Karena fotografi yang memanusiakan yang bikin baper

phumeza-2
Phumeza Tisile, 23 tahun, di rumahnya di Khayelitsha, Afrika Selatan 16 Agustus 2013. Photo: Sydelle Willow Smith

“Waktu pertama kali aku sampai Karl Bremer, aku yakin mereka pikir aku mati karena aku ingat aku berada di ruang gelap tidak dengan siapapun di sana — cuma aku. Sendiri. Dalam gelap.”

Itulah penggalan blog post Phumeza berjudul The Long and Painful Moments. Phumeza adalah cewek Afrika Selatan yang menderita XDR-TB, Extensively Drug Resistent TB. Kata Mbah Google, ini adalah jenis tuberculosis yang kebal dengan segala jenis obat-obatan TB akibat diagnosis yang terlambat atau terlalu lama. Perlengkapan diagnosis TB di Afrika Selatan memang jarang bahkan hampir enggak ada saat itu.

Dari hasil stalking blog Phumeza, cewek berambut gimbal ini mulai ditangani organisasi kemanusiaan medis internasional MSF atau Dokter Lintas Batas pada Oktober 2011. Usianya saat itu 20 tahun. Seharusnya dia sudah menjadi mahasiswi semester dua di Cape Peninsula University of Technology. Karena fisiknya terlalu lemah, sementara dokter sekitarnya hanya tahu Panadol dan sirup obat batuk, dia nggak bisa melanjutkan kuliah.

Kalau kamu mengikuti blognya, kebayang betapa panjang dan menderitanya perjuangan Phumeza untuk sembuh dari XDR-TB. Dalam sehari, dia harus menelan ‘little bastards’ yaitu 20 tablet obat-obatan dan disuntik 4 kali. Mau nggak mau, Phumeza pun harus menerima efek sampingnya: tunarungu permanen. Depresi? Pasti. Apalagi teman-teman seusianya lagi seru-serunya kuliah, jadi anak gaul di kampus, sementara dia cuma berteman sesama penderita TB di Pusat Perawatan TB Lizo Nobanda. Beruntungnya, tim MSF nggak hanya mengobati penyakitnya tetapi juga membesarkan hati Phumeza. “MIRACLES DO HAPPEN”, tulis Phumeza setiap kali menerima kabar buruk dari dokter.

Miracles happened to Phumeza. Tanggal 16 Agustus 2013 ia dinyatakan sembuh. Tim MSF membuat perayaan kecil di Pusat Perawatan TB Lizo Nobanda.

Dokumenter fotografer sekaligus filmmaker Sydelle Willow Smith mengabadikan perayaan tersebut dengan sangat apik. Beberapa jejak visualnya bisa disaksikan di blog Phumeza ini. Namun karya unggulannya hanya bisa dinikmati di pameran foto yang digelar MSF, termasuk “No Borders”:
Tanggal : 8-18 Desember 2016
Waktu : 11:00 – 21:00
Tempat : Mal Grand Indonesia, West Mall, Lantai 5, Exhibition Hall 

Buat yang jiwa fotografinya sampai ke sum-sum tulang, aku rekomendasiin banget ikutan talkshow Photography for Humanity tanggal 18 Desember jam 4 sore. Di sana akan ada Beawiharta dan Paula Bronstein.

Nggak kenal Beawiharta? Kalau foto ini tahu donk?

e9hyhkarfzddv_jlzuts6lqigo56nwbgnz-mqav28oosngdwhopj9brf6r8lf4yhn70imrho938k5vtisik-vg
Pelajar ‘menyeberangi’ jembatan di Desa Sanghian Tanjung Kabupaten Lebak, Banten

Tahun 2004, Beawiharta ditugaskan meliput Aceh pasca tsunami. Tugas tersebut sukses membuat Beawiharta baper berat.

“Meliput tsunami Asia di 2004 meninggalkan bekas terbesar bagiku. Bencana tersebut adalah yang terbesar yang pernah aku liput, dan kehancuran masal di Banda Aceh membuatku sakit hati. Ada banyak sekali cerita sedih di sana, dan sampai bertahun-tahun kemudian cerita itu masih membuat aku menangis waktu aku sendirian. Aku bekerjasama dengan organisasi kemanusiaan untuk membantu orang-orang dan meminimalkan rasa bersalahku.” Beawiharta tak canggung menuangkan pengalaman emosionalnya ini di halaman profilnya untuk Reuters.

Kalau Paula Bronstein.. Dia juga wartawan foto, tapi sangat SANGAT senior terutama masalah fotografi kemanusiaan. Foto-fotonya langganan juara di kontes foto internasional seperti The Pulitzer, Pictures of The Year International, dan The National Press Photographer’s Association. Kalau kamu kepo album portofolionya di paulaphoto.com, kamu tahu apa yang aku maksud ‘sangat SANGAT senior’ di sini.

Stalking portofolionya aja udah sukses bikin aku baper, apalagi nanti dengar ceritanya di talkshow “No Borders”. Jadi makin penasaran. O ya, info lebih lanjut tentang Pameran Foto Dokter Lintas Batas “No Borders” ada di msf-seasia.org/indonesia.

15194554_10153984519966674_8169878666119079035_o

Sampai ketemu di “No Borders” deh yah! Aku mau lanjut baper dulu!


PS: Bagi yang berencana datang bersama keluarga dan anak, disediakan relawan yang akan menjadi guide untuk menjelaskan ke anak-anak. Silahkan email Mbak Fitria di fitriasudirman@gmail.com terlebih dahulu supaya disiapkan relawannya.

Iklan

2 pemikiran pada “Karena fotografi yang memanusiakan yang bikin baper

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s