Traveler Bawel

Booking pesawat

Barangkali saya adalah solo-traveler paling bawel dan demanding sekelurahan. Setiap kali mau jalan-jalan, harus memperhitungkan A-Z detail perjalanan, terutama masalah akomodasi dan makan. Apalagi kalau mau terbang, cek dulu:
  • waktu terbang, diselaraskan dengan arah terbit/tenggelam matahari,
  • posisi sayap,
  • ketinggian,
  • ramalan cuaca,
  • vektor arah terbang pesawat,
  • airport transit
baru pesan pesawat dan pasti tempat duduk dekat jendela demi memotret sunrise/sunset dan awan. Ribet? EMANG!! Demi wallpaper laptop! Hehehe…
 
Ini belum termasuk urusan mata uang dan bagasi. Saya lumayan rewel urusan mata uang saat beli tiket pesawat. Selain nilai tukar yang suka nggak rasional, saya selalu minta tagihan dalam Rupiah. Plus, seperti biasa, berat bagasi saya mepet-mepet batas atas. Makanya kemarin sebelum terbang sempat berkali-kali telpon beberapa airline, sebelum akhirnya memutuskan pakai Etihad.
Kelebihan bagasi
 
Check-in nggak pakai antri berkat fasilitas online check-in. Cuma boarding pas-nya ngeprint sendiri di kertas HVS. Pas baggage drop baru deg-degan karena saat ditimbang di rumah, salah satu koper beratnya sekitar 4,2kg melebihi kuota.
 
Dan ternyata betul. Si Bapak petugasnya ngelirik, “I gave you 46 kg, and that’s not enough?”*
 
Dengan kekuatan nyengir kuda dan tampang gue-tau-gue-salah, …
 
“I know, I’m so sorry Sir. I’ve been here studying for a year. I wanna take my dissertation and all of my books home because they costed me an arm and a leg. It’s less than 32kg, so hopefully I don’t have to upgrade my baggage allowance. Please?”**
 
Si Bapake senyum nahan ketawa, “Ok, but I mark this one as a heavy luggage.”***
Horaaaayy!! Saya beneran lompat jejingkrakan di depan meja baggage drop. Si Bapake ketawa ngakak.
 
Koper masuk, giliran hand-carry ditimbang. Waini! Tas pungung saya isinya laptop dan perkakasnya, sudah pasti berat. Duffel bag isinya buku dan catatan kuliah, lebih berat lagi (secara kg dan secara mental). Tapi si Bapake sekali lagi cuma senyum dan kasih 2 sticker tanpa lihat timbangan.
 
“Make your country great with your education!”
 
Sadeeeess!! Jangan-jangan nih operator bandara sebetulnya jelmaan Nelson Mandela?
 
Seat dipindah!
Perjalanan LHR-AUH alhamdulillah lancar sekaligus baper. Apalagi dihabiskan dengan nonton Me Before You yang menyuguhkan pemandangan Pembroke Castle, jadi makin berat meninggalkan Inggris.
Sampai di bandara kesayangan, Abu Dhabi, ternyata penuh sesak kayak terminal. Tapi tetap bersih, itulah kenapa saya suka bandara ini. Bermodal SKSD ke petugas kebersihan bandara, saya cari gate mana yang saat itu sepi. Akhirnya dapet gate tenang, dan nyaris ketiduran. Sekitar 10 menit sebelum boarding, pindah ke gate tujuan Jakarta, eh udah kosong! Hampir semua sudah baris antri masuk bis. Saya yang terakhir. Ketika boarding pass di-scan, nomer tempat duduk saya dicoret!
 
“Why you change my seat? I reserved over the phone to get that seat!”**** #ngomelModeON
 
“I’m sorry, Ma’am. This is from the system.”
 
“Tell to your system not to change my seat. I want to sit next to the window, and far from the wings.”
 
Nomer tempat duduk saya dicoret lagi, kali ini ke nomer yang lebih kecil.
 
“Your seat is upgraded to business class, Ma’am. It’s next to the window, and you will not see the wings from your seat. I hope it’s fine for you.”
 
Agak kesel karena harus pindah tempat duduk. Tapi kalau pindahnya ke business class, nggak protes juga sih. Hehehe…
 
Obrolan dengan pramugari
Penumpang business class itu kalem banget. Kentut aja samar-samar kedengeran kalau nggak pakai headset. Karena gatel pengen ngerumpi, saya beberapa kali melipir ke bilik pramugari cari temen ngobrol. Tentu saat mereka sedang nggak sibuk.

“Do you do cookies?”

“I do. I have chocolate cookies, some Fine England, and fine cheese. I’ll give them all to you.”

Maka keluarlah saya dari bilik dengan cengiran kegirangan dan tangan sibuk menampung setumpukan biskuit aneka rasa.

“Ben, may I have the Luxe HongKong amenities? My Mom would love them.”

“Sure! It’s a complimentary for you. Please let me know if you want other colour.”

Saat pesawat mendarat di Jakarta, saya yang terakhir turun karena tas saya disimpan di kabin pramugari. Jadi setelah semua turun, baru saya minta tas. Saat itulah Benjamin, Nicolas, dan seorang pramugari yang saya lupa namanya, ngobrol dengan bebas terutama tentang transition journey. Saya lebih banyak bertanya bagaimana beradaptasi di lingkungan baru yang mungkin tidak sesuai ekspektasi kita. Saya rasa para pramugari/a memang ahlinya, mengingat profesi yang mengharuskan mereka hidup dan beradaptasi di berbagai belahan dunia.

“Transition journey is definitely not easy, especially if you stay for a long time. But if you make the most of your beautiful education, do the best to the people in your country, you’ll see your journey is actually awesome.”

Haseeeekk!! Ini pramugara apa Mario Teguh?

Thank you for the amazing journey, Etihad Airways!
dsc06321

Iklan

Satu pemikiran pada “Traveler Bawel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s