Sayang

Aku yakin beberapa orang punya keterikatan emosional sama benda mati yang sulit dipahami.
Misal, aku sayang banget sama sepatu-sepatu boots. Ada yang beli di fashion retail semacam Primark atau M&S, ada juga dari UGG, merek Australia khusus alas kaki dari kulit domba asli. Memang nggak murah, belinya harus ngumpulin recehan honor sana-sini. Mau dibawa ke Indonesia, nggak bakal terpakai. Mengingat suhu dan keringatnya yang nggak santai. Bisa aja dijual, atau dikasih ke orang lain. Tapi kalau pemilik barunya bukan penyayang boots, rada nggak ikhlas juga. Iya nggak sih?
Rasanya cowok punya keterikatan yang lebih kuat sama kaos-kaos mereka. Aku kenal beberapa cowok yang suka banget pakai baju yang itu-itu aja. Udah disogok buat beli baju baru, eh baju yang udah busuk-busuk  itu masih dipakai juga. Misal nih, Pandji Pragiwaksono kalau lagi nggak tour dan nggak wardrobe-nya nggak disponsorin, dia demen banget pakai kaos Ali The Greatest warna abu-abu.

Ini screenshot dari salah satu video Pandji di vidio.com dan saat diskusi bersama relawan Kelas Negarawan Muda di Ciasem. Kata Pandji dia memang mengagumi sosok Ali ini.

Yang agak ekstrim tuh orang-orang yang nggak bisa lepas dari satu benda dari jaman bayi. Biasanya selimut, bantal bayi, atau kain-kain apalah gitu. Itu beneran dibawa kemana-mana. Bahkan ada yang nggak ikhlas tuh barang dicuci, biar noda bersejarahnya nggak ilang. Hahaha…

Eniwei, kamu punya nggak barang yang disayang banget? Trus, seberapa sayang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s