Tembok Ngayal

Tembok Imajinasi

Para pakar parenting pasti gemes banget lihat tembok rumah kami ini. Coretan di mana-mana, bikin rumah terkesan kumuh. Jujur, tembok-tembok ini justru bagian rumah yang paling aku suka dari rumah ini.

Kalau lihat tembok ini, aku melihat bagaimana anakku tumbuh. Waktu dia masih belajar duduk, coret-coretnya sekedar garis-garis tajam ke kanan-kiri atau atas-bawah. Coretannya panjang dan tajam, seperti garis pelampiasan lengan yang sedang belajar mengontrol tangannya sendiri. Di usia ini dia belum tahu bedanya merah dan jingga. Yang penting cerah saja. Coretan ini yang banyak dilihat di paling bawah.

Usia 1-2 tahun setelah dia bisa berdiri, belajar pegang krayon, coretannya masih random. Masih tajam, namun tak seliar coretan di bawah. Dia sudah tahu perbedaan warna. Sudah tahu merah seperti apel, hijau seperti daun, dan sebagainya. Dia belum bisa meniru bentuk benda-benda yang ditangkap matanya. Tapi sudah bisa diajak mewarnai. Jadi biasanya saya cetak gambar hitam-putih, dia warnai sesukanya. Warnanya masih bleber-bleber melewati garis, tentunya..

Usia 2,5 – 3 tahun, dia mulai bisa diajak bicara dua arah. Cenderung ngecipris. Segala ditanya, segala di-probing.

Suatu hari ayahnya menggambar pesawat di dinding ruang tamu. Gambarnya membentang setengah meter dengan tiga warna: merah untuk moncong pesawat, badannya kuning, dan ekornya biru. Anakku suka bilang itu pesawat Indomaret.

Di usia ini, Corona mulai merebak di Indonesia. Praktis kami jarang piknik, nggak naik kendaraan umum lagi. Seringkali dia ngedrel minta naik pesawat. Dia mau terbang. Berhubung pandemi betah banget di mari ya Kak, kita ajak dia naik gambar pesawat aja. Dan dia happy sekali. Lihat dia happy naik gambar pesawat itu priceless!

Belakangan dia sudah mulai paham konsep bentuk. Imajinasinya mulai terbentuk dengan konsep yang lebih matang. Dari mana aku tahu? Dia suka gambar kendaraan sambil cerita.

Foto di atas adalah gambar situasi jalan-jalan versinya.

Aku lagi bikin perahu polisi. Sirenenya kayak firework. Booo! Booo! Ini Mommy di depan nyetir perahu polisi. Ini buat duduk aku sama Ayah di belakang, lalu kita terbang..

Tentu aku probing donk, kenapa perahu terbang..

Kan jalannya macet, lalu ada earthquake, lalu tsunami tinggiiii sekali, lalu kita terbang.

Ya wes lah, lanjut Bro!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s