Tahun yang buruk?

Photo by Yaroslav Danylchenko on Pexels.com

Barangkali keenggananku menulis Resolusi 2020 di buku harian tahun lalu adalah sebuah pertanda. Pertanda bahwa resolusi 2020 yang tercapai hanya bertahan dan beradaptasi.

Bagi banyak orang, 2020 begitu buruk. Pertumbuhan ekonomi minus, pertumbuhan virus malah surplus.

Para analis memprediksi situasi Indonesia di 2021 tidak akan lebih baik. Virus tak keurus, kalah cepat dengan diketuknya palu Omnibus.

Mudah sekali menghitung kecacatan 2020. Diawali dengan banjir besar, lalu banjir kabar duka. Hampir setiap pekan setidaknya 4, 5 kabar duka melintas di lini masa. Tak peduli tua dan muda, miskin dan kaya, semua golongan terima jatah Corona.

Apakah tahun 2020 begitu buruk?

Atas nama positive vibe, aku mencoba merunut hal-hal baik di 2020 ini.


Aroid melejit

Halaman depan lebih terurus, walaupun belum bisa dibilang bagus. Setidaknya ada kehidupan baru dengan hadirnya daun-daunan Aroid dan sepasang kura-kura Ambon.

Tanaman-tanaman Aroid yang kerap dibuang Ibu karena tumbuh terlalu cepat, ternyata harganya selangit. Lebih mahal dari sekilo daging ikan salmon yang ku idolakan.

Kura-kura

Sepasang kura-kura Ambon yang ku adopsi, ternyata lucu sekali. Begitu matahari menjelang, mereka keliling taman cari makanan. Ketika aku keluar bawa pepaya atau udang, mereka masuk ke dalam batok. Mereka lalu keluar lagi setelah aku pergi, dan bergegas menghampiri makanan-makanan gratis.

Iya, gratis. Karena tak seperti kucing atau anjing, mereka tak menunjukkan kemanjaan yang bikin manusia jatuh cinta. Setelah selesai makan, mereka kembali ke pojok andalan, gali tanah, lalu tidur. Tidur sampai mereka lapar lagi.

Iri sekali aku lihat mereka. Mungkin kalau reinkarnasi itu ada, aku mau jadi kura-kura. Tidak perlu dilatih, tidak berisik, kerjanya cuma makan, tidur, lalu kawin tiap Desember.

19 Buku di 2020

Lebih buruk dari capaian 2019.

Goodreads Challenge 2019 vs 2020 (Geser <> untuk membandingkan)

Padahal waktu di rumah jauh lebih banyak.

Awalnya aku gusar pada diri sendiri. Tapi baru aku sadari, ternyata aku terbiasa membaca di KRL atau di MRT.

Sejak PSBB, aku tidak naik kereta sama sekali. Padahal belum reda histeriaku dengan pojok baca di stasiun KRL dan MRT, virus itu datang menyapa. Aku tak lagi commute berkereta. Aku tak punya banyak waktu membaca. Di rumah ya bekerja, pagi, siang, malam, pagi lagi.

Eh, atau cuma aku yang merasa jam kerja WFH lebih panjang dari kerja di kantor?

Setelah menyadari yang hilang dari waktu membaca, aku merasa 19 buku setahun tidak terlalu buruk. Ya, kan?

Corona drives me driving

Karena tak berani ambil risiko berkereta dan naik ojol, akhirnya aku terpaksa berburu SIM A. Meski ke kantor masih bonceng motor, setidaknya aku masih bisa antar-jemput Nak Kicil saat motor tidak di rumah.

Selain itu, sejak menyetir mobil sendiri, hafalanku tentang jalur tol sedikit lebih baik. Siapapun yang pernah mengantarku pulang lewat tol pasti tahu, betapa buruknya pemahamanku tentang jalan tol.

Selain itu, aku menemukan ketenangan tersendiri ketika di dalam mobil sendiri. Biasanya usai mengantar Nak Kicil ke daycare, aku melaju ke drive through kedai kopi dekat rumah, lalu parkir di depannya. Masih di dalam mobil, menyesap perlahan Dark Mocha Frappucinno extra affogato espresso, dengan lagu menghentak dari CD player, nyanyi dan teriak, nikmat sekali.

Clear record

Menurut buku rekam medis rumah sakit langganan keluarga, tidak satupun dari kami mengunjungi rumah sakit tahun ini. Sebuah prestasi, karena Nak Kicil langganan poli anak hampir di setiap pancaroba. Ya pilek, ya virus ini-itu, ada saja yang membuat kami membawanya ke rumah sakit.

Aku tarik mundur, aku dan Pak Suam sudah tidak naik KRL, sumber segala virus mavirus. Pulang dari luar, langsung ganti baju, cuci tangan, mandi bila perlu. Plus, aku minum vitamin B-Complex demi menjaga kewarasan jiwa dan raga. Barangkali disiplin kebersihan dan kesehatan inilah yang menjaga rekam medis kami tahun ini bersih.

Go-Food demi mood

Sebetulnya aku cukup sering memasak. Tapi hanya untuk diri sendiri, stir-fry sederhana, jarang ku bagikan ke siapapun, walaupun hanya gambar.

Namun lebih sering aku tak punya waktu, dan mood butuh didongkrak dengan yang enak-enak. Lebih dari sekedar stir fry. Mungkin dengan sambal terpedas se-Kota Patriot, dan kopi manis pelontar mood.

Apa baiknya pesan Go-Food terus? Untuk makan siang, aku memesan dari warung-warung baru. Hipotesisnya, mereka baru buka karena pandemi. Aku pesan 2, satu untukku, satu untuk driver.

Sebaris terima kasih sudah cukup mendongkrak mood sepanjang hari. 🙂

Banjir

Tahun 2020 dibuka dengan hujan besar yang menyebabkan banjir di berbagai titik ibukota. Jabodetabek lumpuh seketika. Gubernur baru jadi kambing hitamnya, seolah mengabaikan fakta sampah-sampah penyumbat aliran air, dan polusi udara penyebab anomali cuaca lahir dari kita.

Malam tahun baru 2021, hujan besar turun lagi. Ketika ku tulis ini di hari pertama 2021, aku tidak mendengar kabar banjir. Rasanya hampir tidak ada berita banjir besar selama pandemi.

Apakah karena gubernur? Tidak juga. Banjir dan tidak banjir, yang ku yakini, karena karma baik kita sendiri. Tahun ini kita berbuat baik pada alam dengan tidak bepergian. Tidak banyak asap knalpot dan karbon avtur mengudara di gulunganmega. Langit Jakarta pun konon tidak lagi abu-abu. Terima kasih, kamu.. 🙂


Tahun 2020 memang bukan tahun terbaik, namun sesungguhnya tidak terlalu buruk, bukan?

Hey 2020, kamu seperti guru bahasa Inggris yang galak itu. Iya, kamu galak sekali bikin kami kesal. Namun belakangan kami tahu, kamu galak karena kamu ingin kami menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi manusia yang tak sungkan menajamkan indera, belajar dari semesta. Terima kasih, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s