Hidup Bodohku Diselamatkan Satu Buku

Begini buku tersebut dimula:

This story is about a lot of things, but mostly about idiots. So it needs saying from the outset that it’s always very easy to declare that other people are idiots, but only if you forget how idiotically difficult being human is.

“Ini cerita tentang banyak hal, tapi kebanyakan tentang orang-orang idiot. Jadi perlu dikatakan sejak awal bahwa sangat mudah untuk menyatakan bahwa orang lain adalah idiot, selalu, tetapi hanya jika kamu lupa betapa sulit dan idiotnya hidup menjadi manusia.”

Dicocoknya hidungku sejak kalimat pertama buku Anxious People. Intuisiku bilang, aku akan bertemu banyak kawan sesama manusia bodoh di buku ini.

Anxious People

KEBODOHAN #1

Berlatar di Stockholm Swedia, sang penulis membobardir kita dengan tokoh-tokoh bodoh. Bankir bodoh. Psikolog bodoh. Milyuner bodoh. Badut bodoh. Makelar bodoh.

Yang berpasangan pun tak kalah bodoh. Ayah-anak bodoh. Suami-istri bodoh. Pasangan lesbian bodoh. Cilakanya, semua tokoh bodoh ini terperangkap dalam satu situasi bodoh: perampokan bank yang gagal dan berakhir dengan penyekapan.

Kalau kau tersinggung dengan banyaknya kata ‘bodoh’ di sini, kau harus tahu betapa bodohnya situasi mereka.

Perampok bank yang bodoh itu merampok bank tanpa tunai. Swedia memang negara pertama yang menerapkan cashless society, di mana hanya 13% penduduknya yang masih menggunakan uang tunai.

Malu atas kegagalannya, perampok bodoh itu kabur ke apartemen seberang bank dan menyekap sekumpulan orang yang sedang viewing (mensurvei kondisi properti yang akan dibeli dengan arahan makelar properti).

KEBODOHAN #2

Singkat cerita, perampok bodoh itu melepaskan tawanannya. Dua polisi bodoh yang juga ayah dan anak menginterogasi mereka.

Aku bukan sembarangan memanggil polisi-polisi itu bodoh. Berjam-jam interogasi, mereka gagal memperoleh informasi ke mana perginya Perampok Bodoh.

KEBODOHAN #3

Dua polisi bodoh dan negotiator terbaik di Swedia berjanji akan memberikan apapun sepanjang para tawanan sehat, tidak kelaparan, dan tidak disakiti.

Apa yang mereka minta? Uang tebusan? Bukan! Mereka minta PIZZA! Masing-masing tawanan hanya minta pizza sesuai selera mereka. Perkara pilihan pizza saja dituturkan Fredrik Backman secara dramatis dan bodoh, namun berkesan. Beberapa blogger bahkan secara khusus mereplikasi pizza-pizza tersebut:


Sampai sini apakah kamu bisa membayangkan betapa bodohnya cerita dalam buku ini?

YANG TIDAK IKUT BODOH

Meski demikian, sesungguhnya Fredrik Backman jenius sekali. Hanya dia yang tidak bodoh di sini. Ia membiarkan hasrat ingin ngegoblok-goblokin tokoh-tokohnya bercampur dengan rasa hangat karena pemikiran-pemikiran bijak tanpa menggurui.

Dengan formulasi narasi komedi satir dan segala kebijakan yang Fredrik oleskan di setiap lapis cerita, tak heran buku ini masuk nominasi Goodreads Choice Awards 2020 kategori Fiksi. Dia hanya kalah 3 suara dari juaranya The Midnight Library oleh Matt Haig. Adalah percakapan di Twitter antara kedua penulis yang tak kalah bodoh tentang kekonyolan tersebut. Akan ku ceritakan lain waktu.

BUKU ANXIOUS PEOPLE MENYELAMATKAN HIDUPKU

Ketika kamu mulai membaca Anxious People, mungkin akan terasa penuh dan berantakan karena banyaknya karakter. Namun aku yakin kamu akan terus membacanya karena kata-kata bijak nan konyol terus mengikatmu hingga bagian akhir.

Anxious People sesungguhnya lebih dari sekedar buku drama komedi. Ia menawarkan kisah yang lebih besar: Kisahmu sendiri andai kamu tidak bunuh diri. Kisah keluarga, kawan, bahkan orang yang berpapasan denganmu.

Ketika kamu bunuh diri, kisah hidupmu selesai. Namun tidak dengan orang-orang di sekitarmu. Karena sesungguhnya menjadi manusia memang tidak mudah. Bahkan bagi manusia yang terlahir dengan segala kemudahan yang kau tak punya.

Aku menemukan buku ini di beranda Goodreads tepat saat pikiran mengakhiri hidup numpang lewat. Dia memang kerap datang dan pergi sejak aku SMA. Tenang saja, aku punya psikolog yang membantu dan relawan Samaritans yang mendengarkan.

Aku tidak tahu apakah buku ini sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia atau belum. Namun aku akan menerjemahkan beberapa kutipan favoritku di lain post.

JANGAN LUPA SELAMATKAN HIDUPMU

Kalau kamu menghadapi situasi yang sama denganku, merasa hidup begitu rumit dan sulit, bicaralah. Carilah bantuan. Bertemulah dengan psikolog. Setiap RSUD punya klinik psikologi. BPJS Kesehatan menanggung biayanya.

Kamu hanya perlu cek jadwal psikolog di RSUD terdekat, lalu mintalah rekomendasi dari puskesmas/Faskes 1 sesuai catatan BPSJ kamu.

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kalau pernapasanmu sedang tidak baik, temui dokter spesialis paru-paru atau THT. Pun ketika kesehatan mentalmu sedang tidak baik.

Kalau kamu kesulitan bertemu psikolog di dekatmu, kamu bisa berkonsultasi secara online dengan para psikolog di Halodoc juga. Setidaknya mereka tersedia kapanpun kamu perlukan, tanpa menunggu jam buka Rumah Sakit.

Kamu tahu cara lain bertemu psikolog? Atau punya pengalaman dengan kesehatan mental? Share di kolom komentar ya. Mungkin satu komentar kamu menyelamatkan satu nyawa.

Satu tanggapan untuk “Hidup Bodohku Diselamatkan Satu Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s