Elena

Aku nggak ngerti kenapa orang-orang suka pergi ke klub yang pakai dress-code. Masih menyambung posting kemarin, kami berencana pergi ke Café Parfait malam itu. Sebenernya kami kurang suka tempat tersebut karena dress-code nya konyol: Smart dress! Sejak kapan baju bisa pinter? Atau kita harus ngerjain integral rumus pitagoras dulu sebelum masuk?

Tapi karena penasaran dan merasa tertantang, kami sepakat akan menghabiskan malam minggu di kafe itu. Jadilah semua orang di apartemen Eva berdandan rapi malam itu. Mereka mengenakan dress di atas lutut. Bahkan Katerina nampak lebih smart dengan stocking berenda bunga-bunga dari merek ternama. Ketika berurusan dengan penampilan, cerdas dan tajir memang beda tipis.

Cuma aku dan Elena yang gagal cerdas. Elena pakai kaos oblong putih dirangkap kemeja kotak-kotak merah yang nggak dikancing, dipadu celana denim. Aku kurang lebih sama, hanya nggak pakai kemeja Jokowi aja.

Yang namanya pre-drinking, pasti ada curhat seru, saling update cerita tentang gebetan masing-masing. Biasanya sesi curhat dimulai dari Imelda. Namun malam ini dia lebih banyak diam sejak Eddie, gebetannya, jadian dengan Audrey. Well, Audrey teman kami juga, namun dia nggak datang malam itu. Temen makan temen bukan ide bagus, memang. Apalagi Audrey merupakan sosok cewek sempurna. Cantik, ceria, jenius, semacam gabungan Daphne-Velma, dan Eddie tak lain adalah Fred. Yang lain mah cuma cipratan gilanya Shaggy sama Scooby Doo.

“Jadi siapa nih yang mau cerita duluan? Tika?” Eva memecah suasana awkward.

“Tika mah ngebosenin. Dia kan udah nikah, apanya yang mau diceritain? Gue aja deh.” Elena duduk di ‘kursi panas’ di tengah-tengah kami.

You know, gue ditolak Rafael. Tapi gue nggak papa. Jadi, mari kita lupakan Rafael. Gue udah nggak peduli sama playboy Meksiko itu,” kata Elena membuka sesi curhat.

“Besok Senin gue mau kencan sama orang lain. Gue ketemu dia di The Edge beberapa hari lalu.”

“Wah, lo cepet move-on juga ya, El! Keren, keren!” apresiasiku.

“Nah. Kita ngobrol banyak tuh di The Edge. Trus pas mau pulang, kami sama-sama mabuk dan ciuman. Awalnya aneh sih, tapi gue suka.”

“Nama donk?” kata Eva dengan smartphone di tangan, siap googling nama gebetan baru Elena.

“Sarah Hawkins.”

Kemudian hening..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s