memang terkadang makanan terenak itu bukan dari piring Michelin Star. Sering kali justru terhidang pada lugu pucuk pincuk daun pisang. Tanpa narasi, tanpa bumbu viral. Cukup dengan kenangan.

Jadi, kalau kamu tidak bisa masak enak, lebih baik buat telor ceplok dengan kenangan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s