“Mau makan di mana?”

Sejak Bondan Winarno ‘maknyus’ di tivi, istilah Wisata Kuliner semakin populer di telinga orang Indonesia. Termasuk aku. Maka sebelum tidur aku dan Steven selalu merencanakan mau makan apa dan dimana besok.

Konon, menentukan tempat makan sama cowok jauh lebih sederhana dibanding cewek berkat kata ‘terserah’. Kalau kamu cowok, ngajak cewekmu makan, dan dia bilang ‘terserah’, kamu harus waspada man!

Masalahnya, untuk kasusku dan Steven, yang lebih sering terjadi justru sebaliknya. Dia lebih ribet urusan makan. Padahal dia mah makan babi digaremin juga boleh. Aku sempat singgung ini di post sebelumnya. Nah, keribetan macam ini kejadian lagi nih di Berlin. Demi memangkas budget jalan-jalan, kami tinggal di sebuah apartemen di Friedrichshain, sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Berlin.

Ternyata benar. Terlalu banyak tempat menarik di Friedrichshein sehingga aku dan Steven hampir selalu berdebat menentukan tempat makan.

Aku: Besok sarapan di mana nih?
Steven: Gue bebas aja sih.
Aku: Coba gue cek di TripAdvisor.. Ada yang enak-murah nih. Jamme Ja, Italian Street Food.
Steven: Italy? Ergh, no thanks!
Aku: Atau Schneeweis? Kayaknya tempatnya kece, kamera gue bisa ‘makan’ juga.
Steven: Mahal, Tik.
Aku: Kalau Funk You? Namanya elo banget nih. Dia jual smoothie sama veggie wrap.
Steven: Vegetarian? Eugh..
Aku: Tapi ini vegetarian enak, Steve. Murah, lagi.
Steven: Nggak, nggak, nggak. Vegetarian tetep vegetarian, rumput-rumput doank. Hwek!
Aku: Hadeeehh.. Cafe Crêperie Melt?
Steven: Pagi-pagi makan crêpes?
Aku: Iiiihh! Nih lo cari sendiri deh! (ngambek, lempar tablet ke muka Steven)

…. 35 tahun kemudian…
nggak denk,  cuma 5 menit kemudian..

Steven: Tik, gue udah menentukan pilihan! (penuh keyakinan ala-ala pemain Benteng Takeshi)
Aku: Ok. Di mana?
Steven: Kita sarapan di.. Jamme Ja!
Aku: Lhah! Itu kan yang pertama gue sebutin tadi, nyoooong..!! Katanya lo nggak mau makanan Itali?!
Steven: Iya, tadi gue nggak mau, tapi sekarang gue mau.
Aku: Hastagah.. Gue makan lo aja gimana?!

 

Iklan

2 pemikiran pada ““Mau makan di mana?”

  1. Selalu meninggalkan senyum dan ucap “dasar tikul….”
    (Tikul panggilan sebel sayangku dengan Dianya karena kocak, kreatif n imajinatif)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s