Saat untuk Lelah

Sabtu 10 Juli 2021, lab farmasi menyatakan saya positif COVID-19.

Ah elah! Tuh kan…

Photo by cottonbro on Pexels.com

Permulaan

Jumat, 2 Juli 2021: Pak Suam apatis sekali. Biasanya dia heboh main sama Nak Kecil, sampai saya suka lupa mana yang balita mana yang bapaknya. Pak Suam cuma minta jidatnya ditembak thermo gun. Suhu jidat normal. Sialnya Pak Suam anti sama obat-obatan dan dokter. Jangankan obat, Tolak Angin saja dia tolak, sampai Sido Muncul minder gak sido muncul. Jadi ya saya nggak ada bayangan Pak Suam lagi demam karena COVID.

Minggu, 4 Juli 2021: Pak Suam share di group keluarga kabar dukacita dari kantornya. Orang ke-11 di kantornya yang meninggal karena COVID.

‘Oh sht,’ kata saraf cocoklogi saya. Karena nggak sopan, saya pecat saraf itu demi positivity.

Senin, 5 Juli 2021: Pak Suam ngantor seperti biasa. Yang nggak biasa, dia foto hasil swab antigen reaktif. Dia lanjut PCR di RS Kartika Pulomas, tapi hasilnya baru muncul 5 hari kemudian. Virusnya sudah keburu pindah kosan, hasilnya baru keluar.

Maka sepulang dari kantor, tanpa babibu Pak Suam langsung naik ke lantai atas dan isoman.

Keputusan-keputusan pun dibuat. Meliburkan Embak dan daycare Nak Kicil, minta tolong istri ojek langganan untuk bantu kirim masakan selama seminggu, lalu pasang tanda isoman di depan rumah.

Negatif

Selasa, 6 Juli 2021: Saya dan Nak Kicil rapid antigen. Hasilnya negatif.

Rabu, 7 Juli 2021: Badan nggak karuan. Seperti habis ditubruk truk, lelah, pegal sekujur tubuh. Malamnya malah ditambah ditubruk truk es krim. Sudah pegal, demam tinggi, badan menggigil. Ganti baju saja nggak sanggup saking dinginnya.

Otot vs Emosi

Saraf cocoklogi yang sempat saya usir, ternyata masih kontak sama otot-otot badan dan emosi.

Otot: “Pwegel, ck!”

Emosi: “Iya, kayaknya kita terlalu capek. Ngurus Nak Kicil, beres-beres rumah, keluar masuk terima paket, naik-turun antar logistik isoman, cari-cari obat & multivitamin, .. Ditambah lagi ini RS Kartika kok ya nyodok aja, nggak keluar surat hasilnya. Jadi nggak bisa lapor ke Puskesmas karena nggak ada buktinya. Sudah nggak dapat support obat dari Puskesmas, multivitamin online juga susah. Kalaupun ada harganya nggak murah.”

Otot: “Bah bah wes, sikat!”

Emosi: “Heh! Duit moyang mu ta! Ini lho kalau online semua harus bayar sendiri.”

Otot: “Daripada daripada wes.”

Emosi: “Duh Gusti. Ya wes. Ntar kalau sehat kamu kerja yang bener, cari duit lagi ya. Awas kamu kalau mati, nggak balik modal aku!”

Kata Dokter

Sejak kabar Pak Suam positif beredar, tidak sedikit kawan dan saudara yang berbondong-bondong tanya ini itu, menawarkan dan menyarankan ina-inu.

“Kata dokter aku minum Avigan aja, tiga hari sembuh. Satu tablet 3 jutaan, tapi worth it kok.”

“Hirup uap Minyak Kayu Ciplukan deh. Itu si Pengacara Kondang jadi cepet keluar RS.”

“Rumah sama kamar diuap pakai Bulus Oil gih, biar virus-virusnya mati.”

“Pake obat Cina Liang Luahat, nggak akan sesek napas.”

“Jangan minum Liang Luuhut, percuma itu nggak ada manfaatnya. Nggak ngefek.”

Ini belum termasuk broadcast tautan-tautan bantuan yang tidak membantu. Bantuan obat isoman gratis, ternyata cuma KTP DKI. Bantuan oksigen, ternyata penipuan. Bantuan info BOR RS, ternyata nggak update.

Kemunculan orang-orang yang tiba-tiba peduli bahkan bawel tidak pernah membantu apapun buat INTJ seperti saya. Biasanya yang gini ini nggak pernah merasakan COVID, jadi semua Ilmu Pengetahuan Broadcast yang ia serap dikeluarkan semua. Kalau disusun bisa jadi buku RPUL. Rangkuman Pengetahuan Uasal Luengkap

RPUL dan Sebuah Traktiran - Mojok.co

Di saat chaotic demikian, alangkah baiknya tanya alamat, lalu kirim apapun yang disarankan. Percuma kasih saran ini-itu, kalau carinya susah dan harganya nyusahin.

Lelah, saya buang HP. Fokus ngurus Nak Kicil, kura-kura, rumah, dan satu manusia di lantai atas tadi.

Nggak mungkin negatif

Begitu kata saraf cocoklogi saya. Saya coba ukur suhu badan pakai termometer digital Omron, 38,6. Thermo gun biadab.

Seketika itu juga saya langsung kontak atasan. Kebetulan selain berpengalaman rekreasi ke Bandung 20 kali, Beliau juga berpengalaman mengalami COVID Season 1. Pengalaman yang luar biasa untuk seorang ekspatriat. Terlebih dibanding saya yang nggak pernah ke Bandung.

Beliau orang pertama yang meyakinkan saya tertular COVID dari Pak Suam dan segera tes PCR.

Show must go on

Kamis 8 Juli 2021, akhirnya handover dan delegasi kerjaan-kerjaan. Tetapi ada satu pekerjaan yang tidak bisa didelegasikan: Presentasi laporan ke klien.

Saya nego klien untuk reschedule, nggak berhasil. Pemilik perusahaan terlanjur antusias hadir di presentasi yang sudah dijadwalkan keesokan paginya. Sementara itu Bahasa Indonesia atasan saya terbatas, jadi handover pun tidak membantu.

Jumat 9 Juli 2021, jam 07.43 Pak Bos menanyakan kabar. Bukan dengan how are you, tetapi “How are you feeling.”

Saya cek termometer digital, suhu badan malah menggelinjang di 38,9. Berkat ‘How are you feeling’, respon saya, “Masih demam dan batuk kering, Pak. Tapi saya bisa presentasi.”

“Thank you for your commitment. Just present slowly and take your time.”

Wah edaaann… Seketika itu juga saya semangat 45 suapin Nak Kicil, setel TV YouTube Kids, lalu urus yang di atas dan diri sendiri. Sesuap nasi, paracetamol + ibuprofen, gladhi resik tipis-tipis.

Alhamdulillah, presentasi berjalan lancar. Belakangan saya dengar rekaman suara saya presentasi lebih mirip orang baca surat wasiat daripada presentasi hasil riset. Ya sudah lah.

Begitu presentasi selesai, saya bungkus anak saya pakai baju panjang dan masker. Masuk mobil, drive thru PCR Swab.

Pelajaran

Pelajaran terbesar di proses permulaan ini adalah : BERSIAPLAH. Bersiap lebih mudah dibanding ‘menenangkan’ diri dengan menyangkal COVID tidak akan terjadi pada kita.

Tinggal di ibukota, suami WFO, dan mempekerjakan ART pulang-pergi dengan prokes ala kadarnya, COVID jadi perkara kocokan arisan saja. Saya tahu akan tiba waktunya giliran keluarga kami yang kena.

Kami tidak bisa menitipkan Nak Kicil karena semua keluarga dekat lebih sepuh, lebih beresiko. Titip ke ART pun nggak mungkin. Dia dan keluarganya menolak swab, apalagi vaksin.

Jadi, jauh-jauh hari saya sudah sedia:

  • Oxymeter
  • Disposable APD
  • Sarung tangan lateks dan plastik
  • Disinifektan spray, wipes, gel
  • Thermo gun (pengkhianat yang nggak berfaedah itu)

Semua ada di satu kotak yang mudah diakses, jangan diumpetin.

To do list yang sudah dicatat pun dijalankan satu per satu:

  1. Kontak RT dan Puskesmas
  2. Pasang tanda isoman di depan rumah
  3. Konsultasi dokter online
  4. Cari bantuan katering
  5. Maksimalkan multivitamin dan mineral di rumah
  6. Logistik (air mineral botol, memisahkan alat makan, dsb).

Waktu beli sih ditertawakan Pak Suam yang pasrah sama takdir. Tapi saya tahu, kalau salah satu dari kami kena, repotnya luar biasa. And I hate saying this when sht happens, “Ah elah! Tuh kan..”

L E L A H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s