Harmonisasi Seniman dan Relawan di Kafe Nirlaba The Art House Southampton

Hari Minggu lalu aku makan siang dengan teman-teman Vegan/Vegetarian Society di The Art House. Tempat ini dulunya galeri kesenian yang hampir mati. Oleh kuartet Bik, Jani, Nina, dan Ziggy, galeri tersebut disulap jadi hub untuk organisasi nirlaba dengan menambahkan makanan, minuman, kerajinan tangan, dan acara kesenian lokal.

University of Southampton VegSoc
University of Southampton VegSoc

The Art House Cafe kemudian jadi tempat andalan komunitas-komunitas di Soton terutama yang bergerak untuk suatu cause dan seniman lokal. Pengamen, anggota komunitas, dan seniman dapat diskon khusus. Nggak perlu nunjukin bukti apa-apa. Waktu bayar bilang saja, “Aku anggota Vegetarian Society (misal), bisa dapat diskon komunitas?”. Kasirnya nggak tanya macam-macam, langsung kasih potongan 10%.

Aku tanya kasir gondrong pirang, “Kamu nggak minta kartu member komunitas atau apa kek, buat bukti aku anggota komunitas?”.

Tau jawabannya apa? “Nggak perlu. Aku percaya orang-orang yang berbaik hati datang ke sini. Mereka datang, mendukung seniman lokal, lalu makan enak. Aku bener-bener seneng. Lebih dari seneng. Kalau mereka bohong, mereka sedang bohong ke diri mereka sendiri. Gitu aja.” Jleb!

Ada rak-rak lucu di beberapa sudut kafe. Yang dipajang adalah hasil karya seniman jahit, seniman kain perca, atau brosur-brosur kerelawanan. Mereka juga menyediakan papan tulis kecil, rak brosur, dan tempat kalau kita mau promosi komunitas kita maupun kegiatannya.

Nah, kalau papan tulis dekat kasir itu untuk mengapresiasi relawan yang bantu-bantu di The Art House. Di atasnya adalah target penjualan mereka untuk mendanai operasional kafe maupun kegiatan-kegiatan kerelawanan dan kesenian di situ.

Society blackboard. Abaikan bapak-bapak narsis.
Volunteer’s blackboard. Abaikan bapak-bapak narsis.

Saking baiknya sama seniman dan komunitas, tempat ini rajin didekorasi oleh relawan dan seniman. Misal, lantai atas dicat oleh seniman bernama Tony, yang juga relawan pengajar bahasa isyarat sekaligus bikin roti. Ada sentuhan seniman dan relawan di setiap sudutnya.

Busker atau pengamen bebas nampil di situ. Musisi lokal silih berganti unjuk kebolehan, atau ikut siaran di radio sederhana mereka. Tapi jangan dibayangkan pengamennya yang belel lusuh nggak mandi dan habis teler ya. Mereka bersih, suaranya bagus, genjrengannya pas, dijamin nggak tampil dalam kondisi mabok.

Itulah yang membedakan The Art House dengan kafe lain, dia nggak jual minuman beralkohol. Filosofi mereka, kalau mau berkarya atau menikmati karya dengan optimal itu harus sober. Buat ukuran kafe di Inggris, ini satu dobrakan besar karena nggak menjual miras berarti siap untuk tidak tumbuh sepesat kafe umumnya. Eh tapi yang terjadi justru sebaliknya, kafe ini sibuk terus. Padahal nih, menu mereka nggak ada daging sama sekali. Ini memang tempat khusus para vegetarian dan vegan dengan sayuran organik lokal, bukan impor. Udah nggak ada alkohol, nggak ada daging, tapi tempatnya selalu penuh sampai harus reservasi. Keren..

Pumpkin pasty dengan salad kale, kentang panggang, dan bakso (udah dimakan sebelum difoto)
Pumpkin pasty dengan salad kale, kentang panggang, dan bakso (udah dimakan sebelum difoto)

O ya, walaupun khusus vegetarian dan vegan, kafe ini bikin bakso juga. Bukan dari daging sapi, tentunya, tapi dari tempe. Yeah! Hidup tempe!

Satu lagi yang aku suka dari kafe ini adalah suasanya. Suasana, bukan tempat. Tempatnya nggak terlalu lapang, namun entah suasananya lebih guyub dibanding kafe manapun yang pernah aku hampiri di Soton. Mungkin karena hampir semua pelayan di kafe adalah relawan. Relawan yang nggak cuma mengerjakan pesanan tetapi juga memberi kelas-kelas inspiratif dan sederhana seperti kelas bahasa isyarat, kerajinan tangan, kesenian, Bahasa Prancis, dan sebagainya. Di kafe ini aku bisa merasakan harmonisasi relawan dan seniman. Hangat, menyenangkan, sekaligus menyejukkan. Mungkin itu efek dari ketulusan yang memancar dari mereka. Tulus berkarya, tulus berbuat sesuatu untuk sesama. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s