Scones Rasa Rindu

Yang mengikuti Insta story saya akhir-akhir ini mungkin tahu saya sedang dibuat gila sama scones klasik.

Di daerah asalnya, Skotlandia, scones dihidangkan dengan clotted cream dan jam. Clotted cream ini paten, tapi jam bisa mengikuti selera.

Perburuan scones saya giatkan di platform online. Dari social media, mesin pencari, e-commerce, semua saya jelajahi. Akhirnya saya menemukan perpaduan yang pas, yang paling mendekati scones klasik Skotlandia.

Scones paling ideal sepanjang hidup di Ibu Kota

Scones ini dibuat oleh Serendipite Bakery. Saya pesan melalui laman Tokopedianya di sini. Clotted creamnya bikinan WarmSoul, bisa dilihat di sini. Strawberry jam dari Bonne Maman saya beli di Tous Les Jous. Walaupun terlalu amat manis dibanding Bonne Maman ‘di sononya’, tapi lumayan lah.

Berhitung Scones

Dalam pergumulan rasa antara scone dan haru, saya berdialog dengan diri sendiri. Saya ini kenapa? Dari sekian banyak makanan Inggris, kenapa scone?

Padahal selama setahun di Inggris saya lebih sering makan fish and chips daripada scones.

Kemudian saya cari ‘scone’ di koleksi Google Photo, urut kronologi…

Scone Channel

Scone pertama saya mungkin saat diajak teman saya, Channel.

Libur musim dingin, saya berkunjung ke rumah Channel di Glasgow. Channel adalah orang Inggris yang saya kenal saat kami bekerja di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ketika saya berkesempatan mengunjungi rumahnya di Glasgow, nostalgia gilanya Jakarta, Channel mengajak saya ke Glasgow Tearooms.

Channel mengajari saya adab afternoon tea termasuk bagaimana menikmati ‘kue-kue pekerja’ lainnya, dengan butter dan berbagai macam selai. Ini termasuk bilamana membelah scone pakai pisau atau pakai tangan, kapan oles clotted cream dulu, kapan jam dulu, bagaimana cara mengolesnya, dan seterusnya. Adab dan adat yang seru sekali.

Sejak saat itu saya suka scones hangat dengan clotted cream dingin dan jam.

Scone Mia

Di awal musim panas, sahabat saya Mia mengajak kabur sejenak ke Cambridge. Saya sempat ragu karena thesis kami tak kalah panas dari sengatan matahari saat itu.

Dasar saya ini murah, Mia janji traktir saya handmade Chelsea bun dan scones begitu menginjakkan kaki di Cambridge.

Mia tepati janjinya. Tapi dia nggak bilang kami harus jalan kaki seret koper dari stasiun menyusuri paving Cambridge di gang-gang kecil untuk mencapai tempat ini: Fitzbillies.

Tempat ini lebih dikenal dengan Chelsea bun dengan es krim handmadenya. Namun sconesnya sangat layak dicoba karena lagi-lagi semuanya handmade, termasuk clotted cream dan jam.

Saya jadi gagal BeTe karenanya.

Scone Isabella

Di Cambridge, kami nebeng menginap di rumah Isabella, sahabat Mia sejak masih bachelor. Saya cukup yakin Mia dan Isabella berteman dekat karena keduanya jenius dan baik hati.

Hari terakhir di Cambridge, kami jalan kaki satu jam dari rumah Isabella, membelah countryside menuju The Orchard Tea Garden di pinggiran Grantchester.

Anak Bekasi yang jarang lihat rumput ini gembira betul padang rumput yang ditumbuhi bunga elderflower liar, rumah tradisional dengan pagar hidup blackberry liar, dan kuda, sapi, yang dibiarkan malas-malasan di bawah matahari penghujung musim panas.

Jam in mini jars untuk scones hangat

Tiba di The Orchard Tea Garden, saya ambil nampan, berjalan ke samping seperti di Hokben. Hanya saja saya tidak mengincar beef teriyaki melainkan scones hangat di ujung jajaran keranjang rotan.

Adalah selai dalam jar mini dari Triptree dan Rodda’s classic Cornish clotted cream yang melengkapi. Kedua merek tadi asli buatan Inggris. Bisa dibilang merek lokal yang dibanggakan kafe lokal juga sebagai wujud saling mendukung enterpreneur lokal.

Belvoir Elderflower presse

Walaupun judulnya tea garden, saya lebih semangat merenggut sebotol elderflower presse dari Belvoir ini dibanding set afternoon tea.

Elderflower, seperti halnya scones, sebetulnya bukan barang mewah milik bangsawan Inggris. Elderflower bunga liar yang banyak tumbuh di padang rumput.

Keluarga Inggris, termasuk keluarga Isabella, kerap membuat sirup dari bunga-bunga elderflower yang tumbuh di sekitar rumahnya.

Tapi saya belum pernah mendapati produk elderflower selain dari Inggris. Pun dengan resep scones, yang klasik ya resep Skotlandia.

Scone Daryus & Tika

Sebelum undur diri ke Indonesia di penghujung musim gugur, saya, Daryus, dan Tika (iya, namanya sama) bawa perut kosong ke Halladay’s Tearooms.

Barangkali inilah brunch terakhir saya yang cukup mendekati afternoon tea ala Anna, Duchess of Bedford.

Sampai sekarang saya belum pernah sarapan selengkap ini. Apalagi dengan menu 100% vegetarian. Di mana ya di Jakarta bisa brunch ala duchess begini?

Daryus, our low-key Instagram buddy

Rasanya scone

Kembali pada kegilaan saya terhadap scones akhir-akhir ini.

Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari scone. Scone hanya kue pekerja yang kebetulan dihidangkan di meja Anna, Duchess of Bedford, saat dia tak tahan menunggu waktu makan malam.

Di daerah asalnya, scone sama lumrahnya dengan sego pecel di Jawa. Atau nasi uduk di Jakarta.

Bahan-bahannya juga sederhana sekali. Hanya tepung serbaguna, butter dingin, garam, dan baking soda. Karena sederhana dan mudah dibuat, scones tergolong ‘quick bread’ alias roti siap saji yang lazim disantap kaum pekerja sebagai makan pagi.

Masalahnya adalah tidak banyak orang Indonesia yang tahu scones. Starbucks memang punya menu yang dinamakan Raisin Oatmeal Scones, tapi dari segi tampilan dan rasa jauh dari scones klasik di atas.

Maka ketika pertama menyentuh scones klasik Serendipite, lalu membelahnya dengan dua tangan, saya gemetar. Di depan jajaran scones, saya menangis terisak lama sekali.

Mixed scones by Serendipite

Sepertinya bukan scones yang saya rindukan. Juga bukan negara Inggris. Saya rindu personal freedom, kebebasan jalan-jalan kesana kemari dengan teman-teman baik yang kebetulan mengiringi perjalanan saya mengenal scones.

Saya rindu rasa aman dan nyaman meski sendirian naik pesawat, kereta, jalan kaki, dari ujung utara Skotlandia hingga selatan Cornwall.

Saya rindu hidup tanpa prasangka orang di samping saya bawa virus yang merenggut jutaan nyawa.

Saya rindu bebas bernapas tanpa terhalang masker, tanpa khawatir akan bercumbu dengan cungkup ventilator.

Kapan kita ke mana?

Saya yakin bukan hanya saya yang merasakan ini. Di linimasa banyak kawan mulai mengunggah foto-foto lama saat jalan-jalan. Kamu rindu juga kan?

Jaga kesehatan yuk. Berjaga dengan prokes juga supaya pandemi ini segera jinak, kita segera seret koper lagi cari scone.

Stay safe, kawan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s