dsc07886_fotor

Review Buku Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah

Judul: Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah
Penulis: Adhitya Mulya
Terbit: Desember 2016
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 340 halaman

Bajak Laut & Purnama Terakhir intinya bercerita tentang usaha merebut keris pusaka. Yang terlibat dalam perebutan ini adalah VOC yang diwakili Admiral Speelman, bajak laut pimpinan Jaka Kelana, dan tiga Arya terakhir.

Dalam buku ini, dikisahkan Admiral Speelman seorang petinggi VOC yang tertarik dengan benda-benda pusaka. Ketertarikannya terhadap keris muncul setelah menemukan jurnal kuno di Bandar Semarang yang kemudian diterjemahkan oleh arkeolog Meneer Albert dibantu budak Jawanya, Tahjono.

Sementara itu adalah tiga arya terakhir yang mewarisi tugas leluhurnya mengembalikan 10 keris pusaka kepada pemiliknya. Keris yang diperbincangkan adalah keris kesembilan dan kesepuluh. Petualangan tiga arya ini mirip Songoku mencari bola naga lah. Hehe..

Karakter berikutnya yang menjadi sentral cerita ini adalah Jaka Kelana, bajak laut dengan kapal Kerapu Merah yang selalu merasa sebagai titisan Dewa Ganteng.

Adhitya Mulya memberikan porsi sejarah yang cukup banyak tentang Admiral Speelman hingga ia tertarik keris pusaka. Ia pun banyak menuturkan bagaimana VOC sebagai perusahaan dagang swasta pertama dunia tertarik pada Indonesia. Sejarah kerajaan-kerajaan juga dituturkan secara detail namun apik untuk memaparkan asal-usul Rusa Arang, Bara, dan Galuh, tiga Arya terakhir. Ia menggunakan sejarah kerajaan Singasari, Kediri, dan Majapahit untuk membangun cerita tentang arya. Latar belakang sejarah yang sama digunakan untuk menuturkan asal-usul keris pusaka.

Bajak Laut Kerapu Merah pimpinan Jaka Kelana barangkali yang memiliki porsi sejarah paling sedikit namun sarat akan komedi. Bagaimana tidak, bajak laut yang semestinya ditakuti justru digambarkan konyol, mempercayai Dewa Ganteng, dan memiliki awak kapal yang tingkat intelegensinya nggak lebih baik dari tukang jamu.

Kepiawaian Adhitya Mulya dalam meramu komedi dengan genre lain dalam sebuah tulisan semakin canggih. Ibarat masakan, komedi seperti garam di setiap masakannya. Bajak Laut & Purnama Terakhir ini adalah masakannya yang paling pas. Dibanding novel best seller Sabtu Bersama Ayah yang guyonannya seringkali muncul di situasi yang nggak pas, Adhitya menempatkan komedi sesuai porsinya. Tidak terlalu maksa seperti Gege Mencari Cinta, atau berlebihan seperti novel pertamanya Jomblo.

Meskipun separuh bagian awal penceritaannya berjalan lambat, tapi saya tetap bertahan menyimak setiap kata bahkan catatan kakinya berkat kemahiran AM menjaga detail sejarah dan komedi silih berganti. Karakter-karakter dalam novel ini pun sangat kuat sejak awal cerita hingga akhir, namun tidak saling menghilangkan. Oleh karena itu Bajak Laut & Purnama Terakhir layak menjadi satu-satunya buku yang saya ganjar 5 bintang dalam 2 bulan terakhir!

✭✭✭✭✭

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s