Apapun yang Terjadi di Meja Wawancara, Adalah Kehendak-Nya

Pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu juga kekalahan. Mungkin terdengar klise. Tetapi ketika kamu mengalaminya, pepatah ini akan terasa sangat menohok. Rasanya ingin mencabik-cabik muka siapapun yang mengatakannya dan berseru, “Elu nggak tahu kan penderitaan gue kayak apa? Elu nggak tahu rasanya!”.

Ada amarah yang sangat besar akibat kesombonganku yang tidak disadari sebelumnya. Aku marah pada Tuhan. Aku berhenti berdoa. Sholatku hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa menyertakan ruh di setiap geraknya. Tak heran kalau kemudian begitu mudah meninggalkan kewajiban itu. Bahkan ayat sakti yang menjadi jimatku selama ini, entah mengapa tidak terdengar indah lagi.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS 40 : 60)

Diary blog akhir Januari 2015: Tuhan, aku sudah berdoa. Bahkan mulutku sendiri yang menyerukan doa itu di rumahmu, di Masjidil Haram. Aku minta dimudahkan jalan kuliah di Inggris tahun 2015. Tapi kenapa Kau beri aku kegagalan?!

Amarah itu bersemayam di dalam diriku cukup lama. Sangat lama.

LPDP hanya menolerir dua kali kegagalan. Setelah 2 kali gagal wawancara, kita tidak bisa mendaftarkan diri lagi.

27 April 2015 pukul 23:55, 5 menit sebelum batas pendaftaran ditutup, aku klik ‘Submit’. Setelah vakum 2 periode pendaftaran, aku hanya perlu menghabiskan jatah gagal, batinku. Dengan sisa logika yang ada, essai dan data diri ku rombak di jam-jam terakhir. Tidak perlu banyak kepala yang mereview. Sehingga kalau aku gagal lagi, tak akan terlalu membebani.

4 Mei 2015 jam 8 malam diumumkan daftar peserta yang lolos seleksi administrasi. Aku? Tentu saja aku lolos. Aku memasukkan berkas yang sama dengan periode sebelumnya. Jadi sudah semestinya aku lolos administrasi.

Bahkan hingga di hari pengumuman seleksi administrasi, kesombongan itu masih berurat-akar di dalam diriku.

Tak lama setelah pendaftaran, seorang sahabat awardee LPDP pulang ke Indonesia. Tentu aku iri sekaligus minder. Namun semua itu tertutup rapi oleh eratnya persahabatan. Ia bercerita bahwa tantangan terbesarnya selama kuliah di Eropa adalah menegakkan sholat. Sahabatku ini pun berkisah, ia merasa ‘kering’ selama berada di Eropa. Tidak ada pengajian, alunan ayat suci, apalagi rombongan ke masjid.

Di kesempatan lain, seorang senior juga mengkritik awardee LPDP di negaranya melalui social media. Ia menangkap kesan awardee di universitasnya hedonis dan gemar menghambur-hamburkan uang. Memang tidak semuanya, namun kesan yang ditangkap dari beberapa orang saja bisa mempengaruhi pandangan orang lain terhadap keseluruhan awardee di sana.

Di situlah aku merasa terpukul. Belum berangkat ke Eropa saja aku sudah berani ‘bermain’ dengan firman-Nya. Memalukan.

Pantas saja Tuhan tidak mengijinkanku lolos LPDP akhir 2014 lalu. Rupanya Ia mau aku belajar menata diri. Ia sedang memberi peringatan, apapun yang terjadi kelak, tetap rendah hati dan tidak larut dalam euforia beasiswa.

Maka kemudian aku kembali berdoa. Dengan lebih legowo, pasrah, dan tak terlalu berambisi.

Tuhan, kalau memang menjadi awardee LPDP di luar negeri akan membuatku angkuh dan jauh dari-Mu, mohon tunjukkan jalan yang lebih baik. Tetapi kalau Kau Tahu semua ini akan mendekatkanku dengan-Mu, mohon beri aku kemudahan dan kerendahan hati.

Aku sediakan ruang yang lebih lapang di dalam hati untuk menerima kekalahan sekali lagi. Bahkan aku lebih siap untuk kalah. Jauh lebih siap dari sebelumnya.

22 Mei 2015.. Inilah kesempatan terakhirku berhadapan dengan juri wawancara LPDP. Tak banyak yang ku persiapkan selain latihan wawancara dengan kawan-kawan awardee. Latihan ala kadarnya. Aku pasrah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Tak perlu lagi berdebat dengan juri. Kalau pertanyaan mereka begitu personal dan menyentuh sisi emosionalku, biarkan. Tak ada yang disembunyikan. Yang terjadi di meja panel, itulah yang dikehendaki Tuhan.

IMG_1066_Fotor23 Mei 2015.. LGD di hari Sabtu di Kampus STAN Gedung “I”. Aku nyaris trauma dengan gedung ini. Gedung yang sama dengan seleksi November lalu. Beruntung, suami mengantar bahkan menungguiku di sana. Kehadirannya menambah energi dalam LGDku. Aku lebih percaya diri, namun tetap pasrah. Sekali lagi, apapun yang terjadi di forum LGD, pastilah itu yang dikehendaki Tuhan.

10 Juni 2015.. Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku tak sempat mengakses halaman pengumuman LPDP. Seharusnya hari ini hasil seleksi wawancara diumumkan. Tapi aku mencoba tak peduli, melarutkan diri dengan pekerjaan.

Usai makan siang, satu email masuk. Dari LPDP. Hasil Seleksi Wawancara Magister dan Doktor Tahap 2 2015. Ada lampiran PDF 22MB. Cukup berat untuk diunduh di ponsel.

Sebanyak 32 halaman lampiran mengurai panjang nama-nama yang lolos seleksi. 293 nama di Magister Dalam Negeri, 682 Magister Luar Negeri.

Screen Shot 2015-06-14 at 12.34.23 PM

Allahu Akbar, ada namaku di halaman 26, urutan ke-627.

Tuhan, kalau Kau yakin aku sanggup, akan aku jalani. Bismillah…

Iklan

9 pemikiran pada “Apapun yang Terjadi di Meja Wawancara, Adalah Kehendak-Nya

  1. Tika I’ve been there before, just different “case” and story. Human is a creature full of arrogance, so a lesson is needed to make us a better person. That’s how God help us. Like you said, in a beautiful way. 🙂

    Good luck for everything!!!! You can do it.

    Regards,
    J
    (geli ngga baca inisial gue? hahahaha)

    1. Hi Ms. J,

      Apa hubungan lo sama Jessie J? Say, Jessie Jumaniar? Hahaha… Makin geli sih..

      Iya, gw sering khilaf “mengatur Tuhan” dengan ambisi2 gw, sampai lupa ada yang namanya pasrah. Thanks, Juma!

  2. Ada bagian yang Ibu suka…
    Tuhan, kalau memang menjadi awardee LPDP di luar negeri akan membuatku angkuh dan jauh dari-Mu, mohon tunjukkan jalan yang lebih baik. Tetapi kalau Kau Tahu semua ini akan mendekatkanku dengan-Mu, mohon beri aku kemudahan dan kerendahan hati.
    Semoga Allah Swt menjaga untuk senantiasa rendah hati , amanah, dan semangat belajar. Pulang bawa sukses untuk agama, keluarga dan negara

  3. Tika… aku belum ngucapin secara langusung ya… Selamat ya Tika, akhirnya salah satu mimpi kamu tercapai. Anyway, ketauan nih aku kepoin web km. Hahaha.
    Seru banget baca perjalanan km buat berjuang meraih mimpi kamu ini. Aku bisa bayangin gimana rasanya jatuh bangun untuk memperjuangkan mimpi. Dan akhirnya, kamu bisa dapetin apa yang kamu perjuangkan selama ini. Aaaaakkkk!!!! Congrat pokoknya!!!! :*
    Dan aku setuju banget sama salah satu komentar di sini (dari Ani Murniati). Kutipan itu bagus banget. Aku baca itu langsung kerasa “DEG!” Kamu keren tiiiik!!! Kalau aku jadi kamu, balik lagi ke ruang yang sama ketika pas wawancara dulu itu rasanya pasti parno setengah mati, hati teriris-iris, air mata ga bisa tahan. Tapi kamu? Kamu bisa melewatinya! Sebenernya aku penasaran detilnya kaya apa pas kamu ikut wawancara yang kedua ini. Hahaha. Let me hear your story! Lol. 😀
    Anyway, sekali lagi selamattttt!!!! Setahun ga lama kok. Tau-tau ntar ga kerasa kalau udah setahun. Selamat menikmati Inggris (sebenernya itu negara yang pingin aku jamah pertama kali, tapi aku malah terdampar di sini, but I don’t regret it. It still brings a lot of joys)
    Happy studying there, Tika!

    Lia

  4. Hai mbak tika,

    Perkenalkan, saya rafika 🙂

    InsyaAllah ingin menggunakan jatah gagal yang kedua untuk beasiswa LPDP mbak. Saya berniat daftar bulan April 2016 dan mulai studi di bulan September (mirip dengan jadwal aplikasi dan mulai studi mbak tika tahun 2016). Namun, pada booklet LPDP dijelaskan bahwa mulai studi paling cepat 6 bulan setelah pendaftaran. Jika saya daftar bulan April ini apakah memungkinkan untuk mulai perkuliahan pada bulan September pada tahun yang sama mbak? Atau Apakah mbak tika sudah mengkonsultasikan hal ini terlebih dahulu dengan pihak LPDP?

    Terima kasih banyak sebelumnya mbak 🙂

    1. Hi Rafika,
      Kalau boleh kasih saran, baiknya kamu susun lagi timeline kamu karena:
      1. Waktu saya daftar LPDP belum berlaku aturan 6 bulan.
      2. Walaupun akhirnya tetap berangkat, tapi waktu 6 bulan itu sudah terlalu mepet untuk persiapan keberangkatan. Apalagi kita akan disibukkan dengan tugas-tugas PK, visa, akomodasi tempat tujuan, packing, mempersiapkan keluarga & teman yang ditinggal, banyak deh.

      Semoga membantu.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s