Kaya Mendadak 4

“Kita ke Bogor naik KRL ya?”

“Ok!”

Di sinilah petualanganku membawa dua orang asing di moda transportasi paling menguras emosi sejagat raya bermula. Di hari-hari biasa, perasaan dan rasa manusiawi harus dibuang jauh-jauh demi mendapatkan sejengkal ruang untuk berdiri di KRL. Modal bismillah, aku beranikan diri ajak Susan dan Astrid naik KRL biar mereka tahu Jakarta yang sesungguhnya.

Tentu saja mereka nggak aku bawa di jam sibuk. Nggak lucu kalau keesokan harinya mereka jadi headline koran Lampu Merah PAGI-PAGI DUA BULE DIGENCET IBU-IBU KRL SAMPE NGGAK BISA NAPAS NGGAK BISA GERAK GARA-GARA KALAH KECE. Dengan penuh kesadaran, aku puter-puterin dulu lihat masjid Istiqlal, Monas, dan sebagainya supaya kami sampai di stasiun jam 11 siang.

Asumsiku, nggak banyak orang ke Bogor dari Jakarta jam 11 siang. Pertama, itu bukan rute orang kantor. Kedua, bukan jam sibuk. Jadi wajar donk kalau aku berasumsi KRL bakal sepi.

Tapi ternyata dugaan saya salah, saudara-saudara! KRL tetep rame. Walaupun nggak penuh sesak, tapi semua bangku terisi penuh.

Seorang bapak berdiri. Kemudian ia mempersilahkan Susan duduk. Aku sama Astrid bengong saling bertukar pandang. Dunia sudah kebalik-balik kayaknya. Biasanya yang muda mempersilahkan yang tua, ini kebalikannya.

Nggak lama kemudian, ibu yang duduk di samping Susan berdiri. Beliau mempersilahkan Astrid duduk.

Sebentar. Nggak ada yang mempersilahkan aku duduk nih?

Baiklah.

“Kamu nggak papa berdiri, Tik?”

Duh, pake nanya lagi.

“Nggak papa kok, resiko naik KRL harus siap berdiri,” jawabku dengan senyuman terindah. Hmpf, dapet salam dari Basa-Basi.

Cawang, Pasar Minggu, Lenteng Agung, sampai stasiun UI aku masih tegar berdiri. Terpaksa tegar, lebih tepatnya. Tangan kanan ngegantung di handel, berharap nggak pingsan karena belum sarapan.

Bapak-bapak yang duduk di sisi lain Susan, entah tersambar petir dari mana, tanya ke aku dengan sopannya, “Masih kuat berdiri kan, Mbak?”.

Hastagah.. Wahai bumi dan semesta alam, tolong berhenti berputar sejenak. Aku mau tanya. Ini bapak maksudnya apa nanya gitu? Perhatian? Atau ngetes kesabaran? Perlu aku jawab?

Mana nih Bapak ternyata turunnya di Cilebut pula, cuma satu stasiun sebelum Bogor. Ah elah, orang Cilebut..

Sesampainya di Stasiun Bogor, seperti biasa, kami berhitung masalah keuangan.

“Tika, berapa Rupiah naik tube dari Central Jakarta ke sini?”

“Bolak-balik sepuluh ribu, kalau nggak salah. Jadi sekitar 50 pence (£0,5).”

“Ya ampun, murah banget! Aku jadi merasa kaya banget hidup di sini. Bandingin sama tube London, sekali jalan £3. Kayaknya aku bisa beli kereta ini. Kita tiap hari naik ini aja!”

Hm, tiap hari ya. Makasi lho..

14699444_10209421513748450_1594104698_o
Dari kanan: Astrid, Susan, dan ya si Bapak Cilebut itu!
Iklan

2 pemikiran pada “Kaya Mendadak 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s