Mengatasi Kesedihan dan Kehilangan

I have just lost my pet. I am so stupid and I know it.

Mengatasi kesedihan dan kehilangan bukan perkara mudah buatku. Aku dibesarkan dengan ekpektasi sangat tinggi sehingga mengekspresikan emosi sedih itu tabu. Kesedihan hanya untuk yang lemah.

Ketika pintu kamar ditutup, musik menyala, menutup huru-hara di kepala.

Why this happen to me?

Why am I so stupid?

I shouldn’t do such stupid things…

Psikolog Pertama

Aku mulai belajar tentang kesehatan mental terutama mengatasi kesedihan, kehilangan, dan rasa marah saat kuliah di Surabaya. Aku mengunjungi Poli Psikologi ITS Medical Center. Terapis pertamaku Bu Qory namanya. Semoga Beliau sehat wal afiat sekarang, karena Beliau orang pertama yang memvalidasi segala emosi negatif yang ada di kepalaku waktu itu.

Pertama kali melangkahkan kaki ke poli psikologi tentu tidak mudah. Takut ketahuan orang lain dan dibilang orang gila. Takut ternyata bayarnya mahal juga.

Bu Qory menyambutku dengan memperkenalkan diri dan mengedukasi bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Beliau juga menjelaskan apa itu psikologi, psikolog, dan bagaimana seorang psikolog melakukan pekerjaannya.

“Saya tidak akan mencatat yang Tika ceritakan. Saya tidak merekam. Tika bisa cerita apapun. Apa yang Tika ceritakan di sini, akan tetap di sini,” aku selalu ingat line yang meruntuhkan tembok ketakutan dan gengsi ini. Line yang membuat langkahku ke poli psikologi lebih ringan.

Sekitar 2,5 jam aku di ruangan Bu Qory. I was like a wounded wolf, seriously injured but trying so hard to stand up and run.

Aku keluar dari ruangan Beliau sebagai Tika yang baru. I wasn’t a wolf anymore. Maybe more of a stray dog. I am fully aware that I have weakness, I was wounded so bad, but I could make peace with all of it.

Samaritans Pertama

Sejak bertemu Bu Qory, aku tidak canggung mengunjungi poli psikologi. Setiap pindah ke tempat baru, aku selalu cek di mana poli psikologi terdekat.

Ketika pindah ke UK, poli psikologinya mahal banget banget banget. Bikin janji bertemu paling cepat seminggu.

Untungnya aku punya teman dekat yang enak diajak curhat. Sebut saja namanya Murphy. Aku sering menginap di rumahnya untuk cerita banyak hal. Sampai ada satu titik kami sama-sama kesulitan mengatasi emosi kami dan datang ke Samaritans. Tentu kami datang masing-masing.

Aku naik bis sendirian ke Samaritans terdekat. Di bis aku membayangkan bagaimana orang asli Inggris akan memandangku lemah. aku takut diperlakukan berbeda karena aku orang Asia, berjilbab pula. Ras yang sangat tidak populer bagi penduduk asli Inggris di masa referendum Brexit saat itu. Tapi toh ini negeri asing, aku mencoba untuk tidak peduli.

Seorang nenek tua membukakan pintu rumah tua di 11 College Pl. untukku. Badannya tidak lebih tinggi dari aku, tapi gempal seperti nenekku. Rambut pirangnya sudah memutih sebagian. Dia agak bingung dengan kedatanganku, mungkin karena jarang sekali orang berjilbab datang ke Samaritans karena asosiasinya dengan Yahudi.

Sorry, maybe you’re confused to see me here, but I need your help.” Nenek itu langsung tersenyum dan mengajakku masuk ke sebuah ruangan 3×4 yang hanya diisi dua sofa one-seater.

Di ruangan itulah kemudian segala emosi tertumpahkan. Tisu yang aku bawa ludes di lima menit pertama. I was like a failed dam causing property flooding. She was like a big reservoir, handling the uncontrolled releases to prevent worse damage. Sebelum pulang, aku minta dipeluk dan menangis sejadinya.

Samaritans adalah badan amal yang bertujuan memberikan dukungan emosional kepada siapa pun yang mengalami tekanan emosional, berjuang untuk mengatasi emosi, atau berisiko bunuh diri di Inggris Raya dan Irlandia.

Samaritans bukan klinik psikologi. Ia tidak punya pengalaman medis untuk mendiagnosa atau memberi masukan. Samaritans digerakkan oleh relawan. Para relawan ini dilatih bagaimana membantu orang lain mengatasi emosinya, sekaligus bagaimana supaya relawan tersebut tidak terbawa emosi. Murphy adalah salah satu relawan Samaritans. Tak heran dia pendengar yang sangat baik.

Merespon Kesedihan dan Kehilangan

Ketika menemukan hewan peliharaan kesayanganku mati, reaksi tubuh pertama adalah shaking, keringat dingin, dan lemas.

Aku menghubungi keluarga dekat, jawabnya, “Ya udah, beli lagi aja.”

I was like, “Seriously?!”

Aku ingat kata teman Samaritansku. Tidak semua orang tahu cara menolong orang lain mengatasi kesedihan dan kehilangan. Itulah kenapa curhat kadang melegakan, tapi tak jarang malah bikin cegek.

Kalau kamu punya teman, keluarga yang bisa jadi pendengar yang baik, jagalah. Orang seperti itu tidak banyak.

Kalau nggak punya, nggak apa-apa. Bukan berarti nggak ada yang peduli sama kamu. Aku yakin banyak telinga yang menyediakan diri buatmu, tapi tidak semua kepala tahu cara mencerna luapan emosimu.

“Oh noooo.. I am very sorry for the loss of your baby, dear. I hope you find peace. Your intentions were very good. You wanted a better place for your baby.”

Oh I do love Murphy! Dia selalu tahu jawaban seperti apa yang dibutuhkan orang yang bersedih.

Berikut cheat-sheet yang bisa dipakai ketika temanmu sedih atau kehilangan:

  • “Kalau cerita bikin kamu lega, ngobrol yuk? Tapi kalau enggak juga enggak apa-apa.”
  • “Aku ikut berduka dengernya.” >> template buat di grup WA.
  • “Gimana perasaan kamu sekarang? Aku juga sedih banget waktu anjingku mati, kayak hancur banget rasanya.” >> Titik ya.. Punya teman yang pernah mengalami kesedihan yang sama itu sedikit melegakan, tapi bukan berarti kamu “tahu” apa yang sedang dia rasakan. Jadi mending jangan panjang-panjang ceritanya. Hehe..
  • “Maaf, aku nggak ngerti harus bilang apa. Tapi kamu mungkin perlu tahu, aku peduli sama kamu.” >> Ini trik aku yang lebih sering awkward kalau dicurhatin.
  • “Aku bisa bantu apa? Mau aku bantu kuburin anjing kamu?” >> Yes, offer your support, babe!
  • “Kamu mau aku temenin jalan-jalan bentar? Nggak bisa ngilangin rasa kehilangannya sih, tapi mungkin bisa ngurangin rasa sedihnya dikit?”

Dan berikut adalah DAFTAR MERAH yang haram dikatakan ketika temanmu berduka:

  • “Sudah takdir-Nya. Diikhlaskan aja.” >> Jangan sampai gara-gara kamu dia jadi benci Tuhan yaa..
  • “Coba diingat-ingat lagi mungkin ada sedekah yang belum dikeluarkan.” >> I know you love your God, but please keep it for yourself. Kalimat ini justru memperkeruh situasi, menempatkan teman kamu sebagai seorang pendosa yang layak dihukum dengan kehilangan.
  • “Untung…” >> jelas-jelas lagi sedih, masih bisa bilang untung.
  • “Disyukuri aja kamu masih punya 5 anjing lain yang masih hidup.”
  • “Udah lah, itu udah lewat. Sekarang waktunya kamu melanjutkan hidup.” >> Terdengar encouraging, but nope!
  • “Kamu harusnya…” >> Easier said than done, babe. You’d better shut up and drive.
  • “Kenapa mati? Kamu apain?” >> Please ya, Anda teman atau polisi interogasi?

Meminta bantuan psikolog profesional tidak membuatmu lemah. Justru kamu orang yang kuat, berani. Kamu tahu dengan kesadaran penuh apa yang terjadi di diri kamu, dan kamu kuat mengumpulkan segala daya demi mendapat pertolongan.

Luka batin, sama seperti luka badan, bisa sembuh. Ada yang sembuh dengan waktu, ada yang tidak. Yang sembuh pun, kadang menimbulkan bekas luka. Dan luka masing-masing orang yang membuat kita semua berbeda.

Selamat Hari Kesehatan Mental Dunia. It’s okay to not be okay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s