Mendadak Travelmate: Steven

Hallo! Ijinkan aku mengawali posting kali ini dengan foto narsis kami dari stasiun Kota Bremen, Jerman. Cowok di sampingku ini adalah housemate yang mendadak jadi satu-satunya travelmate. Namanya pernah aku sebut di Notulensi Rapat Perdana Broadlands dan Badai Ujian Pasti Berlalu.

Imut-imut

Seperti yang bisa kamu lihat di foto, anaknya imut-imut lucu ngegemesin gimanaaa gitu. Saking imutnya, Kak Lee suka tiba-tiba cubit dia. Pernah suatu siang aku dan Steven lagi heboh bikin nasi goreng di dapur. Lagi syahdunya balikin nasi yang mulai kecoklatan (entah karena bumbunya atau gejala gosong), lengan Steven tiba-tiba dicubit Kak Lee dari belakang.

Steven nggak teriak kesakitan, walaupun aku yakin sebenernya cubitannya pedes mengingat Steven nggak punya lemak ginjur-ginjur di lengan bawah yang kebal rasa sakit. Kita semua bengong, bingung sama aksi spontan Kak Lee.

“Kenapa gue dicubit ya?”

“Soalnya aku gemes,” jawab Kak Lee dengan muka datar. Lalu nyengir. Dan balik lagi ke kamar.

Steven nggak bisa marah atau balas cubit. Karena pertama, Kak Lee adalah satu-satunya orang rumah yang secara resmi menyatakan sayang sama Steven. Ibarat negara, Kak Lee ini Mesir, negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dengan kata lain hubungan bilateral keduanya udah kuat banget nih. Nah, kalau Steven balas cubit, bisa terjadi ‘love-hate relationship’. Macem Indonesia sama Malaysia gitu kali ya?

Kedua, Kak Lee adalah orang paling senior sedangkan Steven yang paling bocah di rumah Broadlands. Selain itu, mereka berdua sama-sama hobi dimadu. Minum madu seduh gitu maksudnya. Kadang kalau madu Steven habis, dia minta Kak Lee. Pun sebaliknya. Dengan kekerabatan seerat ini, balas dendam menjadi pilihan sulit. Rasanya Steven pengen nyubit Kak Lee sama kayak kamu pengen jambak nyokap pacar setelah dia nggak merestui hubungan kalian. Pengen jambak, tapi takut kualat. Takut nggak dapet anaknya juga. Rugi bandar! Jadi ya udahlah, pasrah aja.

Si Lidah Rewel

Awalnya aku mau jalan ke Eropa bertiga dengan Steven dan Kak Lee. Semua kebutuhan jalan udah siap tuh, mulai dari tiket pesawat, booking penginapan, itinerary, komplit! Sehari sebelum bikin visa, Kak Lee dapat tugas pameran di waktu yang persis sama dengan keberangkatan ke Eropa. Jadilah aku jalan sama Steven doank.

Sebenernya udah 6 bulan aku serumah sama Cina Medan ini, sehingga gue cukup PD kelakuannya nggak akan bikin pusing selama traveling. Tapi aku lupa satu hal: lidahnya Steven itu sumpah rewel banget! Sama rewelnya kayak cewek PMS!

Kamu tahu lie detector kan? Alat yang terkoneksi sama lidah dan saraf, sehingga kalau kamu bohong lampunya langsung menyala merah trus bunyi sirine kenceng gitu. Nah, mirip nih sama si Steven. Dia punya detektor di lidah juga. Bedanya, yang ini lampu indikatornya ada di muka dia. Dan ini kelihatan banget di hari ketiga kami di Jerman.

Waktu itu kami udah niat pulang malam demi Hamburger Dom, pasar malam musiman di Kota Hamburg. Sejak sore perut sengaja dikosongin biar bisa jajan. Bayanganku tentang jajanan pasar malam minimal ada gulali kapas, gorengan, atau seenggaknya martabak manis pakai mesis coklat, kacang, sama parutan kelapa. Tapi ternyata zonk, saudara-saudarah! Di pasar malemnya orang Jerman nggak ada mobil martabak kayak di Indonesia yang nyetel musik dengan volume standar kawinan Pak Lurah, trus abang-abang martabaknya joget kegirangan. Sumpah nggak ada! Yang jual makanan sih banyak, tapi nggak pake mobil terbuka. Nggak ada abang-abang yang joget kegirangan seolah-olah habis bikin martabak mereka boleh cari istri kedua.

Kembali ke makan malam. Setelah keliling pasar malem, nggak banyak pilihan yang kami punya. Mayoritas jajanan yang dijual berakhiran ‘wus-wus’, seperti currywurst, bockwurst, bratwurst. Sayangnya, ‘wus-wus’ ini artinya sosis babi. Arti lainnya, aku harus menahan lapar hingga waktu yang belum ditentukan. Huft!

currywurst_26_pommes_frites
Meski demikian, demi menjaga perdamaian dunia dan menegakkan hak asasi manusia, cacing-cacing di perut Steven harus segera dikasi makan. Maka jadilah kami berhenti di salah satu kios ‘wus-wus’ itu. Steven makan currywurst, sementara aku harus puas dengan segelas cokelat panas.

Secara kasat mata, nggak ada yang istimewa dari gorengan khas Jerman ini. Dia sebenernya cuma sosis babi ditaburi serbuk kari dan saus tomat, lalu disajikan dengan kentang goreng. Aku nggak bisa cerita gimana rasanya, tapi mungkin ekspresi Steven setelah menyantap currywurst berikut cukup bisa menjelaskan.

DCIM100MEDIA
Muka pasca cokelat panas vs currywurst

Kelihatan nggak betapa tersiksanya dia ngehabisin sepiring currywurst? Yang mungkin nggak bisa dilihat dari gambar di atas adalah pergolakan batinnya antara muntahin tuh sosis, atau berjuang hingga irisan terakhir. Berat banget! Mau nggak dihabisin, sayang duitnya. Dihabisin, ngerusak keseimbangan hidup. Sigh..

Nggak bisa bayangin deh kalau semua orang kayak Steven. Mungkin kelak sanksi pelanggar hukum semakin beragam:

  • Denda
  • Kurungan
  • Penjara
  • Mati
  • Makan Currywurst.
Iklan

2 pemikiran pada “Mendadak Travelmate: Steven

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s