PK-36 Jamban Cinta Lentera Dipantara

Salam jamban cinta, Mbak Cantika. Selamat datang di PK36: PK penuh cinta. Kalau Mbak butuh konsultasi cinta, bisa ke saya selaku konsultan cinta dan humas cinta internal PK36. PK ini punya 2 grup inti: asosiasi single bahagia, yang diketuai Mas Dedy, dan pejuang LDR sekaligus calon pengguna Dana Kangen LPDP, yang diketuai Mbak Ancha. Jika Mbak punya mantan nyebelin yang perlu dipermak, jangan sungkan-sungkan dijual seken ke Mbak Tika We.

Begitulah cara Brigitta menyambut anggota baru di group Lentera Dipantara. Bisa diduga, setelahnya akan bersahut-sahutan sambutan dari Dedy dan Ancha. Saya muncul sesekali. Ketika anak baru ini punya masalah dengan mantan. Hehehe…

Siapapun yang disambut seperti ini, pasti merasakan aura keceriaan keluarga PK-36. Terhitung sejak 15 Juni 2015 saat kami dipertemukan di group whatsapp, HP nggak pernah sepi. Sehari bisa charge HP 3 kali, dari biasanya sekali saja. Karena jumlah anggota group lebih besar dari kuota Whatsapp Group, jadilah kemudian kami pindah ke Line. Iya, Line, aplikasi pesan instan dengan stiker monyong-monyongan itu.

Jamban Cinta

Dinamika angkatan PK-36 pun bergulir di group Line tersebut. Semua bisa dibahas di sana. Semua bisa ditanyakan, tapi belum tentu bisa dijawab. Kebanyakan pertanyaan justru tenggelam oleh candaan khas mantan remaja: cinta, galau, nikah, LDR, Petisi Dana Kangen, hingga masa depan.

Ketika ide pengabdian masyarakat Menyapa Indonesia dikemukakan, kami nyaris sepakat turun tangan membangun MCK alias jamban di Desa Ramea atau Desa Cikumbeuen. Namun seperti yang sudah aku katakan, selanjutnya tenggelam ditelan lawakan percintaan. Jadilah kemudian kami sepakat membuat Jamban Cinta PK-36. Aku sendiri sudah lupa kenapa jadi Jamban Cinta, bukan Jamban LDR, atau Jamban Penggalauan.

Meskipun akhirnya bukan kami yang merealisasikan Jamban Cinta Menyapa Indonesia, namun nama tersebut tetap melekan di hati kami.

Lentera Dipantara, Suara Hati Kaum LDR

Sebetulnya tidak semua topik tenggelam di group. Salah satu yang sukses dan bertahan sampai sekarang adalah pembahasan nama angkatan. Beberapa nama sempat dikemukakan. Semuanya dalam Bahasa Sansekerta yang sangat indah. Lalu munculah Dewa yang mengusung nama Lentera Dipantara. Cahaya yang menjadi benteng nusantara. Dia menjelaskan dengan sangat terperinci perihal nama tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, saya dan kawan-kawan PK-36 lainnya terpukau dengan penjelasan Dewa. Sebuah nama yang menggambarkan kekuatan untuk melindungi sekaligus tekad menerangi nusantara dengan segala daya dan upaya. Nama dari Dewa. Dewa banget. Dewa beneran.

Bukan itu saja, kami pun jatuh cinta pada nama Lentera Dipantara lantaran akronimnya: LDR. Seolah-olah akronim tersebut menggambarkan suara hati sebagian besar dari kami yang harus rela terpisah jarak dengan orang-orang terkasih, alias Long Distance Relationship. Tak ayal bila kemudian Petisi Dana Kangen kembali mencuat. Petisi ini dimaksudkan untuk memfasilitasi awardee LPDP yang harus LDR dan harus menyisihkan living allowance untuk menghubungi keluarga atau kesayangan di tanah air. Tentu petisi ini hanya gurauan. Kami tidak betul-betul mengumpulkan tanda tangan ke LPDP untuk menggolkan Dana Kangen. Kami sudah sangat bersyukur dan berterimakasih pada LPDP atas segala kemudahan serta kemurahan hatinya hingga kini. Cieee..

PK, Pelatihan Kepemimpinan, Persiapan Keberangkatan, Perjumpaan Keluarga

Salah satu agenda LPDP yang paling menantang adalah pembekalan seminggu penuh alias PK. Sebelum PK, kami mendapat tugas-tugas pra-PK yang sifatnya mempererat hubungan satu awardee dan lainnya. Tugas tersebut sekaligus memupuk rasa nasionalisme, integritas, dan profesionalisme kami. Untuk menunaikan tugas pra-PK, kami kerap berkoordinasi melalui group Line, group Facebook, maupun milis. Dalam perjalanan koordinasi tersebutlah kami menjadi dekat. Bahkan di kopdar pertama kami sudah bisa tertawa bersama. Konon, ketika kita bisa tertawa bersama, kita pasti bisa bekerja bersama. Dan itu benar.

Barangkali bagian ini akan sulit dipercaya kalau aku tidak mengalaminya sendiri. PK-36 dipertemukan di dunia maya. Kami baru benar-benar bertatap muka dan bekerja bersama saat PK 10 – 15 Agustus lalu. Hanya lima hari di Wisma Hijau Cimanggis. Sekali lagi, hanya lima hari. Namun semuanya berjalan seolah-olah kami sudah saling kenal sejak lama. Kami bisa berkolaborasi, saling menguatkan, memberi semangat, dan tentu saling menyayangi.

Salah satu contoh yang paling mengesankan buatku adalah ketika menyeberangi jembatan dua tali saat outbond. Aku harus menyeberang dari satu lereng ke lereng lainnya dengan dua utas tali dengan Vinsen dan Karsof. Karsof ini kawanku sesama kelompok Tanah Lot yang cantik tapi penakut. Tipikal cewek ibukota pada umumnya.

Ke kiri: Karsof, Vinsen, aku menyeberangi jembatan dua tali
Ke kiri: Karsof, Vinsen, aku menyeberangi jembatan dua tali

Namun rasanya aku harus meralat bahwa Karsof itu penakut. Karena dia mau keluar dari zona nyaman, berani mencoba menyeberangi jembatan tali tersebut. Walaupun lama. Lama banget. Wajahnya pucat. Kakinya sulit bergerak. Pak Pembina sempat menggoyangkan tali, menguji keseimbangan kami. Karsof semakin panik. Mukanya yang memang putih semakin putih karena pucat. Kedua tangannya menggenggam tali atas erat-erat. Kakinya masih kaku tak mau melangkah.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan di atas jembatan tali. Pasti sangat lama. Bahkan mungkin rasanya seperti seabad bagi Karsof. Dan bisa jadi akan semakin lama seandainya kawan-kawan lainnya tidak memberi semangat pada Karsof, “Ayo Karsof! Melangkah terus!”. Vinsen pun mengalah melangkah mundur mendekati Karsof. Dia memberi dorongan semangat dan uluran tangan supaya Karsof mau terus melangkah menyeberangi jembatan.

Setahun kemudian, barulah kami sampai di seberang. Setahun kemudian, kami menginjakkan kaki pada lereng lain dengan selamat. Alhamdulillah. Gilak, lama banget! Karsof mungkin yang paling girang atas pencapaian tersebut. Walaupun dia harus rela diledek Pak Pembina, “Turun langsung, Mbak. Nggak usah njahit!” Kaki Karsof masih gemetar, seperti orang lagi njahit pakai mesin jahit jadul merek Singer.

Begitulah PK. Menantang, mengesankan, sekaligus mengharukan. Meski demikian, PK merupakan agenda terkejam yang dibuat LPDP. Mempertemukan untuk memisahkan.

Sampai sekarang aku masih belum bisa move-on dari PK-36. Sedih sekali harus berpisah dengan keluarga baru Rakyat Lentera Dipantara. Di saat yang sama, aku pun senang dan bangga memiliki keluarga yang luar biasa tanpa kecuali. Setiap individunya sungguh istimewa. Petikan lirik lagu berikut rasanya sangat tepat menggambarkan keluarga Rakyat LDR.

Kita adalah sayap-sayap sang garuda

Di atas samudera di langit khatulistiwa

Semoga namamu sampai ke ujung dunia

Ceritakan semua indahnya pada mereka

– Selamanya Indonesia, Twentyfirst Night –11896072_10153213359829825_3631552354279594345_n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s